20 Juli 2011

Khotbah Lukas 5 : 1-11

Panggilan yang Mengubahkan

Oleh Rini Anggraini



Pendahuluan
Saudara-Saudara, pada bulan Maret lalu sebuah surat kabar menuliskan headline yang cukup besar pada halaman utamanya: “Heroik, Bill Clinton bebaskan dua wartawan.”  Kisah ini rupanya dimulai dengan ditawannya dua orang wartawan Amerika, Laura Ling dan Euna Lee, oleh Korea Utara yang kita ketahui bersama sedang mengalami ketegangan cukup besar dengan negara Amerika.  Negara komunis ini mendapati mereka sedang melakukan kegiatan jurnalistik di wilayah Korea Utara secara ilegal sehingga mereka dituduh telah memata-matai negara ini.  Akhirnya, kedua wanita ini pun dikenai sanksi hukuman 12 tahun kerja paksa.
Mendengar berita ini, Amerika, negara super power yang dikenal sebagai negara yang sangat protektif terhadap warga negaranya, memanggil dan mengutus Bill Clinton untuk melakukan sebuah misi.  Clinton diminta untuk mengupayakan jalur diplomasi bagi kedua wartawan ini agar dapat segera dibebaskan.  SS, usaha ini ternyata membuahkan hasil.  Clinton berhasil membebaskan mereka sehingga presiden dan rakyat Amerika pun memberikan sambutan serta apresiasi yang luar biasa.
Nah, mari kita berandai-andai.  Seandainya saudara menjadi Bill Clinton, apa yang kira-kira saudara rasakan?  Bangga, karena dipilih oleh sebuah negara super power seperti Amerika?  Atau senang, karena mendapatkan kepercayaan untuk melakukan tugas yang mulia di mana tidak semua orang mendapat kepercayaan ini?  Jika hal ini yang saudara rasakan, saya pikir itu wajar.  Sangat manusiawi kalau kita merasa bangga dan senang ketika memperoleh misi besar di mana tidak semua orang dipercaya untuk melakukannya.
Tetapi tahukah Saudara, sesungguhnya kita yang ada di tempat ini adalah orang-orang yang juga telah dipercayakan suatu misi yang besar dan mulia.  Kita dipanggil untuk melakukan perkara-perkara kekekalan, di mana tidak semua orang bisa memperolehnya.  Dan panggilan ini bukan berasal dari Presiden, Raja, atau orang penting lainnya, namun dari Tuhan Yang Berkuasa, Raja di Atas Segala Raja, Tuhan yang telah menciptakan seluruh alam semesta ini.  Bukankah itu merupakan kebanggaan yang luar biasa?
Saudara-Saudara, sesungguhnya hamba Tuhan adalah orang-orang yang secara khusus dipanggil oleh Allah untuk mengerjakan misi-Nya.

Setidaknya ada dua kebenaran yang harus kita ketahui berkenaan dengan panggilan Allah ini…
       I.      Panggilan kita sebagai hamba Tuhan adalah didasarkan pada anugerah-Nya semata.
Penjelasan
Saudara, saya tidak tahu bagaimana perasaan Saudara sekalian ketika mengetahui bahwa Tuhan telah memanggil Saudara untuk menjadi hamba-Nya.  Mungkin ada diantara kita yang merasa begitu tidak layak menerima panggilan ini.  Tapi, mungkin juga ada diantara kita yang menganggap, “ Oh, memang sudah sepantasnya Tuhan memilih saya, karena saya adalah orang yang giat melayani Tuhan, saya fasih dalam berbicara, saya pandai dan memiliki banyak karunia, serta rajin mengabarkan Injil.  Wah, pokoknya sosok hamba Tuhan tuh gue banget deh!”  
Saudara, melalui perikop ini sesungguhnya kita bisa melihat dengan jelas orang-orang seperti apa yang Tuhan panggil untuk menjadi murid-murid-Nya.  Menarik sekali kalau kita lihat bagaimana Tuhan justru memilih dan memanggil orang-orang yang berasal dari tepi Danau Genesaret.  Tepi Danau Genesaret adalah satu daerah yang terpencil dan cukup miskin, di mana mata pencahariaan utama penduduknya adalah menangkap ikan.  Orang-orang yang tinggal di sana rata-rata kurang terpelajar, kurang sopan, dan tutur katanya pun kasar.  Namun, Tuhan tetap memanggil Simon, Yakobus dan Yohanes, yang menurut orang tampaknya tidak berkualitas, untuk menjadi murid-murid-Nya.
Ketika Yesus tiba di tempat ini, orang-orang saling berdesakan untuk mendekati Dia.  Rupanya, mereka ingin sekali mendengarkan pengajaran-Nya.  Agar tidak terjepit diantara orang banyak, Yesus pun akhirnya meminjam salah satu perahu, yaitu milik Simon dan memintanya untuk menolakkan perahu tersebut sedikit jauh dari pantai.  Kemudian, Yesus pun mengajar dari atas sana. 
Setelah selesai mengajar, Yesus kembali meminta Simon untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jalanya.  Saudara, saat itu rupanya hari sudah cukup siang.  Simon yang adalah seorang nelayan profesional pasti tahu bahwa menangkap ikan yang paling baik itu seharusnya dilakukan di malam hari, bukannya di siang bolong seperti ini.  Pada siang hari, ikan-ikan justru akan turun untuk mencari tempat yang lebih sejuk.  Saya mencoba membayangkan apa yang kira-kira dipikirkan Simon pada saat itu.  Berbagai kebingungan dan keberatan mungkin timbul di benaknya, “Hah, kembali lagi ke laut?  Apa tidak salah?  Kami yang sudah terbiasa melaut saja semalaman sudah tidak berhasil mendapatkannya, apalagi sekarang di siang bolong seperti ini?  Ini sesuatu yang mustahil!  Lagipula, Yesus itu kan seorang Guru.  Masa lalunya pun tukang kayu.  Ia pasti tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk menjala ikan!”  Sesungguhnya pernyataan-pernyataan seperti itu mungkin saja terlintas di benak Simon yang notabene sudah ahli dalam menjala ikan.  Tetapi tahukah SS apa yang menjadi responnya saat itu?  Simon berkata, “Guru, telah semalam-malaman kami tak henti-hentinya menjala dan kami tidak berhasil menangkap apa-apa.  Tetapi, karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”  Ya Saudara, Simon tetap memutuskan untuk mengikuti perintah Yesus.  Walau bagaimanapun juga, Yesus adalah Guru yang sangat ia hormati.  Meskipun Simon mungkin tidak setuju dengan pemikiran-Nya, meskipun saat itu Simon merasa sangat lelah dan ingin cepat pulang, ia tetap menaati perintah Gurunya. 
Dan kemudian mukjizat itu pun terjadi, di depan mata Simon, di dalam perahu miliknya sendiri.  Ia gentar, bingung!  Pikirannya kembali dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan, “Sesungguhnya siapakah Orang ini sehingga laut dan segala isinya dapat tunduk kepada-Nya?  Tidak mungkin seorang biasa dapat melakukan mukjizat seperti itu karena jumlah ikan-ikan yang mereka peroleh jauh melebihi batas normal sehingga peristiwa ini pasti bukan hanya kebetulan belaka.”  Tiba-tiba saja ia mulai sadar siapakah Yesus yang sebenarnya.  Pada saat itulah Simon langsung tersungkur di hadapan Yesus.  Ia merebahkan diri, berlutut dengan muka sampai menyentuh tanah sebagai tanda hormat dan sembah.  Lalu dengan gentar Simon Petrus berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa”.   Saudara, perkataan ini sesungguhnya bukanlah permintaan kepada Yesus agar segera pergi, namun lebih mengacu pada teriakan kebingungan, ketakutan, kegentaran, karena Simon yang inferior harus berhadapan dengan Tuhan yang superior, dia yang hanya ciptaan harus berhadapan dengan Sang Pencipta, dan dia yang berdosa harus berhadapan dengan Tuhan Yang Mahakuasa.  J. I. Packer mengatakan bahwa, “Seseorang yang telah mengalami mukjizat-Nya, tidak mungkin tidak menyadari akan kehadiran serta kuasa Allah di dalam dunia ini.”  Sesungguhnya hal inilah yang dialami oleh Simon Petrus.
Dan hal yang serupa pernah dialami pula oleh Nabi Yesaya saat Allah mendatanginya.  Ia berkata, “Celakalah aku!  Aku binasa!  Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam.”  Saudara, saat berhadapan langsung dengan kekudusan Allah, setiap orang pasti akan menyadari ketidaklayakan dirinya. 
Saudara-Saudara, siapakah Petrus?  Siapakah Yesaya?  Siapakah saya?  Dan siapakah saudara di hadapan Allah?  Sesungguhnya kita hanyalah orang-orang berdosa, orang-orang yang sama sekali tidak layak di hadapan-Nya.  Tidak ada satu pun yang dapat kita banggakan di hadapan Allah Yang MahaKudus dan MahaMulia.  Namun, Ia telah memanggil kita untuk menjadi hamba-Nya. Bukankah ini merupakan anugerah yang besar?

Ilustrasi
Saudara, pernahkah Anda mendengar nama John Sala?  Dia adalah seorang hamba Tuhan yang dipakai secara luar biasa untuk melayani dan membina ribuan narapidana melalui pelayanan penjara Little Lambs.  Tahukah Saudara bagaimana masa lalu John?  Saat menginjak usia 30, ia telah keluar masuk penjara sebanyak 22 kali karena terlibat dengan berbagai macam kasus, mulai dari kasus pencurian, pemakaian dan penjualan obat-obatan terlarang, bahkan hingga kasus pembunuhan.  Saat itu hidupnya sudah benar-benar hancur.  Ia dibenci oleh banyak orang, dianggap sebagai sampah masyarakat, dan tidak ada satu orang pun yang mengasihinya, termasuk keluarganya sendiri.
Tetapi, tidak demikian dengan Tuhan.  Dengan kasih-Nya, dengan anugerah-Nya, Tuhan memberi John kesempatan untuk mengenal Kristus melalui pelayanan seorang pendeta di penjara.  Saat itu, hidupnya diubah secara total.  Dan tidak berhenti sampai di sana.  Anugerah yang sama itu juga telah memanggil John kembali ke penjara, tetapi bukan sebagai tahanan, melainkan sebagai hamba Tuhan yang memperkenalkan kasih Allah kepada para narapidana.  Saudara, coba pikirkan siapakah sesungguhnya John Sala itu sehingga Tuhan mau memanggilnya?  Apakah dia memiliki kriteria yang baik untuk menjadi seorang hamba Tuhan?  Tidak!  Tetapi…
Tuhan dapat mengambil bejana hina,
Membentuknya dengan kuasa tangan-Nya,
Mengisinya dengan harta sangat berharga,
Dan menjadikannya berkat luar biasa.

Aplikasi
Jangan pernah lupakan hal ini, Saudara.   Sama seperti John Sala, kita pun hanyalah bejana yang hina, pendosa-pendosa yang telah menerima anugerah-Nya.  Karenanya, janganlah kita sombong!  Jangan pernah merasa bahwa diri kita memang layak menjadi hamba Tuhan karena kehebatan-kehebatan yang kita miliki, kecakapan, kepintaran, atau apapun kelebihan yang ada di dalam diri kita.  Sesungguhnya panggilan kita sebagai hamba Tuhan adalah karena anugerah-Nya semata.  

Saudara, panggilan Allah bagi kita rupanya bukan hanya berbicara tentang anugerah saja, melainkan berbicara juga mengenai suatu tujuan.  Dan inilah yang menjadi kebenaran kedua…

    II.      Panggilan kita sebagai hamba Tuhan adalah untuk menjangkau jiwa-jiwa
Penjelasan
Rasanya masih segar dalam ingatan kita peristiwa bencana alam yang telah beberapa kali menimpa negara ini; mulai dari tsunami, gempa, banjir, dan masih banyak peristiwa lainnya, yang telah menewaskan ratusan ribu orang.  Ketika melihat musibah ini, pernahkah Saudara bertanya, “Berapa banyak diantara korban tersebut yang ternyata masih belum mengenal Yesus sebagai Juruselamat?”  Apa yang Saudara rasakan ketika melihat realita ini?  Saudara, sesungguhnya untuk orang-orang demikianlah, yaitu orang-orang berdosa yang belum mengenal Kristus, kita dipanggil, diutus, untuk menjangkau mereka.
Panggilan untuk menjangkau jiwa-jiwa inilah yang disampaikan Yesus kepada Simon pada waktu itu.  Ketika Simon tersungkur dan menunjukkan ketakutannya yang luar biasa, Yesus menenangkannya dengan berkata, “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.”  Dalam perkataan Yesus ini ada tiga frasa yang sangat penting.  Frasa yang pertama adalah perkataan “jangan takut”.  Ini merupakan frasa yang dikatakan Yesus kepada Simon untuk menyatakan bahwa kehadiran-Nya pada saat itu bukanlah untuk menghukum Simon yang berdosa, tetapi justru untuk menyatakan anugerah pangggilan-Nya seperti yang telah saya jelaskan pada point pertama.
Frasa yang kedua adalah perkataan “mulai dari sekarang”.  Frasa ini rupanya sering dipakai oleh Lukas baik dalam Injilnya maupun dalam Kisah Para Rasul.  Frasa ini sesungguhnya bukan berbicara mengenai kronologis waktu, tetapi berbicara mengenai suatu perubahan mendasar dari kondisi sebelumnya.  Simon yang tadinya adalah seorang fishermen, kini menjadi fishers of men.  Seorang yang tadinya menjala ikan, kini menjala manusia.  Seorang yang dulunya hanya berfokus pada dirinya sendiri, kini hidup untuk melayani orang lain.
 Dan frasa yang terakhir adalah “menjala manusia”.  Saudara, saya sempat bertanya-tanya mengapa untuk memanggil Simon untuk menjadi murid-Nya, Yesus harus melakukan mukjizat penangkapan ikan terlebih dahulu?  Dan apakah tidak ada mukjizat lainnya?  Saya baru menyadari bahwa mukjizat penangkapan ikan tersebut bukan sekedar dipakai Yesus untuk menyatakan kuasa-Nya sebagai Sang Mesias Yang Ilahi, tetapi mukjizat itu sendiri memiliki makna profetik bagi pelayanan Simon di masa yang akan datang.  Ketika Simon diperintahkan untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jalanya, Yesus ingin menunjukkan bahwa kelak Simon pun akan diutus pergi ke tengah-tengah dunia untuk menebarkan jalanya, yaitu Injil keselamatan, dan membawa orang-orang yang terhilang kepada kepada Yesus Kristus. 
Di kemudian hari kita bisa melihat bahwa Simon benar-benar menggenapi panggilan-Nya sebagai penjala manusia.  Ia berkhotbah di hadapan ribuan orang dan terhitung 3000 orang bertobat.  Simon pun menyembuhkan dan memperkenalkan kasih Kristus pada seorang yang lumpuh di Bait Allah.  Simon juga melayani Kornelius yang merupakan orang kafir dan masih banyak lagi pelayanan yang telah ia lakukan untuk menjangkau jiwa-jiwa yang masih terhilang.
Jelaslah bahwa perkataan Yesus ini sesungguhnya berbicara mengenai anugerah panggilan yang telah Ia berikan kepada Simon yang membawanya kepada pembaharuan.  Simon yang tadinya hidup untuk diri sendiri dengan mencari materi, sekarang menjadi hidup untuk Tuhan, dengan cara menjangkau jiwa-jiwa.

Ilustrasi
Saudara-Saudara, ada seorang nenek bernama Ethel Hatfield berusia 76 tahun yang rindu melayani Tuhan di masa tuanya.  Karena itu ia bertanya kepada pendeta di gerejanya apakah ia boleh mengajar di Sekolah Minggu?  Akan tetapi pendetanya justru berkata bahwa Ethel mungkin sudah terlalu tua untuk melakukan semuanya itu.  Akhirnya, ia pun pulang ke rumah dengan hati yang sedih dan kecewa.  Apakah semangat Ethel Hatfield berhenti sampai di sini?  Tidak!
Selang beberapa hari ketika Ethel sedang merawat kebun mawarnya, seorang mahasiswa keturunan Cina dari kampus dekat sana berhenti untuk mengomentari keindahan bunga-bunga mawarnya.  Ethel pun tidak melewatkan kesempatan ini begitu saja.  Ia segera menawarkan mahasiswa tersebut secangkir teh dan ketika mereka sedang bercakap-cakap, Ethel menggunakan kesempatan tersebut untuk bercerita mengenai Yesus dan kasih-Nya.  Lalu keesokan harinya, mahasiswa tadi datang bersama mahasiswa lain, dan itulah awal pelayanan Ethel.
Saudara, ketika Ethel meninggal dunia, kurang lebih ada sekitar 70 orang keturunan Cina yang telah menjadi orang percaya berkumpul di upacara pemakamannya.  Rupanya mereka semua telah dimenangkan bagi Kristus oleh seorang wanita yang dianggap terlalu tua untuk mengajar kelas Sekolah Minggu.

Aplikasi
Saudara, Ethel adalah seorang awam yang pernah ditolak oleh pendetanya karena usianya sudah tidak muda lagi.  Namun melalui kisah nyata ini kita bisa sama-sama mengoreksi diri kita.  Seorang tua seperti Ethel saja bisa memiliki kerinduan yang begitu besar untuk melayani dan menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan, apalagi kita yang masih muda.Bukankah kerinduan untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan itu seharusnya jauh lebih besar bila dibandingkan dengan Ethel? 
Saudara, sadarilah bahwa sesungguhnya di sekeliling kita ini banyak sekali orang-orang yang masih membutuhkan kasih Kristus.  Orang-orang yang ada di rumah sakit, penjara, dan jalanan, mereka semua adalah orang-orang yang bisa kita layani.  Atau jangan jauh-jauh dulu.  Bagaimana dengan orang-orang terdekat kita yang belum mengenal kasih Kristus?  Mungkin orang itu adalah orang tua kita, adik, kakak, saudara, anak-anak sekolah minggu, atau jemaat.  Sudahkah kita mengenalkan Kristus kepada mereka?  Saudara, sesungguhnya untuk merekalah kita dipanggil.

Penutup
Jadi jelaslah bahwa panggilan yang kita terima adalah panggilan yang didasarkan pada anugerah Allah untuk menjangkau jiwa-jiwa, dan bukan untuk agenda yang lain.  Kebenaran ini harus selalu kita bawa sebagai prinsip ketika kita melayani Tuhan. 
Bersyukurlah Saudara kalau kita telah menyadari kebenaran ini.  Tetapi adakah diantara kita yang mulai menganggap diri layak dipilih sebagai hamba Tuhan, atau mungkin memiliki agenda-agenda pribadi, misalnya mencari ketenaran atau fokus pada hal-hal materi?  Mari kita sama-sama menyelidiki hati kita.  Jika memang benar kita mulai melenceng dari tujuan panggilan tersebut, bertobatlah.  Mintalah pengampunan kepada Kristus supaya Dia benar-benar menjadikan kita seorang fishers of men yang sejati. 
Percayalah Saudara-Saudara, ketika kita menyadari bahwa panggilan itu adalah sebuah anugerah dan kita setia untuk menjangkau jiwa-jiwa, akan ada kekuatan ketika menjalaninya dan ada sukacita yang sangat besar ketika melihat jiwa-jiwa tersebut bertobat serta datang kepada Tuhan. 

Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar