31 Oktober 2011

Khotbah Matius 18:21-35

“MELUPAKAN”
OLEH DANIEL D. SIMANJUNTAK



Pendahuluan
            Saudara, ada dua moment yang paling tidak bisa dilupakan manusia (the unforgotten moment). Yang pertama,  biasanya disebut dengan the sweet unforgotten moment atau kenangan indah.  Kenangan indah itu bisa berupa apa saja yang menjadikan hidup lebih menarik, lebih berwarna dan lebih berarti. Misalnya, saat kita pertama bertemu dengan kekasih kita atau yang sekarang jadi istri atau suami kita. Pasti kenangan indah itu akan menjadi cerita sampai empat turunan. Saudara, the unforgotten moment yang kedua adalah yang biasa disebut dengan the bad unforgotten moment atau kenangan buruk.  Kenangan buruk itu bisa berupa apa saja yang mengakibatkan rasa pahit, sedih dan sakit hati yang mendalam. Itu bisa berupa sebuah kecelakaan, penyakit, bencana, termasuk peristiwa ketika kita  diremehkan, dianggap bodoh, dilecehkan, ditipu atau dikhianati. Peristiwa-peristiwa seperti itu tidak mungkin  kita dapat lupakan begitu saja.  Kita akan terus mengingat wajah orang yang telah menyakiti kita. Kita tidak mampu melupakannya dan kita pun tidak mau untuk mengampuni.
Lalu bagaimana Saudara,? Apakah the bad unforgotten moment itu akan terus kita simpan di dalam hidup kita? Apakah kita tidak akan pernah dan bisa untuk mengampuni orang-orang yang telah menghadirkan kenangan buruk itu?
Saudara,memang mengampuni bukanlah suatu hal yang dapat dengan mudah untuk kita lakukan. Apalagi jika ada seorang menyakiti kita bukan hanya sekali namun berkali-kali, perkataan “aku mengampunimu” pasti akan sangat sulit untuk kita lontarkan.

Penjelasan
            Saudara, saya rasa itu juga yang dirasakan oleh Petrus dalam perikop yang kita baca tadi. Saudara, di perikop sebelumnya Tuhan Yesus mengajarkan kepadanya tentang menegur dan menasihati saudara yang berdosa. Pengajaran tersebut ternyata memunculkan suatu pertanyaan dalam benak Petrus. Mungkin ia berpikir: “baiklah Tuhan, itu yang harus kulakukan: menegur saudara yang berdosa terhadap aku. Namun jika ia terus-menerus berdosa apa yang harus aku lakukan? Sampai kapan aku akan mengampuninya terus?” Saudara, saya rasa itu yang dipikirkan Petrus sehingga ia bertanya di ayat 21: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
Saudara, ternyata Petrus bukan hanya bertanya namun juga memberikan option jawaban bagi Tuhan Yesus.: “Sampai tujuh kali?” Saudara, dalam pengajaran rabi-rabi pada waktu itu, seseorang cukup mengampuni orang lain yang bersalah kepadanya sebanyak tiga kali saja. Jika lebih dari pada itu, pengampunan tidak dibutuhkan lagi. Namun, apa jawaban Tuhan Yesus? Ia berkata, “Bukan! Aku berkata kepadamu bukan sampai tujuh kali melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”  Saudara, angka tujuh dan sepuluh adalah angka-angka yang melambangkan kesempurnaan. Oleh karena itu ketika Tuhan Yesus berkata tujuh puluh kali tujuh kali, Ia sedang berbicara tentang kesempurnaan dikali kesempurnaan ditambah dengan kesempurnaan. Ia sedang menyatakan pengampunan yang tanpa batas.
Saudara bisa bayangkan bagaimana respon Petrus pada waktu itu. Ia sudah menawarkan jawaban yang cukup baik, ia memberikan ukuran yang cukup longgar: tujuh kali. Tetapi ternyata Tuhan mempunyai ukuran yang lebih tinggi; pengampunan tanpa batas. Bagaimana mungkin itu bisa dilakukan? Sekali saja sulitnya setengah mati, apalagi berkali-kali. Tampaknya, pernyataan Tuhan Yesus itu kurang manusiawi. Namun, tentu Tuhan Yesus punya alasan. Kalau begitu apa alasannya, Saudara,? Mari kita melihat perumpamaan yang diceritakan Tuhan Yesus.
            Tuhan Yesus menceritakan ada seorang raja yang memanggil hamba-hamba-Nya untuk mengadakan perhitungan. Setelah diadakan perhitungan, ternyata didapati seorang hamba yang berhutang kepada raja dengan jumlah yang mengejutkan. Ia berhutang 10.000 talenta. Saudara, jika nilai ini dirupiahkan dengan UMR per hari Rp.40.000,- maka jumlahnya mencapai Rp. 2,4 Triliun.  Saudara, bisa bayangkan, apa yang bisa kita beli dengan jumlah uang segitu? Mobil mewah, rumah mewah, Ipod, Ipad, Ipin, Upin, dan sebagainya, saudara. Jika di zaman sekarang saja jumlah ini sudah sangat besar bagi kita, apalagi pada zaman Tuhan Yesus. Pada zaman itu Raja Herodes Agung saja hanya mendapatkan pajak sebesar 900 talenta setiap tahunnya dari seluruh wilayah kerajaannya. Hamba itu berhutang lebih dari 11 kali lipat dari pajak yang didapat Herodes Agung. Jadi, hutang hamba tersebut sebenarnya adalah jumlah yang sama sekali  tidak bisa dibayarnya. Oleh karena itu, wajar ketika raja mendengar hal itu ia marah dan memberikan perintah supaya hamba tersebut beserta anak isterinya dan segala miliknya dijual demi melunasi hutangnya yang besar itu.
Namun Saudara,begitu mendengar keputusan raja itu sang hamba segera bersujud kepada raja dan memohonkan belas kasihan dari sang raja. Mungkin ia menangis dan memohon dengan sangat kepada raja. Oleh sebab itu, ketika raja melihat hal itu, tiba-tiba berubah 180 derajat, raja berbelas kasihan. Maka ia berkata,  “Baiklah, seluruh hutangmu tidak perlu lagi engkau bayar. Aku menghapuskan segala hutangmu.” Saudara, bisa bayangkan, alangkah sukacitanya hamba itu ketika raja menghapuskan hutangnya? Saudara, saya saja kalau punya hutang 50.000 ribu kepada seorang teman, dan dia bilang, “Udah lu gak usah bayar utang lu lagi deh” pasti saya senangnya setengah mati. Apalagi hamba ini hutangnya 2,4T dan dihapuskan begitu saja? Saudara, yang menarik adalah raja tidak menyuruh hamba itu membayar setengah atau seperempat saja dari hutangnya. Ia menghapuskan semuanya! Hamba ini mendapatkan kemurahan dari sang raja, Saudara, Kemurahan yang pada dasarnya tidak pernah layak didapatkan oleh hamba itu.          
Saudara, jika pikir lebih dalam, tampaknya cerita ini berlebihan. Tuhan Yesus agak lebai. Benar ga, Saudara? Namun, apa yang sebenarnya ingin ditekankan Tuhan Yesus melalui kelebaian itu? Saudara, mari kita perhatikan cerita selanjutnya.
            Saudara,  sang hamba pulang dengan sukacita yang meluap. Dia sangat senang sekali. Tapi tiba-tiba di tengah jalan ia bertemu dengan temannya yang berhutang 100  dinar kepadanya. Saudara,100 dinar bukanlah jumlah yang besar dibandingkan 10000 talenta. Kalau dirupiahkan hanya sekitar Rp.4.000.000. Namun, ketika melihat temannya itu, rasa sukacita hamba tersebut tiba-tiba berubah menjadi rasa benci dan marah. Mungkin ia mengingat temannya ini, sudah berhutang cukup lama kepada dia dan belum dibayar-bayar, Saudara,. Maka, dia langsung mendatangi temannya itu. Dengan geram ia mencekik temannya dan berkata, “Eh, lu belum bayar hutang ke gue, ya? Ayoo, buruan bayar.” Saudara, temannya itu pun berkata,  “ Sabarlah sedikit, hutangku itu akan kulunaskan.” Apa yang dilakukan hamba itu? Kepalanya yang telah dipenuhi rasa geram dan benci membuat dia semakin marah dan berkata, “Enak aza lu, sini lu!” Saudara, hamba itu menyeret temannya itu sendiri dan memasukkannya ke penjara.
Saudara, kisah ini dilanjutkan dengan dilaporkannya perbuatan hamba itu kepada raja oleh teman-temannya. Saat itu juga raja menjadi marah dan memanggil hamba itu. Raja berkata kepadanya, “Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” Saudara, raja itu begitu marah, dan akhirnya menyerahkan hamba tersebut kepada algojo-algojo sampai ia melunaskan hutang-hutangnya. Tuhan Yesus mengakhiri kisah ini dengan mengatakan, ”Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.
Saudara, perhatikan detail cerita ini. Tuhan Yesus sengaja mengisahkan seorang hamba yang punya hutang begitu besar yang tidak bisa dibayar, namun dihapuskan begitu saja oleh sang raja. Sebenarnya Tuhan Yesus ingin menekankan satu hal yang namanya “kemurahan” kepada Petrus. Nilai hutang sang hamba dalam cerita ini, sengaja dibuat begitu besar oleh Tuhan Yesus, untuk menggambarkan bahwa sebenarnya dari awal hamba itu  tidak akan mampu membayar hutang itu. Dia hanya akan menjadi seorang hamba yang berhutang seumur hidupnya. Hanya kemurahanlah dari sang rajalah yang dapat membayar hutang itu.
Pada akhirnya, sang hamba mendapatkan kemurahan itu. Tetapi apa responnya setelah itu? Ketika ada temannya yang berhutang kepadanya dan memohon belas kasihan kepadanya, ia tidak memberikan kemurahan. Ia lupa bahwa dirinya baru saja mendapatkan kemurahan yang begitu besar dari sang raja. Ia lupa akan pekerjaan besar yang sudah dilakukan raja dalam hidupnya. Ia lupa betapa besarnya kasih karunia yang sudah ia dapatkan, namun ia tidak mau memberikan hal yang sama kepada orang lain.
Saudara, jelas melalui kisah ini Tuhan Yesus sedang menggambarkan pengampunan vertikal dan horizontal. Hamba yang hutangnya begitu besar dan dihapuskan begitu saja oleh raja menggambarkan bagaimana besarnya kasih Allah yang mau memberi kemurahan kepada orang berdosa, yang mau memberi pengampunan kepada orang yang bersalah terhadap Dia. Namun yang seringkali terjadi adalah orang yang sudah diampuni itu tidak mau memberi pengampunan kepada orang lain. Oleh sebab itu, Yesus ingin mengajarkan kepada Petrus bahwa hal itu tidak boleh demikian. Sebaliknya, setiap orang yang sudah mendapatakan pengampunan vertikal, harus siap untuk memberikan pengampunan horizontal. Setiap orang yang sudah diampuni Allah, harus siap untuk memberikan pengampunan kepada orang lain. Setiap orang yang sudah mendapatkan kasih karunia dari Allah, harus siap untuk memberi pengampunan. Inilah yang menjadi alasan Tuhan Yesus mengapa ia meminta Petrus untuk memberikan pengampunan tanpa batas. Sesungguhnya, kasih karunia yang sudah ia dapatkan dari Allah harusnya memampukan dia untuk mengampuni orang lain. 

Ilustrasi
            Saudara, ada yang kenal orang ini? Ibu ini bernama Kim Phuc. Dia lahir di Trang Brang, Vietnam Selatan. Ibu ini adalah orang yang sama dalam foto ini. Foto ini diambil pada tahun 1972 dan memenangkan hadiah pulitzer, sebuah penghargaan yang diberikan Amerika Serikat kepada koran, junalisme, sastra atau musik. Saudara, apa yang terjadi pada saat itu? Ketika berumur sembilan  tahun, ia hidup dalam kondisi peperangan di Vietnam dan pada saat itu,pasukan Vietnam Utara berhasil menduduki desa Trang Brang, yang merupakan wilayah selatan itu.
Pada suatu hari tepatnya tanggal 8 Juni 1972 terjadilah suatu tragedi. Pasukan Vietnam Selatan mengira para penduduk sipil desa Trang Brang sudah dievakuasi dari desa tersebut. Mereka mengira desa tersebut hanya dihuni oleh pasukan militer Vietnam Utara, sehingga mereka menjatuhkan bom-bom di desa tersebut untuk menyerang pasukan Vietnam utara. Tetapi ternyata tanpa diketahui ada warga sipil yang bersembunyi di desa itu, salah satunya adalah ibu Kim Puch ini. Mereka terkena serangan bom. Di tengah kekacauan itu Kim puch berlari telanjang, dan berteriak, “Panas, panas sekali.” Saudara,ia terkena luka bakar yang mengerikan di punggungnya, sehingga ia harus dirawat di Rumah sakit selama 14 bulan dan harus mengalami operasi sebanyak 17 kali.
Saudara, ternyata di balik tragedi menyedihkan ini, ada orang yang sangat merasa bersalah, dia adalah Pdt. John Plummer. Pada saat serangan ke desa Kim Puch itu ingin dilakukan, John Plummer adalah salah seorang yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada rakyat sipil di daerah itu. Dia berkata bahwa dia telah benar-benar memastikan bahwa tidak ada rakyat sipil di daerah itu. Namun terjadi kesalahan yang besar. Dia tidak tahu ada rakyat sipil yang bersembunyi di kuil. Serangan itu menyebabkan luka bakar yang mengerikan pada punggung ibu Kim Puch tadi dan dia juga harus kehilangan dua orang saudaranya. Plummer merasa sangat bersalah dan sangat ingin meminta maaf kepada Kim Puch.
Dua puluh lima tahun kemudian, dalam pertemuan Vietnam Veterans Memorial di Washington D. C., ternyata Plummer bertemu dengan Kim Phuc. Saudara-saudara, tidak disangka pada saat pertemuan itu, Kim Puch memberikan pernyataan pengampunan secara publik atas tragedi yang menimpa dia di Vietnam. Pada saat itu ia berkata,  “Jika saya bertemu dengan pilot pesawat yang menyerang desa saya, saya akan berkata kepadanya, “Saya memaafkannya. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, namun saya berharap kita bisa bekerja sama untuk masa depan.” Saudara-saudara, kisah ini sangat menyentuh hati Plummer, dia menulis artikel dalam sebuah majalah tentang kisah ini, dia mengatakan:
She saw my grief, my pain, my sorrow, she held out her arms to me and embraced me, all i could say was: “I’m Sorry; I’m sorry” over and over again. At the time she was saying, “it’s alright,it’s alright: I forgive, I forgive.”

Saudara, hati saya tersentuh ketika membaca kisah ini, dan hal itu membuat saya bertanya-tanya. “Bukankah Kim Puch pada saat menerima serangan itu bukanlah seorang Kristen? Lalu, apa yang sebenarnya menyebabkan Kim Puch dapat mengampuni orang yang menyebabkan tragedi buruk itu terjadi?” Saudara,saya menyelidikinya di internet, dan saya menemukan jawabannya. Dalam satu wawancara di sebuah stasiun radio tahun 1950, dia menceritakan tragedi buruk yang tidak akan pernah ia lupakan itu. Saya tertegun ketika mendengar beberapa kalimat yang ia ucapkan, ia berkata:  
“Ini adalah waktu yang sangat sulit bagi saya ketika saya pulang dari rumah sakit. Rumah kami hancur, kami kehilangan segalanya dan kami hanya bertahan dari hari ke hari. Kemarahan di dalam diriku seperti kebencian setinggi gunung. Aku membenci hidupku. Aku benar-benar ingin mati berkali-kali. Kemudian aku menghabiskan siang hariku di perpustakaan untuk membaca banyak buku-buku agama untuk menemukan tujuan hidup saya. Salah satu buku yang saya baca adalah Alkitab.
Pada Natal 1982, saya menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi saya. Itu adalah titik balik luar biasa dalam hidup saya. Allah membantu saya untuk belajar mengampuni – pelajaran yang paling sulit dari semua pelajaran. Ini tidaklah terjadi dalam sehari dan itu tidak mudah.. Tapi akhirnya saya berhasil. Pengampunan membuat saya bebas dari kebencian. Saya masih memiliki bekas luka yang banyak di tubuh saya dan menyisakan hari-hari yang menyedihkan tetapi paling tidak hati saya telah dibersihkan. Bom kimia itu memang sangat kuat tetapi iman, pengampunan dan kasih jauh lebih kuat. Kita tidak akan ada perang sama sekali jika semua orang bisa belajar bagaimana hidup dengan cinta sejati, pengharapan, dan pengampunan.”

            Saudara, saya percaya hanya orang yang sudah diberilah yang akan dapat memberi. Hanya orang yang sudah mendapatkan kemurahan yang dapat memberikan kemurahan kepada orang lain. Orang yang sudah mendapatkan anugerah pengampunan dari Allah harusnya dapat memberikan pengampunan bagi orang lain. Kim Puch telah memberikan kita contoh. Ia telah meresponi kasih karunia yang ia dapatkan dengan tepat. Lalu bagaimana dengan kita Saudara,?

Aplikasi
            Saudara, mengampuni bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Kita berhadapan dengan yang namanya, kepedihan, kepahitan dan rasa sakit hati yang mendalam. Sulit sungguh sangat sulit.  Rasa sakit hati, benci dan dendam yang bercampur itu membuat kita berada dalam keadaan hidup tanpa pengampunan. Namun, sampai kapan kita akan hidup dalam keadaan demikian? Sampai kapan kita akan terus menyimpan gumpalan kepahitan itu dan membangun tembok-tembok  dendam dan kebencian? Saudara-saudara, kita butuh pemulihan, kita perlu mengampuni. Ingatlah, bukankah kita hamba-hamba yang tidak mampu melunasi hutang-hutang dosa kita kepada Allah? Tetapi bukankah kita juga yang telah memperoleh kasih karunia dari pada Allah, memperoleh anugerah pengampunan-Nya melalui kematian Kristus di kayu salib? Tidakkah kita ingat betapa besar harga yang dibayar Kristus untuk menebus dosa kita? Saudara-saudara, saya percaya setiap kita yang ada di sini adalah orang-orang yang telah memperoleh kasih karunia dari Allah dan saya yakin hanya orang yang sungguh-sungguh mengalami kasih karunia Allah-lah yang bisa dengan segenap hati mengampuni orang lain.  Jika kita benar-benar telah mengalami kasih karunia itu mengapa kita tidak bisa mengampuni orang yang pernah menganggap kita remeh, tidak menghargai kita dan menyakiti hati kita?
Saudara, jangan tampung sampah kebencian itu lagi. Mari kita akhiri rasa sakit hati itu hari ini. Mari kita mengampuni. Saya rasa bukan tidak bisa kita mengampuni, tetapi kadang kita lupa akan kasih karunia yang sudah kita dapatkan dari Allah. Ingatlah kasih karunia itu, ingatlah anugerah pengampunan yang telah Allah berikan. Itu lebih dari cukup agar kita dapat mengampuni orang lain.

Penutup
            Saudara-saudara, saya akan mengakhiri khotbah ini dengan menampilkan sebuah video yang saya harap dapat mengingatkan kita kembali betapa besar harga yang dibayar Kristus untuk menebus dosa kita. Betapa besar kasih karunia yang Ia berikan kepada kita.
(PUTARKAN VIDEO AMAZING LOVE)
            Saudara,itulah yang telah dilakukan Kristus bagi kita. Ia datang ke dunia ini. ia memberikan kita pengampunan. Ia memberikan kasih karunia yang begitu besar bagi kita. Mari kita ingat kasih karunia itu. Biarkan kasih karunia itu mengalir ke seluruh sendi kehidupan kita, bagaikan air yang mengalir di setiap celah-celah hidup kita yang kering. Jangan biarkan tembok-tembok ego, kebencian dan dendam menghalanginya. Hancurkan tembok-tembok itu, supaya kita bisa berkata kepada orang yang telah menyakiti kita, “aku mengampunimu.”  Sesungguhnya Saudara, ketika rekonsiliasi itu terjadi, the bad unforgotten moment itu akan hilang dan berubah menjadi the sweet unforgotten moment.

Amin.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar