24 Agustus 2011

Eksegese 1 Korintus 9:19-23

Etika Pergaulan Kristen: Menjadi Saksi Di Tengah-tengah Dunia
Oleh Tomo Andreias



PENDAHULUAN
Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia.  Implikasi dari panggilan yang spesifik ini adalah gereja Tuhan harus menjauhkan diri dari sikap “essenis”[1] dan mulai membangun relasi dengan dunia.  Yang menjadi pertanyaan adalah relasi yang seperti apakah yang harus dibangun oleh gereja Tuhan masa kini?  Dan bagaimanakah relasi ini dapat dibangun?  Di dalam bukunya, David Hessellgrave memberikan sebuah contoh dari salah satu bentuk relasi yang dibangun oleh orang-orang Kristen liberal dengan dunia, dalam hal ini pemeluk agama lain.  Relasi ini, oleh Hessellgrave disebut sebagai kontekstualisasi dialogis.  Di dalam relasi ini seorang Kristen dapat berinteraksi dengan pemeluk agama lain untuk mengejar kebenaran sehingga dapat dihasilkan “injil” sinkretis (yang baru) dan spiritualitas antar agama.[2]  Sebuah contoh relasi dengan dunia juga ditunjukkan oleh sebuah gereja Kharismatik di Surabaya.  Dengan alasan menjangkau para profesional dan pemuda, mereka membuka sebuah cafe dan mengadakan ibadah di sana.[3]
Contoh-contoh bentuk relasi yang diusahakan oleh saudara-saudara kita itu memang telah menunjukkan suatu usaha di dalam membangun sebuah relasi dengan dunia.  Tetapi apakah relasi yang demikian yang dikehendaki oleh Tuhan?  Yang satu rela menurunkan standar kebenaran demi terciptanya pergaulan dengan dunia sedangkan yang lain berkompromi dengan dunia yang dapat mewujudkan resiko kecenderungan untuk berbuat dosa.  Dalam 1 Korintus 9:19-23 sebenarnya Paulus telah menyatakan prinsip-prinsip di dalam pergaulan orang percaya dengan dunia.  Untuk itu penulis mengganggap perlu untuk memberikan paparan eksegesis dari 1 Korintus 9:19-23.  Melalui eksegesis dari bagian ini, penulis mengharapkan supaya pembaca memiliki sikap kristis terhadap cara-cara yang dibuat oleh gereja di dalam bergaul dengan dunia dan dapat memahami prinsip-prinsip apa yang harus dimiliki gereja Tuhan di dalam pergaulan tersebut sehingga gereja dapat menjadi saksi yang efektif bagi Tuhan.

MENGAPA ETIKA PERGAULAN KRISTEN
Di dalam suatu pergaulan, orang-orang Kristen menghadapi suatu dilema.  Di satu sisi mereka diminta untuk menjadi terang supaya orang dunia percaya pada Tuhan dan untuk itu mereka harus bergaul dengan orang dunia.  Tetapi di sisi lain mereka tidak boleh tercemar oleh dunia.  Keadaan ini semakin menjadi sulit karena semakin majemuknya masyarakat, baik dalam kepercayaan, pandangan, dan kebiasaan-kebiasaan mereka.[4]  Keragaman dari masyarakat dunia inilah yang menjadi suatu tantangan tersendiri bagi orang-orang Kristen.  Dengan kondisi demikian, orang-orang Kristen akan diperhadapkan pada semakin banyaknya perangkap yang dapat mengikis kebenaran Kristen.  Untuk itulah mereka harus memiliki batasan-batasan yang menjadi prinsip-prinsip penuntun bagi orang Kristen di dalam bergaul dengan dunia.  Prinsip-prinsip ini terangkum di dalam suatu etika pergaulan Kristen.
Secara umum, etika berkaitan dengan apa yang secara moral benar dan salah.  Di dalam kekristenan etika tidak dapat lepas dari standar kebenaran yaitu firman Tuhan.  Etika Kristen ini merupakan kehendak Allah, bersifat mutlak, menentukan, dan deontologis.[5]  Etika pergaulan Kristen merupakan prinsip yang sangat diperlukan di dalam mengemban misi gereja untuk menjangkau dunia tanpa harus berkompromi dengan dosa dunia.  Hal ini berbeda dengan kontekstualisasi[6] yang biasa dipakai di dalam penginjilan pada orang-orang dengan latar belakang yang berbeda.  Jika kontekstualisasi bersifat konsep dan sering dipakai di dalam bidang penginjilan, maka etika pergaulan ini lebih bersifat praktis/penerapan dan bukan hanya di bidang penginjilan walaupun kemudian penerapan etika pergaulan ini dapat mengarah pada pemberitaan injil.

EKSEGESIS 1 KORINTUS 9:19-23
Alkitab TB menempatkan 1 Korintus 9:19-23 menjadi satu bagian dengan 1 Korintus 9:1-27.  Meskipun demikian, sebenarnya 1 Korintus 9:1-27dapat dibagi menjadi 2 bagian.  Pertama, ayat 1-18 yang bicara tentang strategi dan contoh pribadi yang menggunakan hak sebagai rasul. Kedua, ayat 19-27 menunjukkan keputusan untuk berdiri di dalam solidaritas dengan yang lain untuk memenuhi tujuan injil.[7]  Di dalam pembahasan tentang etika pergaulan ini, penulis akan memfokuskan pada ayat yang 19-23 yang terdiri dari pernyataan Paulus untuk menjadi hamba bagi semua orang (19), perwujudan “menjadi hamba” (20-22), dan  kesimpulan (23).
Pada bagian ini terlihat dengan jelas bahwa Paulus sebenarnya menghadapi kesulitan menghadapi orang-orang dengan dua budaya yang berbeda.  Paulus mempunyai posisi yang sulit untuk membicarakan isu-isu yang ada di kalangan orang-orang percaya di Korintus pada waktu itu.[8]  Di satu sisi, ada orang Kristen Yahudi dengan hukum Musa dan di sisi yang lain ada orang Kristen Yunani yang bebas dari hukum Musa.  Untuk alasan inilah Paulus ingin bebas supaya dapat melayani semua orang.[9]  
Pada ayat 19, Paulus menggunakan eleuqeroj yang berarti “bebas” sebagai kata pertama.[10] Kata eleuqeroj merupakan kata penting di Korintus dalam sosiopolitik dan keagamaan pada waktu itu yang menunjukkan status seseorang di dalam masyarakat.  Kata ini ditempatkan oleh Paulus di awal kalimat sebagai kesimpulan dari ayat 1-18 dengan penekanan yang sangat kuat.  Kata “bebas” yang oleh Paulus pada diskusi awal berbicara tentang kebebasan dari kekangan hukum Tuhan, sekarang dipakai untuk bebas dari kebergantungan keuangan dari siapapun.  Dengan tidak menerima kompensasi dari jemaat di Korintus untuk pelayanannya, Paulus dapat bebas dari tekanan yang dapat mengekang kotbahnya.[11]
Walaupun Paulus memberikan penekanan pada kata “bebas” tetapi dia kemudian memberikan pernyataan yang kontras dengan menambahkan kata wn yang dapat diterjemahkan menjadi concessive clause sehingga menjadi though I am free.[12]  Kalimat ini menunjukkan bahwa kebebasan yang dimiliki Paulus sebagai seorang Kristen tidak berhenti pada kondisi bebas saja, tetapi berlanjut dengan pernyataan Paulus yang mengatakan bahwa ia menjadikan dirinya sendiri hamba dari semua orang (evmauto.n evdou,lwsa).[13]  Kondisi yang disampaikan Paulus tentang dirinya ini merupakan kondisi yang paradoks.  Paulus dalam kondisi merdeka, bukan menjadi milik siapapun tetapi di saat yang sama dia menjadi hamba dari setiap orang.[14]  Dalam hal ini Paulus sebenarnya bukan hanya ingin berbicara tentang modus operandi, tetapi dia sedang mempertahankan past action[15] yang dinyatakan melalui sikapnya berkaitan dengan isu-isu yang ada di jemaat Korintus.[16]  Dalam kondisi bebas tetapi menempatkan diri sebagai hamba dari semua orang, Paulus dengan cerdik dapat menjalani pelayanan dengan seting sosial yang beragam.[17]  Selain itu, Paulus juga memberikan suatu penekanan yang penting tentang bagaimana seorang Kristen hidup.  Mereka harus meneladani Kristus yang hidup sebagai hamba dan melayani manusia.[18]
Apakah sebenarnya yang menjadi tujuan Paulus ketika ia membuat dirinya sendiri menjadi hamba dari semua orang?  Pertanyaan ini dijawab oleh perkataan Paulus di akhir ayat 19 yang berbunyi “i[na tou.j plei,onaj kerdh,sw.”  Kata kerdh,sw merupakan kata yang sangat penting untuk diperhatikan.  Paulus menuliskan kata ini sebanyak 5 kali pada ayat 19-22.[19]  Kata kerdh,sw[20] yang berarti “memenangkan” memiliki mood subjunctive dan mengikuti kata ina yang menunjukkan bahwa memenangkan jiwa bagi Kristus menjadi final purpose dari apa yang dilakukan oleh Paulus, yaitu “menjadi seperti”.[21]
Jika diperhatikan, ayat 20-22 memiliki pola yang sama yang terdiri dari strategi Paulus untuk mencapai tujuannya.  Untuk dapat memenangkan sebanyak mungkin orang, Paulus menjadi seperti orang Yahudi bagi orang Yahudi, menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat bagi mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, menjadi seperti orang yang hidup tidak dibawah hukum Taurat bagi mereka yang hidup tidak di bawah hukum Taurat, dan menjadi seperti orang yang lemah bagi mereka yang lemah.[22]  Kata “menjadi” pada ayat 20-22 berasal dari kata Egenomhn yang memiliki kata dasar ginomai.  Di dalam Perjanjian Baru, penentuan makna ginomai ditentukan oleh konteks di mana kata ini dipakai.  Pada ayat 20, penggunaan kata egenomhn lebih tepat diterjemahkan dengan makna “mengubah natur menjadi.”[23]  Kata yang sama juga dipakai di dalam Kolose 1:23 “…egenomhn egw diakonoj” (…I became a minister).  Hal ini dilakukan Paulus sebagai usaha untuk memahami orang lain di dalam integritas injil dan bukanlah suatu ketidakkonsistenan.  Apa yang dilakukan Paulus bukanlah menyesuaikan injil dengan pandangan pendengar tetapi lebih kepada bagaimana Paulus menjalin hubungan dan berperilaku diantara mereka dan memiliki kesempatan untuk membagikan berita injil.[24]
Pada ayat 20 dikatakan bahwa bagi orang Yahudi Paulus menjadi seperti Yahudi.  Ini menunjukkan bahwa Paulus memposisikan dirinya bukan sebagai orang Yahudi meskipun dia adalah keturunan Yahudi.  Tetapi sejak menerima Yesus, dia adalah ciptaan baru dan menjadi pengikut Kristus dan bebas dari tuntutan hukum Taurat.[25]  Sedangkan untuk orang Yunani, Paulus membaginya menjadi dua, yaitu orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat atau proselit dan orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.[26]  Dan Paulus pun menjadi seperti mereka supaya orang-orang Yunani ini percaya pada injil.  Bukan hanya orang Yahudi dan Yunani, tetapi juga kepada mereka yang lemah pun Paulus melakukan hal yang sama.  Orang-orang yang lemah di sini adalah orang-orang belum percaya yang memiliki status sosial yang rendah.[27]  Di sinilah terlihat dengan jelas bahwa kebebasan Paulus dari keterikatan dengan manusia mengijinkannya untuk melayani sebanyak mungkin orang.[28]
Walaupun Paulus telah menyebut dirinya adalah orang yang bebas tetapi dia tetap memiliki keterikatan dengan hukum Kristus (ay. 21).  Pernyataan ini disampaikan Paulus berdampingan dengan frase “orang-orang yang hidup tidak di bawah hukum Taurat.”  Hal ini dinyatakan supaya tidak ada kesalahpahaman dari jemaat di Korintus tentang  “Paulus menjadi seperti mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.”  Isu hidup tanpa moral dapat menterjemahkan kata anomoj yang dipakai oleh Paulus, padahal maksudnya tidaklah demikian.  Oleh karena itu hidupnya ada di bawah hukum Kristus.  Di sini terlihat jelas bahwa sesungguhnya Paulus bukanlah orang yang anti dengan hukum Allah sebab dia sendiri adalah pribadi yang hidup di dalam kekudusan dan kebaikan, tetapi dia anti dengan pemakaian hukum untuk menghalang-halangi seseorang datang kepada Tuhan.[29]  Ini juga berarti bahwa fleksibilitas yang dilakukan oleh Paulus tidak ada kaitannya dengan standar moral.  Paulus sama sekali tidak kompromi dengan dosa di dalam pergaulannya dengan orang-orang Yunani.[30]

APLIKASI DAN KESIMPULAN 
Dari eksegesis 1 Korintus 9:19-23 dapat ditemukan prinsip-prinsip yang diperlukan untuk membangun relasi dengan dunia.  Prinsip yang pertama adalah tujuan Allah menjadi fokus utama.  Paulus menyampaikan dengan sangat jelas bahwa semua yang dia lakukan berkaitan dengan sikapnya menyesuaikan dirinya dengan berbagai golongan orang-orang di Korintus adalah untuk memenangkan mereka bagi Injil.  Paulus bisa saja memanfaatkan pergaulan yang dia bangun untuk mendapatkan ketenaran atau dukungan di dalam pelayanan, tetapi ini tidak dia lakukan.  Pergaulan yang dibangun oleh Paulus bukan untuk alasan pragmatis yang berorientasi pada keuntungan diri sendiri tetapi kepada kemurnian dan tujuan Allah yang bernilai kekal.
Yang kedua adalah batasan di dalam pergaulan.  Tujuan yang mulia akan menjadi tercemar bila tujuan tersebut dicapai dengan cara yang merusak atau amoral.[31]  Seperti yang sudah dijelaskan bahwa penyesuaian yang dilakukan oleh Paulus ini bukanlah penyesuaian yang asal-asalan atas segala hal.  Paulus dibatasi oleh hukum Kristus.  Dengan kata lain, sejauh penyesuaian ini tidak melanggar firman Tuhan maka Paulus akan melakukannya.[32]
Yang ketiga adalah cara di dalam pergaulan.  Dengan “menjadi seperti” Paulus telah memberikan teladan untuk menjalin relasi dengan dunia.  Keberadaannya yang telah menjadi manusia yang baru di dalam Kristus tidak menjadikan dia eksklusif dan menutup diri tetapi sebaliknya Paulus membuka dirinya dan memberikan kesempatan untuk terjadi proses pengenalan satu dengan yang lain. “menjadi seperti” juga menunjukkan bahwa Paulus bukanlah orang yang egois tetapi dia bersedia untuk mengerti orang lain dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan latar belakang kepercayaan maupun status sosial.[33]
Dari ketiga hal ini kita dapat melihat bahwa pergaulan dapat dipakai oleh Tuhan untuk menyatakan kabar baik.  Untuk itu pemakaian prinsip-prinsip etika pergaulan Kristen ini akan menolong orang-orang Kristen tidak terjatuh di dalam salah satu ekstrem pergaulan, baik yang mengisolasi diri atau yang membuka diri dan mulai “menjual” kebenaran sebagai bentu penyesuaian di dalam pergaulan.  Tetapi mereka dapat menempatkan diri secara tepat sebagai seorang teman tetapi juga sebagai hamba yang bersaksi bagi Tuhan.




DAFTAR PUSTAKA


Arndt,  William F. and F. Wilbur Gingrich, BDAG.  Chicago: University of Chicago, 1979.

Blomberg, Craig. The 1 Corinthians.  NIVAC, Grand Rapids: Zondervan, 1994.

Geisler, Norman. Etika Kristen: Pilihan dan Isu.  Malang: SAAT, 2007.

Grosheide, F. W. The First Epistle of The Corinthians.  NICNT, Grand Rapids: Eerdmans, 1980.

Hessellgrave, David.  Communicating Christ Cross Culturally.  Malang: SAAT, 2005. 

Keener, Craig S. The IVP Bible Background.  Downers Grove: Intervarsity, 1993.

Kistemaker, Simon J. I Corinthians.  NTC, Grand Rapids: Baker, 1993.

Kittel, Gerhard. Theological Dictionary of The New Testament. 3.  Grand Rapids: Eerdmans, 1972.

Stott,  John.  Isu-Isu Global: Menantang Kepemimpinan Kristiani.  Jakarta: Komunikasi Bina Kasih, 1984.

Thiselton, Anthony C. The First Epistle to The Corinthians. NIGTC, Grand Rapids: Eerdmans, 2000.

Tjandra, Lukas.  Latar Belakang Perjanjian Baru 2.  Malang: SAAT, 2008.





ALKITAB

Novum Testamentum Graece 27 rejidierte Auflage.  Stuttgart: Deutsche Bibelgesllschaft, 1993.








[1]Essenis adalah sekelompok orang Yahudi yang mengasingkan diri dari masyarakat lainnya karena menganggap diri mereka yang paling benar dan suci.  Orang-orang Eseni mengganggap diri mereka tidak layak untuk bergaul dengan masyarakat yang telah berdosa, dengan golongan Yahudi lainnya sekalipun.  Golongan masyarakat ini tinggal di Qumran.  Lukas Tjandra, Latar Belakang Perjanjian Baru 2 (Malang: SAAT, 2008) 53-54.
[2]Communicating Christ Cross Culturally (Malang: SAAT, 2005) 134. 
[3]Informasi dari pelayanan gereja ini didapatkan oleh penulis dari jemaat gereja yang bersangkutan.  Beliau mengatakan bahwa ibdah ini bukan hanya dilakukan di café tetapi pencahayaan dan suasana pun akan dibuat sebagaimana café pada umumnya.
[4]John Stott, Isu-Isu Global: Menantang Kepemimpinan Kristiani (Jakarta: Komunikasi Bina Kasih, 1984) 53-54.
[5]Deontologis adalah etika yang bukan ditentukan oleh hasil dan dibatasi oleh aturan yang berlaku.  Teori tentang Etika Kristen dapat dibaca lebih lengkap dari buku Norman Geisler. (Etika Kristen: Pilihan dan Isu [Malang: SAAT, 2007] 24-26).
[6]Hal-hal yang berkaitan dengan kontekstualisasi dapat diperoleh secara komprehensif dari buku David Hessellgrave. (lih. footnote 2).
[7]Anthony C. Thiselton membagi lagi 1 Korintus 9:19-27 menjadi dua, yaitu ayat 19-23 dan 24-27 (The First Epistle to The Corinthians [NIGTC; Grand Rapids: Eerdmans, 2000] 698) dan penulis setuju dengan hal ini.  Ayat 24-27 merupakan analogi dari disiplin seseorang dalam memberitakan injil yang banyak mendapat pengaruh budaya Greco Roman seperti yang dinyatakan oleh Craig S. Keener.  (The IVP Bible Background [Downers Grove: Intervarsity, 1993] 472).
[8]Paulus menjelaskan prinsip yang dia pegang berkaitan dengan sikapnya tentang isu makanan berhala dan uang untuk pelayanan.  Sikap Paulus ini dapat dengan jelas dibaca dari 1 Korintus 8:1-9:18.  (Craig Blomberg, The 1 Corinthians [NIVAC; Grand Rapids: Zondervan, 1994] 183).
[9]Simon J. Kistemaker, I Corinthians (NTC; Grand Rapids: Baker, 1993) 304.
[10]Para pemikir aristokratik memandang rendah para pemimpin rakyat yang mencoba untuk menyenangkan orang banyak; mereka menyadarinya sebagai pemimpin rakyat berjiwa “budak.”  Paulus meminjam bahasa politik popular yang tidak diragukan lagi untuk menyerang pertahanan elemen aristokratik di Korintus.  Beberapa guru Yahudi seperti Hillel, secara mirip menggunakannya untuk memenangkan sebanyak mungkin orang bagi kebenaran. (Keener, The IVP 472).
[11]Kistemaker, The NTC 305.
[12]Thiselton, The NIGTC 700
[13]evmauto.n merupakan reflective pronoun orang I yang menunjukkan bahwa Paulus melakukan bagi dirinya sendiri bukan karena terpaksa tetapi secara sukarela.
[14]F. W. Grosheide, The First Epistle of The Corinthians (NICNT; Grand Rapids: Eerdmans, 1980) 425.
[15]Past action yang dimaksud adalah “memenangkan” dan “menjadi.” Kata “memenangkan” berasal kerdhsw (verb, 1st, singular, aorist active subjunctive). Sedangkan “menjadi”  berasal dari egenomhn (verb, 1st, singular, aorist middle indicative).  Hal ini menunjukkan bahwa kedua tindakan Paulus ini dilakukan secara aktif di masa lalu, sekali dan dampaknya masih tetap berlanjut.
[16]lih. footnote 5.
[17]Grosheide, NICNT 426.  Penulis akan menjelaskan bagaimana kecerdikan Paulus di dalam bergaul dan memenangkan jiwa di dalam penjelasan ayat berikutnya.
[18]Thiselton, NIGTC 701.
[19]Berikut adalah terjemahan dari NA27: 19 VEleu,qeroj ga.r w'n evk pa,ntwn pa/sin evmauto.n evdou,lwsa( i[na tou.j plei,onaj kerdh,sw\  20  kai. evgeno,mhn toi/j VIoudai,oij w`j VIoudai/oj( i[na VIoudai,ouj kerdh,sw\ toi/j u`po no,mon w`j u`po. no,mon( mh. w'n auvto.j u`po. no,mon( i[na tou.j u`po. no,mon kerdh,sw\ 21 toi/j avno,moij w`j a;nomoj( mh. w'n a;nomoj qeou/ avllV e;nnomoj Cristou/( i[na kerda,nw tou.j avno,mouj\ 22  evgeno,mhn toi/j avsqene,sin avsqenh,j( i[na tou.j avsqenei/j kerdh,sw\ toi/j pa/sin ge,gona pa,nta( i[na pa,ntwj tina.j sw,swÅ (penulis memberikan garis bawah pada kata-kata yang dimaksudkan untuk menjelaskan pentingnya kata ini).
[20]kerdhsw dengan kata dasar kerdainw memiliki arti “untuk mendapatkan keuntungan.”  Makna yang lebih umum dari kerdainein adalah “untuk menang” atau “mencapai sesuatu.”  Di dalam beberapa konteks kata ini dapat berarti “untuk menyelamatkan diri seseorang.”  Makna kata kerdainw dapat di temukan di LXX pada kitab Ayub 22:3 tetapi ditulis Crhsimon (q) pada Kej 37:26 (בצע), wfeleia pada Ψ 29:9 (בצע) Ayub 22:3, dan misqoj agaqoj pada Pengkotbah 4:9 (kata benda untuk שכר).  Kerdainein muncul di Perjanjian Baru dengan makna: 1. untuk mendapatkan keuntungan komersial (Yak. 4:13); 2. mencadangkan bagi seseorang sesuatu (Kis. 27:21); 3. dan untuk memenangkan sesuatu (Mat. 25:16, 17, 20, 22).  Kerdainein merupakan kata dalam bidang misi.  Ini dapat dilihat dari 1 Korintus 9:19 yang berarti “menjadikan seorang Kristen,” yang kemudian menggunakan bahasa lain dengan swzein (9:22).  Bentuk-bentuk ini memiliki parallel dengan pandangan Rabinik yang memiliki kata השתכר untuk kerdainein dan untuk zhmiwqhvai yang pemakaiannya ditentukan oleh konteks.  Jadi kata kerdhsw pada ayat ini berarti “untuk memenangkan” di dalam konteks membawa jiwa bagi Kristus. (Gerhard Kittel, Theological Dictionary of The New Testament. 3 [Grand Rapids: Eerdmans, 1972] 672-673).
[21]William F. Arndt and F. Wilbur Gingrich, BDAG (Chicago: University of Chicago, 1979) 429.
[22]Dalam budaya Greco Roman apa yang dilakukan Paulus ini merupakan tradisi bagi pendidik yang berusaha fleksibel dan mengadakan pendekatan yang adaptif kepada masyarakat yang beragam.  Hal ini juga dilakukan oleh Paulus untuk menentang “yang kuat” di Korintus untuk bertindak seperti “yang bijaksana” yang menjadi klaim mereka dan mengijinkan kepedulian kepada “yang lemah” dan kepada orang lain dalam situasi budaya, kepercayaan, dan status yang beragam.  (Thiselton, NIGTC 699).
[23] ginomai (verb) yang memiliki beberapa pengertian: lahir, terjadi, berada, menciptakan, membuat              , menjadi, mengubah natur menjadi.  Tidak ada referensi yang tepat di dalam Perjanjian Lama terhadap pemakaian kata ini. di dalam Kejadian 4:8 terdapat kata kai egeneto (LXX) untuk menterjemahkan kata ב ןיהי.  Dan ini kurang tepat karena ב ןיהי hanya bermakna “dan, lalu, kemudian” yang biasanya dipakai untuk menyambung kalimat di dalam narasi.  (Arndt, BGAD 158-159).
[24]Grosheide, NICNT 432.
[25]Ibid.  428.
[26]Thiselton, NIGTC 702-703.
[27]Ibid. 705.
[28]Blomberg,  NIVAC 184
[29]Thiselton, NIGTC 704
[30]Grosheide, NICNT 330.
[31]Geisler, Etika 91.
[32]Di sini diperlukan pemahaman yang benar terhadap firman Allah untuk mendapatkan pengetahuan tentang manakah penyesuaian yang dapat ditolerir dan manakah yang mulai melenceng dari firman Tuhan.
[33]Grosheide, NICNT 432.

1 komentar:

  1. Syalom pak Benny, sebelumnya saya sangat berterima kasih dengan adanya artikel ini dan saya sangat diberkati. Namun, saya ada pertanyaan sekaligus permintaan tentang bagaimanakah langkah-langkah dalam melakukan eksegese Perjanjian Baru? Mohon Infonya ya pak.. Thx, God Bless..
    Emailku: Judson_octo@yahoo.com

    BalasHapus