24 Agustus 2011

Eksegese Yohanes 3:1-15

KELAHIRAN KEMBALI
OLEH PILIPUS FERDINAND



PENDAHULUAN
            Narasi percakapan Tuhan Yesus dengan Nikodemus merupakan salah satu dari beberapa perikop dalam injil Yohanes yang tidak dicatat di dalam injil-injil Sinoptik.  Secara khusus, perikop ini juga merupakan narasi pertama dari serangkaian percakapan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus secara personal, dengan beberapa orang di waktu dan tempat yang berbeda.  Injil Yohanes mencacat, selain dengan Nikodemus (3:1-15), dalam pelayanan-Nya Tuhan Yesus juga melakukan percakapan dengan seorang perempuan Samaria (4:1-26), seorang pegawai istana di Kapernaum (4:43-53), dan seorang lumpuh di kolam Betesda (5:1-15).[1]  Sekalipun dalam setting dan dengan orang yang berbeda, namun yang menarik dari keempat percakapan ini adalah inti berita yang disampaikan Tuhan Yesus tetap sama, yaitu mengabarkan Kerajaan Allah.  Inilah yang menjadi benang merah yang mengikat keempat percakapan tersebut.  Bahkan, bukan hanya dalam keempat perikop itu saja, pemberitaan tentang Kerajaan Allah juga merupakan tema yang paling umum dan paling sering muncul dalam pangajaran Tuhan Yesus dalam injil-injil Sinoptik.[2]
            Dalam narasi Nikodemus, Tuhan Yesus dengan jelas menyatakan bahwa tanpa kelahiran kembali, seseorang bukan saja tidak dapat masuk melainkan juga tidak dapat melihat Kerajaan Allah.  Pernyataan Tuhan Yesus ini membuat konsep kelahiran kembali menjadi salah satu doktrin yang penting dalam kekristenan.  Bahkan dalam perkembangannya, doktrin ini menjadi salah satu yang paling sering diperbincangkan dan diperdebatkan dalam kekristenan.[3]
Kebingungan Nikodemus mengenai konsep kelahiran kembali yang dipaparkan oleh Tuhan Yesus, bisa jadi merupakan kebingungan yang dirasakan juga oleh orang-orang Kristen saat ini.  Itulah sebabnya dalam makalah ini, penulis akan memaparkan apa dan bagaimana sebenarnya makna kelahiran kembali itu berdasarkan eksegesis menurut injil Yohanes 3:1-15.  Dalam makalah ini, penulis juga akan menelusuri apa yang melatarbelakangi pemikiran Nikodemus, konsep Yudaisme apa yang dimilikinya sehingga ia salah menafsirkan apa yang diucapkan oleh Tuhan Yesus mengenai kelahiran kembali itu. 

KELAHIRAN KEMBALI DALAM KONTEKS LUAS
            Dalam menafsirkan atau memaknai sebuah kata, frasa, kalimat atau bahkan sebuah perikop, tentu tidak dapat dilepaskan dari konteks yang ada.  Itulah sebabnya, untuk memahami arti kelahiran kembali (dalam bahasa Yunani: gennao anothen),[4] kita perlu melihat bagaimana penggunaan dan pemaknaan atas istilah ini secara luas.  Artinya, perlu adanya penggalian secara komprehensif baik dalam konteks dekat maupun konteks jauhnya.

Kelahiran Kembali dalam Konteks Budaya Yudaisme  

Dalam konteks budaya Yudaisme, ide atau gagasan tentang kelahiran kembali telah dikenal secara luas.  Ini bukan suatu hal yang baru dalam kehidupan religius orang Yahudi.  Bagi mereka, kelahiran kembali adalah suatu istilah yang dikenakan pada kaum proselit, yaitu para non-Yahudi yang memeluk agama Yahudi dan menjadi bagian dari Yudaisme.  Dalam konsep Yudaisme, konversi seorang non-Yahudi menjadi proselit ini sama dengan peristiwa seorang anak yang baru saja dilahirkan.[5]  Dengan demikian jelas, bahwa dalam pemikiran orang Yahudi kelahiran kembali di sini berkaitan dengan hal rohani, yaitu iman yang baru kepada Yahwe.  Di mana dalam kelahiran kembali itu, kaum proselit meninggalkan iman atau kepercayaan mereka yang lama, dan beralih untuk mengenal dan menyembah kepada Allah yang benar.  Kelahiran kembali itu menjadikan mereka ciptaan yang baru, seperti bayi yang baru dilahirkan.
Selain itu, istilah anothen (from above) juga bukanlah hal yang baru dalam Yudaisme.  Istilah ini telah dikenal dalam pengajaran para rabi, di mana kata “above” ini dalam agama Yahudi merupakan sebuah keterangan yang menunjuk pada keberadaan Tuhan yang ada di atas (sorga).  Perbedaan antara “above” dan “below” pun sangat jelas bagi mereka.  Philo menjelaskan hal ini dengan menggambarkan perbedaan antara Allah dan dunia,[6] di mana Allah selalu ditempatkan di atas (upper), sedangkan dunia selalu yang di bawah (lower).[7]
Dengan penjelasan ini, maka kita dapat mengerti mengapa Tuhan Yesus secara halus menegur Nikodemus ketika ia menafsirkan gennao anothen (born again/born from above) itu sebagai sebuah physical birth.  Padahal sebagai seorang rabi Yahudi, Nikodemus pasti telah memahami istilah kelahiran kembali itu sebagai sesuatu yang bersifat rohani, sebagaimana yang dimengerti dalam Yudaisme.  Itu berarti, Nikodemus juga seharusnya paham bahwa yang dimaksud Tuhan Yesus dengan born from above adalah dalam pengertian rohani, yaitu kelahiran yang dikerjakan oleh Tuhan (yang di atas).

Kelahiran Kembali dalam  Konteks Perjanjian Lama
Kata/istilah gennao anothen sangat jarang digunakan dalam PL,[8] namun kata ini muncul dalam beberapa perikop secara cukup signifikan, seperti dalam Mazmur 2:7 “begotten of God” (diperanakkan dari Allah).  Kitab Amsal juga menulis bahwa hikmat berasal (diperanakkan) dari Allah.  Dalam Perjanjian Lama, kata ini juga digunakan untuk melukiskan Allah sebagai Creator ex nihilo (arb, Kej. 1:1, 27), sebagai Pribadi yang memberikan gambar-Nya bagi manusia (rxy, Kej. 2:7; Mzm. 139:16) dan sebagai Pribadi yang dengan tangan kreatif-Nya merajut manusia dalam kandungan ibunya.[9]
Selain itu, dalam PL istilah ini juga lebih dipahami sebagai pembaharuan nasional.  Pemikiran ini terdapat dalam pernyataan-pernyataan mengenai perjanjian baru dan Taurat yang ditulis dalam hati atau pemberian hati yang baru (misalnya dalam Yer. 24:7; 31:31; 32:38; Yeh.  11:19; 36:25-27).  Walaupun yang dimaksud dalam ayat-ayat ini adalah bangsa, namun suatu bangsa dapat diperbarui hanya apabila pribadi-pribadi di dalam tubuhnya diubah.[10]  Jadi dalam ide pembaruan nasional itu kita temukan juga “hati yang baru” yang diberikan kepada pribadi-pribadi.  Dengan demikian, jelas di sini gennao anothen berkaitan dengan inisiatif dan karya Allah yang memberikan “hati yang baru” yang dapat dipahami sebagai pemberian hidup baru kepada umat-Nya. 

Kelahiran Kembali dalam Konteks Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian Baru, ide tentang kelahiran kembali muncul dalam berbagai bentuk.  Injil Matius memakai istilah ini dalam pengertian eskatologis untuk menunjuk pada pemulihan segala sesuatu, yang juga mengingatkan kita bahwa pembaruan pribadi merupakan bagian dari pembaruan yang lebih luas yang meliputi alam semesta.[11]  Dalam Titus 3:5, kelahiran kembali mengacu pada “permandian kelahiran kembali dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus”.[12]  Di sini penggunaan istilah ini jelas menunjuk pada kelahiran dan pembaharuan secara pribadi.[13]  Dalam suratnya, Petrus juga menggunakan istilah kelahiran kembali untuk menggambarkan tindakan mula-mula yang memperbarui (1Ptr. 1:3, 23).[14]  Selain itu, gagasan tentang kelahiran kembali juga dinyatakan dalam Yakobus 1:18, yang berkata, “atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran.”  Bahkan Paulus dalam pengajarannya senantiasa mengaitkan kelahiran kembali dengan konsep tentang pengangkatan anak (adopted son).[15]
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gagasan “kelahiran kembali” itu diterima secara luas dalam PB dan dihubungkan dengan gagasan tentang pembaruan.[16]  Di sini kita melihat ada kesamaan pengertian dari penggunaan istilah kelahiran kembali dalam keseluruhan PB.  Di mana istilah ini jelas menunjukkan suatu perubahan menyeluruh secara terpadu dan dramatis yang dapat disamakan dengan kelahiran, kelahiran kembali, kejadian kembali, atau malah kebangkitan.[17]

Kelahiran Kembali dalam Seluruh Konteks Tulisan Yohanes
            Dalam tulisan-tulisan Yohanes, ide tentang kelahiran kembali pertama kali diisyaratkan dalam injil Yohanes 1:12, di mana setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus menerima kuasa untuk menjadi anak-anak Allah, dan pengalaman ini diterangkan sebagai “dilahirkan dari Allah” (1:13).  Dalam Yohanes 3, anothen secara khusus dikaitkan dengan Kerajaan Allah, yang mana hal itu jelas merupakan unsur yang mutlak dan penting dalam proses memulai kehidupan Kristen.[18]
            Dalam injil Yohanes, frasa kelahiran kembali muncul dalam bentuk-bentuk aorist tense (1:13; 3:3, 5, 7).  Pemakaian bentuk-bentuk perfektum menyatakan bahwa tindakan awal yang tunggal ini membawa serta dampak-dampak yang luas (seperti dalam Yoh. 2:29; 3:9; 4:7; 5:1, 4, 18).[19]  Di sini jelas, bahwa anothen dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan atas kodrat manusia yang dilakukan oleh Roh Kudus yang membawa perubahan dalam seluruh kehidupan pribadi seseorang.  Melalui anothen, manusia kini digambarkan sebagai manusia baru yang mencari, menemukan, dan mengikuti Allah dalam Kristus.[20]
            Selain dalam injil Yohanes, gagasan tentang kelahiran kembali juga dinyatakan dalam surat 1 Yohanes.  Di mana orang-orang percaya dianggap sebagai orang yang lahir dari Allah (1Yoh. 2:29; 3:9; 4:7; 5:4; 5:18).[21]  Di sini Yohanes menegaskan bahwa kelahiran kembali akan disusul dengan akibat-akibat rohani tertentu.  Tidak seorang pun yang lahir dari Allah akan terus-menerus berbuat dosa (3:9; 5:18).  Artinya, orang yang lahir dari Allah akan mengasihi orang lain, bahkan lebih dari itu kelahiran kembali membuat orang mengenal Allah (4:7).  Selain itu, kelahiran kembali juga akan mempengaruhi orang percaya dalam hubungannya dengan dunia, karena ia mengalahkan dunia melalui imannya (5:4).[22]
             
KELAHIRAN KEMBALI DALAM KONTEKS YOHANES 3:1-15

Hubungan Yohanes 3:1-15 dengan Perikop-perikop di Sekitarnya
Narasi Nikodemus ini (3:1-15) berkaitan erat dengan perikop sebelum dan sesudahnya.  Pasal 2:23-25 bukan saja merupakan kesimpulan dari peristiwa penyucian Bait Allah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.  Namun juga adalah suatu transisi dan pengantar untuk masuk ke dalam narasi Nikodemus.[23]  Sebelumnya, Yohanes melukiskan bahwa orang banyak di Yerusalem percaya kepada Tuhan Yesus karena mereka telah melihat tanda-tanda yang dilakukan-Nya.  Namun fakta ini tidak membuat Tuhan Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, sebab Tuhan Yesus tahu apa yang sesungguhnya ada di dalam hati mereka (2:23-24).  Di sini Yohanes ingin menekankan bahwa iman yang timbul hanya berdasarkan tanda, bukanlah iman yang sejati.  Dan dengan menempatkan narasi Nikodemus tepat setelah bagian tersebut, Yohanes ingin agar para pembacanya dapat melihat hubungan antara Nikodemus dan orang banyak yang hanya mendasarkan iman mereka pada tanda-tanda itu.[24]  Di sini kita melihat bahwa Yohanes ternyata memiliki gambaran yang cukup negatif terhadap Nikodemus (khususnya dalam pasal 3:1-15).[25]
            Selain berhubungan dengan perikop sebelumnya, ternyata narasi Nikodemus juga memiliki hubungan yang unik dengan perikop sesudahnya, yaitu narasi percakapan Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria (4:1-42).  Di sini kita melihat bagaimana Yohanes mengontraskan dua karakter yang sangat berbeda.  Di satu sisi, Nikodemus adalah seorang pria, memiliki kuasa atau otoritas, seorang Yahudi, pemimpin agama, memiliki hikmat dan hidup kudus (taat pada Taurat), dan disebut oleh Yohanes dengan sebuah nama “Nikodemus.”  Sedangkan di sisi lain,  orang Samaria itu adalah seorang perempuan, tidak memiliki kuasa atau otoritas, bukan orang Yahudi, seorang tanpa pandangan dan praktek religius yang baik, memiliki hidup yang tidak kudus (menurut pandangan orang Yahudi), bahkan tidak disebut/diketahui namanya.[26]  Di sini kita dapat menyimpulkan bahwa sekalipun kedua tokoh ini memiliki kekontrasan, namun keduanya sama-sama butuh karya keselamatan melalui kelahiran kembali yang hanya dapat dikerjakan oleh Roh Kudus. 

Analisa Kata
Istilah “kelahiran kembali” berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu kata gennavw (verb) yang berarti to give birth to atau to bear, dan kata aνωθεν (adverb) yang berarti again/from above.  Dalam perikop Yohanes 3:1-15, aνωθεν (baca: anothen) muncul sebanyak dua kali dan selalu dipakai untuk menerangkan kata kerja gennavw yang selalu muncul dalam bentuk aorist.  Bentuk aorist tense sendiri memiliki pengertian bahwa sesuatu hal yang pernah terjadi atau pernah dilakukan sekali saja namun dampaknya untuk seterusnya.  Dengan demikian istilah “kelahiran kembali” dapat diartikan sebagai suatu peristiwa atau kejadian yang dikerjakan oleh Roh Kudus satu kali dalam diri orang percaya, dan ia akan masuk dalam Kerajaan Allah.
  
Analisa Perikop
            Peristiwa yang diceritakan dalam perikop ini terjadi di kota Yerusalem dan tidak bisa dilepaskan dari kejadian di perikop sebelumnya.  Percakapan dengan Nikodemus ini terjadi dalam serangkaian pelayanan Tuhan Yesus ketika Ia menghadiri perayaan Paskah di Yerusalem (2:13).[27]  Dalam pasal 2 diceritakan bagaimana Tuhan Yesus melakukan tindakan untuk membersihkan Bait Allah, yakni dengan mengusir para pedagang dan penukar uang.  Selain itu, selama hari raya Paskah yang berlangsung selama 8 hari, Tuhan Yesus pun memenuhi kebutuhan-kebutuhan banyak orang dengan melakukan mukjizat-mukjizat atau tanda-tanda. 
Seorang Farisi yang bernama Nikodemus,[28] yang mungkin saja telah melihat keberanian Yesus dan tanda-tanda yang dilakukan-Nya, akhirnya memutuskan untuk datang menjumpai-Nya.  Tokoh Nikodemus yang muncul dalam perikop ini dilukiskan sebagai seorang Farisi yang juga menjadi bagian dari golongan penguasa di Yudea.  Nampaknya Nikodemus juga adalah anggota Mahkamah Agama (3:1),[29] dan pengajar Israel (3:1, 10).[30]  Namun ironisnya, semua reputasi dan pengetahuan agama yang dimilikinya itu ternyata tidak dapat menolongnya untuk memahami kiasan-kiasan rohani yang dipakai Tuhan Yesus dalam percakapan ini. 
            Percakapan antara Tuhan Yesus dan Nikodemus terjadi pada malam hari.  Pertanyaannya, mengapa Nikodemus memilih waktu malam?  Banyak penafsiran yang diberikan untuk menjawab hal ini.  Ada yang mengatakan bahwa mungkin karena Nikodemus takut dilihat orang banyak, mungkin juga karena ia tidak ingin percakapannya dengan Tuhan Yesus tergangu oleh orang banyak.  Atau barangkali juga karena ada aturan di kalangan para rabi yaitu penghukuman atas mereka yang mengabaikan waktu belajar mereka hingga jam sembilan malam.[31]
            Dalam percakapan ini, Nikodemus sulit mengerti ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa tanpa kelahiran kembali seseorang tidak akan melihat Kerajaan Allah (3:3).  Istilah “kelahiran kembali” yang diucapkan Tuhan Yesus, dimaknainya secara harfiah, yaitu kelahiran jasmaniah (physical birth).[32]  Mungkin pemahaman Nikodemus ini berkaitan dengan konsep orang Yahudi tentang Kerajaan Allah itu sendiri.  Dalam Yudaisme, Kerajaan Allah adalah sebuah kerajaan di masa yang akan datang.  Dan bagi orang Yahudi, status mereka sebagai bangsa atau umat pilihan Allah dan kesetiaan mereka menjaga dan melakukan hukum Taurat adalah jaminan bagi mereka untuk masuk ke dalamnya.[33]  Itulah sebabnya dalam Yudaisme, konsep lahir baru itu hanya ditujukan kepada kaum proselit, di mana konversi Gentile ke dalam Yudaisme dianggap sebagai awal dari hidup yang baru, yang sama seperti anak-anak yang baru lahir secara jasmani.[34]
Di sini kita dapat memahami, bahwa sebagai seorang Farisi Yudaisme, tentu Nikodemus sangat menjaga ketaatan terhadap hukum Taurat dan tradisi-tradisi leluhurnya.  Bagi Nikodemus, statusnya sebagai orang Yahudi dan hidupnya sebagai seorang Farisi adalah modal yang dimilikinya untuk masuk dalam Kerajaan Allah.  Baginya semua yang dimilikinya itu sudah cukup.  Ia bingung ketika Tuhan Yesus berkata tentang kelahiran kembali.  Baginya, kelahiran kembali adalah milik kaum proselit.  Jadi apakah kelahiran kembali adalah suatu konsep yang baru, di mana seseorang (Yahudi) harus mengalami kembali physical birth? Inilah yang dipertanyakan oleh Nikodemus. 
Namun, apa yang dipikirkan Nikodemus berbeda dengan yang disampaikan Tuhan Yesus.  Perkataan “Verily, verily, I say unto thee” (ASV) atau “I tell You the truth” (NIV), menandakan bahwa Tuhan Yesus hendak menyampaikan suatu hal yang sangat penting.[35]  Melalui perkataan ini Tuhan Yesus hendak meluruskan pemahaman Nikodemus.  Keselamatan tidak ditentukan oleh status Israel sebagai umat pilihan Allah, bukan juga ketaatan mereka pada Taurat, apalagi kesetiaan menjalankan tradisi-tradisi leluhur mereka.  Melalui perkataan ini, Tuhan Yesus hendak memberitahukan suatu kebenaran yang sejati, ”no one can see the kingdom of God unless he is born again” (3:3 NIV).  Inilah karya keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan sendiri, suatu kelahiran kembali (born again), yaitu kelahiran baru yang dikerjakan oleh Roh Kudus (from above).

MAKNA TEOLOGIS KELAHIRAN KEMBALI DALAM YOHANES 3:1-15
            Di dalam seluruh pengajaran Tuhan Yesus tentang tema hidup baru yang dicatat dalam injil Yohanes, narasi Nikodemus ini merupakan pernyataan Tuhan Yesus yang paling jelas mengenai konsep kelahiran kembali.  Pernyataan Tuhan Yesus menyiratkan sesuatu perubahan yang begitu radikal sehingga tidak dapat dihasilkan melalui upaya manusia sendiri.  Kelahiran baru merupakan karya Roh Kudus (3:5), karena untuk mengubah seseorang menjadi suatu ciptaan baru membutuhkan suatu tindakan supranatural.[36] 
            Sifat ragu-ragu Nikodemus, yang didasarkan pada pemahamannya yang terlalu harafiah atas kelahiran baru, membuat akhirnya ia menganggap kelahiran baru itu sebagai sesuatu yang mustahil.  Pandangan yang keliru ini dijawab dengan tegas melalui penegasan Tuhan Yesus tentang sifatnya yang rohani, yang berarti bahwa kelahiran kembali itu tidak dapat dijelaskan sebagai suatu peristiwa jasmaniah.  Lahir baru mencakup pertukaran kodrat lama seseorang menjadi kodrat yang baru, penerimaan suatu jenis asal usul yang baru, serta perjalanan masuk kepada hubungan yang baru dengan Allah.[37]
            Melalui penggunaan aorist tense dan istilah “air dan Roh” maka jelas kelahiran kembali adalah suatu tindakan di mana Allah memberikan hidup kepada orang yang percaya.  Kelahiran kembali dapat dikatakan sebagai kelahiran kedua yaitu suatu kelahiran dari atas, dari Allah.  Kelahiran kembali juga adalah kelahiran spiritual sebagai kontras dengan kelahiran pertama yang adalah suatu kelahiran secara fisik.[38]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar