29 Oktober 2011

Khotbah Efesus 6:10-20

BERTAHAN MENGHADAPI “STRATEGI MATA KOIN”
Oleh Andrea



Pendahuluan
          Waktu saya SMP salah teman-teman genk saya pernah memperkenalkan sebuah strategi bagaimana mendapatkan pacar.  Mereka menyebutnya “strategi anak domba”.  Mereka berkata, “Andrea, kalau kamu mau cepet punya pacar gampang.  Langkah pertama tentukan targetnya, cari cewek tapi adik tingkat, lebih gampang bila cewek itu ga pernah pacaran.  Selanjutnya deketin, perhatiin dikit, teleponin, kasi-kasi barang.  Terus luluhkan hatinya dengan sesuatu yang romantis.  Dan tinggal “tembak” dia.  Pasti cewek itu bakal takluk.”  Akhirnya saya mengerti kenapa namanya strategi anak domba.
          Itulah strategi.  Strategi dibuat seseorang untuk menaklukkan lawannya.  Untuk menaklukkan kecengan perlu pake strategi, untuk bisnis maju perlu pake strategi, untuk menjatuhkan musuh perlu pake strategi, semakin pandai seseorang membuat strategi semakin mudah seseorang menaklukkan lawannya.
Hari ini juga kita akan banyak berbicara mengenai strategi.  Sayangnya kita tidak akan membahas strategi untuk menaklukkan kecengan.  Tetapi ini mengenai strategi yang dipakai iblis untuk menaklukkan orang-orang percaya. 

Penjelasan
Sejak dulu visi Kerajaan Kegelapan tidak pernah berubah, yaitu menghancurkan Kerajaan Allah.  Orang-orang yang memihak kepada Allah, tentu secara otomatis menjadi musuh iblis; dan mereka ini adalah orang-orang yang dibenci iblis. 
Iblis sangat tidak suka kepada orang-orang yang hidup sungguh-sungguh bagi Allah.  Apalagi kalau mereka adalah orang-orang yang hidupnya begitu efektif dan produktif melayani Allah.  Orang-orang seperti ini adalah target utama yang harus iblis taklukan.  Bagi Iblis mereka harus dibungkam dan ditaklukan.  Yah, setidaknya dibungkam agar mereka berhenti merebut jiwa-jiwa yang terhilang.  Ditaklukkan agar mereka suatu saat tersandung dan kemudian meninggalkan Tuhan. 
Dari masa ke masa Iblis menyusun strategi yang taktik yang jitu untuk menyerang dan menaklukkan musuh-musuhnya.  Salah satu strategi yang dikenalkan Paulus pada perikop ini saya sebut dengan istilah “strategi mata koin”.  Saya sebut strategi ini dengan istilah “mata koin” karena dalam strategi ini iblis menerapkan sekaligus dua taktik ampuh yang mematikan.  
Apa itu taktiknya?  Kita akan melihatnya bersama.  Sisi yang satu adalah sebuah taktik yang disebut

1.     Tipu Muslihat
Di ayat yang ke 11b Paulus mengungkapkan bahwa Iblis menggunakan tipu muslihat untuk menjebak dan menjerumuskan orang percaya.  Ia sangat ahli dalam hal memanipulasi.  Iblis memang tidak mahatahu, tetapi ia tahu lebih banyak daripada manusia.  Ia tahu benar apa yang menjadi isi hati dan pikiran manusia.  Ia tahu benar apa yang menjadi kelemahan-kelemahan manusia, apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan manusia.  Ia sangat getol memperkenalkan kata “kompromi” kepada  dosa yang abu-abu.  Ia tahu benar bagaimana mengalihkan fokus seseorang kepada dunia dan kepuasan diri.  Ia tahu benar bagaimana caranya mengadu domba anggota gereja.  Ia amat pandai mengelola kemarahan menjadi kebencian yang mematikan.  Ia sudah menulis banyak buku, dan salah satu yang best seller adalah buku yang berjudul, “Bagaimana menjadi Kristen tanpa mengenal Kristus”.   Ia tahu benar bagaimana mengintimidasi orang-orang percaya, membuat orang-orang percaya merasa tidak pantas, tidak berharga, tidak mampu melayani Allah.  Berulang kali ia menyamarkan istilah kenyamanan dengan istilah “berkat”, sehingga membuat orang-orang percaya secara perlahan mulai lupa bahwa ia dipanggil untuk mencari jiwa yang hilang.  Bahkan Iblis tahu benar bagaimana menyulap pergumulan, sakit penyakit atau kekurangan – menjadi benih-benih keraguan akan Allah.  Itulah Iblis.  Ia punya gelar P.hd dalam hal manipulasi.
Paulus sendiri sudah memiliki segudang pengalaman mengenai tawaran-tawaran semu si penipu ulung: kenikmatan dosa, pengajaran-pengajaran palsu, kenyamanan dunia, kekayaan, jabatan, popularitas, intimidasi dan trik-trik jitu lainnya yang amat kreatif.
Inilah taktik iblis yang pertama, “tipu muslihat”.  Perlahan tetapi mematikan.  Memanipulasi keadaan sehingga kalau seseorang tidak berhati-hati, ia akan terjebak dan terjerat.
Sisi yang satunya adalah sebuah taktik yang disebut

2.     Tekanan
Sebagai makhluk supranatural, Iblis miliki kuasa yang jauh melebihi kuasa manusia biasa.  Di ayat 12 Paulus menggambarkan bagaimana makhluk ini mampu menunggangi pemerintah, penguasa, penghulu dunia untuk menyerang orang-orang percaya.  Dengan kapasitasnya, ia mampu menunggangi siapapun untuk dijadikan “bom atom” menyerang orang percaya.  Iblis menunggangi pihak-pihak tertentu untuk menentang, menyerang dan menganiaya orang-orang percaya.  Di dalam sejarah dunia tentu kita dapat melihat bagaimana pemerintahan dan pemimpin-pemimpin tertentu ditunggangi sedemikian rupa sehingga orang-orang percaya dianiaya.  Kita juga dapat melihat bagaimana Iblis menggunakan ideologi tertentu agar orang-orang percaya harus menderita, masuk penjara, dan mati karena imannya.  Iblis mampu memperdaya siapapun bahkan termasuk orang-orang terdekat (anggota keluarga) untuk menekan pengikut Tuhan.  Iblis memang tidak mahakuasa, tetapi ia cukup mampu untuk menciptakan situasi tertentu untuk menyudutkan orang-orang percaya.
Paulus juga sudah mengalami sendiri apa itu tekanan.  Ia pernah disesah, dipenjara, kelaparan, kedinginan di teralis besi dan semua itu ia alami hanya karena mempertahankan imannya. 
Inilah “strategi mata koin” yang begitu ampuh dan mematikan.  Sisi yang satu adalah tipuan, yang lain adalah tekanan.  Menghancurkan orang percaya melalui dusta dan tekanan penderitaan

Strategi Tandingan (tidak dibacakan)
Benar, strategi ini amat tangguh.  Iblis dapat memukul kalah orang-orang percaya dengan mudah.  Tetapi kalau kita perhatikan dalam perikop ini Paulus meneriakkan sebuah kata: “bertahanlah”.  Dalam perikop ini, kata yunani “stenai” yang artinya berdiri/ bertahan diucapkan Paulus sebanyak empat kali.  Ini sudah cukup menjadi bukti bahwa pesan utama dari perikop ini adalah agar orang-orang percaya terus bertahan menghadapi serangan iblis.
Tentu setiap orang ingin bertahan, siapa yang mau kalah.  Tetapi permasalahannya semua orang juga tahu, iblis bukanlah tandingan yang seimbang orang percaya.  Karena itu, setiap kita yang ingin bertahan sampai akhir di dalam peperangan harus menggunakan dua prinsip yang  Paulus bentangkan dalam bagian ini.  Prinsip yang pertama adalah dengan:
1.     Bersandar kepada Tuhan
Di ayat 10 Paulus mengatakan, “hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya”.  Frasa “hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan” secara literal dapat diterjemahkan menjadi “hendaklah kamu dikuatkan di dalam kesatuan bersama dengan Tuhan”.  Dalam frasa ini kita menemukan pernyataan eksplisit bahwa Allah sendirilah yang akan memberikan kekuatan bagi orang-orang percaya untuk bertahan.  Dan bagaimana orang percaya bisa memperoleh kekuatan itu?  Ketika mereka hidup di dalam kesatuan dengan Allah.  Ketika Roh Kudus menguasai hidup mereka.  Orang-orang percaya sangat terbatas dan memiliki banyak kelemahan yang rentan untuk diserang oleh Iblis, tetapi ketika orang percaya menempatkan dirinya di dalam tangan Allah yang maha tidak terbatas, orang-orang percaya dimampukan untuk bertahan.  Kunci pertama agar orang percaya dapat bertahan adalah dengan bersandar penuh kepada Tuhan.
Dan prinsip yang kedua agar orang percaya bisa bertahan adalah dengan

2.     Mengusahakan Kehidupan Rohani yang Sehat
Di ayat kesebelas Paulus mengatakan, “kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah”.  Apakah maksud dari Frasa ini?  Perlengkapan senjata Allah merupakan suatu ungkapan metafora yang menunjukkan seperangkat perlindungan yang Allah sediakan. John Stott menyatakan keenam metafora tersebut menggambarkan kebenaran, ketulusan, berita Injil damai sejahtera, iman, keselamatan, dan Firman.  Semua sudah Allah sediakan.  Tugas kita hanyalah  mengenakannya.  Untuk mengenakan kebenaran tentu kita perlu mengerti kebenaran Allah dan menghidupi kebenaran itu.  Untuk mengenakan ketulusan tentu kita perlu terus menerus mengoreksi hati dan pikiran kita.  Untuk mengenakan berita injil tentu kita perlu memberitakan keselamatan kepada setiap orang.   Untuk mengenakan iman tentu kita perlu berserah di dalam doa. Untuk mengenakan keselamatan tentu kita perlu mengingat karya Kristus di kayu salib.  Dan untuk mengenakan Firman tentu kita harus mengerti dan menguasai Alkitab dengan benar.  Secara sederhana mengenakan perlengkapan senjata Allah artinya memiliki kerohanian yang sehat, dan itu diperoleh dari disiplin rohani yang baik.  (doa, saat-teduh, PI pribadi, PA pribadi, bible reading)
Memang untuk bisa bertahan terhadap strategi iblis Allah akan memberi kita kuasa, tetapi kita juga punya tanggung jawab untuk mengusahakan kesehatan rohani kita.  Inilah strategi tandingan yang Firman Tuhan nyatakan.  Bersandar kepada Tuhan dan Berusaha Memiliki Kehidupan Rohani yang sehat.

Ilustrasi
Sekitar awal 19 seorang pemuda bernama William Borden mendapatkan sebuah hadiah kelulusan berupa tiket keliling dunia dan sebuah Alkitab dari sang ayah.  Keliling dunia pada waktu itu tentu merupakan kesempatan yang langka, apalagi bagi seorang anak muda.  Dalam perjalanan panjang dengan kapal laut, Borden membaca Alkitabnya dan waktu itu ia mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah.  Di saat yang bersamaan ia menemukan panggilan hidupnya untuk menjadi seorang misionaris.  Sejak saat itu ia memberikan hidupnya dan berkomitmen menjadi seorang laskar Kristus.  Di kapal itu ia membuka Alkitabnya di halaman paling belakang dan menulis sebuah kalimat pertama: “Tidak Ada Pilihan”.
Tahun 1905 ia masuk kuliah. Di kampus ia begitu bersemangat mengajak teman-temannya untuk bertobat dan melayani Tuhan.  Sehingga ia mengalami banyak cibiran dari teman-teman kuliahnya.  Tetapi ia tidak mundur.  Bahkan disitulah ia mendapat panggilan yang semakin jelas untuk melayani orang yang tidak percaya di Kansu, China.
Setelah lulus wisuda, selain ditawari untuk mewarisi perusahaan sang ayah, Borden menerima banyak tawaran pekerjaan dengan gaji selangit.   Masa depannya begitu cerah.  Tetapi ia menetapkan hati mentaati Allah menjadi misionaris, sekalipun ia tahu kehidupannya akan sangat sulit.  Waktu itu ia membuka alkitabnya dihalaman akhir dan kemudian menulis kalimat yang kedua “Tidak Ada Kata Mundur.”
Setelah lulus kuliah dengan nilai yang gemilang, Borden melanjutkan studinya di sekolah teologi Princeton Seminary. Ia menyelesaikan study teologinya dengan sangat baik.  Dan setelah diwisuda ia segera melakukan perlayarannya ke China. Borden tahu ia akan berhadapan dengan orang-orang yang tidak seiman.  Maka ditengah pelayarannya ia berhenti terlebih dahulu di Mesir bermaksud untuk belajar bahasa Arab.  Tetapi hal yang tidak terduga terjadi.  Di Arab ia terkena radang otak.  Penyakitnya sangat mematikan.  Dalam sebulan, Borden muda meninggal di usia 25 tahun karena radang otak.  Borden meninggal bahkan sebelum ia sempat melayani di China.
Apakah Borden pernah menyesali pilihannya untuk bertahan menjadi prajurit Kristus?  Tidak sama sekali!  Sebelum kematiannya, dalam penyakit yang mengerikan Borden membuka Alkitabnya di halaman terakhir dan menulis kalimatnya yang ketiga.  Di bawah kalimat-kalimat yang ia pernah tulis: “tidak ada pilihan”, “tidak ada kata mundur”,  Borden menulis kalimat terakhirnya “Tidak Ada Penyesalan”.
          Border memberikan teladan hidup mengenai seni bertahan.  Sekalipun ia mengalami serangan yang bertubi-tubi dalam hidupnya, tawaran dunia akan masa depan yang sangat nyaman, cibiran teman-teman kuliahnya, ladang pelayanan yang sulit, dan bahkan penyakit mematikan, Border bisa bertahan sampai akhir.  Kenapa? Karena saya percaya, ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah sekaligus ia selalu berusaha untuk memiliki kehidupan rohani yang bugar.

Penutup
Agenda Iblis sampai hari ini adalah menjatuhkan saya dan saudara, karena kita adalah hamba Tuhan, anak-anak Tuhan yang giat memenangkan jiwa.  Iblis akan menipu kita.  Iblis akan menekan kita agar kita berhenti untuk melayani Tuhan, keluar dari jalan panggilan, dan bahkan berharap kita meninggalkan Tuhan.  Tetapi nasihat Firman Tuhan berkata: “Bertahanlah”!  Jangan menyerah!  Bersandar terus kepada Tuhan. Usahakan terus kehidupan rohani yang sehat, berdoa, bersaat-teduh, PI, bible reading, PA pribadi!  Dengan demikian, kita pasti akan menjadi hamba-hamba Tuhan yang efektif bagi Kerajaan Allah, menjadi hamba-hamba Tuhan yang menyenangkan hati Allah, hamba Tuhan yang berkenan, dan memuliakan Allah. 

Amin!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar