24 Agustus 2011

Khotbah Bilangan 11:1-3

BERSUNGUT-SUNGUT, NO WAY!
OLEH T. ANDREIAS



Pendahuluan
Saudara,  ,    beberapa waktu yang lalu ada rekan pelayanan saya yang mengalami kecelakaan yang mengharuskan dia untuk rawat inap selama beberapa hari.  Saya sempat menjaga teman saya ini pada malam pertama dia ada di RS.  Nah, pada saat saya di RS inilah, ada pemandangan yang luar biasa bagi saya.  Yaitu keberadaan seorang istri yang menunggui suaminya.  Walaupun kelihatan lesu karena kurang istirahat, tetapi tidak terucap dari mulutnya suatu persungutan atau menyalahkan Tuhan. Sebenarnya jika dicari-cari, ada banyak alasan baginya untuk bersungut-sungut.  Dia bisa berkata,  “Tuhan, mengapa Kau biarkan hal ini terjadi? Bukankah suamiku telah menyerahkan dirinya sebagai hamba-Mu, tidakkah Engkau ada untuk melindungi suamiku?”, atau ibu ini dapat berkata “Tuhan tidak cukupkah proses yang Kau berikan kepada kami, masalah yang satu belum selesai, Engkau menambah lagi dengan kecelakaan ini?”  Saudara, Hal ini tidak dilakukan oleh ibu tersebut.  Tetapi justru ditengah-tengah kecapekannya, dia datang pada Tuhan, berdoa, bersyukur dan meminta kekuatan pada-Nya.  
Bagaimana dengan kita, sanggupkah kita memandang pada Tuhan saat menghadapi masalah?  Sanggupkah kita tetap memuji Dia saat di depan kita berdiri raksasa pergumulan yang siap atau sedang menyerang kita?  Apakah kita tetap percaya kepada-Nya?  Atau sebaliknya, kita marah-marah, mengeluh, dan bersungut-sungut di hadapan-Nya.
Saudara,    bersungut-sungut bukanlah masalah yang sepele bagi Tuhan.  Bersungut-sungut dapat mendatangkan murka Tuhan di dalam kehidupan orang percaya.  Saudara,  dari pembahasan firman Tuhan ini, setidaknya ada 2 alasan mengapa bersungut-sungut dapat mendatangkan murka Tuhan dalam hidup orang percaya

I.       Bersungut-sungut adalah tindakan melupakan kebaikan Tuhan
Pernahkah Saudara,   menghitung kebaikan-kebaikan Tuhan yang telah Saudara,   terima sejak sdr lahir?  Ada begitu banyak yang telah Saudara,   terima bukan?  Tetapi seberapa sering kita melupakan kebaikan Tuhan dengan bersungut-sungut kepada-Nya setiap kali menghadapi pergumulan hidup?  Saudara,  hal inilah yang sebenarnya dilakukan oleh Israel ketika mereka bersungut-sungut di hadapan Tuhan. Israel telah melupakan kebaikan Tuhan.
Dalam konteks perjalanan menuju ke Kanaan, Israel sebenarnya telah banyak menerima kebaikan Tuhan. Saudara,  Kebaikan-kebaikan Tuhan ini dimulai ketika Israel dibebaskan Tuhan dari penindasan Mesir dan melalui Musa, Tuhan membelah laut Teberau sehingga Israel dapat menyeberang dan lolos dari kejaran Firaun.
Episode kebaikan Tuhan ini kemudian berlanjut di Elim di mana Tuhan memberi air dan korma bagi Israel yang kehausan dan kelaparan. Di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai, Tuhan memberi manna untuk mencukupi kebutuhan makanan Israel.
Selanjutnya Tuhan juga memberikan mata air di Rafidim dan kemenangan atas Amalek di Rafidim.  Saudara,  Bukankah Karya-karya ini sebenarnya dengan sangat jelas menyatakan kebaikan Tuhan yang telah terjadi bagi Israel?
Tetapi apa yang terjadi ketika mereka sampai di area padang gurun yang ada di antara gunung Sinai dan perbatasan Kanaan, suatu tempat di mana tujuan yang hendak mereka capai ada di depan mata?  Ya, di tempat ini Israel bersungut-sungut untuk kesekian kalinya di hadapan Tuhan
Saudara,  bersungut-sungut pada teks ini menggunakan kata kerja anan yang berarti “mengeluh.”  Kata ini juga dapat diartikan “menggerutu” yaitu mengucapkan kata-kata bernada kesal secara terus-menerus karena perasaan mendongkol atau tidak puas dengan keadaan yang dialami.  Israel yang bersungut-sungut ini sebenarnya menunjukkan bahwa mereka telah melupakan kebaikan yang sudah Tuhan tunjukkan kepada mereka.  Hal inilah yang membuat Tuhan murka dan api Tuhan pun menyala-nyala di tepi tempat perkemahan Israel.
Saudara,  api di dalam PL sering dipakai sebagai gambaran dari penghakiman Tuhan atau simbol kemarahan-Nya.  Pemahaman Israel tentang api yang menyala sebagai tanda murka Tuhan inilah yang memunculkan ketakutan pada mereka.  Masih hangat di pikiran mereka suatu peristiwa yang menunjukkan amarah Tuhan yang dinyatakan dengan api yang membinasakan Nadab dan Abihu.
Mazmur 106:12-14 mengatakan “ketika itu percayalah mereka kepada firman-Nya mereka menyanyikan  puji-pujian kepada-Nya.  Tetapi segera mereka melupakan perbuatan-perbuatan-Nya dan tidak menantikan nasihat-Nya; mereka dirangsang nafsu di padang gurun dan mencobai Allah di padang belantara.”
Di sini kita melihat bahwa sesungguhnya Israel telah mengalami begitu banyak kebaikan Tuhan.  Saya membayangkan waktu kebaikan itu dinyatakan, Israel berseru “Terpujilah Tuhan!  Bahwasanya untuk selama-lamanya kebaikan-Tuhan!”  Tetapi tampaknya ini hanyalah slogan semata.  Saat permasalahan datang, tantangan mulai menghadang, kebaikan-kebaikan itu menguap dari pikiran mereka.  Mereka lebih mengingat satu kesulitan yang sedang mereka hadapi daripada begitu banyak kebaikan Tuhan yang pernah mereka alami.
Saudara,  hal yang sama juga pernah terjadi pada murid-murid Tuhan Yesus.  Di dalam Markus 4, Yesus dan para murid menyeberangi danau menuju Gerasa.  Waktu itu angin toufan datang secara tiba-tiba dan para murid berteriak pada Yesus, “Guru Engkau tidak peduli kalau kami binasa?”  Saudara,  peristiwa ini jelas menunjukkan bahwa murid-murid telah melupakan perbuatan-perbuatan ajaib yang Yesus kerjakan di hadapan mereka.  Mereka telah lupa bahwa Yesus adalah Allah yang berkuasa dan sangat peduli kepada manusia.  Yesus tidak akan membiarkan mereka berjalan sendirian dan binasa.

Ilustrasi
Saudara,    Indonesia mempunyai seorang budayawan yang cukup terkenal. Dia adalah Arswendo Atmowiloto. Suatu kali budayawan ini melakukan polling tentang siapakah tokoh yang paling berpengaruh di dunia.  Dari hasil pollingnya, Yesuslah tokoh pertama yang paling berpengaruh di dunia dan Muhammad no 3.  Saudara,  karena polling inilah Arswendo dipenjara selama 5 tahun.  Arswendo tidak terima dengan apa yang dia alami dan dia bertanya-tanya “apakah kesalahan saya, saya hanya menyampaikan pendapat masyarakat?” Di dalam penjara dia menghitung hari demi hari yang ia lalui dan dia merasa bahwa waktu berjalan begitu lama.  Hari-harinya dipenuhi dengan keluhan sampai akhirnya dia merubah konsep berpikirnya.  Dia tidak lagi menghitung hari hari yang dia lalui tetapi berkat-berkat Tuhan yang dia alami di penjara. Sejak itu kesedihan Arswendo berubah menjadi ucapan syukur dan sukacita.  Dan setiap hari dia  menceritakan berkat Tuhan pada teman-temannya. Saudara,  sebagaimana sikap yang dimiliki Arswendo, bukankah kita sebagai umat Tuhan juga harus bersikap demikian?

Aplikasi
Mungkin saat ini Saudara sedang menghadapi tantangan yang begitu menekan.  Hitunglah berkat Tuhan!  Bukankah Dia yang memberikan nafas kepada kita setiap hari? Bukankah Dia yang memelihara dan memberikan kesehatan kepada kita? Bukankah Dia memberikan sudara-Saudara,   seiman yang menguatkan kita? Ini semua adalah berkat Tuhan.  Dan yang lebih luar biasa lagi adalah Dia mau menunjukkan kebaikan-Nya dengan turun ke dunia untuk menebus dosa Saudara,   dan saya.  Saudara,  tantangan-tantangan yang sedang kita hadapi tidak sebanding dengan berkat-berkat yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Oleh sebab itu, jangan pernah kita melupakan kebaikan-kebaikan Tuhan, tetapi sebaliknya, ingatlah senantiasa setiap perbuatan ajaib yang telah Dia kerjakan dalam hidup kita.  Dengan mengingat kebaikan-Nya, kita akan mendapatkan kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan dan tetap memuji Tuhan karena kita mengetahui bahwa Allah itu setia dan tidak pernah meninggalkan kita.
Saudara,    jelaslah bahwa bersungut-sungut ini menunjukkan bahwa kita telah melupakan kebaikan Tuhan.  Tetapi tidak hanya itu,

II. Bersungut-sungut adalah bentuk ketidakpercayaan  terhadap penyertaan Tuhan
Dalam suatu wawancara sebelum bertanding melawan Rocky Juares di USA, Chris John pernah berkata “saya percaya pada pelatih saya.  Dia yang selama ini melatih dan akan membawa saya mengalami kemenangan.”  Saudara,    di sini kita melihat CJ menaruh kepercayaan kepada pelatihnya.  Meskipun sang pelatih meminta CJ melakukan latihan-latihan yang berat, tetapi dia mau menjalaninya. Saudara,  CJ bisa saja bersungut-sungut dan berkata “latihan ini terlalu berat, mengapa saya harus melakukan semua ini!” tetapi dia tidak melakukannya. CJ percaya bahwa sang pelatih tahu yang terbaik baginya.  Bagaimana dengan kita?  Apakah saat mengatakan “aku percaya kepada Tuhan,” kita sungguh-sungguh percaya pada-Nya?
Saudara,  sekitar tiga hari sebelum persungutan di Tabera ini terjadi, Israel pun berkata demikian, “kami percaya Allah akan menyertai kami memasuki tanah perjanjian, kami percaya Dia di pihak kami!”  Hal ini terjadi ketika Tuhan telah menyiapkan mereka untuk memasuki tanah Kanaan.  Dan pada waktu itu mereka melakukan apa yang dikatakan Tuhan dengan penuh ketaatan.  Tetapi apa yang terjadi selanjutnya?  Apakah mereka sungguh-sungguh percaya pada Tuhan? Jawabannya adalah tidak.  Israel justru bersungut-sungut di hadapan Tuhan karena nasib buruk mereka. 
Saudara, menurut tradisi Rabinik, nasib buruk di sini adalah ra’ab (kelaparan) yang diambil dari kata ra (nasib buruk).  Namun ada pandangan lain yang mengatakan bahwa nasib buruk ini suatu kegelisahan dari perjalanan yang panjang, yaitu perasaan takut terhadap negeri yang akan mereka tuju.
Saudara,  kelaparan merupakan alasan persungutan yang lemah untuk menjelaskan nasib buruk jika dikaitkan dengan perikop ini.  Hal ini dikarenakan manna telah diberikan Tuhan kepada Israel sejak berada di padang gurun Sin (Kel. 16).  Mereka tidak akan mengalami masalah dengan makanan.
Dengan kata lain ketakutan Israel terhadap Kanaanlah yang membuat mereka bersungut-sungut.  Mereka tidak percaya bahwa Allah akan memberikan kemenangan. Saudara,  tindakan Israel ini merupakan bentuk keraguan Israel terhadap kepemimpinan Tuhan melalui Musa untuk merebut tanah perjanjian.  Mereka tidak sunguh-sunguh percaya kepada Tuhan.
Mazmur 78:22-23 berkata “Sebab itu, ketika Tuhan mendengar hal itu, Tuhan gemas, api menyala menimpa Yakub, bahkan murka bergejolak menimpa Israel, sebab mereka tidak percaya kepada Allah, dan tidak yakin akan keselamatan daripada-Nya.”  Saudara,  ketidakpercayaan adalah penyebab yang umum mengapa Israel bersungut-sungut.  Dan ketidakpercayaan inilah yang membuat Israel berteriak ketakutan karena murka Tuhan. Saya tidak dapat membayangkan betapa kacaunya ketika hal itu terjadi. Sampai akhirnya Musa sebagai pengantara, berdoa dan memohonkan pengampunan kepada Tuhan dan berangsur-angsur api itupun padam.
Saudara,  kegentaran Israel terhadap tantangan di depan mereka, juga pernah dialami oleh Tuhan Yesus di Getsemani.  Dia harus berhadapan dengan maut dan menanggung dosa manusia.  Tuhan Yesus memang sempat gentar dengan apa yang ada di depan-Nya, tetapi Dia memberi teladan yang luar biasa bagi kita.  Dia tidak bersungut-sungut kepada Bapa tetapi sebaliknya, Dia tetap percaya kepada-Nya.

Ilustrasi
Saudara,    Ada hal yang sangat menarik ketika saya sedang dalam perjalanan panjang dari Surabaya menuju Bali. Perjalanan waktu itu sangat menantang karena bus yang saya tumpangi melaju dengan cepat dan selalu berusaha untuk mendahului kendaraan yang ada di depannya. Anehnya, ketika saya melihat ke sekeliling, hampir semua penumpang tidur nyenyak seolah-olah mereka tidak menghiraukan kalau nyawanya dapat terancam. Saudara,  mungkin ini hal yang sepele, tetapi saya belajar sesuatu yang berharga dari pengalaman ini. Para penumpang tidak meragukan kemampuan supir dan mereka percaya bahwa supir akan mengantar mereka ke Bali dengan selamat. Bukankah seringkali kita juga punya pengalaman yang sama dengan para penumpang di bis yang saya tumpangi itu? Saudara,  jika terhadap sesama saja, dalam hal ini supir bus, kita dapat percaya sedemikian, bukanlah lebih lagi kepada Allah Yang Maha Kuasa, Pencipta alam semesta ini. Bukankah Dia adalah Allah yang layak untuk dipercaya?

Aplikasi
Saudara,  tantangan dapat muncul di depan kita ketika kita melakukan kehendak Tuhan.  Tantangan itu bisa bicara tentang hambatan karena keuangan, kesehatan, atau mungkin konflik dengan sesama kita. Mereka dapat muncul seperti tembok yang menghadang ketika kita berjuang dan melangkah untuk meraih suatu masa depan atau visi yang dari Tuhan. Saudara,  ketika tantang itu muncul, janganlah ciut hati dan jangan menyerah. Kita harus tetap berjuang bukan karena kita hebat, tetapi karena adanya satu keyakinan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita sendiri. Kita harus percaya bahwa Dia akan selalu menyertai kita dalam menghadapi tantangan di depan kita. Dan Dia akan memampukan kita untuk melakukan kehendak-Nya.

Penutup
Saudara,  sekarang kita tahu bahwa bersungut-sungut sebenarnya adalah tindakan melupakan kebaikan Tuhan dan tidak percaya pada penyertaan-Nya. Karena hal inilah Allah murka terhadap kaum pilihan-Nya.
Bagaimana dengan kita?  Apakah kita telah melupakan kebaikan Tuhan? Apakah kita tidak lagi percaya pada penyertaan-Nya saat menghadapi tantangan hidup, dan mulai bersungut-sungut?  Jika itu adalah sikap kita maka kita juga berdosa di hadapan Tuhan dan kita sebenarnya layak untuk dimurkai.  Mari kita tinggalkan hidup yang bersungut-sungut ini.  Mari kita mengarahkan diri untuk selalu mengingat kebaikan-Nya dan tetap percaya pada penyertaan-Nya.
Saudara,   bukankah Allah yang kita sembah adalah Allah yang menerima umat-Nya yang mau bertobat dan meninggalkan dosa-dosa mereka?  Saudara,    sebagaimana Musa yang menjadi perantara Israel, demikian Yesus yang mati disalibkan. Dengan pertobatan yang sunguh-sungguh dan pengampunan melalui Kristus Yesus, kita akan dilepaskan dari murka Allah.  Dan dengan mengingat kebaikan dan percaya pada penyertaan-Nya, Dia akan memampukan kita untuk menghadapi tantangan di dalam melakukan kehendak-Nya.
Saya akan menutup kotbah ini dengan sebuah kisah tentang Fanny Crosby. Saudara,  dia adalah penulis lagu-lagu hymne gerejawi yang hidup pada tahun 1820-1915. Ketika berusia enam minggu ia kehilangan penglihatannya karena kesalahan dokter yang mengobati penyakitnya. Sejak itu, hari-harinya dikelilingi dengan kegelapan. Saudara,  dalam keterbatasannya inilah, Allah memakai dia untuk menulis 9000 lagu hyme, salah satunya adalah To God be The Glory. Saudara,  FC berjuang menghadapi kondisinya sampai pada suatu momen dia berkata “Saya selalu percaya bahwa Allah yang baik dalam anugerah-Nya yang tak terhingga, dengan cara ini menguduskan saya untuk pekerjaan yang masih diijinkan untuk saya lakukan.” Saudara,    FC, tidak bersungut-sungut dengan keadaan yang dia alami. FC lebih memilih untuk tetap percaya kepada Tuhan ditengah-tengah tantangan yang dia hadapi.

Amin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar