7 Maret 2012

Khotbah Filipi 1:12-26

SUKACITA DALAM KESULITAN PELAYANAN
Oleh Rudy Setiono



Pendahuluan
Saudara, sebagai hamba Tuhan, tentu kita akan bersukacita jika pelayanan yang kita lakukan membuahkan hasil yang menggembirakan. Bila selesai kita berkhotbah, ada jemaat yang menyalami kita dan berkata, “Terima kasih Pak/Bu khotbahnya benar-benar mengena kepada diri saya.” Atau, bila selesai kita mendoakan orang yang sakit, orang yang kita doakan berkata, “Kedatangan Bapak/Ibu sungguh-sungguh telah menjadi penghiburan dan kekuatan bagi saya.” Atau, bila setelah belasan tahun kita melayani sebuah gereja, jemaat bertumbuh baik dalam jumlah maupun dalam kualitas iman mereka.
Saudaraku, ketika kita menikmati hasil pelayanan yang menggembirakan, hati kita memang dipenuhi sukacita.  Namun, bagaimana bila yang terjadi adalah sebaliknya? Bukan keberhasilan dan pujian, tetapi tantangan dan kritikan yang kita dapati. Apakah kita akan  tetap bertahan? Saudara, banyaknya kesulitan dalam pelayanan, seringkali membuat seorang hamba Tuhan yang telah bertahun-tahun melayani kehilangan sukacita sehingga berteriak dalam hati, “Aku capek! Aku benar-benar ingin berhenti dari pelayanan ini.”
Untuk itulah Saudara, saya pikir diperlukan perspektif yang benar dalam memandang kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dalam pelayanan, sehingga kita tidak kehilangan sukacita. 

Melalui perikop yang kita baca pagi ini, setidaknya ada dua perspektif dalam memandang kesulitan pelayanan:
I.          Berfokuslah pada kemajuan Injil, bukan pada kesulitan kita (ay. 12)

Penjelasan
Masalahnya Saudara, ketika seseorang menghadapi masalah yang sulit, nggak gampang utk tidak berfokus pada masalah itu.  Kecenderungannya, kita akan terus berfokus pada masalah dan kesulitan yang sedang kita hadapi.  Namun, sekalipun susah, bukan berarti tidak mungkin.
Paulus telah memberikan teladan kepada kita.  Sukacita Paulus dalam melayani tidak hilang, sekalipun dia sedang berada di tengah-tengah penderitaan dan kesulitan.  Saudara, ketika menulis surat Filipi ini, Paulus sebenarnya sedang di penjara di Roma sebagai tahanan rumah. Kebebasan Paulus dibelenggu.  Ia harus hidup dibawah pengawasan militer yang ketat selama 24 jam. Salah satu tangan Paulus diikat dengan borgol dan borgol itu diikatkan pada salah satu tangan para penjaga Romawi.  Setiap 6 jam sekali, para penjaga saling bergantian menjaga Paulus. 
Saudara, kenyataan pahit ini harus dihadapi oleh Paulus. Dalam kondisi seperti itu, Paulus tidak bisa lagi melakukan perjalanan misi.  Padahal kita tahu bukan, hasrat hidup Paulus yang terbesar adalah pergi memberitakan Injil, ke tempat dimana nama Kristus belum dikenal. Namun Saudara, semua hasrat Paulus seolah harus dikubur dalam-dalam karena, dengan penjagaan yang begitu ketat dan tangan yang diborgol, mana mungkin ia dapat pergi memberitakan Injil.
Saudaraku, dalam kondisi seperti itu, normalnya, Paulus seharusnya duduk bersedih hati dan meratapi nasibnya. Sewajarnya, kalau Paulus kehilangan sukacitanya dan mengeluh kepada Tuhan atas kesulitan dan penderitaan yang harus ia hadapi dalam pelayanan pemberitaan Injil. 
Namun Saudara, Alkitab mencatat Paulus tidak kehilangan sukacitanya.  Paulus malah menulis surat kepada jemaat Filipi dengan nada penuh sukacita.  Ia malah menguatkan jemaat Filipi dan memberi kesaksian positif tentang pemenjaraannya.  Dalam ayat 12, Paulus berkata, “Aku menghendaki Saudara-Saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil.” Artinya Saudara, Paulus menghendaki jemaat Filipi mengetahui perspektifnya dalam memandang penderitaan.  Paulus ingin jemaat Filipi punya perspektif yang benar dalam memandang pemenjaraannya, yaitu bukan berfokus pada penderitaannya, namun berfokus pada kemajuan Injil.
Saudara, sebenarnya Paulus bisa saja memilih untuk tidak bersukacita ketika ia dipenjara karena sukacita itu suatu pilihan, bukan? Bisa saja  Paulus tidak melakukan apa-apa, dan hanya duduk termenung sambil menyesali nasib buruknya. Namun, Paulus memilih yang sebaliknya.  Ia memilih untuk berfokus pada kemajuan Injil.  Paulus memilih untuk memandang penderitaan yang dialaminya dengan perspektif yang benar. Dia melihat bahwa penderitaannya justru berdampak positif terhadap kemajuan Injil.
Paulus memandang bahwa pememjaraannya  bukan suatu kebetulan.  Bukan suatu kebetulan jika ia dijaga begitu ketat oleh empat penjaga Romawi secara bergantian setiap harinya.  Paulus melihat semua itu sebagai cara Tuhan untuk menyebarkan Injil Kristus di Roma. 
Saudara, justru melalui penjaralah, Paulus beroleh kesempatan untuk membawa Injil ke tengah-tengah kerajaan Romawi. Sampai-sampai, seluruh kerajaan Romawi tahu bahwa Paulus dipenjarakan bukan karena dia berbuat jahat, tapi karena Injil. Justru melalui penjaralah, banyak orang Kristen yang tadinya takut memberitakan Injil menjadi berani dan tidak gentar lagi, sehingga Injil diberitakan lebih luas.  Bahkan, sekalipun di antara mereka, ada yang memberitakan Injil dengan motivasi yang salah: ingin lebih terkenal dari Paulus.  Namun Saudara, Paulus tetap berfokus pada kemajuan Injil (ay 18).  Bagi Paulus, selama Kristus diberitakan dan Injil yang sejati disebarluaskan, maka tidak ada alasan untuk tidak bersukacita, sekalipun ia harus menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan. 

Ilustrasi
Saudara, saya punya seorang teman akrab. Dia adalah seorang penginjil yang sebenarnya punya potensi besar untuk menjadi sukses dan terkenal. Namun, Tuhan menaruh beban pelayanan dalam hatinya untuk melayani anak-anak jalanan.  Tidak sedikit orang yang menyesalkan keputusannya untuk tidak terlibat dalam pelayanan gereja.  Bahkan, ada beberapa majelis gereja yang berkata, “Benarkah kamu mau melayani anak jalanan? Coba dipikir lagi. Kamu tidak mungkin bisa hidup dengan pelayanan seperti itu.”  Namun Saudara, teman saya ini tetap pergi melayani anak-anak jalanan.  Ia belajar lebih taat pada Tuhan yang menaruh beban pelayanan dalam hatinya, daripada tergiur dengan segala fasilitas gereja yang ditawarkan padanya.
Saudara, dalam perjalanan pelayanannya, teman saya ini menghadapi berbagai kesulitan pelayanan.  Tidaklah mudah untuk melayani orang-orang yang tidak terdidik, dan berlaku liar.  Apalagi teman saya ini berasal dari suku yang berbeda.  Ia sering kali ditolak, dihina, dan diolok-olok karena perbedaan itu.
Bahkan Saudara, pernah suatu kali, teman saya ini dipukul bertubi-tubi oleh seorang anak jalanan.  Namun, tahukah Saudara apa yang dilakukan teman saya?  Ia merangkul anak jalanan itu dengan penuh kasih.  Sekalipun anak itu terus memukul dengan keras, namun ia tetap merangkul anak itu.  Sampai akhirnya, anak itu menangis dengan keras dalam pelukannya.  Sementara teman saya ikut menangis bersama anak itu.  Puji Tuhan Saudara, karena setelah kejadian tersebut, anak jalanan itu justru lebih terbuka untuk menerima kehadiran teman saya.       
Saudara, sampai hari ini teman saya masih setia melayani anak-anak jalanan, walaupun banyak kesulitan yang ia terus-menerus hadapi.  Namun, ia tidak kehilangan sukacita dalam melayani.  Malah, ia bersyukur karena Tuhan mempercayakan pelayanan itu kpadanya.  Bagi teman saya, tidak apa-apa kalau dia harus menderita.  Tidak apa-apa kalau dia harus dipukuli berkali-kali sampai memar, yang penting hati anak-anak jalanan itu menjadi lembut, sehingga terbuka kesempatan agar Injil Kristus diberitakan.  Saudara, teman saya tetap bertahan menghadapi kesulitan pelayanan, karena ia belajar untuk mengarahkan pandangan matanya pada kemajuan Injil, bukan pada kesulitan yang ia hadapi.  Hal itulah yang membuat dia dapat tetap bersukacita, sekalipun menghadapi berbagai kesulitan dalam pelayanan.
      
Aplikasi 
Saudaraku, sebagai hamba Tuhan, seharusnya sukacita terbesar kita adalah ketika melihat jiwa-jiwa yang belum mengenal Kristus bertobat dan dimenangkan bagi Kristus.  Biarlah ketika kita menghadapi berbagai kesulitan dalam pelayanan, kita tidak berfokus pada kesulitan itu, namun kita berfokus pada hal yang lebih penting, yaitu pada kemajuan Injil.    

Selanjutnya Saudara, perspektif kedua yang harus kita miliki sbg hamba Tuhan, ketika kita menghadapi kesulitan pelayanan adalah:

II.       Berharaplah kemuliaan Kristus dinyatakan, bukan sibuk dengan kemuliaan diri sendiri (ay. 20) 

Penjelasan
Saudaraku, seringkali sukacita pelayanan dapat begitu mudahnya terampas, karena banyak hamba Tuhan yang terlalu sibuk memikirkan kebutuhannya untuk dihormati, dan diakui.  Sampai-sampai, ketika menghadapi kesulitan pelayanan, mereka lupa untuk berdoa dan berharap agar kemuliaan Kristus dinyatakan melalui kesulitan itu.
Namun, tidak demikian dengan Paulus, Saudara.  Sekalipun berada di penjara, Paulus tidak merasa malu.  Ia tidak sibuk memikirkan harga diri dan kemuliaannya sendiri.  Dalam ayat 20, Paulus malah memberi kesaksian dengan berkata, “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.”
Saudara, Paulus menggunakan dua kata yang menarik dalam mengungkapkan kerinduan dan harapannya yang terdalam, yaitu avpokaradoki,a (eager expectation) dan evlpi,j (hope).  Sebenarnya kedua kata ini mempunyai penekanan arti yang sama.  Keduanya sama-sama mengungkapkan pandangan Paulus yang penuh kerinduan, yang berpusat pada satu sasaran keinginan, yaitu agar kemuliaan Kristus dinyatakan.  Paulus mengungkapkan kerinduannya, dengan pengharapan yang pasti, bahwa kemuliaan Kristus pasti akan dinyatakan.   
Saudara, dalam menghadapi kesulitan pelayanan, Paulus tidak mau berpusat pada dirinya sendiri.  Paulus tidak mau merasa malu karena Injil.  Paulus merindukan bahwa apapun yang terjadi padanya, Kristus dimuliakan melalui tubuhnya.  Kesulitan, penderitaan, bahkan kematian tidaklah menakutkan bagi Paulus, asal kemuliaan Kristus dinyatakan melaluinya.
Saudara, pengharapan inilah yang membuat Paulus dapat tetap bersukacita, dan terus memberitakan Injil Kristus dengan berani, sekalipun ia dipenjara.  Paulus tahu bahwa ketika Injil diberitakan, maka kemuliaan Kritus akan dinyatakan.  Dalam ayat 21, Paulus berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”  Bagi Paulus, jika dia masih hidup, itu berarti ia harus terus memberitakan Kristus.  Sedangkan, jika dia harus mati karena Injil, itu berarti adalah keuntungan, karena ia dapat bertemu dengan Kritus, muka dengan muka, dalam kemuliaan.  Saudaraku, perspektif hidup Paulus yang berfokus pada kemuliaan Kristus membuat dia tidak kehilangan sukacitanya, sekalipun menghadapi kesulitan dalam pelayanan. 

Ilustrasi
Saudara, saya mau menyaksikan pengalaman saya ketika menghadapi kesulitan pelayanan. Yah, sebenarnya bukan kesulitan yang berat, nggak bisalah dibandingkan dengan penderitaan yang dialami Paulus.  Kesulitan itu bukan berasal dari luar Saudara, tapi berasal dari diri sendiri.
Saya sungguh bergumul, setiap kali saya dipercaya untuk berkotbah, “Apakah saya bisa berkotbah dengan baik?  Apakah saya bisa menjadi berkat bagi jemaat?”  Saudara, pergumulan ini membuat saya gentar sekali.  Sebenarnya kegentaran saya cukup beralasan.  Saya masih ingat benar, waktu SD, saya pernah punya kelemahan yang menyebalkan.  Saya gampang banget grogi, Saudara.  Kalau sudah grogi dan tegang, wah...nggak usah disuruh, tubuh saya akan langsung memproduksi keringat yang super super banyak.  Saya masih ingat, bagaimana guru SD saya, dengan sengaja, selalu meminta saya maju ke depan untuk menulis di papan tulis.   Saudara tahu apa yang terjadi ketika itu? Nggak sampai semenit, baju saya buasaahhh puoll  karena berkeringat.  Dan saat itu juga, saya mendengar, tawa seluruh kelas menggema begitu kerasnya.
Yah, itu dulu Saudara.  Sekarang saya sih sudah bisa mengendalikan grogi saya.  Namun, dalam pelayanan berkhotbah, saya tidak hanya merasa kesulitan dalam membuat naskah kotbah, namun saya juga merasa grogi ketika harus berkotbah di hadapan banyak jemaat.  Ternyata memang tidak mudah ya utk berkotbah dengan menarik. Rasanya hati ini sedih sekali, kalau melihat ada jemaat yang tertidur, ketika saya berkotbah.  (Makanya, jangan tidur Saudara.  Ingat Firman Tuhan yang berkata: bangun dan berjaga-jagalah senantiasa J
Saudara, suatu kali, ketika saya dipercaya untuk berkotbah di umum, pulangnya istri saya bertanya, “Bagaimana ko, pelayanan Firman hari ini?”  Saat itu, dengan sedih saya menjawab hanya dengan sebuah kata, “FAIL...GAGAL” 
Oh Saudara, saat itu saya betul-betul merasa gagal: gagal karena saya merasa tidak bisa berkotbah dengan menarik.  Hati saya benar-benar hancur.  Perasaan kecewa menguasai hati saya.  Sampai-sampai sulit rasanya untuk dapat bersukacita.  Yang ada, saya menjadi berfokus pada diri sendiri, berfokus pada kesulitan dan kegagalan yang saya alami dalam berkotbah. 
Sampai suatu hari Saudara, Tuhan menyadarkan saya melalui suatu peristiwa.  Tuhan mengutus dua orang untuk memberikan konfirmasi bahwa pelayanan Firman yang saya bawakan waktu itu sesungguhnya telah memberkati mereka.  Saudara, waktu saya mendengarnya, saya tidak percaya, “Benarkah? Kotbah yang menurutku gagal dan banyak kekurangan itu bisa menjadi berkat bagi jemaat?”  Saya sungguh tidak bisa percaya.
Namun saat itu, dengan lembut Tuhan berkata dalam hati saya, “Anakk-Ku, lihatlah, bukankah dalam kesulitanmu, Aku tetap bisa memakaimu untuk menyatakan kemuliaan-Ku.”  Saudara, saat itu sungguh perasaan saya campur aduk, antara kaget, takjub, terharu, dan bahagia.  Dalam hati, saya berkata pada Tuhan, “Ya Tuhan, maafkan, jika aku selama ini terlalu sibuk memikirkan kesulitanku sendiri, sampai-sampai aku melupakan hal terpenting ketika aku melayani-Mu, yaitu berharap kemuliaan-Mu dinyatakan melalui pelayananku.” 
Saudara, saya sungguh bersyukur, karena Tuhan mengajar saya sebuah pelajaran berharga.  Tuhan mengajar saya untuk memiliki perspektif yang benar dalam memandang pelayanan dan kesulitannya.  Saya belajar untuk tidak berfokus pada kemuliaan sendiri, tidak sibuk memikirkan, “Apakah saya bisa melayani dengan baik? Apakah saya bisa berkotbah dengan baik?”  Saya belajar untuk mengubah perspektif berpikir saya, dan berharap akan satu hal yang jauh lebih penting dari semua itu, yaitu berharap agar kemuliaan Kristus dinyatakan melalui kesulitanku.

Aplikasi
Saudaraku, kesulitan apakah yang kita hadapi dalam melayani Tuhan?  Kelemahan dirikah?  Keterbatasan waktukah?  Rasa minderkah? Atau mungkin kita menghadapi kesulitan dalam mempersiapkan kotbah di tengah-tengah kesibukan pelayanan kita.  Mungkin kita menghadapi kesulitan-kesulitan dari luar: kita disalahmengerti ketika melayani, padahal kita sudah berusaha memberikan yang terbaik.  Atau mungkin kita menghadapi masalah relasi dengan rekan sepelayanan. 
Saudara, apapun persoalan pelayanan yang kita hadapi, entahkah itu dari dalam ataupun dari luar, mari kita membawa semua itu di hadapan Tuhan.  Mari kita meminta Tuhan menolong kita, untuk memiliki perspektif yang benar dalam menghadapi semua kesulitan itu.  Mari kita tidak berusaha menghadapi kesulitan itu dengan kekuatan kita sendiri.  Namun, mari kita menggunakan lutut kita utk berdoa, “Tuhan, kami adalah hamba-Mu.  Ajar kami utk tetap bersukacita dalam melayani-Mu, sekalipun di tengah-tengah kesulitan yang kami hadapi. Nyatakanlah kemuliaan-Mu ya Tuhan melalui kesulitan ini.”

Penutup
Saudara, ketika Kristus hidup di dunia, Ia juga mengalami berbagai kesulitan dalam melayani.  Namun, Kristus tetap mengarahkan pandangan-Nya pada hal yang jauh lebih penting, yaitu melakukan kehendak Bapa.  Sebagai anak Allah, Kristus tahu benar fokus hidup-Nya.  Itu sebabnya, tidak ada kesulitan apapun yang bisa menghalangi misi-Nya, bahkan sekalipun salib penderitaan harus dihadapi-Nya.  
Saudaraku, sebagai hamba Tuhan, bukankah fokus hidup kita adalah melayani Tuhan?  Bukankah seharusnya tidak ada kesulitan apapun yang dapat merampas sukacita kita, asal Injil disebarluaskan dan kemuliaan Kristus dinyatakan? 
Mari Saudara, kita memiliki perspektif yang benar dalam memandang kesulitan pelayanan yang kita hadapi, sehingga kita tidak kehilangan sukacita dalam melayani Tuhan.   Marilah kita berfokus pada kemajuan Injil, bukan pada kesulitan kita.  Marilah kita berharap kemuliaan Kristus dinyatakan, bukan sibuk dengan kemuliaan diri sendiri.  Ketika kita memiliki perspektif ini, maka hati kita akan senantiasa dipenuhi sukacita yang berlimpah dalam melayani Tuhan, seberat apapun kesulitan yang kita hadapi, karena, sukacita kita tidak ditentukan oleh kesulitan dan penderitaan.  Melainkan, sukacita pelayanan kita berfokus pada hal-hal yang jauh lebih penting, yaitu kemajuan Injil dan kemuliaan Kristus.  Kiranya Tuhan memampukan kita para hamba-Nya untuk senantiasa bersukacita dalam melayani-Nya. 

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar