30 Mei 2011

Buku "7 Langkah ..." Apa yang Terjadi Dengan Khotbah-Khotbah Masa Kini?

(Dikutip dari buku "7 Langkah Menyusun Khotbah yang Mengubah Kehidupan' oleh Benny Solihin)

 
       Semangat pelayanan seorang hamba Tuhan tentu akan meningkat ketika ia mengetahui bahwa khotbah-khotbahnya bukan hanya didengar dengan penuh antusias oleh jemaat, melainkan juga mendorong jemaat bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Yesus Kristus. Terlebih lagi, saat menyaksikan kehidupan jemaatnya berubah. Mereka yang dulu hidup dalam kekuatiran bertumbuh menjadi jemaat yang makin beriman; mereka yang dulu tak peduli dengan pelayanan sekarang menjadi majelis gereja yang mengasihi Tuhan; juga yang rumah tangganya pernah di ambang kehancuran kini hidup dalam kerukunan. Semua itu menjadi tanda bahwa Tuhan menyertai pemberitaannya dan memberkati segala upaya pelayanannya. Namun sering kali realitas yang ditemui justru sebaliknya, bukan? Pada umumnya hamba Tuhan lebih sering melihat jemaat tidak bergairah mendengarkan khotbah-khotbahnya. Bertahun-tahun mereka mendengar firman Tuhan, namun tidak tampak perubahan yang konsisten; tidak ada pertumbuhan yang nyata dalam iman mereka.  Kelihatannya, firman Tuhan seperti masuk telinga kiri ke luar telinga kanan. Tidak mengubah apapun.
       Kita semua yakin bahwa firman Tuhan adalah firman yang hidup. Kuasanya setajam pedang bermata dua dan mampu mengubah kehidupan manusia. Seharusnyalah firman Tuhan yang kita beritakan membawa pengaruh pada  kehidupan jemaat. Bila yang terjadi adalah sebaliknya, ada dua kemungkinan yang bisa menjadi penyebabnya. Kemungkinan pertama adalah karena para pendengar mengeraskan hati mereka terhadap firman Tuhan. Seperti bangsa Israel yang menolak firman Tuhan yang disampaikan oleh para nabi, demikianlah pendengar masa kini. Ada berbagai alasan yang bisa mereka kemukakan, namun intinya mungkin sama, yakni mereka tidak mempunyai keinginan yang kuat agar benih firman Tuhan itu bertumbuh dan berbuah dalam hidup mereka.  Kemungkinan kedua adalah adanya masalah dalam khotbah-khotbah yang disampaikan. Walaupun kemungkinan kedua ini bisa jadi tidak terlalu nyaman untuk diterima, namun perlu ditanggapi dengan kepala dingin agar kita dapat menemukan akar masalah yang sesungguhnya sekaligus mencari solusi yang tepat untuk memperbaikinya. Dengan begitu, kita berharap bahwa kelak khotbah-khotbah yang kita sampaikan sungguh-sungguh mampu mengubah kehidupan jemaat dan tentunya  kehidupan kita juga. Selanjutnya, pembahasan buku ini akan difokuskan pada  kemungkinan kedua.

Persoalan pada Khotbah-khotbah Masa Kini
       Bila kita amati dengan cermat, setidaknya ada lima persoalan pokok yang menjadi masalah pada khotbah-khotbah masa kini.

Pertama, persoalan tentang kebergantungan pada Roh Kudus
       Dewasa ini, sarana penolong dalam membuat khotbah sangat mudah diperoleh. Buku-buku tafsiran, software-softw8are Alkitab, ribuan website yang menyediakan khotbah serta ilustrasi gratis memberikan banyak kemudahan bagi pengkhotbah dalam menyusun khotbah. Buku-buku tentang sosiologi, psikologi, dan filosofi, serta berita-berita up to date dari media cetak dan eletronik dapat menolong  pengkhotbah dalam menganalisis dunia pendengar. Selain itu, kecanggihan teknologi multimedia seperti PowerPoint juga membantu pengkhotbah dalam menyajikan khotbah dengan lebih menarik. Semua ini merupakan berkat yang luar biasa bagi pengkhotbah. Namun ironisnya, di tengah-tengah kemudahan tersebut, tidak jarang kita mendengar keluhan jemaat bahwa khotbah-khotbah yang mereka dengar tidak menarik, tidak relevan, dan tidak memiliki kuasa. Apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi?  Tentu ada banyak faktor yang bisa menjadi penyebabnya, namun kemungkinan besar faktor utamanya adalah karena kegagalan pengkhotbah dalam memahami peranan Roh Kudus. Pengkhotbah tidak lagi mempunyai sense of the supernatural dalam berkhotbah sehingga khotbah dirasakan hanya merupakan suatu aktivitas manusia belaka, bukan aktivitas  Allah. Pada masa kini, mungkin saja berkhotbah telah dianggap sebagai suatu profesi, tugas rutin, pameran kemampuan akademis, atau dipandang sebagai suatu acara “entertainment”. Arturo G. Azurdian III dalam bukunya Spirit Empowered Preaching menegaskan, “Saya sangat yakin bahwa kekurangan terbesar dalam pelayanan khotbah ekspositori zaman sekarang adalah tidak adanya kuasa; dengan kata lain, khotbah tidak mengandung daya hidup dari Roh Kudus.”[1] Ia kemudian mengutip pernyataan seorang pendeta Presbiterian yang tidak dikenal yang berkata:
      
Keingingan terbesar pada zaman sekarang adalah pelayanan yang lebih kudus. Kita tidak membutuhkan lebih banyak polemik pendukung, apologet yang hebat, atau pengkhotbah yang berpengetahuan luas, walaupun semua ini penting. Tetapi kita membutuhkan utusan Allah yang membawa suasana sorga ke mimbar dan berbicara dari perbatasan dunia lain.[2]

       Azurdian III lebih lanjut menjelaskan bahwa khotbah-khotbah yang membuat pendengar merasakan kuasa Allah dan yang mendorong mereka mengasihi Tuhan adalah khotbah-khotbah yang berasal dari penguraian firman Tuhan yang teliti dan cermat. Lebih dari itu, khotbah-khotbah itu juga dialiri oleh kuasa yang tak terbatas yang melampaui kekuatan manusia, yaitu kuasa ilahi, kuasa yang berasal dari surga sendiri.[3] Hal itu hanya terwujud bila pengkhotbahnya mempunyai kebergantungan yang penuh pada pimpinan Roh Kudus. Jemaat masa kini merindukan khotbah-khotbah yang membuat mereka merasakan hadirat Allah, di mana Allah berbicara kepada mereka secara pribadi dan kuasa-Nya mengubah hidup mereka.

Kedua, persoalan tentang isi khotbah
       Persoalan lain yang umumnya terjadi pada khotbah-khotbah masa kini adalah persoalan isi khotbah. Alih-alih menyampaikan berita utama dari teks Alkitab, kebanyakan khotbah isinya lebih cenderung menyampaikan ide atau imajinasi pengkhotbah terhadap teks tersebut sehingga khotbah bukanlah hasil eksegese tetapi eisegese.[4] Fungsi khotbah yang seharusnya menjadi sarana untuk menyampaikan apa yang dikatakan oleh teks itu – sebagaimana yang dimaksud oleh penulisnya – telah dijadikan sarana untuk menuangkan pikiran-pikiran pengkhotbah tentang teks tersebut. Pembacaan teks Alkitab sebelum khotbah hanyalah sekadar tradisi untuk memulai khotbah. Setelah itu, isi khotbahnya sama sekali tidak bersangkut paut dengan berita utama dari teks Alkitab yang dibacakan. Keadaan ini tentunya memprihatinkan. Bagaimanapun, seorang  pengkhotbah hendaknya mempunyai konsep bahwa ia harus mengkhotbahkan berita utama teks atau yang disebut dengan amanat teks. Ia seharusnya gelisah bila menyampaikan firman Tuhan tanpa mengetahui amanat dari teks yang dikhotbahkannya itu.
       Persoalan lain yang menyangkut isi khotbah adalah diabaikannya hakikat  doktrin yang solid. Adakalanya pengkhotbah beranggapan bahwa doktrin atau teologi merupakan momok yang menakutkan; tidak mengherankan, khotbah hanya dipenuhi oleh hal-hal praktis sehari-hari tanpa struktur teologi yang jelas. Tidak salah bila suatu khotbah berisi hal-hal yang bersangkut paut dengan kehidupan sehari-hari, itu sangat diperlukan. Tetapi masalahnya adalah apakah kebenaran yang dikhotbahkan itu sesuai dengan kebenaran Alkitab secara holistik. Pengabaian doktrin Alkitab akan menghasilkan khotbah dengan muatan kebenaran Alkitab yang tidak utuh, bahkan menyimpang. Khotbah yang benar adalah khotbah yang mempunyai kerangka teologi dari seluruh kebenaran Alkitab. Salah satu keunikan dari pengkhotbah-pengkhotbah besar pada masa lalu – dan hal inilah yang membuat khotbah-khotbah mereka tetap hidup ratusan tahun meskipun mereka telah tiada – adalah khotbah-khotbah mereka memiliki bobot doktrin yang kuat, sehingga jemaat benar-benar berhadapan dengan kebenaran ilahi yang kokoh, bukan kebenaran parsial dan temporal.
       Sehubungan dengan kebenaran doktrinal dalam khotbah, kita perlu berhati-hati agar tidak jatuh pada salah satu dari dua ekstrem berikut. Ekstrem pertama, khotbah doktrinal yang tidak dilandasi pada teks dan penggalian eksegese. Khotbah seperti ini nampaknya solid dan berbobot, tetapi sangat riskan karena pikiran atau gagasan pengkhotbah cenderung “terbang” melampaui apa yang dikatakan oleh teks. Teks Alkitab hanya menjadi “landasan pacu” sesaat yang “menerbangkan” pengkhotbah ke tempat yang diinginkannya. Ekstrem kedua, khotbah doktrinal yang terpaku hanya pada  teks dan eksegese yang ketat tanpa menghubungkannya dengan keseluruhan doktrin Alkitab. Akibatnya, sering kali kebenaran yang dipaparkan adalah kebenaran yang segmental; kebenaran seperti itu bisa jadi bertentangan dengan teks pada bagian lain dari Alkitab. Seharusnya, berita sebuah khotbah berasal dari amanat teks dan dibangun di atas fondasi doktrin yang solid.

Ketiga, persoalan tentang aplikasi khotbah
       Dalam kebanyakan khotbah masa kini, masalah aplikasi khotbah sering jatuh ke salah satu dari dua ketimpangan berikut. Pertama, khotbah dengan sedikit aplikasi. Kedua, khotbah sarat dengan pesan-pesan moral. Pada kasus pertama, khotbah dipenuhi penjelasan alkitabiah atau doktrinal dengan bobot akademis yang sangat menonjol –  seperti pembahasan materi di ruang kuliah – tetapi aplikasinya hanya sekadar ada seolah-olah pengkhotbah sendiri tidak berminat membicarakannya. Khotbah seperti itu oleh jemaat dikategorikan sebagai khotbah yang “kering” karena mereka tidak dapat menarik relevansinya dengan kehidupan mereka. Mereka tahu bahwa khotbah semacam itu baik dan berbobot, tetapi mereka tidak paham sangkut-pautnya dengan kehidupan mereka. Sedangkan pada kasus yang kedua, pengkhotbah memberondong jemaat dengan pelbagai aplikasi. Setiap ayat, bahkan setiap kalimat “dibumbuinya” dengan  pesan-pesan moral yang sebenarnya tidak pernah dimaksudkan oleh si penulis teks. Terlalu banyaknya nasihat membuat jemaat tidak tahu lagi mana sebenarnya yang Tuhan ingin mereka lakukan. Alhasil, khotbah seperti itu membuat jemaat frustrasi. Dewasa ini, jemaat sangat membutuhkan khotbah-khotbah yang selain tinggi bobot akademisnya, juga berbicara telak ke dalam hati mereka.

Keempat, persoalan tentang cara penyajian khotbah
       Cara penyajian khotbah menjadi persoalan umum bagi pengkhotbah masa kini. Ini pula yang banyak dikeluhkan jemaat, terlebih oleh pemuda dan remaja. Walaupun ada berbagai cara penyajian khotbah, namun kita bisa temukan dua ekstrem. Ekstrem pertama, khotbah-khotbah yang cara penyajiannya sangat komunikatif tetapi isinya lemah. Khotbah-khotbah semacam ini digemari oleh sebagian jemaat karena dapat membuat mereka terpukau, termotivasi, dan mungkin juga tertawa. Namun amat disayangkan, isinya tidak memiliki dasar penafsiran Alkitab yang kuat. Pengkhotbah tidak mampu membawa jemaat lebih dalam mengenal Allah dan firman-Nya. Uraian khotbahnya tidak beda dengan ceramah seorang motivator yang terus menyemangati pendengarnya agar mereka tetap hidup optimis, hanya itu. Ekstrem kedua, khotbah-khotbah yang isinya baik tetapi cara penyajiannya lemah. Isi khotbah tidak diragukan bobotnya: sangat akademis dan bertanggung jawab, kuat sistematika penjelasannya, ketat argumennya, dan akurat kutipannya. Namun khotbah disampaikan dengan monoton, dengan cara membaca hampir seluruh naskah khotbah, tanpa menghiraukan apakah jemaat memperhatikannya atau tidak.
       Bagaimanapun, kedua ekstrem cara penyajian khotbah seperti ini perlu dihindari. Masyarakat Kristen rindu mendengar khotbah-khotbah yang isinya kuat dan penyampaiannya komunikatif serta aplikatif. Khotbah yang mengubah kehidupan bukan hanya beritanya berasal dari teks Alkitab dan aplikasinya mengena, melainkan juga disampaikan secara menarik.

Kelima, persoalan tentang diri pengkhotbah
       Persoalan berikutnya yang dapat terjadi pada khotbah-khotbah masa kini adalah faktor pengkhotbah itu sendiri. Sejatinya, ini adalah persoalan klasik yang hadir pada setiap zaman, bahkan juga terjadi pada zaman Imam Eli. Tetapi pada zaman kini, umat Kristen lebih kritis. Meskipun tidak banyak dari mereka yang secara eksplisit mengungkapkan ketidakpuasannya kepada hamba Tuhan, tetapi secara diam-diam mereka menilainya. Hasilnya, makin lama makin berkurang hormat mereka pada figur yang berpredikat pendeta, penginjil, atau pengerja. Integritas para hamba Tuhan yang diragukan berimbas negatif bagi kepercayaan mereka pada khotbah-khotbah yang mereka dengar. Bila mereka masih mendengarkan khotbah-khotbah para hamba Tuhan, itu belum tentu karena mereka percaya kepada  kehidupan para hamba Tuhan, tetapi mungkin ada banyak sebab lain.
       Bagaimanapun, kehidupan pengkhotbah turut “membidani” khotbah yang mengubah kehidupan, kecuali khotbah hanya dianggap sebagai suatu seni peran. Bila pendengar percaya pada integritas seorang pengkhotbah, akan lebih mudah bagi mereka untuk menerima dan melakukan apa yang dikhotbahkan. Sebaliknya, bila intergritas pengkhotbah diragukan, maka apapun yang disampaikannya akan sulit diterima, apalagi membuat perubahan yang berarti. Seorang pengkhotbah dituntut untuk memiliki integritas hidup yang berpadanan dengan Injil.  Beban tuntutan ini lebih besar dirasakan oleh pengkhotbah yang sekaligus adalah gembala sebuah gereja di mana ia berkhotbah setiap minggu pada jemaat yang sama. Ia haruslah berupaya keras untuk memupuk integritas dan karakternya. Untuk itu, hidup bergaul dengan Allah di dalam kekudusan-Nya merupakan syarat yang tidak dapat dihindari.

Khotbah yang mengubah kehidupan
       Kelima persoalan di atas  dapat  dikatakan merupakan kenyataan sehari-hari yang dapat kita jumpai pada gereja-gereja dewasa ini. Tentu saja, observasi ini bersifat umum. Kita percaya masih cukup banyak khotbah-khotbah yang baik dan hamba Tuhan yang berintegritas, walaupun tidak dipungkiri jumlahnya makin berkurang. Namun, keadaan seperti itu tidak boleh dibiarkan. Jemaat, sebagai umat Allah, layak mendengar firman Allah yang murni, bukan firman hasil rekaan atau karangan pengkhotbah. Mereka rindu mendengar khotbah-khotbah yang mengubah kehidupan mereka, bukan khotbah klise yang membosankan. Karenanya, diperlukan suatu perubahan mendasar dalam paradigma dan cara berkhotbah para pengkhotbah masa kini.
       Perubahan itu bukan kepada sesuatu yang di luar Alkitab, melainkan justru kembali ke Alkitab. Pengkhotbah harus mempunyai keyakinan yang kuat bahwa khotbah yang mengubah kehidupan adalah khotbah yang berakar pada Alkitab. Ia dengan setia mengkhotbahkan amanat yang pernah diinspirasikan oleh Roh Allah kepada para penulis Alkitab. Kemudian, secara komunikatif dan aplikatif, ia menghubungkannya dengan kehidupan jemaat masa kini sambil mengawasi ajaran dan hidupnya sendiri di bawah terang firman Tuhan dan Roh Kudus. Bila para pengkhotbah kembali menjadi “corong suara” kebenaran Allah, maka Allah sendiri yang akan membela firman-Nya. Allah berfirman, “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes. 55:11). Hal yang senada disuarakan oleh penulis kitab Ibrani, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibr. 4:12). Kuasa firman-Nya yang mengubah – mengajar, menyatakan kesalahan,  memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran – menjadi nyata baik dalam kehidupan jemaat maupun dalam kehidupan pengkhotbah. Untuk mewujudkan hal itu, tidak ada jalan lain kecuali kita kembali kepada pola khotbah yang seharusnya, yaitu khotbah yang menyampaikan amanat yang pernah Tuhan sampaikan kepada para nabi, rasul, dan penulis Alkitab untuk umat-Nya. Khotbah yang seharusnya itu disebut khotbah ekspositori.



[1] Arturo G. Azurdian III, Spirit Empowered Preaching (Yogyakarta: ANDI, 2009), xx.
[2] Ibid. xxiv.
[3] Ibid. xx.
[4] Eksegese adalah usaha untuk menemukan berita utama suatu teks Alkitab dengan menerapkan prinsip-prinsip penafsiran yang sehat di mana penafsir memperhatikan tentang latar belakang sejarah, budaya, analisis kata, genre suatu teks dan lain-lain. Sedangkan eisegese adalah usaha untuk memasukkan ide penafsir ke dalam suatu teks sehingga teks itu berbicara seperti yang dikehendaki oleh penafsirnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar