21 Mei 2011

Khotbah Matius 20:1-16


It’s not fair!

Oleh Benny Solihin


Pendahuluan
Sdr.2, dulu saya pernah bekerja di sebuah perusahaan yang tidak terlalu besar. Perusahaan itu mempunyai tiga orang supir.  Karena aktivitas-aktivitas bisnis yang semakin meningkat, maka manajer personalia merekrut seorang supir baru sehingga menjadi empat orang.  Suatu hari, perusahaan kami mendapatkan grand prize, sebuah sepeda motor, dari sebuah bank.  Setelah berunding dengan atasan, manajer personalia memutuskan untuk menjualnya kepada supir baru itu dengan harga yang lebih murah dari harga pasar dan secara cicilan. Alasannya adalah karena di antara para supir, hanya supir baru itu yang belum mempunyai kendaraan pribadi.   Mendapat kemurahan yang tak terduga, supir baru itu senang sekali. 
Tetapi, yang tidak pernah kami duga adalah reaksi dari tiga supir lainnya. Mereka datang kepada manajer personalia dan komplain,  “Bapak enggak adil.  Kami sudah bekerja bertahun-tahun di sini, tapi kami belum pernah mendapat tawaran seperti itu.  Sedangkan, supir itu baru bekerja beberapa bulan dan bapak telah memberikannya sebuah sepeda motor dengan harga yang sangat murah.”  Manajer personalia itu menjelaskan alasan dari tindakannya, tetapi para supir itu tetap tidak mau mengerti.  Akhirnya, ia bertanya, “Kalau begitu apa yang kalian inginkan?”  Mereka menjawab, “Kami ingin perusahaan ini memberikan kami pinjaman uang seharga sepeda motor yang baru itu dan biarkan kami membayarnya dengan mencicil.  Itu baru adil!”
            Mendengar cerita tersebut, saya berpikir bahwa tindakan para supir itu sudah overSaudara tentu setuju dengan saya bahwa mereka tidak berhak menuntut seperti itu.  Siapakah mereka itu? Tetapi tunggu dulu! Bagaimana seandainya kita adalah salah satu dari supir-supir itu. Perasaan apa yang ada di dalam diri kita ketika melihat seorang supir yang baru bekerja beberapa bulan mendapat fasilitas kredit motor sedangkan kita yang sudah bekerja belasan tahun tidak pernah mendapat fasilitas seperti itu? Perasaan diperlakukan tidak adil, bukan?

Halaman 1: Problem Masa Kini (Sometimes life is not fair)
            Saya kira kita semua tidak senang diperlakukan tidak adil, bahkan beberapa dari kita mungkin sangat-sangat sensitif dengan ketidakadilan. Ketidakadilan bukan hanya merugikan diri kita tetapi melecehkan harga diri kita. Sejak kita kecil menyadari hal itu.
·         Saudara masih ingat perasaan Saudara ketika orang tua Saudara yang mau pergi ke luar kota meminta Saudara tetap tinggal di rumah bersama oma atau opa, sementara adik-adik Saudara diajak bersama dengan mereka.
·         Saudara masih ingat perasaan Saudara ketika Saudara dihukum di depan kelas berdiri sepanjang pelajaran karena Saudara melanggar peraturan, sementara teman-teman Saudara yang juga melanggar dibebaskan?  It’s not fair! Itulah sebabnya, kita sangat sensitif dengan perlakukan yang tidak adil.
Saya pernah mendengar suatu cerita yang mengusik rasa keadilan saya. Ada seorang ibu yang mempunyai dua orang putri.  Putri yang pertama adalah seorang wanita karier yang sukses dan tidak menikah.  Sedangkan putri yang kedua adalah seorang wanita yang hidupnya tidak beres. Ia seorang pemabuk dan pecandu obat-obatan. Ia telah menikah tiga kali dan bercerai tiga kali pula.  Itulah sebabnya ia tidak pernah lama bekerja di suatu tempat.  Ia bukan hanya tidak menaruh perhatian kepada kakak dan ibunya yang sudah tua, tetapi ia juga selalu menjadi beban bagi kakak dan ibunya. 
Suatu hari si ibu sakit berat sehingga ia tidak mampu lagi untuk berjalan, makan dan minum.  Karena perasaan tanggung jawab yang besar,  akhirnya, si putri sulung rela melepaskan pekerjaannya agar ia dapat merawat ibu yang dikasihinya.   Sedangkan, adiknya tidak pernah mau tahu apa yang telah terjadi dengan ibunya, bahkan menelpon pun tidak. Dengan penuh kesabaran si putri sulung merawat mama yang dikasihinya itu. 
Setahun kemudian, ibu tersebut meninggal dunia dan meninggalkan sebuah surat wasiat.  Ketika seorang pejabat hukum membacakan isi surat wasiat itu, si putri sulung menjadi marah sekali. Ternyata, ibunya membagi harta warisan kepada kedua anaknya dengan jumlah yang sama besar. Si putri sulung merasa diperlakukan tidak adil oleh ibunya.  Adiknya tidak pernah melakukan satu pun untuk ibunya, tetapi mendapat setengah harta warisan itu.  Ia merasa ibunya tidak menghargai semua pengorbanan yang telah ia lakukan baginya.  Life is not fair, isn’t it?

Halaman 2: Problem of the Parable (Pembayaran yang tidak adil)
Perasaan yang sama juga terjadi pada para pekerja yang datang pagi hari di dalam perumpamaan ini. Diceritakan bahwa pada suatu hari ada seorang tuan, pemilik kebun anggur, yang pagi-pagi benar mencari pekerja-pekerja harian untuk bekerja di kebun anggurnya. Ketika ia bertemu dengan beberapa orang pekerja, terjadilah kesepakatan sehari satu dinar. Dan mulailah mereka pergi bekerja. Jam sembilan, jam dua belas, dan jam tiga sore berturut-turut dia merekrut para pekerja juga. Bahkan pada jam lima sore ketika hari hampir gelap, dia masih merekrut beberapa pekerja untuk bekerja di kebunnya.
Pada waktu pembayaran tiba, ia memerintahkan mandurnya untuk melakukan pembayaran mulai dari pekerja yang bekerja paling akhir. Betapa gembiranya para pekerja yang bekerja hanya satu jam itu ketika  mereka dibayar satu dinar. Mereka dihitung seolah-olah bekerja sehari penuh. Berita ini tentu saja tersebar cepat kepada pekerja-pekerja yang lain. Mereka mendengar itu sebagai kabar baik yang tak terduga. Apalagi bagi para pekerja yang masuk sejak pagi hari. Mereka berpikir bahwa jika mereka yang bekerja hanya satu jam saja mendapat satu dinar, tentu mereka yang bekerja 12 jam akan mendapat minimum 12 dinar. Dalam hati mereka, “Wouw, dasar hoki, engga lari ke mana-mana.” Mungkin beberapa dari mereka langsung sms istrinya. Pesannya singkat, “Sweat heart, rezeki lagi nomplok ke kita. Habis dinner, kita langsung ke mall, midnight sales! Baju-baju lagi murah. Buy one get one free. Buy two get two free. Ajak abah, amah, teteh, kakang, Ujang, Encep, Entin … GBU”
            Namun, pada saat pembayaran tiba, ternyata mereka hanya menerima satu dinar.
Tidak lebih, tidak kurang. Betapa terkejutnya mereka. Mereka mulai bersungut-sungut dan
berkata kepada tuan pemilik kebun anggur itu, “Tuan, orang-orang ini hanya bekerja satu jam dan mereka menerima upah satu dinar.  Sedangkan kami yang bekerja sehari suntuk, dari pagi sampai petang, menanggung panas terik matahari, kelelahan, kehausan, keanginan, engkau bayar satu dinar juga?  It’s not fair!
            Sdr., kalau kita pikir dengan akal sehat, sunggut-sungut para pekerja tersebut adalah
normal. Membayar setiap orang dengan upah yang sama tanpa melihat berapa lama mereka bekerja, berapa banyak yang mereka hasilkan  jelas merupakan tindakan yang tidak adilPanen anggur di Israel biasanya terjadi pada bulan September. Pada saat itu temperatur masih cukup tinggi sehingga para pekerja out door benar-benar mengalami terik  matahari yang menyengat dan  juga angin kering yang tidak nyaman. Bisa kita bayangkan betapa lelahnya bekerja selama 12 jam dalam keadaan seperti itu. Lalu, mereka dibayar sama seperti para pekerja yang hanya satu jam, satu dinar. Cara pembayaran tuan dalam perumpamaan itu sungguh tidak adil.  
Bila sistem itu dijalankan dalam dunia bisnis modern, perekonomiaan kita akan kacau.  Buruh-buruh akan demo.  Serikat Buruh akan marah. Itulah sebabnya, dalam aplikasi lamaran pekerjaan seseorang perlu menjelaskan tentang pengalaman kerja dan juga keahlian dan prestasinya. Itu berkaitan dengan besarnya gaji yang akan dia peroleh. Namun, di dalam perumpamaan ini, satu dinar untuk satu jam kerja, satu dinar untuk dua belas jam kerja. Benar-benar sistem pembayaran yang tidak adil.
            Itulah sebabnya, kita bisa mengerti perasaan para pekerja 12 jam.  Tetapi, celakanya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Itu berarti Allah diumpamakan sebagai tuan pemilik kebun anggur itu, bukan? Dengan demikian, sistem pembayaran itu mencerminkan nilai-nilai dari Kerajaan Allah. Bagaimana mungkin Allah mempunyai sistem pembayaran seburuk itu? Dan bagaimana mungkin Allah tidak adil?  Alkitab mengatakan bahwa Ia adalah Allah yang adil (Ps. 11:42), senang kepada keadilan (Ps. 33:5), dan mencela umat-Nya yang hidup mengabaikan keadilan (Am. 5:24; Luk. 11:42), bahkan memerintahkan umat-Nya untuk mengejar keadilan (1 Tim.6:11)?  Bagaimana kita dapat menyingkronkan kedua hal ini?

Halaman 3: Jalan Keluar yang Allah buat pada masa Alkitab (pola pikir yang salah)
      Mari kita memperhatikan kembali perumpamaan ini. Apakah benar tuan itu telah bertindak dengan tidak adil dalam pembayarannya kepada para pekerja jam enam pagi? Bila kita selidiki dengan saksama, tuan itu telah membayar sesuai dengan pernjanjian yang disepakati bersama” “Satu dinar untuk satu hari kerja.” Lalu, di mana ketidakadilannya? Bukankah adil itu berarti berpegang pada kebenaran? Bukankah adil itu berarti memberikan apa yang menjadi hak orang lain? Tuan itu tetap berpegang pada kebenaran. Tuan itu telah memberikan apa yang menjadi hak para pekerja itu: satu dinar. Itulah sebabnya, tuan itu berkata kepada seorang dari mereka, “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?”  
Seandainya saya menjadi tuan pemilik kebun anggur itu, saya akan memerintahkan kepada mandur saya untuk membayar upah itu mulai dari pekerja yang datang paling pagi. Setelah mereka pulang, baru membayar upah para pekerja yang datang jam 5 sore sebesar satu dinar sambil berbisik di telingga mereka, “Karena kalian hanya bekerja selama satu jam, upah kalian hanya 1/12 dinar. Betul?  Tapi mengingat istri dan anak-anak kalian memerlukan makanan malam ini… ambillah satu dinar ini. Tapi ingat, jangan bilang-bilang yang lain!” Tentu saya para pekerja jam lima sore akan pulang dengan gembira. Bagaimana dengan para pekerja jam enam pagi? Pasti tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa diperlakukan dengan tidak adil karena mereka  telah menerima upah sesuai dengan kesepakatan yang bersama.
Tetapi Tuhan Yesus dengan sengaja menceritakan pembayaran itu dengan urutan yang sebaliknya.  Ia dengan sangat pandai memperlihatkan kepada pendengarnya apa yang menjadi isu utama dari para pekerja jam enam pagi, yaitu perasaan diperlakukan tidak adil karena orang lain mendapatkan keberuntungan atau kemurahan.  Inilah pola pikir yang salah. Andaikata para pekerja jam enam pagi itu tidak pernah tahu bahwa ada pekerja yang mendapat kemurahan dari pemilik kebun anggur itu, ia tidak akan bersungut-sungut. Perasaan diperlakukan tidak adil muncul ketika mereka melihat pekerja lain mendapat kemurahan. Bukankah ini pola pikir yang rusak? Ini bukan pola pikir warga negara Kerajaan Allah.
            Perhatikan bagaimana jawaban tuan pemilik kebun anggur itu kepada pekerja jam enam pagi, “Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?”
Pemilik kebun anggur itu mempermalukan orang-orang itu dengan mengingatkan bahwa ia  adalah pemilik kebun anggur itu, Ia berhak atas seluruh miliknya. Tidak ada seorang karyawan pun yang layak untuk mengajar atau memerintah dia untuk ini dan itu. Ia berdaulat  untuk  bermurah hati kepada siapa Dia mau bermurah hati.  
Kemudian tuan itu berkata lagi, “Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (ay. 14, 15). Ya, mereka iri hati.  Hati mereka serasa terbakar bila mereka melihat orang lain mendapat keberuntungan. Mereka tidak siap untuk menghadapi hal itu.  Mengapa mereka tidak siap untuk melihat itu? Karena mereka merasa diri mereka lebih baik daripada orang lain.  Mereka bekerja lebih lama, lebih produktif, lebih sungguh-sungguh, dan lebih lelah dari para pekerja jam lima sore. Oleh karenanya, sudah sepantasnya mereka yang harus dibayar lebih banyak, bukan yang lain. Inilah pola pikir yang Yesus kecam!
Pola pikir yang seperti inilah yang dimilki si anak sulung di dalam perumpamaan tentang Anak yang Hilang.  Ketika melihat adiknya yang “preman” itu diterima kembali dengan sukacita oleh ayahnya, ia marah bear dan berkata kepada ayahnya,

“Telah bertahun-tahun saya bekerja di perusahaan bapak dan saya tidak pernah menggelapkan satu rupiah pun uang bapak. Tetapi bapak belum pernah memberikan kepada saya bonus apapun. Bahkan memberikan saya ticket untuk tour ke luar negeri bersama dengan teman-teman saya pun tidak. Tetapi begitu anak bapak yang “preman” itu pulang, setelah keliling dunia, berpesta pora, shoping, berjudi, tidur dengan para pelacur, dan membuat hutang perusahaan ini membengkak, bapak malah menerimanya dengan sukacita dan bahkan memberi dia mobil baru.”
Pola pikir yang sama juga ada pada diri orang Farisi dan ahli Taurat ketika melihat Yesus menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama mereka. Mereka bersungut-sungut dan berkata, “Ia menerima orang berdosa dan makan bersama-sama dengan dengan mereka.”
Ini bukan pola pikir Kerajaan Allah.

Halaman 4: Jalan Keluar yang Allah berikan pada masa kini (pola pikir yang benar)
Tuhan Yesus menginginkan kita, para murid-Nya,  menyadari bahwa kita adalah warga negara Kerajaan Allah. Kerajaan Allah mempunyai nilai-nilai yang berbeda dengan nilai-nilai dunia. Nilai-nilai Kerajaan Allah didasarkan bukan atas prestasi, perbuatan baik, melainkan anugerah semata-mata. Bahwa kita bisa menjadi salah seorang warga negara Kerajaan Allah itu pun karena kemurahan Allah semata. Allah berkata, “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku akan bermurah hati” (Rom. 9:15).  Itu berarti, kemurahan Allah tidak dapat dibeli bahkan dengan pelayanan dan bahkan oleh kesalehan kita sekali pun.
            Kita tidak dapat membeli anugerah, kita tidak dapat menjadi cukup bermoral untuk memperoleh anugerah.  Anugerah diberikan secara gratis kepada orang-orang berdosa. Keselamatan yang diberikan kepada kita adalah gratis, penyertaan Tuhan yang mengikuti kita senantiasa adalah gratis, kemurahan-Nya yang dilimpahkan kepada kita adalah gratis, talenta-talenta yang luar biasa dalam diri kita adalah juga gratisLalu, mengapa kita sering merasa diperlakukan tidak adil ketika orang lain mendapat kemurahan Allah? Bukankah seharusnya kita bersukacita bersama mereka yang bersukacita?
Saudara, perasaan diperlakukan tidak adil memang menyakitkan kita. Namun, kita perlu mengkaji ulang apakah perasaan itu muncul karena memang kita sungguh-sungguh dirugikan oleh seseorang atau karena pola pikir yang salah kita merasa diperlakukan dengan tidak adil?  Dalam pengalaman hidup kita, mungkin sebab yang kedua inilah yang sering muncul dalam diri kita.
Coba bayangkan, seandainya kita baru saja diberitahu oleh boss kita bahwa tahun ini gaji kita naik sebesar 30%.  Bagaimana kira-kira perasaan kita? Pasti kita ingin cepat-cepat menceritakan kabar baik itu kepada seseorang, entah itu orang tua, istri, suami, atau rekan kantor yang dekat dengan kita. Namun belum sempat kita men-share-kan berita baik itu, rekan kantor itu datang kepada kita dengan wajah yang gembira dan berkata, “Praise the Lord!  God is so good! Gaji saya naik 50%.” Sekarang, bagaimana perasaan kita? Pasti tidak segembira sebelumnya, bukan?  Mengapa? Karena kita merasa diperlakukan tidak adil oleh boss kita karena seseorang lain mendapat keberuntungan atau kemurahannya. Itulah pola pikir pekerja jam enam pagi, pola orang si anak sulung, pola pikir orang-orang yang tidak mengerti bahwa nilai-nilai Kerajaan Sorga didasarkan semata-mata pada kemurahan Tuhan, pada anugerah Tuhan, bukan yang lain.

Penutup: Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita
Saya yakin Allah ingin agar kita bersukacita dengan orang yang mendapat kemurahan-Nya. Bagaimana caranya?  Cobalah tempatkan diri kita pada posisinya.  Sekarang, lihatlah perumpamaan ini dari sudut para pekerja jam lima sore. Sepanjang hari mereka berdiri di pasar tenaga kerja menawarkan diri mereka kepada sekian banyak mandur atau pemilik kebun anggur, tetapi tida seorang pun yang berminat memperkerjakan mereka. Mereka melihat teman-teman mereka satu persatu pergi, mendapat pekerjaan. Tetapi mereka tetap tinggal dengan perasaan tersisih. Mereka mungkin menyadari bahwa mereka tidak lagi muda. Tubuh mereka tampak lemah, kurus, dan kurang sehat.  Bagi mereka, bila mereka bisa mendapat pekerjaan dua atau tiga hari dalam seminggu saja sudah baik. Mereka rindu saat itu mereka berada bukan di pinggir pasar, melainkan di ladang, bekerja bagi seseorang, di bawah sinar terik matahari.  Dan pada waktu senja mereka menerima upah mereka untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
Namun, ketika matahari mulai meninggi, harapan mereka semakin menurun. Apalagi, ketika matahari mulai redup, pupus sudah harapan mereka. Namun, tiba-tiba seorang tuan memanggil berkata kepada mereka, “Pergilah jugalah kamu ke kebun anggurku.”  Betapa gembiranya mereka. Mereka segera pergi dan bekerja dengan harapan dapat pulang dengan membawa uang walau hanya sedikit, entah cukup atau tidak  untuk makanan  bagi anak-anaknya.
Dapatkah kita bayangkan bagaimana perasaan mereka pada waktu pembayaran tiba?  Mereka tidak menunjukkan perasaan antusias karena mereka tahu bahwa mereka akan menerima sedikit. Tak tahu apa yang harus dikatakan bila anak-anak mereka menangis karena perut mereka masih lapar.  Tetapi, tiba-tiba mereka terkejut oleh tindakan yang dilakukan oleh pemilik kebun anggur itu.  Dia melakukan sesuatu yang tidak wajar, bahkan mungkin tidak masuk di akal. Setiap pekerja yang masuk jam lima sore diberinya upah sebesar satu dinar. Itu berarti cukup untuk mereka makan satu keluarga selama satu hari.
Wajah para pekerja jam lima sore itu berubah, sinar mata mereka yang redup bersinar lagi.  Mereka terseyum satu dengan yang lain.  Hati mereka penuh dengan sukacita dan ucapan syukur. Itu suatu kemurahan yang sukar dipercaya, bukan?  Sdr., seperti inilah Kerajaan Sorga itu. 
Jadi, apakah Allah tidak adil? Jawabnya adalah Allah adalah Allah yang adil. Kalau kita merasa tidak adil karena orang lain mendapat kemurahan Allah lebih daripada kita, itu menandakan bahwa kita berpikir dengan pola pikir kerajaan dunia, bukan dengan pola pikir kerajaan Allah. Sebagai warga negara kerajaan Allah seharus kita mengerti bahwa nilai kerajaan Allah itu bukan berdasarkan prestasi atau kerja keras, melainkan semata-mata karena anugerah.  Bila demikian, sudah seharusnya kita ikut bersukacita ketika melihat orang lain mendapat kemurahan Allah, bukan bersungut-sungut. 

Amin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar