30 Oktober 2011

Khotbah Roma 12:9-21

KARAKTERISTIK KASIH
OLEH ANTHONY CHANDRA



Pendahuluan
Saudara-saudara, hari ini saya berkhotbah mengenai kasih. Kita sudah tahu bahwa hidup seorang Kristen harus mencerminkan kasih.  Kasih itu tidak bisa hanya sekedar di mulut, tetapi kasih itu harus riil.  Saya setidaknya menemukan beberapa persamaan antara karakteristik kasih orang Kristen dengan puisi yang sudah saya bacakan tadi.
Kasih orang percaya
Tidak malu untuk dikeluarkan, tetapi mengGALAUkan hati jika ditahan
Kasih orang percaya
Harusnya keluar dengan sendirinya dan tidak bisa disembunyikan
Kasih orang percaya
Bisa menyerang siapapun yang sudah percaya kepada Kristus
Kasih orang percaya
Hanya memberi, tak harap kembali
Kasih orang percaya
Janganlah malu mengakuinya
Kasih orang percaya
Wujudnya nyata dan jelas adanya
Kasih orang percaya
Dapat dilihat dan bisa dirasakan
Kasih orang percaya
Alamiah, dan keluar dengan sendirinya
Kasih orang percaya
Tidak mengenal umur untuk dinyatakan

Saudara, di dalam perikop yang sudah kita baca tadi, dengan jelas kita melihat bahwa Paulus berulang-ulang memberikan contoh mengenai karakteristik kasih.  Hari ini kita akan belajar dua  karakteristik kasih.
I.          Kasih itu tulus, tidak mengharapkan fulus (ay. 9-13)
Penjelasan
Saudara-saudara, Paulus membuka perikop 12:9-21 dengan mengatakan “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura.”  Kasih itu harus tulus, dan tidak mengharapkan fulus.  Kasih itu tidak munafik.  Kasih yang tulus seperti Allah mengasihi manusia, dan tentunya sudah dirasakan oleh orang percaya.  Kasih merupakan dasar dari keselamatan orang percaya.  Kasih bukan sekedar perasaan mengasihi, namun kasih membawa orang percaya kepada tindakan nyata kepada sesamanya.
Saudara, ayat 9-13, Paulus menjelaskan hal-hal praktis mengenai kasih yang seharusnya dilakukan orang percaya kepada sesama orang percaya.  Di dalam ayat 10 “τῇ φιλαδελφίᾳ εἰς ἀλλήλους φιλόστοργοι, τῇ τιμῇ ἀλλήλους προηγούμενοι (Rm. 12:10; BNT).”  Paulus menggunakan “philadelphia” yang berarti ikatan kasih yang terjadi di dalam keluarga.  Kasih yang ditunjukkan kepada sesama anggota keluarga.  Paulus dengan tepat memberikan contoh-contoh kasih yang harus dilakukan orang percaya atas dasar philadelphia, kasih di dalam keluarga.
Saudara, kasih di dalam keluarga merupakan contoh kasih yang tulus, yaitu kasih orangtua kepada anak-anaknya.  Kasih yang keluar dengan sendirinya, tanpa dipaksa, dan tanpa mengharapkan imbalan.  Orangtua mengasihi anaknya, dan pastilah orangtua tahu bahwa anaknya tidak mampu untuk membayar pengorbanan yang sudah mereka berikan.
Saudara-saudara, di dalam keluarga, saya adalah anak kesayangan papi dan mami.  Saya yakin adik-adik saya juga disayang sama mereka.  Namun saya tidak pernah mendengar papi atau mami saya bilang kepada kami “Anthony!  Bayar pelukan mami 50 ribu.”  Kalau memang mami berkata seperti itu saya akan berkata “APA???  Mati aku, tau gitu ga usah dipeluk.”
Saudara-saudara, saya jadi ingat dengan lagu “Kasih Ibu” yang mengatakan tentang kasih yang tulus. Liriknya berkata seperti ini:
Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Saudara-saudara, Paulus menasehati jemaat Roma untuk menyatakan kasih yang terjadi di dalam keluarga.  Kasih yang tulus, tidak mengharapkan fulus.  Kasih yang hanya memberi, tak harap kembali.  Seperti sinar mentari yang memberikan cahayanya, dan tidak pernah mengharapkan cahayanya itu kembali kepadanya.
Kemudian Paulus memberikan contoh-contoh kasih yang tulus itu di dalam AYAT 9-13; 15. Ia berkata, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.  Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.  Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!  Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!  Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

Ilustrasi
Saudara-, suatu kali saya mau parkir di stasiun Gambir.  Seperti biasanya, ada seorang juru parkir yang datang membantu saya.  Setelah saya selesai parkir dan hendak meninggalkan tempat parkir, tiba-tiba si juru parkir berteriak kepada saya.  “Woi mas mana uangnya?”  Saya sengaja tidak memberikan uang parkir kepada dia, karena saya sudah membayar biaya parkir di loket masuk, dan bagi saya itu sudah cukup.  Ya namanya juga mahasiswa, harus pinter-pinter ngatur duit.  Sebenarnya agak gak tega sih, tapi mau gimana lagi?  Uang parkir yang saya bayar di depan aja minjem sama temen sebelah.  Eh... ini malah minta lebih.  Dan lebih parahnya lagi, di seragam tukang parkir tersebut tertulis dengan jelas “NO TIPPING.” Saudara-saudara, budaya meminta tip setelah berbuat baik kepada orang lain nampaknya sudah lekat dengan kehidupan kita.  Walaupun seragam si tukang parkir itu tertulis “NO TIPPING” tapi baginya kasih identik dengan fulus.

Aplikasi
Saudara-saudara, kasih itu hendaknya dilakukan dengan hati yang tulus, dan tidak mengharapkan fulus.  Kalau dunia mengharapkan imbalan setelah berbuat baik, betapa malunya kita sebagai anak Allah ketika juga mengharapkan imbalan ketika kita berbuat baik kepada orang lain. Kita adalah anak-anak Allah yang telah menerima kasih yang tulus dari Kristus.  Kasih yang dia berikan ketika kita masih berdosa.  Kasih yang tidak mengharapkan imbalan dari siapapun yang menerima kasih-Nya.  Bahkan kasih-Nya yang lebih mahal dari perak dan emas itu tidak mungkin kita mampu untuk membayar-Nya.  Karena itu, tuluslah dalam mengasihi orang lain, sama seperti Kristus mengasihi orang berdosa.  Kasih seperti sinar mentari yang menerangi bumi.  Tulus memberi, dan tidak mengharapkan kembali.

II.          Kasih itu tidak membalas kejahatan (ay. 14-21)
Penjelasan
Saudara-saudara, kondisi jemaat Roma pada waktu itu tidaklah baik.  Ada konflik antara orang Yahudi Kristen dengan Gentile Kristen, dan ditambah lagi adanya penganiayaan dari pemerintahan Romawi.  Saudara-saudara, saya membagi keadaan jemaat Roma menjadi dua macam, yaitu
1.       Sakit yang muncul di dalam tubuh Kristus
Saudara-saudara, jemaat Roma yang terdiri dari Yahudi Kristen dan Gentile Kristen mengalami konflik.  Awal mula konflik mereka bermula ketika orang Yahudi Kristen yang dahulunya merupakan mayoritas orang Kristen di Roma diusir oleh Kaisar Claudius pada tahun 49, dan setelah Claudius meninggal, orang Yahudi Kristen kembali lagi ke Roma.  Mereka kaget ketika mendapati bahwa gereja Roma telah didominasi oleh orang Gentile.  Hal inilah yang mengakibatkan timbulnya ketegangan sosial di antara mereka.  Yahudi Kristen dan Gentile saling mengejek, dan menganggap dirinya paling benar.  Hal inilah yang menimbulkan rasa sakit yang muncul di dalam tubuh Kristus. 

2.       Sakit yang berasal dari luar tubuh
Saudara-saudara, orang Kristen abad  pertama tidak lepas dari yang namanya penganiayaan dari orang Yahudi, Yunani, maupun Romawi.  Orang Kristen dianggap batu sandungan oleh orang Yahudi, orang bodoh oleh orang Yunani, dan pemberontak oleh orang Romawi.  Semua penganiayaan orang Kristen disebabkan karena mereka menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.
Saudara-saudara, tentunya keadaan ini merupakan sebuah pergumulan bagi jemaat Roma untuk mengasihi orang yang telah berbuat jahat kepada mereka.  Walaupun tidak mudah, namun itulah kasih yang seharusnya ditunjukkan orang percaya kepada sesama dan dunia. 
Di dalam ayat 14 Paulus mengatakan “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!  Dia mengutip pengajaran Yesus dalam Matius 5:44, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” dan Lukas 6:28 “Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.”  Meminta berkat kepada Allah berkaitan erat dengan sebuah doa.  Bukanlah hal mudah untuk berdoa kepada Allah memohon berkat kepada orang yang telah berbuat jahat kepada kita, namun berkali-kali Paulus mengingatkan jemaat Roma “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan!”  “Hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”  “Kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”
Saudara-saudara, kasih itu tidak membalas kejahatan, karena di dalam kasih terkandung pengampunan.  kasih juga tidak menuntut pembalasan, tetapi menyadari bahwa pembalasan adalah hak Allah, dan Allah sendirilah yang akan menuntut pembalasan.  Allah tahu segala sakit hati kita ketika orang lain berbuat jahat kepada kita, meskipun demikian Allah tidak mengijinkan kita mengambil hak-Nya untuk membalaskan kejahatan.  Allah tidak diam melihat kejahatan, namun Allah masih memberikan waktu kepada orang jahat untuk bertobat. Oleh sebab itu, seharusnya menjadi suatu  kehormatan bagi setiap orang percaya untuk mempunyai sikap kasih yang tidak membalas kejahatan dengan cara memberikan makan ketika kita melihat seteru kita lapar, memberikan minum ketika kita melihat seteru kita haus. Dengan demikian, kita menumpukkan bara api di atas kepalanya
Frasa “menumpukkan bara api di atas kepalanya” tentu tidak dapat diartikan secara harafiah.  Melalui kutipan dari Amsal ini Paulus mendorong jemaat Roma untuk tetap menunjukkan kebaikan kepada orang yang berbuat jahat kepada mereka dengan harapan supaya mereka malu dengan perbuatannya yang jahat.  Malu karena orang percaya membalas perbuatan jahatnya dengan perbuatan baik.  Semua perbuatan baik itu bertujuan supaya mereka bertobat dan menerima kasih Kristus dalam kehidupannya.  Mengasihi orang yang belum percaya atau bahkan musuh kita merupakan karakteristik kasih yang harus kita tunjukkan secara riil.

Ilustrasi
Saudara-saudara, ada sebuah kisah mengenai dua teman yang sedang berjalan-jalan di padang pasir. Pada suatu saat, tiba-tiba saja obrolan mereka berubah menjadi suatu perdebatan yang keras sehingga salah seorang dari mereka menampar wajah temannya.  Yang ditampar pipinya, biarpun sakit, diam membisu, dengan jarinya ia menulis di pasir: "Hari ini, temanku menampar pipiku."
Kemudian, mereka meneruskan perjalanan dan  sampai di sebuah oase. Mereka berhenti di sana untuk menyegarkan diri.  Orang yang ditampar itu mulai turun ke oase. Namun tiba-tiba, ia terpersok dan  mulai tenggelam. Melihat temannya tenggelam, temannya yang menampar itu langsung menolongnya. Ia dengan cepat menarik temannya keluar dan menyelamatkannya.  Setelah selamat dan  lepas dari rasa takut, orang itu menulis di atas sebuah batu: "Hari ini temanku menyelamatkanku."  Kawannya yang menolong dan menampar sahabat itu, bertanya, "Mengapa setelah aku menyakitimu, kau menulis di pasir, dan sekarang setelah menyelamatkanmu, kau menulis di atas sebuah batu?" Sambil tersenyum temannya menjawab,  "Apabila seorang menyakiti kita, hendaklah kita menulisnya di atas pasir, dimana angin pengampunan nantinya akan meniup dan menghilangkannya. Tetapi bila terjadi peristiwa agung, hendaklah itu kita ukir dalam batu hati kita, dimana tidak pernah akan ada angin yang bisa menghapusnya.”

Aplikasi
Saudara-saudara, Paulus dengan indah menutup perikop ini dengan mengatakan “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”  Saudara, kalahkanlah kejahatan yang orang lain lakukan kepada kita dengan tindakan kasih yang nyata.  Dengan kasih yang tidak membalas kejahatan itu, kita berdoa supaya orang yang melihat dan merasakan kasih yang kita tunjukkan dapat mengenal Kristus.

Penutup
Saudara-saudara, saya sangat bersyukur mempunyai seorang teladan yang hidupnya mempraktekan kedua karakteristik kasih di atas.  Saya ingat ketika nenek saya berniat untuk membelikan laptop untuk saya.  Dia menabung sedikit demi sedikit dari uang bulanan yang diberikan anaknya sampai uang yang terkumpul itu cukup untuk membelikan saya laptop.  Saya tahu bahwa sebenarnya uang yang dia kumpulkan dapat dia gunakan untuk pergi ke dokter dan berobat, tetapi dia sengaja mengumpulkannya supaya saya bisa menjadi mahasiswa yang baik.  Nenek saya pasti tahu bahwa saya tidak dapat membalas perbuatannya, tetapi hal itu tidak menyurutkan kasihnya kepada saya.  Dia dengan tulus melakukan semua itu.
Selain itu, di dalam keluarga, nenek merupakan orang yang menjadi korban dari kemarahan dari anaknya yang pertama.  Saya pernah mendengar anaknya yang pertama memarahi nenek saya.  Dia marah bukan karena kesalahan nenek, tetapi karena kesalahan dari adik-adiknya.  Dia melampiaskan amarahnya kepada nenek saya.  Saudara-saudara, respon nenek saya hanya diam dan menangis.  Apakah dia marah?  Apakah dia benci?  Ternyata tidak!  Pada malam harinya ketika nenek saya berdoa, saya kaget ketika dia mendoakan anaknya yang pertama dengan berlinang air mata.  Dia hanya bisa menyerahkan kesedihan karena sikap anaknya kepada Tuhan.  Di dalam doanya, dia tidak berkata “Tuhan, kutuk anak itu.”  Tetapi yang keluar dari mulutnya adalah berkat supaya anaknya itu sadar dan sikapnya berubah.
Saudara-saudara, kasih yang tulus dan tidak membalaskan kejahatan memang bukanlah perkara yang mudah.  Banyak pergumulan, dan kesulitan ketika kita mengusahakannya.  Tetapi saya yakin Roh Kudus akan menolong dan memampukan kita untuk mengasihi orang lain dengan tulus dan tidak membalaskan kejahatan.  Biarlah di dalam kehidupan sehari-hari, kita melaksanakan firman Tuhan ini.

Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar