24 Agustus 2011

Eksegese Markus 11:15-1

MAKNA TINDAKAN YESUS DI BAIT SUCI  
OLEH TAN DJIE KIAN



PENDAHULUAN
Tindakan Yesus membersihkan bait suci di Yerusalem merupakan salah satu tindakan yang dicatat dalam keempat injil (Mat. 21:12-17; Mrk 11:15-19; Luk. 19:45-48: Yoh. 2:13-25) meskipun dalam konteks yang berbeda dengan detail yang berbeda pula satu sama lain.[1]  Ketiga injil sinoptik mencatat peristiwa ini di bagian akhir pelayanan Yesus sedangkan Yohanes, atas dasar pertimbangan literer telah menempatkannya di awal pelayanan Yesus.[2]
Dalam dua dekade belakangan para ahli menyimpulkan bahwa peristiwa ini sangat penting dan merupakan salah satu penyebab utama penangkapan Yesus meskipun para ahli memiliki berbagai pandangan tentang makna sesungguhnya dari tindakan yang dilakukan Yesus.[3]  Dari berbagai pandangan yang beredar, ada dua pandangan yang paling umum tentang makna tindakan Yesus, yakni mereka yang menafsirkan tindakan Yesus sebagai suatu upaya reformasi terhadap bait suci di Yerusalem dengan mereka yang melihat tindakan Yesus sebagai suatu kecaman dan nubuatan terhadap bait suci atau Israel. 
Makalah ini mencoba menentukan apa yang ingin disampaikan oleh Markus atas tindakan Yesus sebagaimana dicatat dalam Markus 11:15-19 dalam kerangka hidup keagamaan umat Yahudi, khususnya yang terkait dengan ibadah di bait suci.  Meskipun tindakan yang dilakukan mempunyai implikasi kristologis atas siapa diri Yesus yang ingin ditampilkan, makalah ini tidak membahas aspek kristologis peristiwa ini. 
Tinjauan akan dilakukan dengan memperhatikan konteks sosial budaya dan keagamaan Yudaisme saat itu, konteks sastra tempat perikop ini berada maupun kutipan terhadap Perjanjian Lama yang ada.  Namun sebelumnya akan dibahas secara singkat tentang historisitasnya. 

HISTORISITAS
Para penafsir pada umumnya berpendapat bahwa Yesus memang melakukan suatu tindakan tertentu di bait suci.  Alasannya antara lain adalah karena keempat injil mencatat peristiwa ini dan tindakan-Nya mencerminkan sikap kritis-Nya terhadap kemapanan Yudaisme masa itu.[4]  Meskipun demikian, mereka tidak sepakat dengan tingkat historisitas dari setiap detail peristiwa yang dicatat para penulis kitab injil.[5]
Penulis berangkat dari suatu presuposisi yang meyakini historisitas peristiwa ini dan keakuratan pencatatannya oleh para penulis injil sebagaimana tercantum di Alkitab.  Karena itu, berbagai perbedaan yang ada di antara keempat injil dalam menceritakan ulang peristiwa ini dipandang sebagai suatu upaya redaksional dari para penulis injil yang memakai peristiwa itu sesuai dengan tujuan penulisannya masing-masing.[6] 

KONTEKS SOSIAL BUDAYA KEAGAMAAN
Untuk memahami tindakan Yesus, mau tidak mau kita harus memahami pentingnya bait suci bagi Yudaisme masa itu dan apa yang terjadi dengan kehidupan bait suci di masa itu.
Bait suci di Yerusalem pertama kali dibangun pada zaman Salomo sebagai suatu tempat khusus dimana Allah Israel berdiam di tengah umat-Nya menggantikan posisi kemah suci.  Bait pertama ini dihancurkan ketika Babel menaklukkan Yehuda.  Pembangunan bait suci kedua dimulai kembali ketika umat Israel diizinkan untuk kembali ke Yerusalem setelah pembuangan di Babel dan berhasil diselesaikan di bawah pimpinan Zerubabel.  Fisik bait suci yang kedua  lebih kecil dan kurang megah dibandingkan dengan bait suci yang dibangun Salomo.  Sekitar tahun 20 SM, Raja Herodes Agung memperluas dan merenovasi kompleks bangunan bait suci yang kedua ini sedemikian rupa sehingga menjadi salah satu tempat ibadah terbesar pada zaman itu.  Proses rekonstruksi diselesaikan kira-kira dalam satu dekade namun banyak hal detail dari pembangunan yang masih belum selesai sampai akhirnya bait suci ini dihancurkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 M.[7]
Bagi umat Yahudi di zaman Tuhan Yesus, bait suci merupakan pusat kehidupan orang Yahudi, tidak hanya dari sisi keagamaan, namun juga merupakan simbol kesatuan politik, sosial bahkan ekonomi.  Walaupun saat itu sudah banyak sinagoge yang bertebaran di luar Yerusalem, mereka hanya punya makna dalam kaitan dengan bait suci di Yerusalem.[8]
Dari sisi keagamaan, anggapan umum paling penting adalah bahwa bait suci merupakan tempat kehadiran Allah Israel.  Bait suci juga merupakan tempat dilakukannya berbagai jenis kurban untuk pengampunan dosa dan untuk penyucian dari kenajisan, sesuai dengan prosedur yang telah diatur dalam taurat Musa.  Dari sisi politik, bait suci memiliki lambang politik yang sangat besar karena mereka yang menguasai bait suci dianggap memiliki legitimasi secara rajani.[9]  Mengingat posisinya yang penting bagi ketenteraman masyarakat Yahudi, pemerintah Romawi menempatkan satu pasukan di Benteng Antonia yang terletak di sebelah barat laut kompleks bait suci dan bait suci itu sendiri juga memiliki polisi-polisi khusus untuk mengamankan kehidupan sehari-hari di kompleks bait suci[10].
Pada zaman Yesus, kompleks bait suci sangat luas yakni kira-kira 15 hektar atau sekitar sekitar 25% dari luas wilayah Yerusalem waktu itu.[11]  Saat itu kompleks bait suci terdiri dari beberapa bagian.  Bagian terluar dan terluas adalah pelataran untuk orang non-Yahudi.  Pada keempat penjurunya ada pintu-pintu gerbang yang menghubungkan kompleks bait suci dengan wilayah di luarnya seperti bukit Zaitun di sebelah timur.  Ke arah dalam, wilayah non-Yahudi dipisahkan oleh tembok tinggi dengan wilayah orang Yahudi.  Jika orang bukan Yahudi masuk ke wilayah orang Yahudi, ia dapat dibunuh.  Di dalam wilayah Yahudi ada wilayah yang masih bisa dimasuki oleh kaum wanita, lalu lebih ke dalam ada wilayah pria Yahudi yang tidak boleh dimasuki wanita.  Lebih ke dalam lagi ada wilayah para imam lalu berturut-turut ruang kudus dan ruang mahakudus.[12]  Pembagian wilayah semacam ini sebenarnya berbeda dengan yang diatur dalam Perjanjian Lama, yang hanya membedakan wilayah untuk para imam dengan wilayah untuk rakyat biasa.
            Setiap tahun pria Yahudi dewasa harus datang ke Yerusalem untuk merayakan Paskah sekaligus membayar pajak bait suci.  Satu-satunya mata uang yang layak untuk pembayaran pajak adalah uang perak Tyrian karena mata uang lainnya sering memakai gambar atau kata-kata yang dikaitkan dengan dewa-dewa.[13]  Sebulan sebelum Paskah, para penukar mata uang telah bermunculan di seluruh Yerusalem dan sekitar dua minggu sebelum perayaan Paskah kegiatan ini dipusatkan di pelataran non-Yahudi dalam kompleks bait suci.[14]  Di tempat itu pula diperjualbelikan hewan-hewan untuk kurban persembahan untuk memudahkan para peziarah mendapatkan hewan yang sesuai dan dapat diterima untuk kurban.[15] 
Semua perdagangan dilakukan dengan mengambil keuntungan dan secara teori keuntungannya seharusnya hanya kecil.  Namun ternyata tidak demikian, karena ditemui berbagai komentar dari para rabi dan sejarawan Yahudi yang menunjukkan bahwa kadang-kadang harga jual di lapak dalam pelataran bait suci bisa berpuluh kali lipat dari harga yang wajar.  Meskipun para penjual itu bukanlah para imam dan pimpinan bait suci, keberadaan mereka diatur oleh para pimpinan bait suci dan terdapat hubungan timbal balik yang memuaskan secara ekonomis antara mereka.[16]   Karena itu para pemimpin bait suci sering dipandang sebagai kelompok yang senang melakukan korupsi dan menutup mata terhadap kesewenang-wenangan yang terjadi.[17]

KONTEKS SASTRA
          Dalam kitab Markus, perikop ini terletak di bagian besar yang dimulai dari pasal 11 sampai 16 yang menceritakan minggu terakhir kehidupan Yesus yang berpusat di Yerusalem yang sekaligus juga merupakan minggu perayaan Paskah Yahudi. 
Konteks sastra paling dekat dari perikop ini adalah peristiwa Yesus mengutuk pohon ara  yang tidak berbuah yang mengapit perikop ini.[18]  Model pengapitan atau “sandwich” ini adalah salah satu ciri khas Markus untuk menekankan keterkaitan kedua peristiwa tersebut.[19]  Jadi petunjuk akan makna tindakan Yesus di bait suci dalam kitab Markus dapat dicari dengan menafsirkan tindakan Yesus mengutuk pohon ara. 
Memang para penafsir sendiri tidak sependapat pula tentang makna kutukan Yesus terhadap pohon ara, apalagi kutukan itu dilakukan ketika pohon ara tidak berbuah karena memang belum musim berbuah.  Melihat karakter Yesus yang dikembangkan dalam kitabnya, tidak mungkin Dia mengutuk pohon ara hanya karena Dia sedang lapar.  Akan lebih mudah bagi Markus untuk tidak memasukkan peristiwa ini dalam injilnya, namun justru karena Markus tetap memasukkannya, ditambah komentar bahwa itu bukan waktu pohon ara berbuah, menjadikan para penafsir melihat tindakan Yesus sebagai suatu tindakan simbolis yang ditujukan untuk menghukum umat Israel.  Nampaknya aspek penghukuman terhadap Israel inilah yang ingin diungkapkan oleh Markus sebagai maksud tindakan Yesus di bait suci.[20] 
Isu tentang penghukuman dilanjutkan melalui perumpamaan para penggarap kebun anggur (Mrk. 12:1-12) dan nubuatan Yesus akan keruntuhan bait suci (Mrk. 13:1-2).[21]  Dengan demikian, melalui penempatan perikop peristiwa di bait suci, Markus nampaknya ingin menunjukkan bahwa tindakan Yesus membersihkan bait Allah adalah suatu tindakan simbolik untuk melambangkan penghukuman yang akan Allah jatuhkan kepada umat Israel melalui penghancuran Yerusalem dan bait sucinya. 
           
KUTIPAN PERJANJIAN LAMA
Pada ayat 17 Yesus mengutip dua bagian dari Perjanjian Lama, yakni Yesaya 56:7 (“Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa”) dan Yeremia 7:11 (“kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun”).

Yesaya 56:7
            Yesaya 56:7 adalah bagian dari perikop 56:1-8 yang merupakan perikop transisi dari Yesaya 40-55 dengan Yesaya 56-66.  Di pasal-pasal sebelumnya disampaikan tentang pelayanan Sang Hamba yang akan membawa keadilan bagi banyak bangsa dan pelayanan hamba-hamba lainnya sebagai bukti hidup kepada bangsa-bangsa lain bahwa keselamatan adalah dari Tuhan.  Di perikop ini Yesaya mulai memperlihatkan implikasinya.  Karena pelayanan yang dilakukan Sang Hamba dan hamba-hamba lainnya tersebut, semua bangsa akan masuk ke Yerusalem untuk mengenal Hukum Allah, masuk dalam perjanjian-Nya dan mengasihi nama-Nya.[22]  Dimulai dengan suatu panggilan untuk menegakkan keadilan dan menaati hukum Taurat (56:1-2), orang-orang bukan Yahudi yang sudah percaya pada Yahweh (proselit) akan dijadikan satu dengan umat Israel dan dipanggil ke gunung-Nya yang kudus, yakni bait suci (56:3-7) sama seperti TUHAN juga akan mengumpulkan sisa orang Israel (56:8).[23]  Semuanya akan berkumpul menjadi satu, semuanya sama dan semuanya disambut dalam rumah doa.  Yang terpenting bukanlah tindakan lahiriah untuk menyenangkan Allah tetapi suatu hubungan dengan Allah melalui doa.  Itulah sebabnya bait suci akan disebut rumah doa untuk segala bangsa (Yes. 56:7).  Ini pun merupakan maksud sesungguhnya dari pembangunan rumah Tuhan oleh Salomo (1Raj. 8:41 dst.).[24]  Selanjutnya di perikop 56:9-57:13, Tuhan mengecam para pemimpin Israel yang korup, menyembah berhala dan tidak menjalankan keadilan.  Mereka dianggap merupakan para pezinah rohani.
            Dalam Yudaisme masa intertestamental dan selanjutnya, perikop dari Yesaya ini ditafsirkan secara eskatologis dan meskipun ada penafsiran yang mencoba memasukkan para proselit ke dalam umat Yahudi, penekanannya sangat berat pada berkat yang akan diterima Israel sendiri di masa yang akan datang. Dalam beberapa penafsiran, para proselit tetap diletakkan di urutan belakang setelah para imam, kaum Lewi dan orang Israel.  Demikian pula dalam 1 Makabe 7:37, gambaran bait suci sebagai rumah doa dibatasi hanya untuk umat Israel.[25]  Jadi, nampak jelas etnosentrisme dari penafsiran Yudaisme terhadap bagian ini.
Yesus mengambil ucapan dari Yesaya ini mungkin karena keberadaan para pedagang di pelataran orang non-Yahudi mengganggu para proselit yang ingin berdoa di bait suci dengan khidmat atau mungkin juga untuk menyatakan bahwa adanya para pedagang di dalam kompleks itu dapat menyebabkan urusan jual-beli menjadi lebih diperhatikan daripada ibadah.  Selain itu, adanya larangan bagi orang yang bukan Yahudi untuk memasuki wilayah orang Yahudi di kompleks bait suci dengan ancaman hukuman mati, maupun pemisahan wilayah dalam bait suci berdasarkan jenis kelamin,  berlawanan dengan harapan dari keberadaan bait suci tersebut.[26]
Karena itu, semata-mata berdasarkan dari kutipan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Yesus ingin mengembalikan bait suci pada fungsi yang sebenarnya dan tindakan-Nya lebih ke arah reformasi bait suci.  Namun demikian, maksud pernyataan Yesus tidak bisa ditafsirkan hanya sebatas ini saja karena Markus kemudian melanjutkannya dengan kutipan yang diambil dari Yeremia 7:11 yang berkonotasi lebih negatif.

Yeremia 11:7
Bagian kedua yang dikutip Yesus berasal dari Yeremia 7:11.  Ayat ini adalah bagian dari khotbah Yeremia di bait Allah (Yer. 7:1-15) untuk memperingatkan umat Yehuda bahwa mereka akan dihukum jika tidak menjalankan keadilan dan perintah Taurat.  Setelah dijelaskan tentang Firman Allah  dan hukum-hukum-Nya (7:1-7), Yeremia menunjukkan perbuatan bangsa Israel yang tidak benar serta penolakan mereka terhadap Allah (7:8-12) diikuti oleh pengumuman akan datangnya penghakiman (7:13-15).  Saat itu mereka menganggap bahwa keberadaan bait suci merupakan jaminan bahwa Yerusalem tidak akan bisa ditaklukkan dan Allah akan senantiasa beserta dengan mereka.  Sayangnya keyakinan seperti ini tidak sejalan dengan tindakan yang mereka lakukan saat itu yang dipenuhi dengan ketidakadilan, penyalahgunaan peribadatan bahkan penajisan bait suci itu sendiri melalui penyembahan kepada dewa-dewa lain dan bukannya kepada Yahweh.  Karena melakukan hal-hal seperti itu, mereka diumpamakan seperti para perampok yang bersembunyi di dalam gua setelah merampok dan menganggap gua itu aman, tetapi sesungguhnya gua itu tidak aman karena mata Tuhan melihat.  Tuhan pada akhirnya akan menghukum mereka dan mengenyahkan mereka dari hadapan-Nya karena mereka tidak mau bertobat (7:13-15).[27]
Ungkapan dari Yeremia 11:7 dipakai Yesus mungkin untuk menyatakan bahwa kepemimpinan umat Yahudi sudah tidak lagi memiliki perhatian terhadap keadilan dan kebenaran, baik dalam hal membiarkan para pedagang berjualan di pelataran bait suci dengan harga yang dapat mencekik pembeli maupun dalam hal melakukan ketidakadilan secara umum dan melalui penolakan mereka atas kebenaran yang disampaikan oleh Yesus (Mis. Mrk. 3:1-6; 7:10-13; 10:2-12; 12:41-44).[28]  Celakanya, para pemimpin tersebut bertindak seolah-olah kemunafikan mereka dapat diabaikan begitu saja mungkin dengan mengacu kepada status mereka di masyarakat atau dengan ritual yang mereka lakukan di bait Allah.  Yesus menegaskan bahwa hukuman Tuhan pasti akan dijatuhkan atas diri mereka. 
Berdasarkan tinjauan Yeremia 7:11 dan jika kita memperhatikan konteks selanjutnya dari kutipan Yesaya 56:7 yang mengecam para pemimpin umat, kesan yang didapat dari ucapan Yesus adalah adanya suatu nubuatan tentang penghukuman yang pasti akan diterima oleh para pemimpin Israel (dan juga umat Israel) atas ketidakbenaran yang mereka lakukan, yang antara lain dicontohkan oleh kehidupan di sekitar bait suci yang tidak sesuai dengan maksud mula-mula dan melalui penolakan yang mereka lakukan terhadap pengajaran Yesus.

PENAFSIRAN ATAS TINDAKAN YESUS
            Apa makna dari tindakan Yesus di bait suci ini?  Ada yang berpendapat bahwa tindakan Yesus adalah suatu upaya untuk mengadakan revolusi politik, entah terhadap kepemimpinan agama Yahudi atau pemerintahan Romawi atau dua-duanya.  Namun pandangan ini tidak tepat karena jika benar,  baik polisi maupun tentara Romawi yang ditempatkan di dekat situ akan segera beraksi padahal sama sekali tidak ada informasi tentang pokok ini.[29]
Ada juga yang berpendapat bahwa Yesus ingin menghapuskan seluruh sistem kurban dan menggantikannya dengan penyembahan yang lebih bersifat spiritual.  Namun hal ini tidak benar karena dalam bebagai peristiwa Yesus menyuruh orang yang disembuhkan untuk menunjukkan diri kepada imam dan memberikan persembahan di bait suci (Mrk. 1:40-45, Luk. 17:11-19). Yesus sendiri menyuruh murid-murid-Nya untuk membayar pajak bait suci (Mat. 17:24-27).[30]
Ada juga yang berpendapat bahwa Yesus ingin memulihkan hubungan antara kaum Yahudi dengan orang bukan Yahudi dengan menyingkirkan penghalang bagi masuknya orang non-Yahudi ke bait suci, yakni kondisi pelataran luar bait suci yang dipenuhi pedagang.  Pandangan ini juga tidak kuat karena meskipun panggilan kepada orang non-Yahudi akan menjadi misi Yesus kepada murid-murid-Nya di kemudian hari, perintah itu tidak ditujukan kepada kaum Yahudi secara umum pada waktu itu.[31]
Berdasarkan studi latar belakang yang telah dilakukan, penulis setuju dengan para penafsir yang melihat tindakan Yesus adalah merupakan suatu tindakan simbolis.  Mengapa demikian?  Selain alasan yang telah disampaikan di atas, khususnya keterkaitan peristiwa ini  dengan pengutukan pohon ara, memang kecil kemungkinannya Yesus mengusir semua pedagang yang ada di pelataran luar bait suci mengingat pelataran bait suci sangat luas dan Yesus sekalipun dibantu murid-murid-Nya sulit mencegah orang-orang yang tetap ingin masuk dan melewati bait suci atau mengusir semua pedagang secara permanen.  Jikalau tindakan yang dilakukan Yesus berskala luas, kemungkinan besar aparat keamanan akan melakukan intervensi.  Namun meskipun hanya simbolis, tindakan ini memiliki dampak yang luas karena diadakan saat Yerusalem sedang dikunjungi oleh puluhan ribu umat Yahudi yang ingin merayakan Paskah. 
Dilihat secara sepintas, tindakan simbolis yang Yesus lakukan adalah untuk membersihkan bait suci dari urusan jual-beli yang dapat mengganggu orang untuk melakukan ibadah dengan khidmat kepada Allah, suatu ibadah yang membuka peluang bagi orang-orang yang berbeda bangsa atau jenis kelamin untuk datang bersama kepada Allah, ibadah yang bukan hanya menggunakan bentuk luar akan tetapi juga disertai dengan integritas, kejujuran dalam hidup (termasuk dalam melakukan jual-beli barang) dan dengan hati nurani yang bersih.[32]
Penulis berpendapat bahwa meskipun kelihatannya ada motif membersihkan bait suci, ada motif yang lebih spesifik, terutama sebagaimana yang dicatat oleh Markus dalam keseluruhan konteksnya, yakni motif penghukuman terhadap bait suci dan umat Yahudi.  Penghukuman itu akan berupa kehancuran bait suci oleh karena ketidakbenaran yang telah dilakukan para pemimpin umat Yahudi selama ini.  Tindakan simbolis ini mirip dengan tindakan simbolis yang dilakukan oleh nabi-nabi Perjanjian Lama ketika harus menyampaikan penghukuman Allah kepada umat-Nya (Yer. 19:10; 27:2-7; Yeh. 4:9-17).[33]  Tindakan Yesus yang bertujuan untuk menjatuhkan penghukuman ini juga akan sesuai dengan penempatannya di Markus yang diapit oleh kisah pohon ara yang tidak berbuah yang melambangkan penghukuman kepada umat Israel.  Tujuan ini pun sesuai dengan konteks sastra yang lebih luas dari pasal 11-16 sebagaimana telah dijelaskan di atas, yakni berkaitan dengan perumpamaan penggarap kebun anggur dan nubuatan mengenai keruntuhan bait suci.  Tujuan ini juga akan sesuai dengan perlawanan yang ditunjukkan oleh para pemimpin agama terhadap tindakan dan pengajaran Yesus sejak Markus 2 dan rencana mereka untuk membunuh Yesus sejak Markus 3.  Selain itu, pemufakatan para pemimpin agama untuk membunuh Yesus karena tindakan-Nya di bait suci (Mrk. 11:18) juga akan masuk akal karena Yesus dianggap telah menolak pusat keagamaan “umat Allah” dan bahkan menubuatkan kehancurannya, apalagi kelihatannya orang banyak bersimpati dengan tindakan dan pengajaran Yesus ini.  

KESIMPULAN
Melalui studi singkat, makalah ini menunjukkan bahwa tindakan yang Yesus lakukan di bait suci merupakan suatu tindakan simbolis yang pada permukaannya nampak untuk menekankan penggunaan yang sebenarnya dari bait suci namun pada ujungnya menyatakan bahwa kerusakan rohani umat Israel sebagaimana ditunjukkan oleh para pemimpinnya telah sedemikian parah sehingga mendatangkan penghukuman melalui penghancuran bait suci yang melambangkan pusat keagamaan umat Israel dan pusat kebanggaan para pemimpinnya. 



DAFTAR KEPUSTAKAAN




BUKU
Bultmann, Rudolf.  History of the Synoptic Tradition.  Peabody: Hendrickson, 1963.

Evans, Craig A.  Mark 8:27-16:20.  WBC.   Thomas Nelson, 2001.

France, R. T.  The Gospel of Mark.  NIGTC.  Grand Rapids: Eerdmans, 2002.

Funk, Robert W.  The Acts of Jesus: The Search for the Authentic Deeds of Jesus.  San Fransisco: Harper, 1998.

Herzog, W. R.  “Temple Cleansing” dalam Dictionary of Jesus and the Gospels.  Eds. Joel B. Green dan Scot McKnight.  Downers Grove: InterVarsity, 1992.  817-821.

Gentry, Bruce W.  “Temple” dalam Eerdmans Dictionary of the Bible.  Eds. David N. Freedman, et al.  Grand Rapids: Eerdmans, 2000.  1280-1284.

Lane, William L.  The Gospel According to Mark.  NICNT.  Grand Rapids: Eerdmans, 1974.

Motyer,  J. Alec.  The Prophecy of Isaiah.  Downers Grove: Intervarsity, 1993.

Oswalt, John N.  The Book of Isaiah Chapter 40-66.  NICNT.  Grand Rapids: Eerdmans, 1998.

Stein, Robert H.  Jesus the Messiah: A Survey of the Life of Christ.  Downers Grove: InterVarsity, 1996

Thompson,  J. A.  The Book of Jeremiah.  NICNT.  Grand Rapids: Eerdmans, 1980.

Watts, Rikk E.  “Mark” dalam Commentary on the New Testament Use of the Old Testament.   Eds. Greg K. Beale dan D. A. Carson.  Grand Rapids: Eerdmans, 2007.  111-249.

Wise, M. O.  “Temple” dalam Dictionary of Jesus and the Gospels.  Eds. Joel B. Green dan Scot McKnight.  Downers Grove: InterVarsity, 1992.  811-817.

Witherington, Ben.  The Gospel of Mark: A Socio-Rhetorical Commentary.  Grand Rapids: Eerdmans, 2001.

Wright, N. T.  The New Testament and the People of God.  Minneapolis: Fortress, 1992. 

________.  Jesus and the Victory of God.  Minneapolis: Fortress, 1996.





JURNAL
Craig A. Evans, “Jesus’ Action in the Temple: Cleansing or Portent of Destruction?” Catholic Biblical Quarterly 51(1989) 237-270. 


INTERNET
McKnight, Scot.   “The Jesus We’ll Never Know,”  http://www.christianitytoday.com/ct/2010/ april/15.22.html, diakses tanggal 3 Mei 2010.


[1] Peristiwa yang ditulis oleh Markus sangat mirip dalam susunan dengan yang ditulis oleh Matius dan Lukas.  Kebanyakan penafsir menganggap Matius dan Lukas telah menyesuaikan kisah yang ditulis Markus untuk tujuan penulisan mereka sendiri dengan bahan dari tradisi mereka sendiri sedangkan Yohanes memiliki tradisi kisah sendiri yang tidak bergantung kepada Markus.  Untuk perbandingan penekanan yang ingin diberikan oleh masing-masing penulis injil atas peristiwa ini, lihatlah W. R. Herzog, “Temple Cleansing” dalam Joel B. Green dan Scot McKnight, Dictionary of Jesus and the Gospels (Downers Grove: InterVarsity, 1992) 817-821.
[2] Markus menggunakan pendekatan geografis dalam injilnya dan menempatkan semua peristiwa yang berhubungan dengan Yerusalem di pasal 11-16.  Karena itu, peristiwa ini mau tidak mau harus dimasukkan di bagian ini.  Matius dan Lukas mengambil tulisan mereka dari Markus dan menempatkannya di bagian akhir pelayanan Yesus.  Sebaliknya Yohanes menempatkannya di bagian depan mungkin untuk memperlihatkan kepada pembacanya permusuhan yang ditunjukkan  oleh para pemimpin agama sejak awal yang mau tidak mau pada akhirnya akan membawa pada penyaliban Yesus (lih. Robert H. Stein, Jesus the Messiah: A Survey of the Life of Christ [Downers Grove: InterVarsity, 1996] 186-187).
[3] N.T. Wright, Jesus and the Victory of God (Minneapolis: Fortress, 1996) 405.
[4] Herzog, “Temple Cleansing” 817. Evans juga menyatakan bahwa para ahli pada umumnya menerima historisitas peristiwa ini (lih.  Craig A. Evans, Mark 8:27-16:20 [WBC; Thomas Nelson, 2001] 165-167).
[5] Rudolf Bultmann berpandangan bahwa baik tindakan maupun perkataan Yesus di bagian ini berasal dari tradisi yang mula-mula (lih. Rudolf Bultmann, History of the Synoptic Tradition [Peabody: Hendrickson, 1963] 36).  Sementara itu, sarjana-sarjana yang sangat skeptis terhadap kisah-kisah Injil, seperti Jesus Seminar, menganggap bahwa kejadian ini memang pernah terjadi namun tidak jelas apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.  Mereka ragu karena apa yang dilakukan oleh Yesus sangat tidak bermakna (tidak mungkin mengusir SEMUA pedagang dan melarang SEMUA orang masuk melalui bait suci) dibandingkan dengan ukuran wilayah bait suci dan mereka juga berkeyakinan bahwa kata-kata yang Yesus ucapkan merupakan tambahan dari para penulis injil sendiri  (lih. Robert W. Funk, The Acts of Jesus: The Search for the Authentic Deeds of Jesus [San Fransisco: Harper, 1998] 121-122).  Dalam hal ini Funk dan kelompok Jesus Seminar telah sangat mempersempit lingkup penafsiran yang mungkin dalam peristiwa ini dan menutup kemungkinan bahwa tindakan Yesus dapat merupakan suatu tindakan simbolis, sebagaimana akan kita lihat di bagian selanjutnya makalah ini.  .
[6] Berbicara tentang historisitas pada akhirnya adalah berbicara tentang iman dan presuposisi seseorang dalam memandang kitab suci.  Tentu saja ini bukan iman yang buta, akan tetapi tidak mungkin berbicara tentang masa lalu tanpa melibatkan suatu faktor yang disebut iman.  Lihat misalnya artikel menarik dari Scot McKnight, “The Jesus We’ll Never Know,”  http://www.christianitytoday.com/ct/2010/ april/15.22.html, diakses tanggal 3 Mei 2010 dan tanggapan dari N.T. Wright, Craig S. Keener dan Darrell Bock.
[7] M.O. Wise, “Temple” dalam Dictionary of Jesus and the Gospels (Eds. Joel B. Green dan Scot McKnight; Downers Grove: InterVarsity, 1992) 811-817.
[8] N.T. Wright, The New Testament and the People of God (Minneapolis: Fortress, 1992) 224.  Meskipun demikian, ada ahli yang berpendapat bahwa orang-orang yang tinggal lebih jauh dari Yerusalem, seperti di Galilea kurang memiliki penghargaan terhadap bait suci dan segala peraturannya dibandingkan mereka yang tinggal di dekat Yerusalem (lih. Ben Witherington III, The Gospel of Mark: A Socio-Rhetorical Commentary [Grand Rapids: Eerdmans, 2001] 313).
[9] Wright,  Jesus and the Victory of God 411-412.
[10] Wise, “Temple” 812.
[11] Bruce W. Gentry, “Temple” dalam Eerdmans Dictionary of the Bible (Eds. David N. Freedman, et al.; Grand Rapids: Eerdmans, 2000) 1281.
[12] Stein, Jesus the Messiah 187-189.
[13] Ibid. 189.
[14] Lane, The Gospel According to Mark 405.
[15] Stein, Jesus the Messiah 189.
[16] Craig A. Evans, “Jesus’ Action in the Temple: Cleansing or Portent of Destruction?” Catholic Biblical Quarterly 51(1989) 257-263. 
[17] Sebagian komunitas Yahudi tertentu seperti komunitas Enoch dan Qumran memiliki pandangan sangat negatif terhadap kepemimpinan bait suci di Yerusalem yang dianggap sangat korup dan karena itu akan dihancurkan.  (lih. Witherington, The Gospel of Mark 313-314).
[18] Menurut Bultmann, mungkin sekali peristiwa pengutukan pohon ara dan akibat dari kutukan tersebut diturunkan oleh tradisi sebagai satu kesatuan unit dan pemisahannya di perikop ini dilakukan secara sengaja oleh Markus.  Bultmann, Rudolf, History of the Synoptic Tradition (Peabody: Hendrickson, 1963) 218.
[19] R.T. France, The Gospel of Mark (NIGTC; Grand Rapids: Eerdmans, 2002) 18-20.  Contoh lain di kitab Markus adalah penyembuhan anak perempuan Yairus diselingi kisah penyembuhan perempuan yang mengalami pendarahan (5:21-43), kisah mengenai keluarga Yesus yang menganggap-Nya gila diselingi oleh diskusi mengenai asal usul kuasa Yesus (3:20-35).
[20] Di Perjanjian Lama, pohon ara sering melambangkan umat Israel (Yer. 8:13; 24:1-10; Hos. 9:10, 16-17; Mik. 7:1) dan penghancuran pohon ara diasosiasikan dengan penghukuman (Hos. 2:12; Yes. 34:4).  William L. Lane, The Gospel According to Mark (NICNT; Grand Rapids: Eerdmans, 1974) 399-400.
[21] Para ahli umumnya menafsirkan perumpamaan ini menggambarkan Allah yang telah mengutus para nabi-Nya bahkan Anak-Nya untuk membimbing umat Israel namun mereka semua telah ditolak, dianiaya bahkan dibunuh.  Karena itu, Allah akan menghukum mereka.  Bdk. France, The Gospel of Mark 457-458.
[22] John N. Oswalt, The Book of Isaiah Chapter 40-66 (NICNT; Grand Rapids: Eerdmans, 1998) 444-445 .
[23] Rikk E. Watts, “Mark” dalam G.K. Beale dan D.A. Carson, eds., Commentary on the New Testament Use of the Old Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 2007) 209. 
[24]  J. Alec Motyer, The Prophecy of Isaiah (Downers Grove: Intervarsity, 1993) 463-467.
[25] Watts, Mark. 210
[26] Ibid. 211 dan France, The Gospel of Mark  445-446.
[27] J. A. Thompson, The Book of Jeremiah (NICNT; Grand Rapids: Eerdmans, 1980) 272-281.
[28] Watts, Mark  211.
[29] Stein, Jesus the Messiah 193.
[30] Ibid.
[31] Ibid. 193-194.
[32] Bandingkan dengan pandangan Stein, Jesus the Messiah 194.
[33] Ibid. 194-195.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar