5 September 2011

Khotbah Eks. Topikal: Allah Ada Dalam Ketiadaan

ALLAH ADA DALAM KETIADAAN
OLEH HIMAWAN



Pendahuluan
            Saudara, saya rasa kita semua pernah mendengar nama Ibu Teresa dari Kalkuta.  Seorang biarawati yang memberikan diri untuk melayani orang sakit di jalanan kota Kalkuta.  Saudara, apakah sdr merasa terinspirasi ketika mendengarkan kisah hidup seorang Ibu Teresa?  Apa pandangan sdr secara pribadi terhadap Ibu Teresa?  Seorang yang sangat dekat dengan Allah sehingga rela memberikan hidup bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongannya?
            Saudara, saya kira, kita semua akan terkejut ketika membaca pengakuan Ibu Teresa, yang terdapat dalam memoir pribadinya.  Ibu Teresa mengaku bahwa selama 50 tahun beliau sama sekali tidak merasakan gairah kehadiran Allah dalam hidupnya.  Padahal masa itu adalah masa ketika ia melayani Tuhan, namun, selama itu pula Ibu Teresa mengaku tidak merasakan Kristus hadir dalam hidupnya.  Ibu Teresa yang terlihat mempunyai hubungan dekat dengan Sang Ilahi, ternyata dalam sebagian besar waktu hidupnya merasakan Allah demikian jauh. 
            Saudara, seberapa banyak diantara saudara yang pernah, bahkan ketika mendengarkan khotbah ini, saudara merasakan perasaan yang sama.  Perasaan Allah yang demikian jauhnya, sehingga kita merasa Ia seakan tiada dalam kehidupan kita.  Kita setia pergi ke gereja, setia merenungkan firman, namun Allah tetap terasa jauh.  Kita merasa  Allah tiada.
Perasaan ini oleh seorang katolik bernama Santo Yohanes Salib disebut “malam gelap jiwa”, yaitu malam atau hari-hari dimana manusia tidak mengalami penghiburan rohani apa pun, kendati ia mencari Allah dengan sepenuh hati.  Malam yang juga disebut dengan masa “kegelisahan yang tak terperikan”.  Ketika kita mengharap kehadiran Allah di dalam kegetiran hidup,  namun kita dihadapkan dalam sebuah fakta, yang menyatakan Allah tiada!  Ketika kita berteriak agar Allah menampakkan wajah-Nya, nyatanya Allah diam, seolah tak mendengar teriakan kita. 
            Saudara, saya yakin perasaan seperti ini pernah kita alami.  Orang percaya, bahkan yang sudah dewasa secara rohani pun bisa saja dihampiri perasaan Allah yang jauh.  Daud pada Mazmur 22:2 berkata “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.“  Daud pun pernah merasakan ketiadaan Allah.  Setiap umat Tuhan pernah merasakan perasaan betapa jauhnya hadirat Allah dalam kehidupan kita. 
Kapan perasaan ini datang? 

I.       Ketika kita berdosa
Saudara, kapan saja perasaan ini akan datang menghinggapi kita? Nampaknya, perasaan ketiadaan akan Allah seringkali datang ketika kita melakukan sesuatu yang tidak berkenan dihadapan-Nya.
Saudara, Allah kita adalah Allah yang kudus, Allah yang tidak menghendaki umat-Nya untuk melakukan dosa.  Ketika kita berdosa, maka bukan Allah yang menjauhkan diri-Nya kepada kita, namun diri kita sendiri yang menjauh dari Allah.  Sebagaimana Mazmur 51: 2, ketika Daud berkata: Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!”  Daud menuliskan ayat ini ketika baru saja melakukan dosa perzinahan, bahkan pembunuhan.  Ketika Daud mengambil Betsyeba sebagai miliknya, dan membunuh Uria untuk memenuhi nafsu serta tujuan pribadinya.  Saat itu Daud merasa demikian jauhnya dari hadirat Allah, sehingga ia berkata “Kasihanilah aku, ya Allah!”  Daud sebagai seorang yang dikenal memiliki hidup yang dekat dengan Allah, merasa sadar ketika ia berdosa, maka Allah menolak untuk hadir di dalam hidupnya.  Karena itu, setelah mendengar teguran nabi Natan, segeralah Daud memohon pengampunan dosa kepada Allah.  Daud sangat sadar, jika ia tidak bertobat maka ia akan terus berada jauh dari Allah.  Ya, Dosa mengakibatkan Allah jauh dari kita.
Saudara, dunia di sekitar kita adalah dunia yang gelap.  Sebagai orang Kristen kita hidup menantang gelombang jaman, sehingga kita sangat rentan sekali untuk terseret arus yang mengancam jiwa kita.  Pornografi merajalela dimana-mana, sekali klik di depan komputer, maka kita bisa membuat diri kita berada dalam sebuah posisi yang menjauh dari Allah.  Kecanduan game, pergaulan yang bebas, begitu merasuk dalam kehidupan anak-anak muda seperti kita.  Sekali kita buka gerbang agar mereka masuk, maka kita akan berada dalam posisi yang menjauh dari Allah.  Semua dosa yang kita lakukan membuat hilangnya hadirat Allah dalam kehidupan kita.
Adakah dosa yang engkau lakukan sehingga membuatmu merasakan bahwa Allah yang penuh kasih dan pengampunan itu kini tiada? Jika ya, maka jadilah seperti Daud, mengaku keberdosaan di hadapan Allah, sehingga Allah boleh kembali hadir dalam kehidupan saudara.  Tinggalkan segala bentuk keinginan nafsu pribadi, cobalah untuk tunduk kepada firman Tuhan.  Berdirilah dengan tegak bersama kekuatan dari Roh Kudus, lawanlah dosa.  Maka Allah akan kembali bersama-sama dengan kita.
Kapan perasaan ini datang?

II.    Ketika penderitaan menimpa
Namun, sdr fakta yang terdapat dalam perjalanan kehidupan rohani ternyata memberikan kita pemahaman yang lain.  Keberdosaan bukan satu-satunya penyebab perasaan itu hadir dalam kehidupan kita.  Sering perasaan itu datang ketika kita mengalami penderitaan dan kesesakan.  Sebagaimana Mazmur 22 yang pertama kali kita baca tadi, ditulis oleh Daud ketika ia mengalami tantangan musuh-musuhnya.  Ketika Daud menghadapi bahaya yang mengancam kehidupannya, yaitu ketika dikejar-kejar dan akan dibunuh oleh Saul.  Ia merasa Allah tiada! Seolah ia tidak akan ditolong, seolah Allah akan pergi menjauh daripadanya dan membiarkan dirinya tertindas. Dalam ayat 12 Daud berkata: Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.  Dalam hadangan penderitaan, bisa jadi kita akan merasa Tuhan itu tiada.  Merasa hadirat Allah begitu jauh! 

Ilustrasi
Saudara, hal inilah yang pernah dialami oleh orang-orang Kristen di Jepang ketika berada dalam abad penganiayaan.  Hal ini dituliskan dalam novel Silence karya Shusaku Endo.  Pada waktu itu, Kristianitas sedang dilarang, siapa yang mengaku Kristen, maka ia akan diburu, dianiaya dengan beratnya.  Bahkan ada sebuah kisah, orang Kristen digantung terbalik, diikat, telinganya disilet agar darahnya bisa mengalir, dan mereka akan mati perlahan-lahan.  Semua itu dilakukan agar orang Kristen mengkhianati iman mereka.  Di waktu-waktu yang penuh dengan kesakitan sedemikian rupa, orang-orang Kristen Jepang bertanya kepada pastor Katolik yang melayani waktu itu: Bapa, dimana Allah?  Mengapa Ia diam saja?  Mengapa Ia terasa begitu jauh dari kehidupan kita?  Ya, di dalam penderitaan, mereka merasa Allah yang tiada. 
Bukankah pertanyaan-pertanyaan demikian juga sering kita tanyakan?  Adakah di antara kita yang mengalami masalah hidup yang berat, sehingga kita tidak melihat Allah?  Membuat kita bertanya dimana Allah berada sekarang ini?  Adakah di antara kita merasa Allah tiada?  Saudara, Kini pertanyaannya adalah: mengapa ini semua terjadi? Serta apakah yang harus kita lakukan ketika kita mengalami hal demikian?
Kapan perasaan ini datang?

III.   Dalam kondisi apa pun secara tiba-tiba
            Tetapi sebelum mengerti alasan mengapa perasaan ini datang dan apa yang perlu kita lakukan ketika mengalami hal yang demikian, kita perlu menyadari bahwa dinamika kehidupan spiritual memang membingungkan.  Ketika gelombang tak menerpa, ketika hidup terasa aman dan tenteram.  Bahkan ketika kita merasa kita berada dalam hubungan yang sangat baik dengan Tuhan.  Perasaan betapa jauhnya Allah tetap bisa menghantam kita.  Perasaan Allah yang begitu jauh bisa mencekam secara tiba-tiba.  Tiba-tiba kita merasa berada di gurun pasir rohani yang begitu kering, yang membuat kita merasa haus, haus akan kehadiran Allah.   
Saudara, saya rasa hal ini yang dialami Elia dalam 1 Raja-raja 19:4, ketika dilaporkan “Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."
Saudara, waktu itu Elia sedang mengalami keberhasilan.  Elia berhasil membela nama Yahweh sebagai satu-satunya Allah yang benar.  Elia membuktikan di depan mata bangsa Israel bahwa Baal hanyalah ciptaan manusia belaka.  Ketika Elia menghadapi ancaman Izebel, Elia seharusnya tidak perlu takut.  Bukankah Allah sudah menolong dia menghadapi nabi-nabi Baal?  Seharusnya Elia sadar bahwa Allah bersama-sama dengan dia.  Namun fakta yang dilaporkan Alkitab berkata lain.  Elia berada dalam ketakutan sehingga lari, bahkan Elia diterpa kesepian yang amat sangat.  Di dalam kondisi yang sendirian di tengah hutan, Elia memohon agar Tuhan mengambil nyawanya.  Elia merasa bahwa dirinya tidak lebih baik dari pendahulu-pendahulunya, yakni nabi-nabi sebelum dia.  Elia merasa bahwa Israel tidak akan berubah, dan ia adalah tokoh yang gagal.  Saya rasa waktu itu Elia benar-benar merasa kehilangan akan kehadiran Allah.  Bagi Elia, Allah terasa tiada.  Hal ini dibuktikan dalam teks sesudahnya malaikat Allah menyuruh Elia untuk pergi ke gunung Horeb, gunung Allah, agar Elia dapat bertemu dengan Allah kembali, agar Elia diyakinkan dan merasakan bahwa Allah bersamanya.  Saudara, Entah mengapa, nabi sebesar Elia tiba-tiba merasakan bahwa Allah tiada di dalam hidupnya.  Hal ini menunjukkan bahwa perasaan ketidakhadiran Allah bisa datang secara tiba-tiba dalam kondisi hidup apa pun! 

Ilustrasi
Saudara, seorang pelayan Tuhan dalam bidang spiritualitas dan penulis buku yang terkenal yaitu Richard J. Foster pernah mengalami hal yang demikian.  Ada masa dalam hidupnya, ketika ia benar-benar merasa nyaman.  Melakukan berbagai seminar, dan pelayanan dimana-mana.  Tetapi ketika berada di dalam puncak keberhasilan itu, Foster mengaku bahwa tiba-tiba Allah terasa pergi menjauh begitu saja.  Tiba-tiba hadirat Allah pun tiada di dalam hidupnya.  Foster kemudian menarik diri dari pelayanannya dan berusaha mencari kehendak Allah dengan apa yang terjadi padanya.  Saudara, ternyata seorang yang dipakai Tuhan seperti Richard Foster pun, secara tiba-tiba juga dapat mengalami ketiadaan Allah.
Saudara, ternyata perasaan Allah yang begitu jauh itu bisa datang dalam banyak situasi.  Jika kita memahami dengan jelas bahwa perasaan ini datang diakibatkan karena dosa yang kita lakukan, maka tentu yang terutama adalah kita mengaku dosa dan memohon pengampunan dihadapan-Nya.  Namun, bagaimana jika problemnya ternyata bukan pada kita?  Bagaimana jika perasaan itu datang ketika kita menghadapi problematika hidup?  Bagaimana jika perasaan itu datang secara tiba-tiba, bahkan dalam kondisi dimana kita sedang merasa aman dan sangat dekat dengan Allah?  Padahal, kita sudah berlaku benar dan tanpa cela, tetapi perasaan Allah yang jauh ini toh tetap saja datang menerpa kita.

Benarkah Tuhan itu tiada?
Tetapi sdr, ketika kita merasa Allah tiada, apakah memang benar-benar Allah tidak ada bersama-sama dengan kita?  Kejadian 28:15 berkata:

“Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu." 

Bukankah  Allah punya janji penyertaan bagi umat-Nya, janji Allah yang tidak akan meninggalkan umat-Nya sekalipun?
Saudara, janji ini difirmankan Tuhan kepada Yakub di Betel, ketika Yakub akan melarikan diri dari Esau, dan pergi ke rumah pamannya Laban.  Janji ini yang menyertai Yakub selama Yakub menjalani hidup yang penuh lika-liku di tanah yang asing.  Allah berjanji bahwa Ia bersama-sama dengan Yakub kemana pun Yakub pergi. 
Saudara, frasa “Aku menyertai kamu” adalah frasa yang terus berulangkali disebutkan di dalam Kitab Suci.  Frasa ini bahkan juga diulang oleh Tuhan Yesus dalam Matius 28, menunjukkan bahwa memang di dalam segala kondisi yang akan dan sedang kita alami, Tuhan tidak akan meninggalkan kita.  Dia adalah Bapa kita, yang tak akan pernah mengingkari janji-Nya, janji penyertaan-Nya.  Saudara, turunnya Yesus ke dunia ini membuktikan bahwa Allah turut berpartisipasi dalam kehidupan manusia, menjadi sama dengan umat-Nya yang berdosa.  Benar, Yesus adalah bukti nyata  keberadaan Sang Immanuel, Allah yang menyertai kita.
Saudara, inilah janji Allah pada Israel dan ini jugalah janji Allah kepada setiap kita!  Janji inilah yang harus kita pegang! Ketika kita mengalami perasaan Allah tiada, ketika Allah terasa demikian jauh, sesungguhnya Ia tetap bersama-sama dengan kita!  Ia tidak pernah sekali-kali meninggalkan kita.  Ya, dalam perasaan ketiadaan Allah, Allah sebenarnya ada! 

Mengapa Allah mengijinkan ini semua terjadi?
            Saudara, mengapa Allah mengijinkan ini semua terjadi?  Tentu karena Allah menginginkan agar kita dapat bertumbuh sesuai dengan kehendak-Nya.  Pdt. Yohan Candawasa dalam sebuah bukunya, mengatakan bahwa dalam kesenyapan atau ketiadaan Allah, Allah mengijinkan ini semua terjadi agar kita dapat melihat Allah dalam sudut pandang yang lain.  Perasaan kita memang mengatakan Allah tiada, namun di tengah perasaan itu kita diajarkan untuk tetap bersandar dan menaruh iman kepada Allah. 
Saudara, saya kira ini yang dialami Daud dalam Mazmur 22 tadi, meskipun berada dalam perasaan Allah yang jauh, tapi Daud tetap menyatakan iman dan percayanya kepada Allah.  Hal ini tersirat dalam ayat 9 dan 10, yang mengatakan Ia (Daud) menyerah kepada Tuhan.  Saya rasa Daud bertumbuh dalam pengenalannya akan Allah.  Allah mengijinkan perasaan ini hadir dalam kehidupan Daud, agar Daud semakin bertumbuh dalam kebersandarannya akan Allah.  Daud makin dewasa, menjadi sahabat dekat Allah.
Saudara, Perasaan Allah yang jauh diijinkan terjadi, agar iman kita kepada Allah tidak tergantung pada situasi dan kondisi hidup, atau pada perasaan akan hadirat Tuhan.  Tetapi agar iman kita tergantung kepada identitas Allah sendiri.  Yaitu Allah yang berjanji akan menyertai umat-Nya.

Apa yang harus kita lakukan?
Saudara, kembali kita harus menjawab pertanyaan yang paling penting, apa yang harus kita lakukan ketika kita mengalami masa-masa yang demikian? Seorang penulis buku spiritual bernama Rick Warren, menyarankan bahwa ketika kita mengalami masa-masa demikian, maka sebaiknya kita mengingat segala kebaikan Tuhan di masa dulu kala.  Sebagaimana dalam Ratapan 3:22 yang berkata: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu. 
Saudara, kitab Ratapan ditulis oleh nabi Yeremia ketika melayani di Israel dengan segenap kesetiaannya, namun faktanya Yeremia mengalami sebuah penolakan yang luar biasa dari bangsa Israel.  Yeremia merasakan pelayanannya sia-sia, dan melihat Allah pun seolah tiada.  Namun Yeremia tak berhenti, Yeremia tidak terus terbenam di dalam penderitaannya!  Yeremia memandang sejarah kasih setia Tuhan! Ya! Ingatan terhadap kasih setia Tuhan itulah yang akan menghiburkan kita. 
Saudara, kata kasih setia Tuhan atau dalam bahasa aslinya hesed Yahweh ini adalah kata yang penting, kata yang juga berulangkali muncul dalam kitab suci.  Kata yang mengarah kepada janji loyalitas Allah kepada perjanjian yang telah dikerjakannya kepada umat-Nya!  Dimana janji itu bisa dipegang karena identitas pemberi janji itu sendiri yang tidak perlu diragukan lagi.  Yaitu Allah yang tidak akan pernah beralih dan meninggalkan umat-Nya! 
Saudara, maka ketika perasaan Allah yang jauh itu menerpa kita dalam kondisi apa pun, yang perlu kita lakukan adalah memegang janji penyertaan Allah, serta mengingat segala kasih setia-Nya  (Amanat Kotbah).

Ilustrasi
            Saudara, kembali ke kisah orang-orang Kristen Jepang yang tadi.  Ternyata dalam diamnya Allah yang mereka alami, mereka tetap mampu percaya kepada Allah.  Mereka berani martir dan tetap memegang teguh iman mereka.  Ketika Pastor Katolik yang melayani mereka bertanya kepada mereka, apa yang membuat mereka bisa bertahan sampai sedemikian.  Orang-orang Jepang itu menjawab:  Karena kami percaya kepada salib Kristus yang telah membebaskan kami.  Ya! Karena mereka mengingat kasih setia Tuhan yang dibuktikan dalam pengorbanan Kristus di kayu salib, maka orang-orang Jepang itu mampu terus percaya kepada Allah walau pun Allah terasa jauh, walau pun Allah seolah diam dalam penderitaan yang mereka alami.
            Saudara, saya sendiri secara pribadi pernah mengalami perasaan Allah yang jauh ini.  Suatu ketika di dalam perjalanan panggilan saya, saya diterpa perasaan secara tiba-tiba perasaan Allah yang jauh, Allah yang tiada.  Saat teduh saya seakan tiada gairah, saya melayani seolah tanpa passion.  Padahal ketika saya selidiki diri saya, saya mendapati diri tidak melakukan sesuatu apa pun yang mungkin tidak berkenan di hadapan Allah.  Bahkan perasaan itu hadir ketika saya benar-benar bersemangat untuk belajar teologi, belajar tentang Tuhan, mengenali segala sesuatu tentang Firman Tuhan.  Tapi perasaan itu tiba-tiba membekap saya, tiada angin tiada hujan, Allah menjauh, Allah menghilang, Allah terasa tiada.   Saya pun didera malam gelap jiwa ini selama beberapa minggu.  Apakah yang saya lakukan? Saya memasang foto Tuhan Yesus yang tersalib di meja belajar saya.  Saya terus-menerus mengingat akan panggilan saya dan kisah pertobatan saya, bagaimana Allah datang melalui karya salib Kristus.  Saya terus bertahan dalam kondisi yang demikian, sampai berminggu-minggu kemudian baru hadirat Allah terasa kembali dalam diri saya.  Ketika perjalanan malam gelap jiwa itu menimpa saya, saat itu saya diajari untuk tetap percaya dan bersandar kepada Tuhan meskipun perasaan saya tidak mengatakan bahwa Ia ada.  Ya, Allah mengijinkan itu semua terjadi agar saya boleh semakin bertumbuh dalam kasih dan pengenalan akan Dia.  Iman dan percaya yang tidak tergantung suasana, atau pun kondisi hidup, dan perasaan kita.  Tetapi iman yang murni, yang percaya kepada identitas yang kita imani, yaitu Allah yang setia.
Saudara, perasaan jauh dari Allah hanya sebuah perasaan manusia belaka.  Kita tidak perlu takut bahwa Allah meninggalkan kita. Karena kasih setia dan rahmatnya tidak akan pernah berhenti.  Jika kini saudara merasa bahwa Allah tiada, cobalah untuk mengingat segala apa yang Tuhan sudah pernah perbuat dan sudah berikan dalam hidupmu, dan syukurilah semuanya itu.
Saudara, jika ada di antara saudara yang merasa bahwa dalam hidup sdr tidak ada yang dapat saudara syukuri, maka saya mengajak anda memandang salib Kristus yang mulia.  Salib Kristus yang menyelamatkan saudara.  Salib Kristus yang merubah hidup saudara.  Dari hidup yang gelap, tanpa arah dan tujuan, menjadi hidup yang bermakna dalam pengharapan keselamatan jiwa dan hidup yang kekal.  Ingatlah akan karya keselamatan yang Tuhan sudah karyakan dalam kehidupan saudara, maka sesungguhnya tidak akan ada alasan untuk tidak dapat bersyukur, maka sesungguhnya tidak ada alasan untuk melihat bahwa Tuhan itu tiada, karena sesuai janji-Nya, Ia tetap ada!
  Saudara, adakah diantara kita yang mengalami perasaan ketiadaan Allah pada saat ini? Mari terus mencari wajah Allah di dalam disiplin rohani yang kita kerjakan.  Kita tetap setia melakukan segala sesuatunya, berdoa, membaca firman, merenungkannya, melayani di tempat yang Tuhan sudah sediakan.  Sambil terus mengingat kasih setia dan memegang janji penyertaan-Nya.  Maka kita akan makin bertumbuh dalam kedewasaan pengenalan akan Allah.

Penutup
            Saudara, kita semua berada di dalam perjalanan panjang untuk mengenal identitas dan jati diri Allah kita.  Penuh liku, jatuh bangun, tangis dan duka.  Perasaan ketiadaan Allah, perasaan Allah yang jauh akan hadir begitu saja dalam kehidupan kita.  Setidak-tidaknya seorang Kristen akan mengalaminya sekali dalam perjalanan hidupnya. Ini semua terjadi karena Allah ingin mendewasakan kita di dalam penyerahan diri penuh kepada Allah.  Jika itu semua terjadi, mari terus mengingat kasih setia Tuhan.  Dibarengi dengan pengakuan pertobatan jika kita berdosa, serta pembacaan yang setia pada Kitab Suci, kemudian komitmen membangun relasi dalam disiplin doa.  Maka Roh Kudus sendiri yang akan memberikan kekuatan untuk menghadapi perasaan ini.  Kita akan tetap teguh dalam iman, semakin mengenal siapa Allah kita.
           
Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar