25 Mei 2011

Eksegese Yakobus 4:13-17

Oleh Vincent Tanzil



LITERARY ANALYSIS
1.      Batasan Teks
  • Permulaan teks ini menggunakan kata “jadi” menunjukkan bahwa perikop ini merupakan kesimpulan dari perikop sebelumnya. Namun juga menunjukkan akan adanya sebuah pokok pikiran yang baru yang akan dibicarakan, sebagai contoh Pasal 5:1 menggunakan lagi kata “jadi” namun kepada “orang-orang kaya” dan berbicara mengenai harta kekayaan.
  • Pembicaraan pada ayat 13 mengenai “…berdagang serta mendapat untung,” menunjukkan perubahan topik pembicaraan dari ayat 11-12 yang berbicara mengenai penghakiman.
  •  Ayat 17 termasuk di dalam 13-16 dikarenakan ayat ini tidak mungkin berdiri sendiri. Apabila dikaitkan dengan pasal 5:1 akan menjadi unit yang tidak utuh dan tidak berhubungan. Oleh karena itu kemungkinan terbaik adalah menyatukannya dengan ayat 13-16
  • Pembicaraan di pasal 5 seterusnya juga berbicara mengenai mengumpulkan harta di bumi, sebuah pokok yang berbeda dengan 4:13-17
  • Karena itu ayat 13-17 adalah sebuah perikop dengan pokok pikiran yang utuh dan berbeda dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

2.      Kesatuan Teks
  • Penggunaan kata “kamu” pada ayat 13-16 mengacu kepada orang yang sama pada ayat 13 yakni “pedagang-pedagang” dan tidak terlihat adanya perubahan acuan hingga 5:1.
  • Adanya pengulangan pemikiran mengenai perencanaan (yang tidak ditemukan pada konteks dekat perikop ini) seperti “hari ini atau besok…” (ay. 13), “apa yang terjadi besok…” (ay. 14), “…hidup berbuat ini dan itu” (ay. 15). Ayat 16 dan 17 terlihat sebagai penjelasan dari 13-15 yang berbicara mengenai perencanaan.
  • Ayat 17 meskipun menggunakan kalimat yang lebih umum berupa amsal, tidak berarti bahwa ayat ini terpisah dengan ayat-ayat sebelumnya dalam pokok pikirannya. Hal ini merupakan cara Yakobus untuk menambahkan sebuah amsal sebagai salah satu argumennya (band. 3:18; 2:13), hal ini tidak selalu menyatakan perubahan pokok pikiran.
  •  Kesimpulannya: pasal 4:13-17 merupakan sebuah teks yang satu dan utuh.
3.      Analisa Struktur Teks dan Pembagiannya:


13  Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok
                                   kami berangkat ke kota anu, dan di sana
                                   kami akan tinggal setahun dan
                                            berdagang serta
                                            mendapat untung",
14  sedang
                                   kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
         Apakah arti hidupmu?
                             Hidupmu itu sama seperti uap yang
                                                                          sebentar saja kelihatan
                                                                          lalu lenyap.
15  Sebenarnya
                                   kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya,
                                   kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."
16  Tetapi sekarang
                                   kamu memegahkan diri
                                                                         dalam congkakmu, dan
                                             semua kemegahan
                                                                         yang demikian adalah salah.
17  Jadi jika
                                   seorang tahu bagaimana ia
                                                                              harus berbuat baik, tetapi
                                                                              ia tidak melakukannya,
                                                                              ia berdosa.

4.      Pembagian Struktur Teks
Yakobus 4:13-17 dapat dibagi menjadi tiga bagian:
a.       Deskripsi subyek dan problem yang akan ditegur (Ayat 13-14). Perencanaan yang sia-sia mengingat fananya kehidupan manusia.
  •     Karena ayat-ayat ini mempunyai subyek yang sama yakni tentang perencanaan.
b.      Solusi dari problem (Ayat 15). Perintah untuk mempertimbangkan Allah sebagai solusi untuk problem perencanaan.
  •   Karena ayat ini berdiri sendiri sebagai sebuah solusi untuk problem di ayat 13-14.
c.       Argumentasi untuk solusi (ayat 16-17). Alasan mengapa perencanaan tanpa Allah merupakan sebuah dosa, dan mengapa Allah harus dipertimbangkan.
  •     Karena dimulai dengan kata “tetapi” menunjukkan sebuah pemikiran baru tapi masih berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya.
  •      Kesimpulan dari seluruh pembicaraan di ayat-ayat sebelumnya (ay. 13-16).

5.      Struktur Kitab Yakobus[1]
1.      Salam (1:1)
2.      Sukacita yang berasal dari bertahan melawan cobaan (1:2-4)
3.      Mendapatkan hikmat dari Allah (mungkin secara spesifik sebagai sumber untuk melawan pencobaan?) (1:5-8)
4.      Transvaluasi kekayaan dan kemiskinan (1:9-11)
5.      Sumber dari cobaan dan sumber dari segala karunia (1:12-18)
6.      Mendengarkan dan kerendahan hati lebih baik dibandingkan berbicara dan kemarahan (1:19-21)
7.      Melakukan hukum taurat dibandingkan hanya mendengarkan (1:22-25)
8.      Terhadap sikap memihak (2:1-13)
9.      Kepentingan dari menjalankan iman menjadi perbuatan (2:14-26)
10.  Tantangan untuk mengendalikan lidah (3:1-12)
11.  Hasil hikmat duniawi dikontraskan dengan hikmat dari atas (3:13-4:10)
12.  Kerendahan hati dalam mengevaluasi sesama kita (4:11-12)
13.  Kerendahan hati dalam mengingat ketergantungan kita kepada Allah (4:13-17)
14.  Pernyataan terbuka kepada mereka yang menjadi kaya dengan cara yang tidak benar (5:1-6)
15.  Nasihat untuk bertahan dalam kesabaran (5:7-11)
16.  Larangan terhadap sumpah, lebih baik kejujuran absolut dalam segala perkataan (5:12)
17.  Memulihkan yang sakit dan berdosa (5:13-20)

HISTORICAL-CULTURAL BACKGROUND, WORD MEANING, & GRAMMATICAL ANALYSIS
1.      Perencanaan akan kehidupan yang sia-sia mengingat fananya kehidupan manusia (ay. 13-14).
Penerima dan konteks dari surat ini kemungkinan adalah orang Kristen Yahudi yang tersebar di luar Israel. Hal ini dapat dilihat dari permulaan surat yang menyatakan kepada “kedua belas suku di perantauan” yang bisa diartikan juga sebagai totalitas seluruh umat Israel.[2] Ditambah penggunaan kata diaspora di teks ini juga umum digunakan untuk orang Yahudi yang tinggal di luar tanah Israel.[3] Beberapa diantara mereka kemungkinan adalah pedagang.[4] Penerima surat Yakobus bukanlah sebuah jemaat yang masih bayi rohani, namun telah memahami dasar-dasar dari iman Kristen dengan baik.[5]
Surat ini secara keseluruhan bertujuan ke ranah yang praktis, “… untuk menolong yang tulus menghidupi iman mereka, dan seringkali untuk mengoreksi kesalahan, kesalah-pahaman, dan kejatuhan yang menghasilkan perilaku yang tidak pantas bagi iman Kristen.”[6] Secara singkat surat ini ingin membangun sebuah kehidupan yang Theonomi, yang berlandaskan hukum Allah dalam kehidupan penerimanya.[7]
Tidak ada yang tidak biasa dengan situasi yang dideskripsikan. Karena pedagang melakukan hal-hal seperti demikian sehari-hari dalam dunia Greco-Roman, juga tidak ditemukan adanya hal yang tidak etis pada saat itu.[8] Namun perintah pada ayat 15 menunjukkan bahwa mereka melupakan Allah dalam perencanaan mereka. Mereka hidup seperti apa yang digambarkan perumpamaan orang kaya yang bodoh (Lukas 12:16-21). Mereka gagal untuk memahami bahwa mereka tidak berkuasa menambahkan sehastapun kepada hidupnya.[9] Yang ditegur oleh Yakobus disini adalah perencanaan yang muncul dari kesombongan manusia dalam kemampuan untuk menentukan jalannya masa depan.[10]
Kesombongan dari para pedagang ini meliputi tiga bagian yakni:[11] (1) akan kehidupan: “hari ini…besok…setahun,” (2) akan pilihan: “hari ini atau besok kita akan pergi…tinggal setahun…berdagang.” Kata “atau” ini dalam bahasa aslinya menggambarkan bahwa apa yang direncanakan dapat dilaksanakan hari ini ataupun hari esok.[12] Menunjukkan kesombongan dalam kebebasan mereka atas pilihan hidup. Dan (3) akan kemampuan: “berdagang dan mendapat untung”. Selain itu kesombongan ini juga didorong dengan kecintaan akan dunia ini yang memotivasi seseorang hingga tidak memikirkan Allah di dalam perencanaan (Filipi 3:19; 2 Petrus 2:14).[13]
Peryataan Yunani “hoitines” pada awal ayat ini memiliki arti kualitatif: “orang seperti kamu.” Yang artinya Yakobus sedang menanyakan: bagaimana mungkin makhluk seperti kamu, beranggapan mampu untuk mendikte jalannya masa depan?[14] Pedagang yang dituju oleh Yakobus tidak menanyakan mengenai arti dan rentang waktu hidup. Mereka telah melupakan nasehat Salomo : “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” (Amsal 27:1). Mereka berbicara mengenai masa depan dengan kepastian absolut. Namun mereka tidak memiliki kendali atasnya. Mereka menghidupi kehidupan mereka tetapi gagal menyelidiki tujuan kehidupan itu sendiri.[15] Kerapuhan dan ketidakpastian hidup manusia menjadi poin utama dari ayat ini.[16]
Ada hubungan yang jelas antara ayat ini dengan orang kaya pada 1:10-11, dimana, meskipun mereka merasa aman dengan kekayaannya, mereka akan direndahkan. Pesan yang ditekankan Yakobus ini sering ditekankan oleh nabi-nabi PL.[17] Kasih bangsa Israel yang lemah terhadap Allah diibaratkan seperti kabut pagi dan embun yang lenyap (Hos 6:4). Hosea menggabungkan gambaran dari kabut pagi, embun yang lenyap, sekam yang ditiup angin dan asap untuk menggambarkan betapa mudahnya bangsa yang percaya kepada ilah-ilah akan ditiupkan (Hos 13:3). Dalam Mazmur 1:4; orang jahat adalah seperti “sekam yang ditiupkan angin” (Yesaya 17:13). Konsepnya adalah hidup manusia sepenuhnya bergantung kepada Allah dan tidak mampu menghadapi penghakiman Allah.[18] Pemikiran akan kehidupan yang sebentar saja lalu lenyap merupakan pemikiran yang umum juga pada orang-orang kafir. [19]
Tuntutan mengenai kebebalan, tidak hanya diberikan kepada para pedagang, namun secara prinsip kepada seluruh umat kemanusiaan yang terbatas dan karena itu tidak tahu apa yang akan terjadi esok.[20]

2.      Solusi dari problem (Ayat 15). Perintah untuk mempertimbangkan Allah sebagai solusi untuk problem perencanaan
Kata “Jika Tuhan berkehendak” dikenal sebagai “The Jacobean Condition”, pemikiran ini umum di PB, terutama di doa Bapa Kami (Mat. 6:10); band. Juga: Mat. 26:42; Kis 18:21; 21:14; Rom. 1:10; 15:32; 1 Pet. 3:17). Tidak seperti dalam kehidupan modern ini, sedikit dari masyarakat yang hidup pada masa Yakobus yang agnostik atau atheis; kalimat “bila Tuhan berkehendak” (Latin Deo volente) mudah ditemukan dalam banyak tulisan kuno.[21] Formula ini dianggap mengikat oleh beberapa rabbi sebelum melakukan apapun juga. Dalam perkembangan awal agama Romawi dimana tidak ada yang dilakukan tanpa pertama-tama meminta nasehat para dewa, kalimat ini memiliki arti yang nyata, tidak seperti penggunaan populernya hari ini dimana formula ini sering dipakai sekedar menjadi kalimat acuh tak acuh, “saya harap bisa.”[22]
Apa yang penting bagi Yakobus bukanlah sekedar pengucapan, tapi bahwa “mereka memiliki sebagai prinsip dalam benak mereka, bahwa mereka tidak akan melakukan apapun tanpa izin dari Allah.”[23] Kehendak Allah pasti sempurna (Roma 12:2), pernyataan “jika Tuhan berkehendak” meninggalkan jawabannya kepada Allah yang menjawab. Pernyataan ini menunjukkan kehendak orang percaya untuk menerimanya. Perkataan ini juga menyatakan bahwa kehidupan dan perbuatan kita harus terus berjalan, ini bukanlah alasan untuk hidup tanpa melakukan suatu apapun dengan alasan “Jika Tuhan berkehendak.”[24]
Pada saat yang sama, kita tidak seharusnya menghakimi mereka yang menggunakan frasa ini; bila dilakukan dengan rendah hati sebagai pengingat akan kedaulatan Allah, ini adalah suatu kesalehan juga.[25]

3.      Argumentasi untuk solusi (ayat 16-17). Alasan mengapa perencanaan tanpa Allah merupakan sebuah dosa, dan mengapa Allah harus dipertimbangkan.
Kata kerja “bermegah” (kauchomai) tidak selalu memiliki konotasi negatif. Kata kerja ini menjadi ciri khas Paulus di PB; Paulus menggunakannya tiga puluh kali, dan Yakobus dua kali (lihat juga 1:9). Kata ini menggabungkan ide mengenai “meletakkan kepercayaan diri dalam” dan “bersuka cita dalam,” dengan kata “boast” yang merupakan kata dalam bahasa Inggris yang paling mirip. Poin yang penting dari sini adalah “bermegah” itu sendiri bukan sebuah aktifitas atau sikap yang negatif, tergantung kepada objek apakah seseorang bermegah.[26] Namun para pedagang tersebut bermegah di dalam “congkak” mereka, istilah yang secara signifikan dihubungkan dengan dunia dan secara spesifik kepada harta milik dalam PB (1 Yoh 2:16; band. Yos 17:8; 1 Clem 21:5, dimana ἐγκαυχωμένος ἐν ἀλαζονείᾳ dikontraskan dengan bermegah dalam Tuhan, dan ἀλαζών dalam Ams 21:24; Ayb 28:2; 2 Mak 9:8; Rom 1:30; dan 2 Tim. 3:2, dimana kata ini muncul dalam daftar kejahatan).[27]
Kecongkakan dan kebanggaan yang duniawi inilah yang dikutuk oleh Yakobus dalam bagian ini. Semua kemegahan yang demikian adalah jahat, kesimpulan Yakobus.[28] “Jahat” (LAI: “salah”) adalah sebuah kata yang keras, Yakobus tidak memberikan penjelasan untuk kata tersebut: dia hanya menulis jahat, kata yang di bagian Alkitab lain bisa berarti Iblis, ‘si jahat.’[29] Ada kata-kata keras lain yang bisa dipakai oleh Yakobus, namun ia memilih untuk menggunakan kata ini. Bermegah bagi Yakobus bukanlah persoalan kecil.[30]
Dosa yang diekspos oleh Yakobus bukan sekedar dosa kelalaian (lupa untuk menyadari pemerintahan Allah di dalam kehidupan mereka); tapi dosa yang disadari yang dimana mereka bermegah dalam kemampuan diri mereka sendiri.[31]
Pernyataan pada ayat 17 terlihat janggal dan tidak berhubungan pada mulanya, namun Yakobus secara eksplisit menyambungkan ayat ini dengan konteksnya melalui kata “jadi” (oun).[32] Nada dari orang yang dituju berubah, karena Yakobus tidak lagi berbicara langsung kepada pedagang-pedagang, tetapi kepada setiap orang yang membaca suratnya.[33] Yakobus yang senang menggunakan amsal kemungkinan menggunakan amsal yang dikenal oleh nya seperti yang digunakannya pada 3:18 dan 2:13.[34] Amsal ini untuk memberikan dasar theologis bagi peringatannya.
Bagi Yakobus, para pedagang sekarang tidak memiliki alasan. Kata οὐ καλόν berdiri sebagai sinonim dari κακόν dan kata ini selalu membawa makna tanggung jawab moral. Ketika seorang pedagang (atau orang Kristen manapun) tahu apa yang benar, orang yang sama memiliki tanggung jawab moral untuk melakukannya.[35] Mereka tidak bisa melarikan diri dengan mengatakan mereka tidak melakukan kesalahan itu secara positif (sengaja). Seperti yang Alkitab jelaskan, dosa karena kelalaian adalah sama nyata dan seriusnya seperti dosa yang disengaja. Sebagai contoh lihat Lukas 19:11-27; Mat 25:31-46 – mereka dihukum oleh karena apa yang mereka lalai kerjakan. Tuhan Yesus secara eksplisit juga pernah berkata mirip dengan perkataan Yakobus disini (Luk 12:47).[36] Memahami kebenaran namun tidak melakukannya adalah dosa.
            Dapat disimpulkan bahwa Yakobus menuliskan nasehat ini untuk memperingatkan praktek umum para pedagang yang mengira mereka mampu mengatur sendiri jalannya kehidupan mereka, dengan menunjukkan bahwa hidup mereka sangat singkat dan tidak berdaya. Mengingat bahwa mereka adalah orang yang sudah percaya kepada Allah yang berdaulat penuh dalam dunia ini, Yakobus menegaskan bahwa sikap yang demikian adalah dosa.

Amanat Teks:
Subyek: Apa yang Yakobus katakan kepada para pedagang Kristen tentang merencanakan hari esok?
Komplemen: Bergantung kepada Tuhan, bukan dengan diri sendiri.

Amanat Teks: Yakobus mengatakan kepada para pedagang Kristen untuk bergantung kepada Tuhan, bukan kepada diri sendiri, dalam merencanakan hari esok.




Sumber Pustaka

Adamson, J. B., The Epistle of James. The New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans. 1976).
Blomberg, Craig L., From Pentecost to Patmos: an Introduction to Acts Through Revelation (Nashville:Broadman & Holman, 2006).
Carson, D. A., Moo, Douglas J., Morris, Leon, An Introduction to the New Testament (Grand Rapids:Zondervan, 1992).
Davids, P. H., The Epistle of James : A commentary on the Greek text. (Grand Rapids, Mich.: Eerdmans, 1982).
deSilva, D. A.,  An introduction to the New Testament : Contexts, methods and ministry formation (Downers Grove, Ill.: InterVarsity Press, 2004).
Guthrie, Donald, New Testament Introduction. (Downers Grove:InterVarsity Press, 1990).
Hiebert, D. Edmond., James (Chicago: Moody Bible Institute, 1992).
Kistemaker, S. J., & Hendriksen, W.. Vol. 14: New Testament commentary : Exposition of James and the Epistles of John. New Testament Commentary (Grand Rapids:Baker Book House, 1953-2001).
Manton, Thomas, James. The Crossway Classic Commentaries (Wheaton:Crossway, 1995).
Martin, R. P., Vol. 48: Word Biblical Commentary : James. Word Biblical Commentary (Dallas: Word, Incorporated, 2002).
Moo, D. J.. The Letter of James. The Pillar New Testament commentary (Grand Rapids, Mich.; Leicester, England: Eerdmans; Apollos, 2000).
Motyer, J.A., The Message of James. The Bible Speaks Today (Downers Grove: InterVarsity Press, 1985).
Nystrom, David P., James. NIV Application Commentary, New Testament (Grand Rapids: Zondervan, 1997).
Stulac, G. M., James. The IVP New Testament commentary series (Jas 4:15) (Downers Grove, Ill. USA: InterVarsity Press, 1993).



[1] deSilva, D. A.,  An introduction to the New Testament : Contexts, methods and ministry formation (Downers Grove, Ill.: InterVarsity Press, 2004) 820.
[2] Ibid. 818.
[3] Blomberg, Craig L., From Pentecost to Patmos: an Introduction to Acts Through Revelation (Nashville:Broadman & Holman, 2006) 390.
[4] Kistemaker, S. J., & Hendriksen, W.. Vol. 14: New Testament commentary : Exposition of James and the Epistles of John. Accompanying biblical text is author's translation. New Testament Commentary (Grand Rapids:Baker Book House, 1953-2001) 7.
[5] Adamson, J. B., The Epistle of James. The New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans. 1976) 20.
[6] Ibid.
[7] Ibid.
[8] Davids, P. H., The Epistle of James : A commentary on the Greek text. (Grand Rapids, Mich.: Eerdmans, 1982) 172.
[9] Kistemaker & Hendriksen, Exposition, 146-147.
[10] Moo, D. J.. The letter of James. The Pillar New Testament commentary (Grand Rapids, Mich.; Leicester, England: Eerdmans; Apollos, 2000) 202.
[11] Motyer, J.A., The Message of James. The Bible Speaks Today (Downers Grove: InterVarsity Press, 1985) 160.
[12] Hiebert, D. Edmond., James (Chicago: Moody Bible Institute, 1992) 251.
[13] Manton, Thomas, James. The Crossway Classic Commentaries (Wheaton: Crossway Books, 1995) 274.
[14] Moo, The Letter, 203.
[15] Kistemaker & Hendriksen, Exposition, 147.
[16] Moo, The Letter, 203.
[17] Nystrom, David P., James. NIV Application Commentary, New Testament (Grand Rapids: Zondervan, 1997) 252.
[18] Stulac, G. M., James. The IVP New Testament commentary series (Downers Grove, Ill. USA: InterVarsity Press, 1993) Jas 4:15.
[19] Martin, R. P., Vol. 48: Word Biblical Commentary : James. Word Biblical Commentary (Dallas: Word, Incorporated, 2002) 166.
[20] Ibid.
[21] Moo, The Letter, 204-206.
[22]Adamson, The Epistle, 180.
[23] Moo, The Letter, 206.
[24] Hiebert, James, 254.
[25] Stulac,  James, (Jas 4:15).
[26] Moo, The Letter, 206-207.
[27] Davids, The Epistle, 173.
[28] Moo, The Letter, 206-207.
[29] Motyer, The Message, 162.
[30] Nystrom, James, 252-253.
[31] Stulac, James, (Jas 4:15).
[32] Moo, The letter, 207-208.
[33] Kistemaker & Hendriksen, Exposition, 150-151.
[34] Davids, The Epistle, 174.
[35] Martin, James, 168-169.
[36] Moo, The letter, 207-208.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar