8 Juni 2011

Khotbah Eks. Topikal: Never Give Up!

Never Give Up!

Oleh Pilipus Ferdinand



Pendahuluan
Saudara-saudara, data statistik menunjukkan bahwa dalam satu dekade terakhir ini, jumlah kasus bunuh diri di Indonesia meningkat dengan tajam.  Hampir semua kejadian tragis itu dilatarbelakangi oleh persoalan misalnya dendam, cemburu dan keadaan ekonomi.  Dari berbagai kasus itu yang paling mencengangkan adalah kasus bunuh diri bersama.  Misalnya saja pada tahun 2005 lalu, satu keluarga di Pekalongan Jawa Tengah, nekad bunuh diri dengan cara membakar rumah tempat tinggal mereka.  Dan tentunya yang masih segar dalam ingatan kita yaitu kasus yang terjadi pada awal tahun 2007 lalu di Malang.  Ketika itu ada seorang ibu bernama Junaniah Merci ditemukan tewas bersama keempat anaknya di dalam kamar.  Diduga ibu ini sengaja membunuh anak-anaknya sebelum akhirnya ia sendiri bunuh diri.  Di dekat tempat tidur lima jenazah itu ditemukan apotas dan sejumlah pilKematian Junaniah bersama keempat anaknya itu sepertinya sudah direncanakan.  Setidaknya ini terlihat dari berjejernya jenazah 4 bocah itu di ranjang utama.  Sedangkan jenazah Junaniah tergeletak di bawah ranjang.  Peristiwa ini sangat memukul keluarga besarnya.   
Rapuhnya pertahanan diri dan keyakinan, terkadang membuat kita tidak sanggup menghadapi gempuran berbagai masalah.  Selain masalah sakit penyakit, masalah ekonomi seperti harga sembako yang semakin mahal, biaya sekolah yang semakin tinggi, dan ongkos kesehatan yang semakin tak terjangkau, sering kali juga turut menambah beratnya beban hidup.  Dan saudara, dalam menghadapi kondisi ini, kita mempunyai 2 pilihan: Bertahan dan terus berjuang, atau putus asa dan menyerah pada keadaan?  Dari data di atas, kita melihat bahwa bagi sebagian orang, beban itu terasa begitu berat untuk mereka pikul sehingga akhirnya opsi kedualah yang mereka pilih.
Namun saudara, sebagai orang percaya seharusnya kita memiliki sikap pantang menyerah ketika menghadapi kesulitan hidup.  Pertanyaannya adalah mengapa kita tidak boleh menyerah? Apa yang membedakan kita dari orang lain? Bukankah kita juga sering kali merasa kesulitan itu begitu menghimpit dan menekan kita?
Saudara, berikut ini kita akan melihat dua alasan mengapa kita harus memiliki sikap pantang menyerah itu.  Alasan pertama,

I.         Karena Tuhan berjanji menyertai kita

Penjelasan
Mungkin saudara pernah mendengar orang berkata, “Jikalau Tuhan menyertai kita tentu kita tidak akan mengalami masalah ini itu.”  Tapi benarkah demikian arti penyertaan itu?  Jika begitu, mengapa Tuhan malah menyuruh kita memikul salib?  Jadi apa makna sesungguhnya dari penyertaan Tuhan itu?  Lalu bagaimana kaitannya antara pernyertaan Tuhan dengan penderitaan atau kesulitan hidup yang kita alami?  Mari kita lihat bagaimana arti penyertaan ini Tuhan nyatakan bagi Israel.
Saudara, ketika bangsa Israel ke luar dari tanah Mesir, Tuhan tidak menuntun mereka ke melalui jalan Utara yang menuju ke negeri orang Filistin, sekalipun jalan ini adalah rute yang paling pendek menuju tanah KanaanSebaliknya, Tuhan justru menuntun mereka berputar ke Selatan melalui jalan di padang gurun yang menuju ke Laut Teberau.  Saduara, berjalan menuju padang gurun berarti Israel berjalan menuju bahaya dan kesulitan, seperti kekurangan makanan, minuman serta ancaman serangan binatang buas.  Namun, di tengah-tengah kesulitan dan bahaya yang mengancam itu, Tuhan tidak meninggalkan Israel sendirian.  Yahweh bukanlah Allah yang hanya sanggup melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir, tetapi kemudian membiarkan mereka berjalan sendirian di padang gurun.  Sebaliknya, Yahweh adalah Allah yang selalu setia menyertai umat-Nya ituDan penyertaan Tuhan itu diwujudkan melalui kehadiran-Nya dalam tiang awan dan tiang api, sebagaimana yang tertulis dalam Keluaran 13:21-22, TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.  Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.
Saudara, tiang awan dan tiang api merupakan manifestasi dari keterlibatan Yahweh dalam kejadian-kejadian yang dialami Israel selama pengembaraan mereka di padang gurun.  Ini artinya, Allah tidak hanya menyertai Israel melalui perantaraan Musa dan Harun.  Kehadiran-Nya dalam tiang awan dan tiang api merupakan simbol penyertaan Tuhan secara langsung atas mereka.  Israel tidak akan dituntun kepada berbagai kesulitan dan bahaya di padang gurun tanpa penyertaan dan tuntunan Allah.
Penyertaan Tuhan juga dinyatakan-Nya dengan menolong dan memberi jalan keluar ketika umat-Nya mengalami kesulitan. Misalnya ketika Ia meloloskan Israel dari kejaran tentara Firaun dengan membelah Laut Teberau, memberi mereka Manna ketika mereka lapar, atau bahkan mengeluarkan air dari bukit batu ketika umat-Nya itu kehausan. 
Saudara, sampai di sini jelas kita melihat bahwa penyertaan Tuhan bukan saja berkaitan dengan tindakan Allah yang menuntun umat-Nya.  Namun, penyertaan itu juga merupakan jaminan akan adanya pertolongan Tuhan atas setiap kesulitan yang mereka alami.  Dengan penyertaan-Nya itu, Tuhan ingin agar Israel tidak putus asa atau menyerah ketika mereka menghadapi berbagai kesulitan dalam pengembaraan mereka.  Namun ironis sekali saudara, sebagai bangsa yang tegar tengkuk Israel selalu saja meragukan penyertaan Tuhan.  Keraguan itu terlihat jelas dari sikap mereka yang begitu mudah bersungut-sungut.  Keraguan atas penyertaan Tuhan itulah yang membuat generasi pertama dari bangsa itu gagal memasuki tanah Kanaan. 
Berbeda orang Israel lainnya, Yosua justru memiliki keyakinan yang kuat akan penyertaan Tuhan.  Dalam Yosua 1:5b Allah telah berjanji kepadanya, “Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”  Yosua yakin bahwa jika Tuhan telah berjanji untuk menyertainya, maka tentu Tuhan tidak akan tinggal diam ketika kesulitan menimpanya.  Keyakinan akan penyertaan Tuhan inilah yang membuat Yosua tetap teguh di tengah-tengah keraguan Israel untuk menduduki tanah Kanaan.  Itulah sebabnya Yosua tidak putus asa ketika ia harus berhadapan dengan bangsa Kanaan yang dilindungi oleh orang Enak dan tembok-tembok kotanya yang tinggi.  Bagi Yosua, janji penyertaan Tuhan adalah sumber kekuatannya untuk bertahan. Tidak ada alasan baginya untuk menyerah.
Saudara, sama seperti Yosua, Yusuf pun sangat yakin akan penyertaan Tuhan.  Sekalipun ia tidak pernah melihat tiang awan dan tiang api, namun ia yakin bahwa Tuhan ada bersama dengannya.  Keyakinan inilah yang membuatnya mampu bertahan menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan.  Ketika ia dijual oleh saudara-saudaranya, ketika ia menjalani kehidupan sebagai budak, dan ketika ia dimasukkan ke dalam penjara atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya, ia tidak putus asa.  Keyakinan akan penyertaan Tuhan itulah yang akhirnya mengantarnya meraih sukses sebagai penguasa Mesir.
Saudara, Yesus pun tahu bahwa sebagai saksi-saksi-Nya, murid-murid-Nya butuh penyertaan-Nya.  Tanpa itu murid-murid-Nya pasti akan gagal.  Itulah sebabnya ketika Yesus akan mengakhiri pelayanan-Nya di dunia, Ia berjanji kepada murid-murid-Nya bahwa Ia tidak akan meninggalkan mereka sendirian.  Ia berjanji akan terus menjaga dan menyertai mereka.  Oleh karena itu Ia berkata dalam Yohanes 14:16, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.”  Saudara, dengan penyertaan Penolong yang lain, yaitu Roh kudus, murid-murid-Nya tidak perlu bersusah hati apalagi putus asa ketika mereka harus berhadapan dengan kesulitan dan penganiayaan akibat iman mereka.

Ilustrasi
Saudara-saudara, Joseph Scriven adalah seorang pemuda dari keluarga yang kaya dan taat beribadah.  Bersama keluarganya, ia hidup di tanah kelahirannya di Irlandia.  Setelah tamat dari universitas ia hendak melangsungkan pernikahannya dengan kekasihnya.  Segala persiapan pun dilakukan untuk acara itu.  Namun sayang sekali, pada malam sebelum hari pernikahannya, tunangannya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.  Dalam kesedihannya yang amat sangat itu, Scriven berusaha bangkit.  Ia kemudian berdoa memohon kekuatan dan penghiburan dari Sahabat yang paling dikasihinya, Yesus.  Kekuatan dan penghiburan itulah yang kemudian membuatnya mampu bangkit kembali dan meneruskan hidupnya. 
Di tengah-tengah kesedihannya itu, Scriven tidak berusaha menghibur dirinya dengan harta yang dimilikinya.  Ia tahu bahwa sumber penghiburan dan kekuatan yang memampukannya untuk bertahan adalah Tuhan, bukan hartanya.

Aplikasi
            Saudara, saya tidak tahu kesulitan hidup apa yang saat ini saudara alami.  Mungkin kesulitan itu adalah pergumulan saudara atas sakit penyakit, masalah keuangan, kehilangan pekerjaan, usaha yang sedang lesu, atau barangkali kesulitan itu adalah masalah rumah tangga anda yang tidak harmonis lagi.  Mungkin saat ini saudara merasa putus asa karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Atau mungkin juga saat ini saudara mulai berpikir untuk menyerah, karena saudara merasa sendiri dan tidak ada yang menolong saudara.  Saudaraku, buanglah jauh-jauh pikiran itu.  Sebab sebagaimana Tuhan hadir dalam tiang awan dan tiang api dan telah menyertai bangsa Israel di padang gurun, saat ini pun Tuhan hadir dalam hidup kita.  Roh Kudus yang berdiam dalam hati kita merupakan tanda dan jaminan bahwa kita tidak sendirian, Tuhan menyertai kita.  Oleh karena itu jangan menyerah saudara.  Jika Tuhan sanggup menolong Israel, tentu Ia juga akan menolong kita. 

Alasan yang kedua,  
II.      Karena Tuhan ingin iman kita bertumbuh
Firman Tuhan dalam 1 Petrus 1:6-7a mengatakan, “Bergembiralah..., sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu.

Penjelasan
Saudara, Rasul Petrus menulis surat ini kepada orang-orang percaya di Asia Kecil yang saat itu sedang berdukacita oleh berbagai penderitaan dan penganiayaan yang mereka alami karena iman mereka kepada Kristus.  Di tengah-tengah penderitaan inilah Rasul Petrus menguatkan dan meyakinkan mereka bahwa semua penderitaan itu justru akan membuat iman mereka semakin teruji.  Dengan demikian, Rasul Petrus berharap agar mereka terus bertahan dan tidak menyerah, bukannya putus asa apalagi meninggalkan iman mereka.
Hal yang sama juga dialami Abraham.  Ketika mendengar panggilan Allah, Abraham dengan penuh ketaatan segera pergi meninggalkan kampung halaman dan keluarganya.  Meninggalkan “comfort zone” tentu bukan sesuatu yang mudah bagi siapa saja, temasuk juga Abraham.  Tapi Abraham yakin akan pimpinan Tuhan, itulah sebabnya ia tetap berangkat sekalipun ia tidak tahu ke mana ia harus pergi.  Bahkan sekalipun di tempat ke mana Tuhan membawanya terjadi bencana kelaparan, Abraham tetap tidak meragukan Tuhan.  Ia tidak putus asa, apalagi berpikir untuk kembali ke kampung halamannya.  Sampai di sini, Abraham telah menunjukkan imannya kepada Tuhan, sekalipun kadang ia tidak mengerti mengapa ia harus mengalami kesulitan-kesulitan itu. 
Namun saudara, rupanya pergumulan Abraham tidak berhenti sampai di situ.  Perjalanan imannya masih terus berlanjut.  Setelah menikmati sukacita dan kebahagiaan atas kelahiran Ishak, kini Abraham kembali mendengar suara yang sama yang dulu pernah didengarnya.  Namun kali ini Abraham benar-benar tersentak.  Bagaimana tidak, anak yang telah dinantikannya dengan iman selama 25 tahun itu, kini harus dipersembahkan sebagai korban bakaran kepada Allah. 
Saudara, sekalipun Alkitab tidak menggambarkan bagaimana perasaan Abraham ketika mendengar perintah itu, namun saya kira sebagai manusia biasa tentu Abraham sangat bergumul untuk hal ini.  Abraham tentu bersusah hati.  Mungkin juga Abraham berkata dalam hatinya, “Tuhan, mengapa harus anakku?  Mengapa aku harus memilih antara Engkau dan keluargaku? Mengapa Engkau menempatkan aku dalam kesusahan ini?” Sebenarnya Abraham punya pilihan untuk melupakan perintah itu, namun ia tidak melakukannya.  Sebaliknya, Abraham  memilih jalan pengorbanan yang begitu berat itu.  Abraham tetap bertahan sampai suara itu terdengar lagi, "Abraham, Abraham...  Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku” (Kejadian 22:12).
Melalui berbagai pergumulan yang dialaminya, iman Abraham semakin bertumbuh dan ia semakin mengenal siapa Tuhan yang disembahnya.  Saudara, inilah yang dikehendaki Allah ketika ia mengizinkan umat-Nya mengalami berbagai kesulitan dan pergumulan hidup, yaitu agar umat-Nya memiliki iman yang bertumbuh.
 Sebagai manusia, Yesus pun pernah mengalami pergumulan yang berat.  Ketika menghadapi cawan pahit, Yesus pun merasa sedih dan gentar.  Namun dalam kesedihan dan kegentaran-Nya itu Yesus tidak putus asa atau menyerah.  Yesus tahu bahwa untuk itulah Ia datang ke dunia.  Saudara, sekalipun saat itu Yesus punya pilihan untuk menolak cawan itu, namun Ia tidak melakukannya.  Sebaliknya, Yesus memilih untuk menyerahkannya kepada Allah dan Ia berdoa, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (Matius 26:9).
Saudara,  Yesus tidak mencoba mengatasi pergumulan-Nya dengan kekuatan-Nya sendiri, sekalipun Ia punya kuasa untuk itu.  Sikap Yesus yang membawa pergumulan-Nya dalam doa menunjukkan iman-Nya yang besar kepada Allah.  Saudara, kalimat “Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” merupakan sikap iman yang bergantung sepenuhnya pada keputusan Allah.  Yesus percaya bahwa Allah punya rencana yang baik dalam hidup-Nya.
Yesus tahu bahwa hanya melalui Dia dan di dalam Dia, rencana baik Allah untuk menebus engkau dan saya dapat digenapi.  Saudara, betapa menyedihkan dan terkutuknya kita seandainya saat itu Yesus menolak cawan itu.  Betapa sisa-sianya hidup kita seandainya saat itu Yesus putus asa dan menyerah.

Ilustrasi
 Saudara, ada sebuah keluarga yang saya kenal.  Keluarga ini hidup bahagia di salah satu kota di Kalimantan.  Mereka saling mengasihi satu sama lain, sebagaimana mereka mengasihi Tuhan.  Namun suatu ketika cobaan itu datang.  Ayah yang sangat mereka cintai divonis mengindap penyakit tumor otak stadium akhir.  Seluruh keluarga sangat terpukul akan vonis ini, namun hal ini tidak membuat mereka putus asa.  Sebaliknya mereka terus berjuang dan berusaha mencari pengobatan terbaik bagi sang ayah.  Segala daya dan upaya mereka lakukan.  Tidak sedikit biaya yang telah mereka keluarkan.  Besarnya usaha dan perjuangan mereka itu, sebesar iman mereka kepada Tuhan.  Di tengah-tengah pergumulan itu mereka tetap percaya bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan mereka sendiri.  Tak pernah satu hari pun mereka lewati tanpa berdoa dan mengucap syukur bersama sang ayah yang sedang terbaring lemah itu.  Setelah menjalani operasi pertama, kondisi sang ayah bukannya membaik, malah justru semakin buruk.  Akhirnya tim dokter pun menyerah.  3 bulan setelah vonis tersebut dan setelah menjalani berbagai macam pengobatan dan terapi, akhirnya sang ayah dipanggil Tuhan. 
Keluarga ini memang kehilangan sang ayah.  Namun satu hal yang mereka peroleh yaitu bahwa mereka telah belajar memiliki iman yang bersandar penuh kepada Tuhan, termasuk menerima kehendak Tuhan yang memanggil pulang sang ayah yang sangat mereka kasihi.

Aplikasi    
Saudara, dalam menghadapi pergumulan hidup, kadang kita pun bingung dan bertanya-tanya: “Mengapa kesulitan ini menimpa saya?  Apa salah saya?  Dosa apa yang telah saya perbuat sehingga saya harus menanggung penderitaan ini?  Bukankah selama ini saya sudah setia melayani Tuhan, mengapa Ia membiarkan saya mengalami hal ini?”  Saudara, memang sulit atau barangkali kita tidak akan pernah menemukan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan itu.  Namun dari uraian di atas kita bisa melihat bahwa melalui berbagai penderitaan, Tuhan ingin supaya kita belajar bergantung padanya, percaya sepenuhnya kepada-Nya.  Bukannya bergantung pada kemampuan diri sendiri atau orang lain, bukan juga bersikap pasif dan menyerah. Dengan pemahaman ini maka sebagai orang percaya seharusnya kita dapat memaknai setiap kesulitan itu sebagai sarana yang Allah izinkan dalam proses pertumbuhan iman kita. Dengan demikian, tentu kita tidak akan melihat kesulitan hidup sebagai sesuatu yang menekan dan menghancurkan kita.  Sebaliknya dengan iman kita mengakui “bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).

Penutup
Saudara-saudara, sebagai orang percaya kita tidak bebas dari kesulitan-kesulitan hidup.  Karena memang Tuhan tidak pernah berjanji bahwa pergumulan kita akan mudah dan hidup kita akan lancar-lancar saja, ketika kita mengikuti-Nya.  Namun satu hal yang Ia janjikan yaitu bahwa Ia akan selalu menyertai dan menolong kita.  Ia tidak akan membiarkan kita menghadapinya sendirian.  Ketika Tuhan mengizinkan kita mengalami kesulitan, itu berarti Ia juga ingin kita memiliki iman yang bertumbuh.  Saudara-saudara, alasan inilah yang menjadi kekuatan bagi kita untuk tetap bertahan dan tidak menyerah menghadapi kesulitan hidup.  Oleh karena itu, sebagai orang percaya marilah kita miliki sikap pantang menyerah itu.
Memang saudara, bukanlah sesuatu yang mudah ketika kita menghadapinya.  Saat kesulitan itu datang, kita bisa saja merasa sedih dan gentar.  Namun ingatlah bahwa kita tidak sendiri, ada Penolong yang selalu menyertai kita dan “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita” (1Kor. 10:13b).                               

Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar