5 September 2011

Khotbah Amos 5:21-27

WE MUST BECOME A TRUE WORSHIPPER
OLEH HIMAWAN



Pendahuluan
Saudara-saudara,  tahu tentang sebuah grup music bernama True Worshipper? Berapa banyak di antara saudara yang mencintai lagu-lagu dari grup music ini?  Saya salah satu fans dari grup musik ini.  Terakhir mereka melaunching album dengan judul God is Our Victory, dimana lagu-lagu mereka sangat memberkati saya
Ketika saya pertama kali mengenal mereka, saya mulai bertanya kenapa ya mereka memakai nama True Worshipper dan bukan yang lain?  Kemudian saya merenungkannya, dan saya dapati True Worshipper secara harafiah mempunyai arti penyembah yang benar.  Penyembah yang benar adalah penyembah yang hidup benar di hadapan Allah.  Sehingga, dengan nama ini, saya duga, para punggawa band ini sebenarnya ingin menyatakan bahwa penyembahan yang sejati bukanlah sekedar menyanyi dengan kencang atau melompat-lompat disertai musik yang hingar-bingar.  Tetapi, penyembahan yang sejati adalah bagaimana kita dapat memberikan seluruh kehidupan kita untuk hidup dengan benar bagi kemuliaan nama Tuhan.
            Saudara-saudara,  setiap orang percaya kepada Kristus memiliki natur sebagai seorang penyembah di hadapan Tuhan.  Saya adalah penyembah, saudara adalah penyembah, kita semua adalah penyembah-penyembah Tuhan.  Tapi pertanyaannya, apakah kehidupan kita selama ini menyatakan penyembahan yang benar kepada Tuhan, atau kita hanya menyembah ketika kita ada di gereja?  Selebihnya, hidup kita bukan lagi penyembahan kepada Allah, melainkan menyembah pemuasan nafsu, egoisme, peninggian diri, materi, dan lain-lainnya.
Saudara, jangan sampai Tuhan mendapati penyembahan kita adalah penyembahan yang sia-sia dan tak bermakna. Karena itu mestilah kita mengerti bagaimana penyembahan bisa menjadi penyembahan yang sejati, sebuah penyembahan yang dapat menyenangkan hati Tuhan.  Kita semua harus menjadi penyembah yang sejati, we must become the True Worshipper!

Saudara-saudara,  menjadi penyembah yang sejati berarti berusaha memiliki hidup yang benar di hadapan Tuhan
Pertanyaan bagi kita semua sekarang adalah, bagaimanakah sebenarnya hidup yang benar di hadapan Tuhan itu? Saudara, hidup yang benar adalah
 I.            Hidup yang menyatakan keadilan dan kebenaran (ay. 21-24)
Penjelasan
Saudara-saudara,  keadilan dan kebenaran adalah dua aspek penting dalam kehidupan.  Timbulnya kesadaran akan hak asasi manusia, dan protes-protes kemanusiaan, mengindikasikan bahwa manusia sesungguhnya ingin memiliki kehidupan yang adil dan benar yang dapat dirasakan seluruh umat manusia.  Lalu apa yang perikop ini ajarkan mengenai keadilan dan kebenaran?
Saudara-saudara,  sesuai dengan judulnya, kitab ini ditulis oleh seorang peternak domba dan pemetik pohon ara dari kota kecil Tekoa bernama Amos.  Bisa dibilang ia adalah seorang yang sangat oposisioner, seseorang yang melawan terhadap kondisi bangsa Israel pada waktu itu.  Seorang Nabi yang diutus oleh Allah untuk melayani ketika raja Yerobeam II berkuasa di Israel, sedangkan pada waktu bersamaan  raja Uzia berkuasa di Yehuda.  Terutama, Amos melakukan pelayanannya di Israel bagian utara, tempat Yerobeam berkuasa. 
Saudara,  Israel adalah bangsa yang dipilih oleh Allah secara langsung untuk menjadi berkat di antara bangsa-bangsa.  Tentu saja, sebagai bangsa yang mengaku umat pilihan Allah, Israel berusaha membangun relasi dengan Tuhan melalui ibadah-ibadah yang mereka lakukan.  Ibadah seharusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan Tuhan dan memuliakan nama-Nya.  Membuat nama Allah dapat dikenal diantara bangsa-bangsa di sekitar mereka.  Tetapi, apa yang terjadi dengan Israel, umat Allah itu?  Dengan mengejutkan di dalam perikop ini Tuhan berfirman: Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu.  Ternyata, alkitab secara gamblang menjelaskan bahwa Allah telah menolak ibadah dan penyembahan bangsa Israel.
Jika kita perhatikan ayat 21-23, dan membaca keterangannya sesuai dengan apa yang terdapat dalam kitab Imamat, sesungguhnya, kita akan melihat bahwa ibadah yang umat Israel kerjakan begitu rumit dan detail.  Ibadah yang terdiri dari perayaan, ritual pengurbanan dan bahkan puji-pujian.  Tetapi Allah tidak berkenan kepada itu semua, tujuh kata yang bernada negatif diperlihatkan disini mulai dari ayat 21 sampai 23, menunjukkan betapa Allah telah menolak ibadah dan ritual yang dikerjakan umat Israel.  (Bacakan ayat 21-23, dengan emphasis kepada tujuh kata-kata negatif).  Saudara, jika diteliti, kata membenci, yang dipakai dalam perikop ini, dalam bahasa aslinya memakai kata sane, sebuah kata yang menyatakan betapa Allah tidak suka kepada penyembahan Israel dan menggambarkan begitu buruknya keadaan bangsa Israel di dalam penyembahan mereka pada waktu itu.  Mengapa Tuhan begitu membenci dan kemudian juga menolak ibadah bangsa Israel?
Saudara, sebelumnya, kita perlu mengerti bagaimana kondisi kehidupan bangsa Israel waktu itu.  Kondisi sosial Israel pada waktu itu sebenarnya sedang mengalami keterpurukan.  Keadilan sosial tidak terdapat di dalam kehidupan bangsa Israel.  Secara keseluruhan kitab ini ditulis untuk mengkritik kondisi Israel yang tidak berpihak kepada rakyat jelata.  Pada masa itu yang berkuasa adalah orang-orang yang punya uang.  Pedagang-pedagang besar, dan para lintah darat membuat kelompok petani yang merupakan etnis mayoritas merasakan penderitaan.  Para petani tidak diperhatikan, ditindas sehingga tidak mampu mengembangkan usaha mereka.  Kita bisa melihat dengan jelas keadaan ini dalam pasal 2:6-7 (bacakan).  Dengan demikian Amos sebagai wakil Allah yang Adil dan Benar sesungguhnya sedang berusaha melawan kapitalisme yang saat itu sedang terjadi di tengah-tengah bangsanya. Amos, Sang Pembela Keadilan Allah itu,  mengkritik mereka, para penindas yang merupakan orang-orang kaya dan mapan, perempuan-perempuan kaya, pedagang yang tidak jujur, penguasa yang korup, para hakim dan ahli hukum yang oportunis, dan imam-imam yang palsu.  Saudara, telah kita dapati bahwa kehidupan Israel tidak menunjukkan kehidupan sebagai umat Allah. 
Dengan latar belakang tersebut, kita telah menemukan jawaban dari pertanyaan kita tadi, Tuhan membenci dan menolak ibadah bangsa Israel karena kehidupan mereka tidak menunjukkan keadilan dan kebenaran.  Mereka mengangkat tangan, menyanyi dan memuji Tuhan, tapi hidup mereka jauh dari keadilan dan kebenaran!
Bagi Allah yang penting bukanlah rutinitas mereka beribadah (ay.21), bukan korban-korban bakaran dan korban sajian yang dipersembahkan (ay.22), bukan domba gemuk tanpa cacat (ay.22), bukan nyanyian dan tarian kegembiraan sebagai ungkapan penyembahan umat pada khaliknya (ay.23), bukan!  Tetapi Allah berkata: “Jauhkanlah semua itu.”  Bukan berarti semua itu, yaitu korban, nyanyian dan persembahan tidak penting.  Itu semua perlu dan penting, tetapi jika itu semua itu dilakukan di hadapan Allah dengan tidak disertai dengan hidup yang benar dan adil, semuanya akan sia-sia!  Tuhan berkata: “Aku membenci, dan menghinakan semua itu”  Jika demikian, untuk apa semua ritual ibadah yang kita lakukan?  Ternyata, bagi Allah hidup dalam kebenaran dan menyatakan keadilan bagi sesama jauh lebih penting dari hanya sekedar rutinitas ibadah.
Saudara, ayat 24 mengatakan biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir, di dalam ayat ini kita melihat dua kata yang saling berkorelasi satu dengan yang lain yaitu keadilan dan kebenaran.  Dalam bahasa aslinya, keadilan memakai kata mispat dan kebenaran memakai kata tsedaqa.  Di dalam kitab Amos, dua kata ini seringkali dipakai secara bersama-sama dan hal itu muncul tiga kali, yang dapat kita lihat dalam 5:7, 6:12b dan ayat 24 yang baru kita baca.  Secara khusus, di dalam bagian ini, kata keadilan dan kebenaran yang dipakai menyatakan bahwa Allah menginginkan keadilan dan kebenaran agar dapat diperlihatkan dalam kehidupan sebagai umat Allah.  Biarlah kehidupan yang menyatakan keadilan dan kebenaran, sungguh nyata di dalam kehidupan umat Allah sehari-hari.
            Saudara-saudara,  Rick Warren pernah mengatakan, bahwa penyembahan bukanlah sekedar musik atau ritual yang kita lakukan di gereja, tetapi penyembahan adalah sebuah gaya hidup.  Penyembahan yang sebenarnya adalah seluruh kehidupan kita yang kita berikan bagi Allah.  Tuhan tidak hanya melihat penyembahan kita secara fenomenal atau yang kelihatan saja, tetapi melihat seluruh kehidupan kita, apakah hidup kita sebenarnya menunjukkan kehidupan yang benar dan berkenan di hadapan Allah.   Sudahkah kita memperhatikan keadilan dan kebenaran di dalam kehidupan kita?
            Saudara-saudara,  penulis kitab Amsal dalam 20:3 menyatakan ide yang mempertegas bahwa Allah jauh lebih menginginkan kehidupan yang memperhatikan keadilan dan kebenaran daripada ritual-ritual yang kita kerjakan.  Dimana dalam ayat ini mengatakan “Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan Tuhan dari pada korban”, sangat jelas, dalam penyembahan kita, Tuhan menginginkan hidup yang benar di mata-Nya, hidup yang memperhatikan keadilan dan kebenaran  jauh melebihi ritual dan penyembahan yang kelihatan.
            Saudara-saudara,  bukankah Yesus Kristus di dalam hidupnya adalah contoh nyata pribadi yang memperhatikan keadilan dan kebenaran?  Ingatkah ketika Yesus mengkritik kaum farisi dan saduki, serta imam-imam di bait Allah, yang begitu menekankan pelaksanaan hukum taurat, namun nyatanya mereka hidup munafik, mencari keuntungan mereka sendiri, dan memanfaatkan bait Allah untuk menimbun kekayaan.  Saudara, jangan sampai Yesus pun mengarahkan telunjuk-Nya kepada kita dan berkata “hai, engkau orang munafik!”

Ilustrasi
Saudara-saudara,  ada suatu masa dalam sejarah gereja Eropa, yang disebut abad kegelapan, yang berlangsung setelah era Abad pertengahan dan menjelang masa Reformasi.  Hal ini berkaitan dengan kehidupan spiritual dari rohaniwan dan gereja pada waktu itu.  Waktu itu gereja yang berkuasa adalah gereja Katolik Roma, gereja yang memegang hak dan kewenangan satu-satunya dalam menafsirkan Kitab Suci.  Gereja Katolik Roma menetapkan hal-hal yang detail dan rumit di dalam liturgi ibadah dan cara hidup umatnya.  Setiap ada dosa yang dilakukan oleh umat, umat mereka diharuskan melakukan pengampunan dosa di hadapan para biarawan, dan kemudian membayar surat pengampunan dosa atau indulgensia itu kepada klerus.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            
 Mereka begitu menekankan ritual keagamaan, tapi bagaimana dengan kehidupan sosial mereka pada waktu itu?  Sebenarnya mereka menyiratkan ketidakadilan dan ketidakbenaran!  Bukankah hanya mereka yang kaya yang mampu membeli surat pengampunan dosa? Sedangkan yang miskin, hanya mereka biarkan diam dan mereka takut-takuti masuk ke dalam neraka!  Lalu bagaimana dengan kehidupan rohaniwan? Wah, parah sekali, rahib-rahib dan para pengurus gereja, hidup dengan foya-foya, aturan hidup tak lagi mereka perhatikan, mereka hanya mengambil untung dari persembahan jemaat dan memakai uang umat demi suka-suka mereka sendiri.  Bahkan, para pembesar-pembesar, hidup di dalam kemapanan dan kenyamanan mereka sendiri!  Mereka tidak menjadi pemyembah-penyembah yang benar.
Saudara-saudara, bagaimana dengan ibadah dan kehidupan kita pada masa ini? Apakah kita sudah menyatakan keadilan dan kebenaran, jikalau tidak, maka kita seakan-akan masih hidup di dalam abad kegelapan.  Gereja Katolik Roma pada era pertengahan gagal untuk memperhatikan keadilan dan kebenaran, dengan itu mereka gagal untuk hidup benar di hadapan Tuhan, gagal memberikan penyembahan yang sejati kepada Allah Pencipta langit dan bumi.  Padahal, sebagai umat Allah, we must become the true worshipper.

Aplikasi
            Saudara-saudara,  bagaimanakah dengan kehidupan kita di hadapan Tuhan?  Sudahkah kita hidup dengan memperhatikan  keadilan dan kebenaran? Atau kita tidak memperhatikan mereka yang miskin, yang tak berdaya dan tak terperhatikan?  Padahal, ketika kita beribadah di hadapan Tuhan, kita bisa bernyanyi dengan sekuat tenaga, menangis, dan mengaku-ngaku bertobat di hadapan-Nya.  Bisa juga, kita memberikan persembahan yang luar biasa banyaknya bagi gereja kita, dan itu terlihat di warta gereja.  Tapi, jika kita masih hidup dengan tidak memperhatikan keadilan dan kebenaran, jika kita masih bersikap sewenang-wenang dengan pembantu kita, karyawan kita, jika kita tidak memperhatikan hidup mereka dan memaksakan pekerjaan kepada mereka.  Maka penyembahan dan ibadah kita sia-sia belaka.
            Saudara-saudara,  jika ada diantara kita yang masih hidup seperti itu, mari kita bertobat, merendahkan diri di hadapan Allah, dan kemudian memperbaiki hidup kita, dengan mulai memperhatikan keadilan dan kebenaran.  Bersikap adil dan benar kepada pegawai-pegawai kita, karyawan kita, orang yang berada di bawah kita.  Mulai memperhatikan mereka yang miskin dan tidak dianggap, mereka yang hidup tergerus oleh kekuasaan kaum kapitalis.  Mari kita bersama-sama belajar untuk melakukan hal tersebut, berusaha untuk hidup benar di hadapan Tuhan, dengan memperhatikan keadilan dan kebenaran, ketika kita mampu untuk hidup benar, maka kita akan menjadi seorang True Worshipper.  We must become the true worshipper
Saudara, jawaban yang kedua, hidup benar di hadapan Allah adalah

    II.            Hidup yang menyembah hanya kepada Allah saja. (ay. 26-27)
Penjelasan
Saudara-saudara, penyembahan berkaitan erat dengan bagaimana kita menjalin relasi dengan Tuhan.  Relasi kita kepada Tuhan dapat dianalogikan seperti relasi kita dengan pasangan kita, ketika kita tidak setia dengan pasangan kita, maka bisa saja pasangan kita tiba-tiba menghukum kita dan memutuskan hubungan dengan kita sewaktu-waktu bukan?

Penjelasan
Saudara-saudara,  demikian juga dengan relasi Israel kepada Allah, ketika Israel tidak menyembah kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan, saat itulah Allah memberikan penghukuman kepada mereka. Dalam ayat 27 dapat jelas kita dapatkan apa yang Tuhan lakukan kepada Israel: “dan Aku akan membawa kamu ke dalam pembuangan jauh ke seberang Damsyik," firman TUHAN, yang nama-Nya Allah semesta alam.”  Saudara-saudara,  pembuangan sebenarnya adalah kata yang mengerikan bagi bangsa Israel, karena dibuang berarti keluar dari tanah perjanjian, tanah Kanaan, tanah yang menjadi bukti kasih setia dan perjanjian Allah bagi bangsa Israel.  Maka ketika bangsa Israel mendapati diri mereka dihukum, saat itulah menunjukkan betapa sungguh bobroknya kehidupan kerohanian mereka.  Tentu mereka merasa bahwa Tuhan sudah tidak lagi bersama mereka.  Nubuatan Amos ini pun digenapi 10 tahun kemudian ketika Raja Salmaneser III menguasai Samaria dan membuang Israel ke Asyur.  Hal ini dapat kita lihat dalam 2 Raja 17:3-6, sungguh nyatalah bahwa Israel benar-benar jatuh dan mengalami penderitaan di bawah penindasan bangsa-bangsa lain, bangsa kafir, bangsa yang bahkan tidak mengenal Tuhan.  Sungguh, Israel mengalami keterpurukan yang sangat besar.
Saudara, sesungguhnya mengapa Israel dihukum dengan hukuman yang begitu berat?  Sekali lagi, karena mereka menduakan Tuhan, Allah mereka!
Ayat 26 mencantumkan dua berhala yang terkenal di antara bangsa-bangsa yang ada di sekeliling Israel pada waktu itu. Berhala ini bernama Sakut dan Kewan.  Sakut dewa perang diantara bangsa Asyur yang juga disebut Adar, sedangkan Kewan biasanya diasosiasikan dengan Planet Saturnus.  Kedua-duanya adalah dewa orang Mesopotamia.  Ternyata jelas telah kita dapati laporan dari nabi Amos bahwa Israel telah mengambil berhala orang kafir untuk menjadi pengganti Allah!
Saudara-saudara,  sangat jelas, bahwa Israel mengingkari Perjanjian Musa yang tertulis dalam kitab Keluaran, yang menyatakan:
Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu.” 
Saudara, jelas sudah Israel menduakan Tuhan.  Israel membawa berhala di dalam kehidupan mereka.  Dan Tuhan pun menghukum mereka.  Setiap umat Allah dituntut untuk memiliki hidup yang benar, yaitu hidup yang hanya menyembah Allah saja, tidak kepada yang lainnya.
Saudara-saudara,  ketika Yesus Kristus dicobai Iblis di padang gurun, ia berkata: “Enyahlah Iblis, Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dialah sajalah engkau berbakti!”, Kristus pun amat menekankan bahwa hanya Allah saja yang patut kita sembah.

Ilustrasi
            Saudara-saudara, akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh berita-berita di infotainment yang sangat banyak sekali tentang perceraian artis.  Salah satu kisah perceraian yang cukup bikin geger adalah mengenai kisah Anang dan Krisdayanti.  Bertahun-tahun rumah tangga mereka kelihatan tenang-tenang saja dan kelihatan tidak mengalami gangguan berarti.  Tetapi, ternyata menurut infotainment yang ada, Krisdayanti, katanya sampai selingkuh sebanyak 5 kali!  Kemudian hal ini pun jelas diketahui oleh anak-anaknya, sampai mereka jengkel sekali dengan Krisdayanti.
Saudara, pelantun lagu “Setia itu kini menjadi pribadi yang tidak setia.  Ia menduakan suaminya, Anang, dan ia mendapatkan ganjarannya, yaitu perceraian.  Sama seperti itu pula, jika kita menduakan Tuhan, maka Tuhan pun akan memberikan ganjaran kepada kita.  Karena itu, seharusnya kita hanya menyembah dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan di dalam kehidupan kita.
 
Aplikasi
            Saudara-saudara,  dalam dunia ini, banyak hal yang bisa membuat kita menduakan Tuhan.  Tidak menjadikan Ia sebagai satu-satunya Allah yang kita sembah.  Harta, kedudukan, prestasi, semuanya bisa jadi sebuah berhala yang membuat Allah merasa di duakan dan cemburu kepada apa yang kita perbuat.  Adakah diantara kita yang mungkin masih menomorsatukan pekerjaan dibandingkan dengan pelayanan, atau mungkin kita lebih mementingkan keuangan kita dibandingkan dengan memberi kepada mereka yang miskin?  Saudara, berhala adalah segala sesuatu yang membuat hati kita menjauh daripada hati yang mengasihi Allah.  Apakah berhala yang mungkin hadir di dalam kehidupan saudara saat ini? Adakah sesuatu yang membuat saudara tidak lagi megutamakan Tuhan di dalam kehidupanmu? Bertobatlah, jangan sampai hal itu terus menerus terjadi, jadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan di dalam hidupmu.  Dengan itu, kita dapat menjadi penyembah yang benar, ingat, we must become the true worshipper.
Saudara-saudara,  saya akan menutup khotbah ini dengan kisah Martin Luther, seorang tokoh reformator yang merupakan sokoguru gereja protestan.  Martin Luther adalah seorang pembela kebenaran, dialah yang menempel 95 dalil di pintu gereja Wittenberg, dan menentang ketidakadilan dan ketidakbenaran Gereja Katolik Roma pada waktu itu, meskipun ancaman kematian dan ekskomunikasi didapatkannya, namun ia tak pernah takut, ia hidup sebagai seorang yang benar di hadapan Allah karena ia sangat memperhatikan keadilan dan kebenaran. 
Ketika Luther memakukan 95 dalil itu, saat itulah ia melakukan sebuah aksi peperangan.  Peperangan melawan berhala yang mewujud-rupa di dalam kemapanan otoritas gereja dan Paus.  Serta, berhala yang berupa tradisi yang mengakibatkan penyimpangan penafsiran Alkitab dan menghasilkan doktrin yang salah.  Berhala berupa surat pengampunan dosa dan relikwi-relikwi, yang dijadikan alat untuk mengantarkan manusia menuju surga.  Luther menentang itu semua, bagi Luther Allah-lah satu-satunya Tuhan, bukan Paus dan gereja yang telah merasa diri mereka sebagai Tuhan.  Luther juga hanya mengakui Alkitab sebagai satu-satunya sumber kebenaran di dalam hidupnya.  Luther adalah seorang yang hidup benar di hadapan Tuhan, Luther telah menjadi seorang penyembah yang sejati di dalam hidupnya, become the True Worshipper.  Siapkah kita menjadi Luther-Luther yang baru di masa kini?  Yang berani mereformasi kehidupan kita?  Menjadikan seluruh aspek kehidupan kita sebagai penyembahan yang sejati di hadapan Allah?  Siapkah kita menjadi the true worshipper?

Penutup
            Saudara-saudara,  penyembah yang sejati adalah mereka yang hidup benar di hadapan Allah.  Mereka yang hidup dengan memperhatikan keadilan dan kebenaran, serta mereka yang hidup dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan.
Saudara-saudara,  setiap kita dipanggil menjadi umat Allah, menjadi umat Allah berarti siap untuk hidup benar di hadapan-Nya, sehingga setiap saudara bukanlah memiliki penyembahan    yang sia-sia, tetapi penyembahan yang sejati.  Mari bersama-sama belajar untuk menjadi seorang penyembah yang sejati.
            Memang, seringkali kita bisa saja terjatuh. Bisa saja kita fokus pada diri kita sendiri, melupakan kebenaran dan melupakan Tuhan.  Namun, saya percaya di dalam penyertaan Allah Roh Kudus serta dibarengi dengan pembacaan kita yang setia kepada Kitab suci, maka Allah akan memampukan kita menjadi seorang penyembah yang sejati di hadapan Tuhan.

Amin

4 komentar:

  1. senang saya mendengarkan dan mebaca kotbah-kotbah bapak....saya pertama kali mendengar kotbah bapak ketika saya menjalani wisuda saya di STT efata. waktu itu bapak kotbah di gereja Pantekosta Isa Almasih Indonesia....

    saya berminat mengoleksi cd2 khotbah bapak,apakah sudah ada di toko2 rohani kristen?

    BalasHapus
  2. Shalom,

    maaf bila saya baru bisa menjawab pertayaan Saudara. Mengenai khotbah-khotbah saya, saya tidak pernah mengumpulkannnya dan merekamnya. Mungkin kelak bila memungkinkan.

    BalasHapus
  3. thax buat aritikelnya, sangat membantu

    BalasHapus
  4. Ibadah ritual hrs di sertai ibadah sosial itu yg di sbt sbg "IBADAH YANG SEJATI"

    BalasHapus