Tampilkan postingan dengan label Eksegese. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eksegese. Tampilkan semua postingan

29 Oktober 2011

Eksegese Yohanes 7:53 – 8:11

YESUS, MESIAS YANG ADIL DAN KASIH
Oleh Astrid Angelina



Pendahuluan

Narasi mengenai perempuan yang berzinah dalam Yohanes 7:53 – 8:11 ini merupakan salah satu perikop yang kontroversial dan banyak diperdebatkan oleh para sarjana biblika sehubungan dengan keotentikan teksnya.  Berdasarkan analisis terhadap bukti-bukti eksternal, memang didapati bahwa sangat kuat kemungkinan teks ini bukan bagian asli dari Injil Yohanes, melainkan ditambahkan kemudian.[1]
Keunikan tersebut menggelitik pemikiran penulis untuk mempelajari teks ini secara lebih mendalam.  Timbul pertanyaan di benak penulis, apa signifikansi teks ini sehingga konsili gereja kemudian memasukkannya ke dalam kanon Perjanjian Baru, secara khusus di antara Yohanes 7:52 dan 8:11.  Penulis yakin tentu ada suatu hal yang sangat penting yang ingin disampaikan oleh Allah kepada jemaat-Nya sehingga Roh Kudus memimpin orang-orang yang terlibat dalam proses kanonisasi saat itu untuk memasukkan teks ini.
Berpijak pada hal itu, karya tulis ini hendak mengajak pembaca untuk menyelidiki apa pesan penting yang terkandung dalam perikop Yohanes 7:53 – 8:11 dan kemudian menarik implikasinya bagi kehidupan masa kini.  Berhubung karya tulis ini difokuskan untuk mendapatkan amanat teks dari perikop tersebut, maka perdebatan mengenai keotentikan teks hingga bagaimana proses teks ini dapat dimasukkan dalam kanon Perjanjian Baru tidak akan dibahas di sini.

Amanat Teks Yohanes 7:53 – 8:11
LAI memberi judul “Perempuan yang Berzinah” untuk perikop ini.  Sekilas membaca judul tersebut, ada beberapa orang yang menerka fokus pembicaraan bagian ini adalah mengenai masalah perzinahan.  Sebagai implikasinya, mereka menjadikan ayat-ayat ini sebagai landasan untuk berkhotbah mengenai perzinahan.  Parahnya lagi, ada oknum-oknum tertentu yang memaksa bagian ini untuk mendukung kebobrokan moral mereka dengan alasan bahwa Yesus sendiri tidak menghukum perempuan yang berzinah tersebut.[2]  Itu artinya dosa perzinahan adalah dosa yang ringan sehingga tidak terlalu menjadi masalah jika dilakukan.  Tuhan pasti sangat mengerti sifat kedagingan manusia yang lemah terhadap godaan hawa nafsu seksual.  Tidak apa-apa jika kadang-kadang terjatuh, asal setelah itu jangan lupa memohon ampun.  Tentu saja pemikiran seperti itu sama sekali menyimpang dari maksud Alkitab.
Di sisi lain, ada juga orang-orang yang menggunakan perikop ini untuk mendukung feminisme.  Mereka menekankan pembahasan pada sikap Yesus terhadap perempuan itu; betapa Yesus mengasihi dan memandang berharga kaum wanita sehingga membelanya sedemikian rupa.  Cara penafsiran seperti ini juga tidak tepat karena hanya mengambil sebagian teks dengan mencabut dari konteksnya untuk mendukung pemikiran mereka dan tidak memperhatikan pesan yang ingin disampaikan teks secara keseluruhan (eisegesis).
Penafsiran lain yang lebih umum beredar di kalangan gereja secara luas adalah bahwa perikop ini berbicara mengenai pengampunan; bahwa Yesus tetap mengasihi orang berdosa dan mau mengampuninya sehingga kita juga harus mengampuni sesama kita yang berbuat kesalahan.  Pandangan itu memang tidak sepenuhnya salah dan merupakan salah satu implikasi logis dari bagian ini.  Namun, apakah itu pesan yang utama sesungguhnya ingin disampaikan?  Adalah hal yang sangat penting bagi orang-orang Kristen untuk menggali dan memahaminya dengan tepat.  Itulah yang coba dicapai dalam karya tulis ini.
Setelah dilakukan penyelidikan secara komprehensif terhadap teks, didapati bahwasanya makna perikop ini jauh lebih kaya daripada “sekedar” Yesus mengampuni seorang perempuan yang jatuh dalam dosa perzinahan (tanpa bermaksud mengecilkan arti dari pengampunan itu sendiri).  Di dalamnya terkandung tema keadilan dan kasih yang mengontraskan penghakiman manusia dan penghakiman Kristus.  Untuk lebih memahami pesan yang ingin disampaikan lewat narasi ini, pertama-tama akan diberikan gambaran mengenai setting kejadiannya dan diikuti dengan penjelasan bagian per bagian. 

Latar Belakang Kejadian (Yoh. 7:53 – 8:2)
Kisah dalam perikop ini merupakan salah satu peristiwa yang terjadi dalam kunjungan Yesus ke Yerusalem untuk merayakan hari raya pondok Daun di tahun terakhir-Nya (band. 7:37).[3]  Sebagai laki-laki Yahudi, Yesus memang memiliki kewajiban untuk datang beribadah ke Bait Allah di Yerusalem pada hari raya-hari raya tertentu (Paskah, Pentakosta, dan Pondok Daun) setiap tahunnya (Ul. 16:16).[4]  Selain beribadah, Yesus rupanya tidak menyia-nyiakan momen di mana semua orang Yahudi berkumpul di Yerusalem tersebut untuk mengajar mereka.  Sejak pagi hari Yesus sudah ada di Bait Allah untuk mengajar dan malam harinya ia beristirahat di rumah Maria dan Marta di Betania yang terletak di bagian Timur Bukit Zaitun.[5] 

Muslihat di balik Kasus Wanita yang Berzinah (Yoh 8:3-6a)
Suatu pagi ketika Yesus sedang duduk mengajar di Bait Allah seperti biasa, tiba-tiba ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menghadapkan seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah kepada Yesus.  Sekilas mungkin tidak nampak kejanggalan dalam peristiwa ini, namun jika kita mempelajari lebih lanjut konsep perzinahan pada masa itu, ditemukan banyak kejanggalan yang menggiring pada suatu kesimpulan negatif. 

Konsep Perzinahan Pada Masa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian Lama, yang dimaksud dengan perzinahan (bahasa Ibrani: naaph) meliputi dua hal: pertama, semua hubungan seksual yang dilakukan oleh seorang wanita yang sudah menikah dengan pria yang bukan suaminya; dan kedua, semua hubungan seksual di luar nikah yang dilakukan oleh seorang pria dengan wanita yang sudah bertunangan (Kej. 38:15-16; Im. 19:20-22; Ul. 22:28-29).[6]  Semua bentuk hubungan seksual di luar nikah dilarang bagi seorang wanita karena ia adalah milik suaminya.[7]  Sebaliknya, pria berkewajiban untuk menghindari semua hubungan seksual di luar nikah.  Seorang pria baru akan dianggap berzinah jika ia melakukan hubungan seksual dengan istri orang lain.[8] 
Lebih lanjut lagi, perzinahan bagi orang Israel bukan saja merupakan pelanggaran terhadap pernikahan dan keluarga, namun juga merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah yang Kudus (Kel. 20:14) sehingga para pezinah harus dihapuskan dari antara orang Israel (Ul. 22:22b).[9]  Hukuman untuk perzinahan adalah hukuman mati.  Seorang wanita yang sudah bertunangan jika kedapatan berzinah akan dilempari batu sampai mati bersama dengan pria selingkuhannya (Ul. 22:23-27).  Seorang istri yang kedapatan melakukan hubungan seksual dengan pria yang bukan suaminya juga harus dihukum mati bersama dengan pria tersebut (Im. 21:10; Ul. 22:22), namun Hukum Taurat tidak mengatur secara spesifik bagaimana metode yang harus digunakan untuk menghukum mati mereka.[10]  Sehubungan dengan beratnya hukuman terhadap perzinahan ini, tentu saja perlu ada pemeriksaan yang cermat terhadap setiap pengaduan perkara.  Jika ada seorang wanita yang dituduh oleh suaminya telah melakukan perzinahan, imam harus melakukan sebuah ujian cemburuan dengan air pahit untuk membuktikan apakah ia benar-benar bersalah atau tidak (Bil. 5:11-31).[11] 
Konsep perzinahan di Perjanjian Lama tersebut masih terus dipegang sampai dengan masa Perjanjian Baru, termasuk dalam perikop ini.[12]  Hal ini dibuktikan dengan dikutipnya Keluaran 20:14 di beberapa bagian Perjanjian Baru (Mat. 19:18; Mrk. 10:19; Luk. 18:19; Yak. 2:11).  Namun perlu menjadi perhatian khusus, hukuman bagi pezinah menjadi rancu pada jaman kekuasaan Romawi karena hukum Roma mengatur bahwa para pezinah tidak harus dihukum mati, hanya akan diceraikan tanpa mendapatkan uang cerai dan tidak diijinkan menikah dengan selingkuhannya.[13]  Para pezinah itu kemudian akan dibuang/diasingkan dan kehilangan harta bendanya.[14] 
Konsep perzinahan yang telah dijabarkan di atas akan memberi wawasan yang benar untuk menangkap motif sesungguhnya di balik tindakan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang kedapatan berzinah kepada Yesus.

Kejanggalan-Kejanggalan dalam Yohanes 7:53 – 8:11
Berpijak pada uraian di atas, dapat diduga wanita yang dihadapkan kepada Yesus dalam perikop ini adalah seorang yang sudah bertunangan sehingga ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi hendak melempari dia dengan batu ketika mendapatinya berzinah.  Namun, ada beberapa hal yang perlu disoroti dalam teks ini: pertama, menurut hukum Taurat, pasangan yang kedapatan sedang berbuat zinah – baik pria maupun wanita – harus dihukum mati (Ul. 22:22).  Namun pada peristiwa ini hanya si wanita yang kemudian ditangkap dan diperhadapkan pada Yesus sementara prianya dibiarkan lolos.[15]  
Kedua, hukum Taurat menuntut adanya pemeriksaan yang seksama terhadap tuduhan perzinahan yang dilontarkan pada seseorang (Ul. 19:15-19).[16]  Hukuman mati tidak dapat sembarangan dilakukan hanya atas dasar kesaksian seseorang yang kurang jelas tanpa pemeriksaan lebih lanjut.   
Ketiga, wanita tersebut diperhadapkan pada Yesus di tengah orang banyak yang sedang mendengarkan pengajaran Yesus.  Di sini terlihat para ahli Taurat dan orang-orang Farisi tersebut sengaja ingin agar peristiwa ini diketahui oleh masyarakat luas.
Keempat,  hukum yang diberlakukan oleh pemerintah Roma di pengadilan Yahudi pada saat itu tidak memberlakukan hukuman mati bagi kasus perzinahan.  Hanya temple violation yang bisa dituntut dengan hukuman mati.[17]
Dari beberapa hal yang dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa pertanyaan yang diajukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi di ayat 4-5 tidak ditujukan untuk mencari nasihat, namun mereka ingin menjebak Yesus dalam suatu dilema yang sama-sama berujung pada kehancuran-Nya.  Jika Yesus mengutamakan Taurat, Ia berkontradiksi dengan gaya hidup dan pengajaran-Nya, juga mengabaikan hukum Roma.[18]  Seperti telah dijelaskan di atas, hukum Roma yang berlaku saat itu hanya menuntut hukuman cerai dan pengasingan bagi wanita yang berzinah.  Dengan menyetujui perajaman terhadap wanita tersebut, Yesus dapat didakwa dengan beberapa tuntutan: pertama, tidak taat pada hukum yang berlaku dan dengan demikian melawan otoritas pemerintah Romawi; kedua, memprovokasi massa sehingga menimbulkan kekacauan di dan pembunuhan.  Dua hal tersebut cukup untuk menuduh Yesus telah memberontak terhadap pemerintah Romawi dan menyebabkan Dia dijatuhi hukuman mati.   
Di sisi lain, jika Yesus melarang mereka melempari wanita tersebut dengan batu, Ia memperlihatkan diri-Nya sebagai orang yang mengabaikan hukum Musa.[19]  Hukum Musa – seperti kita ketahui – adalah hal yang sangat dijunjung tinggi oleh orang Yahudi, bahkan dianggap sebagai bagian dari identitas mereka sebagai bangsa pilihan Allah.  Bangsa Yahudi memandang orang yang tidak memegang hukum Musa sebagai orang kafir yang tidak pantas disebut sebagai umat Allah.  Tentu saja sangat mustahil mereka akan menerima orang tersebut adalah Mesias yang diutus Allah.  Cara ini tentu sangat efektif digunakan untuk mendiskredikan Yesus.
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi memanfaatkan kasus wanita yang berzinah tersebut untuk menjebak Yesus.  Tindakan itu dilatarbelakangi penolakan mereka terhadap kemesiasan Yesus yang dinyatakan melalui perkataan-perkataan dan karya-Nya, di mana mereka malah melihatnya sebagai salah satu bentuk penghujatan terhadap Yahweh.         

Respon Yesus (Yoh. 8:6b-11)
Yesus melakukan beberapa hal untuk menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tersebut, yang sesungguhnya ingin mengomunikasikan sesuatu.  Pesan itulah yang harus ditangkap untuk memperjelas maksud dari perikop ini secara keseluruhan.  Respon itu berupa tindakan membungkuk dan menulis sesuatu di tanah, mempersilakan orang yang tidak berdosa untuk melempar batu pertama kali, serta membiarkan wanita tersebut pergi.  Berikut ini akan diberikan uraian mengenai respon tersebut.

I.             Menulis pada tanah/debu (Yoh. 8:6, 8)
Hal pertama yang dilakukan setelah pertanyaan para ahli Taurat dan orang Farisi itu diajukan adalah Ia membungkuk lalu menulis sesuatu dengan jari-Nya di tanah.  Tentu saja huruf Yunani yang bisa ditulis-Nya tanpa berpindah tempat sangat terbatas, hanya sekitar enam belas karakter.  Memang tidak ada petunjuk yang kuat untuk dapat mengetahui dengan pasti apa yang ditulis-Nya, namun ada beberapa dugaan kalimat yang diusulkan oleh para ahli, yang panjangnya sesuai dengan keterangan di atas.  Ada yang menafsirkan Yesus menulis baris pertama dari hukum kesepuluh: “Jangan mengingini istri sesamamu.”  Hal ini dihubungkan dengan Allah yang menulis Sepuluh Hukum dengan jari-Nya (Kel. 31:18; Ul. 9:10).[20]  Tafsiran lain mengusulkan yang ditulis oleh Yesus pertama kali (ay. 6) adalah Keluaran 23:1b “janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar” dan yang kedua kali (ay. 8) adalah Keluaran 23:7 “Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta. Orang yang tidak bersalah dan orang yang benar tidak boleh kaubunuh, sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah.”[21]
Meskipun terlalu sulit untuk mengetahui dengan pasti apa yang ditulis oleh Yesus, namun dari penyelidikan terhadap ungkapan yang biasa digunakan oleh orang pada saat itu, kita dapat mengerti apa maksud Yesus dengan membungkuk dan menulis di tanah dengan jari-Nya.  Kata “tanah” atau “debu” (earth) kadang-kadang menunjuk pada “dunia bawah” atau dunia orang mati (Mzm. 61:2, Ayb. 7:21), yang digunakan juga dalam literatur-literatur Kanaan dan Mesoptamia kuno.[22]  Yeremia 17:3 adalah salah satu contoh ayat yang menggunakan kata tersebut: “…those who turn away from you shall be written in the earth, for they have forsaken the LORD, the fountain of living water.”  Ungkapan “ditulis pada tanah/debu” (written in the earth – ESV, KJV, NKJ / written in the dust – NIV), mengandung arti “destinated for death” sebagai kontras dari “ditulis dalam kitab kehidupan” (“writen in the book of life”) yang berarti akan mendapatkan hidup yang kekal (band. Kel. 32:32; Dan. 12:1; Mzm. 69:28; Luk. 10:20; Why. 20:12; 21:27 ).[23]  Yesus melakukan hal itu mungkin untuk mengingatkan perempuan itu bahwa dirinyalah yang dimaksud oleh firman Tuhan tersebut.  Di sini tersirat bahwa Yesuslah pintu untuk memperoleh keselamatan.  Ia memiliki otoritas untuk menentukan nasib manusia dalam kekekalan; hidup kekal ato selamanya binasa.

II.         Mempersilakan Orang yang Tidak Berdosa untuk Melempar Batu Pertama Kali (Yoh. 8:7)
        Karena para ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus menerus bertanya pada Yesus, maka Ia kemudian berdiri dan berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."  Kalimat yang penuh hikmat ini merupakan pukulan telak bagi para pemuka agama itu.  Taktik mereka gagal total.  Yesus tidak melanggar hukum Taurat maupun hukum Roma, namun justru menelanjangi kemunafikan mereka.  
Berdasarkan hukum Taurat, saksi-saksi mata seharusnya adalah orang pertama yang melempar batu, tetapi saksi-saksi palsu akan menerima hukuman yang sama dengan yang dialami oleh korban mereka (Ul. 17:7; 19:15-19).[24]  Jika Yesus hanya “memberi restu” pada orang banyak itu untuk bertindak sesuai dengan hukum Taurat, mungkin apa yang direncanakan oleh para pemuka agama itu akan terjadi.  Namun pernyataan Yesus agar orang yang tidak berdosalah yang pertama melempar batu, membuat mereka tak dapat berbuat apa-apa selain pergi.  Pernyataan itu menyadarkan bahwa sesungguhnya mereka semua juga adalah orang-orang berdosa di hadapan Allah, sama dengan wanita yang berzinah itu.  Satu-satunya orang yang tidak berdosa di sana dan berhak melempari wanita itu adalah Yesus.

III.           Memberi Putusan (Yoh. 8:10-11)
Setelah semua orang pergi meninggalkan Yesus berdua dengan perempuan itu, berkatalah Yesus: “Hai perempuan, di manakah mereka?  Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”  Perempuan itu menjawab: “Tidak ada, Tuhan.”  Lalu Yesus melanjutkan: “Aku pun tidak menghukum engkau.  Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
Kata-kata Yesus yang terakhir kuat menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang adil dan kasih.  Yesus adalah Anak Allah memiliki kuasa untuk menghakimi manusia.  Keadilan-Nya nampak ketika Ia tidak menyangkali dosa perempuan itu.  Ia menyatakan perempuan itu bersalah.  Namun alih-alih menghukum perempuan tersebut, Yesus memilih untuk mengampuni dan memberikan kesempatan kedua.  Di situlah letak kasih dan anugerah-Nya yang begitu besar.  Bukan kehancuran/kebinasaan manusia berdosa yang dikehendaki oleh Yesus, melainkan pertobatan mereka.
Dengan demikian, dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perikop ini sesungguhnya hendak menyaksikan bahwa Yesus adalah Mesias yang adil dan kasih; Mesias yang memiliki berkuasa untuk menghakimi serta menghukum kesalahan namun memilih untuk memberi pengampunan dan kesempatan kedua berdasarkan kebesaran kasih setia-Nya.  Kebenaran ini sejalan dengan tujuan penulisan Injil Yohanes: “Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah.” (Yoh. 20:31). 

Signifikasi Narasi Yohanes 7:53-8:11
Salah satu tema yang cukup menonjol dalam Injil Yohanes adalah mengenai penghakiman.  Tema tersebut makin kuat dalam narasi kisah-kisah yang terjadi di sekitar hari raya Pondok Daun mulai dari 7:1.  Secara garis besar, 7:1-52 berbicara mengenai penilaian dan penghakiman orang-orang terhadap Yesus.  Di sana kontroversi mulai berkembang.  Pasal 7:1-13 menunjukkan penilaian-penilaian orang terhadap Yesus.  Ada yang memandang-Nya sebagai orang baik, namun ada pula yang menuduh-Nya telah menyesatkan rakyat.  Menanggapi itu, Yesus memberi kesaksian tentang diri-Nya di ayat 14-24 dan memperingatkan mereka agar jangan menghakimi apa yang nampak, tetapi haruslah menghakimi dengan adil.  Mendengar jawaban Yesus tersebut, banyak orang yang kemudian berusaha menangkap-Nya, meskipun ada juga di antara orang banyak itu yang kemudian menjadi percaya (ay. 25-36).  Pada hari terakhir perayaan Pondok Daun, Yesus sekali lagi menyaksikan kemesiasan-Nya dengan menyatakan diri sebagai sumber air hidup (ay. 37-44), yang kembali menghasilkan bermacam-macam respon.  Ada yang menganggap-Nya nabi, Mesias, tetapi ada juga yang menolak-Nya karena melihat dari kota asal Yesus.  Kali ini Yesus dibela oleh seorang bernama Nikodemus (ay. 45-52).  Jika disimpulkan, Yohanes 7:1-52 bicara mengenai penghakiman manusia.
Perikop selanjutnya, 7:53-8:11, seperti telah disebutkan dalam pendahuluan, merupakan narasi yang disisipkan kemudian.  Tanpa narasi ini banyak sarjana melihat justru alur kisahnya mengalir dengan lebih lancar dan lebih kronologis menuju ke pernyataan Yesus bahwa Ia adalah terang dunia (8:12-20).  Menurut beberapa ahli, Yesus mengucapkannya pada momen akhir hari raya Pondok Daun karena di saat itu orang-orang Yahudi akan menyalakan empat lampu besar di Pelataran Wanita dan bersukacita menari sepanjang malam dengan obor.[25]  Melalui analogi tersebut, Yesus ingin menyatakan identitasnya sebagai Juruselamat dunia yang memberi terang hidup kepada manusia yang sedang ada dalam kegelapan dosa.  Penyataan ini memicu terjadinya kontroversi yang menggiring pada tema pembahasan mengenai penghakiman Kristus yang adil dan benar, berbeda dengan penghakiman manusia. 
Kenyataan bahwa pernyataan mengenai terang dunia di atas diucapkan Yesus pada saat puncak hari raya Pondok Daun memperlihatkan sesungguhnya perikop 8:12-20 adalah sambungan dari 7:37-52.  Jika demikian, pertanyaan yang selanjutnya muncul adalah apa signifikasi keberadaan narasi 7:53 – 8:11 sehingga dianggap perlu untuk disisipkan dalam bagian ini. 
Pada bagian pertama tulisan ini telah diperlihatkan dengan jelas bahwa Yohanes 7:53 – 8:11 hendak menyaksikan bahwa Yesus adalah Mesias yang adil dan kasih.  Di dalamnya terkandung tema penghakiman yang memperbandingkan antara penghakiman manusia dengan penghakiman Kristus.  Manusia yang dalam perikop ini diwakili oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi cenderung hanya melihat kesalahan dari orang lain dan tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka juga adalah orang berdosa.  Mereka lebih senang melihat orang lain dihukum daripada diampuni.   Tidak terlihat adanya belas kasihan, yang ada hanya perasaan superior, bahwa diri mereka yang paling benar.  Kontras sekali dengan penghakiman Kristus yang adil namun penuh belas kasihan.  Yesus menyatakan kesalahan perempuan yang berzinah itu tetapi memilih untuk mengampuni dan memberikan kesempatan kedua padanya untuk bertobat.  Tema penghakiman dalam perikop ini memang ditemui juga dalam perikop sebelum dan sesudahnya.  Namun keberadaan perikop ini signifikan untuk menunjukkan secara konkret perbedaan antara penghakiman manusia yang korup dan egosentris dengan penghakiman Allah yang adil dan berlandaskan kasih.

Kesimpulan dan Aplikasi
Perikop ini hendak menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias yang adil dan kasih.  Ketika kita terjatuh dalam dosa, masih tersedia pengampunan dan kesempatan kedua bagi kita.  Yang harus kita lakukan adalah mengakui dosa kita, memohon pengampunan, dan berbalik dari perbuatan kita yang jahat.
Ketika mendengar atau mendapati ada saudara yang jatuh dalam dosa, kita tidak boleh langsung menghakimi dan menghukum mereka, apalagi mengasingkan mereka dari gereja.  Sebagai anggota tubuh Kristus, kita wajib untuk menegur orang-orang tersebut.  Tentu saja ketika menegur, kita harus benar-benar memeriksa motivasi kita terlebih dahulu.  Kita menegur bukan dengan semangat ingin menjatuhkan mereka dan menunjukkan bahwa diri kita lebih baik, melainkan dengan kesadaran penuh bahwa kita adalah sama-sama manusia yang rentan jatuh dalam dosa.  Tujuan kita menegur adalah agar mereka menyadari dosa mereka dan kemudian bertobat.  Oleh karena itu kita juga wajib menerima mereka kembali ketika mereka menyadari kesalahannya dan memberikan kesempatan kedua bagi mereka.  Tentu saja teguran harus dilakukan dengan baik sesuai dengan firman Tuhan.
Demikian pula ketika ada orang lain yang berbuat kesalahan kepada kita sehingga menyakiti hati kita.  Kita juga wajib mengampuni mereka.  Sejujurnya kita juga adalah sama-sama berdosa seperti wanita yang berzinah dalam perikop ini.  Namun Yesus telah menebus dan mengampuni kita.  Sudah selayaknyalah kita yang telah mendapat pengampunan juga memberikan pengampunan kepada orang yang bersalah kepada kita.



DAFTAR KEPUSTAKAAN

Balz, Horst dan Schneider, Gerhard.  Exegetical Dictionary of te New Testament Volume 2. Grand Rapids: Eerdmans, 1981.
Barker, Kenneth.  The NIV Study Bible.  Grand Rapids: Zondervan, 1985.
Bauer, Walter.  A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature.  Chicago: Chicago Press, 1957.
Beasley,George R.  Word Biblical Commentary: John.  Waco: Word Books, 1987.
Burge, Gary M.  The NIV Application Commentary: John.  Grand Rapids: Zondervan, 2000.
Carson, D.A.  PNTC: The Gospel According to John.  Grand Rapids: Eerdmans, 1991.
Feinberg, C.L . Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II.  Jakarta: OMF, 1995.
Hagelberg, Dave.  Tafsiran Injil Yohanes Pasal 6-12.  Yogyakarta: Andi, 2001.
Keener, Craig S.  The IVP Bible Backgroun Commentary: New Testament.  Illinois: InterVarsity, 1993.
Kittel, Gerhard.  Theological Dictionary of the New Testament Volume IV.  Grand Rapids: Eerdmans, 1967.
Verbrugge, Verlyn D.  The NIV Theological Dictionary of New Testament Words.  Grand Rapids: Zondervan, 2000.
Withacre, Rodney A.  The IVP New Testament Commentary Series: John.  Illinois: InterVarsity, 1999. 
Wright, J.S. dan Thompson, J.A.  Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II. Jakarta: OMF, 1995.

27 Agustus 2011

Eksegese Lukas 19:1-10

INISIATIF YESUS MENYELAMATKAN 
ZAKHEUS YANG BERDOSA
OLEH ELISABETH N.



Literary Analysis (Analisis Sastra)
A. Batasan Teks
  • Pasal 19 ini dimulai dengan masuknya Yesus di kota Yerikho menunjukkan suasana dan latar/setting yang baru (ayat 1). 
  • Perikop-perikop sebelumnya di pasal 18 memang suatu proses perjalanan Yesus ke Yerusalem khususnya dari Lukas 18:31-19:44, namun perikop 19:1-10 memiliki topik yang khusus yaitu perwujudan anugerah Allah dengan pencarian dan penyelamatan orang yang hilang dan berdosa yang jelas berbeda dengan topik pada perikop-perikop sebelumnya pada pasal 18 yaitu sebagai berikut:
-Lukas 18:18-26 menceritakan tentang orang kaya yang sulit masuk kerajaan Allah.
-Lukas 18:35-43 menceritakan penyembuhan orang buta.
Jika dilihat dari segi pokok pikiran, perikop 19:1-10 ini dikontraskan dengan perikop-perikop sebelumnya tersebut dimana Zakheus dan pemuda tersebut sama-sama adalah seorang yang kaya namun Zakheus diberi anugerah.[1]  Hal kontras juga terlihat dari orang buta yang menggambarkan iman sedangkan cerita
Zakheus lebih menggambarkan inisiatif Yesus.[2]
  • Pada perikop sesudahnya yaitu 19:11-27 memang terjadi pada setting yang sama namun perumpamaan tentang 10 uang mina inipun juga memiliki pokok pikiran yang sudah berbeda yaitu pernyataan Yesus tentang kekuasaan-Nya untuk menghakimi.
  • Dengan demikian jelas bahwa Lukas 19:1-10 adalah satu unit kisah dan pokok pikiran yang khusus dan berbeda dengan perikop-perikop pada pasal sebelum dan sesudahnya.[3]

B. Kesatuan teks
  • Kesatuan teks perikop ini sebagai satu pokok pikiran didukung dengan pemeran yang khusus yaitu Zakheus dengan Yesus dari mulai ayat 1 samapai ayat 10 menceritakan satu babak/episode yang tersendiri dengan topik khusus yaitu keselamatan untuk yang hilang.
  • Adanya kesatuan dan alur cerita dari mulai ayat 1 menjelaskan setting, ayat selanjutnya menjelaskan pertemuan Zakheus dengan Yesus, usaha Zakheus melihat Yesus, inisiatif Yesus sampai akhirnya keselamatan diterima oleh Zakheus, ditutup dengan pernyataan Yesus tentang misi-Nya.
  • Kesimpulannya: Lukas 19:1-10 merupakan satu unit kesatuan kisah tersendiri yang tidak sama dengan perikop-perikop pada pasal sebelum dan sesudahnya.

C. Analisa Struktur Teks dan Pembagiannya
1.      Yesus masuk ke kota Yerikho
                 dan berjalan terus melintasi kota itu
2.      Di situ ada seorang bernama Zakheus,
                                                      kepala pemungut cukai
                                                      dan ia seorang yang kaya
                              3. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu,                                                                  tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak,
                                                                                    sebab badannya pendek.
                                         4. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak,
                                                      lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus,
                                                      yang akan lewat di situ
  1. Ketika Yesus sampai ke tempat itu,
                  Ia melihat ke atas dan berkata : “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini                             Aku harus menumpang di rumahmu.”
  1. Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
  2. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia                                                                  menumpang di rumah orang berdosa.”
  3. Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku                                                               akan kuberikan kepada orang miskin                                                                                      dan sekiranya ada sesuatu yang                                                                                         kuperas dari seseorang akan                                                                                                     kukembalikan empat kali lipat.”
  4. Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini,                      karena orang inipun anak Abraham.
  5.             Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelematkan yang         hilang.” 

Pembagian Struktur Teks
I. Pertemuan Yesus dengan Zakheus
  1. Setting (ayat 1)
  2. Deskripsi siapa Zakheus (ayat 2)
  3. Usaha Zakheus melihat Yesus (ayat 3-4)
  4. Inisiatif Yesus untuk tinggal di rumah Zakheus (ayat 5)
  5. Zakheus berespon dengan menerima Yesus (ayat 6)
II.Hasil pertemuan:
  1. Reaksi semua orang (ayat 7)
  2. Transformasi Zakheus (ayat 8)
  3. Penjelasan Yesus tentang keselamatan (ayat 9-10)

Struktur Perjalanan Yesus ke Yerusalem. (9:51-19:44)[4]
§   Hak istimewa, Misi, dan komitmen.
§   Pemuridan, kepada Yesus, dan sebelum Allah.
§   Kontroversi, koreksi dan panggilan kebenaran 
§   Pemuridan
§   Mengenal waktu alam
§   Kesucian murid dan bayar harga harga
§   Mengapa Tuhan mengejar orang berdosa?
§   Kemurahan hati
§   Pengajaran yang salah, pengampunan, iman dan pelayanan.
§   Kerendahan hati dan semua kebenaran kepada Bapa

   Beralih ke Yerusalem: Penampilan terakhir dan penawaran mesianik (18:31-19:44)
§   Belas kasihan yang kekal dari salib (18:31-43)
§   Orang yang kaya bertemu dengan keselamatan (19:1-10)
§   Pelayanan dan kembalinya Yesus (19:11-27)
§   Memasuki Yerusalem (19:28-44)


Analisis Eksegesis (Historical-Cultural Background, Word meaning, & Grammatical analysis)
I. Ayat 1-6: Pertemuan Zakheus dengan Yesus
1. Setting dan latar belakang (ayat 1)
·         Perikop tentang Zakheus merupakan bagian dari perjalanan Yesus menuju Yerusalem.  Dari mulai Lukas 18:31-19:44 merupakan rangkaian yang diawali dengan berangkat ke Yerusalem (18:31) sampai kedatangan-Nya di kota tersebut pada perikop ‘Yesus di elu-elukan’.  Ayat 1 dimulai dengan Yesus masuk ke kota Yerikho, kalimat ini menerangkan setting yang menunjukkan perjalanan Yesus ke Yerusalem semakin dekat.  Pembukaan ini menghubungkan untuk meneruskan cerita orang buta yang berada di luar Yerikho.[5]  Lukas mengatur adegan ini dengan referensi penting secara geografis ke Yerikho (sekitar 20 kilometer jauhnya).[6]  Yerikho adalah suatu kota yang permai dan makmur dimana suatu pos penting untuk memungut cukai atas berbagai-bagai barang.  Di Yerikho tinggal banyak pemungut cukai yang dipandang rendah oleh pemuka-pemuka agama dan dibenci oleh rakyat, baik karena alasan keagamaan maupun alasan politik dan sosial.[7]  Frasa berjalan terus melintasi Yerikho menggambarkan bahwa Yesus tidak bermaksud untuk tinggal di Yerikho dan Dia hanya melewati, tetapi ini memberi kesempatan Zakheus untuk melihat-Nya.[8]

2. Deskripsi Zakheus (ayat 2)
·         Setelah menerangkan setting, kini si penulis memperkenalkan tokoh selain Yesus yang sebagai subyek yaitu Zakheus yang merupakan obyek.  Zakheus dikatakan sebagai salah seorang kepala pemungut cukai.  Nama ini mungkin dibentuk dari Zakkai (misalnya Ezra 2:9), yang barangkali berarti “orang bersih” atau “suci”, suatu nama yang dianggap semua orang tidak cocok dengan tingkah laku Zakheus.[9]  Hal ini dapat dikaitkan dengan kekayaannya yang mungkin didapat dengan cara yang tidak bersih.  Pemungut cukai adalah orang yang tidak menerima gaji apapun untuk pekerjaannya, tetapi ia boleh memungut sebanyak mungkin uang, sehingga ia mempunyai sisa yang agak banyak setelah mambayar kepada pemerintah jumlah yang ditentukan itu.[10]  Dengan pengertian tersebut, kemungkinan orang banyak beranggapan bahwa Zakheus memungut jauh lebih banyak dari apa yang seharusnya.  Zakheus memang kaya tetapi tidak berbahagia, tidak dapat dihindarkan bahwa ia kesepian karena ia telah memilih jalan yang menjadikan dia seorang ”outcast” (seseorang yang dikucilkan).[11]  Terus berhubungan dengan ayat 1 mengenai pandangan masyarakat kepada Zakheus, pandangan tersebut memberikan gambaran bahwa Zakheus tidak memiliki nama baik dalam kota itu, karena seorang pemungut cukai dianggap rendah dengan berbagai sudut pandang di berbagai bidang.  Ayat ini sesungguhnya sudah menjelaskan status Zakheus sebagai orang berdosa dan terhilang.  Hal ini jelas menunjukkan bahwa kedatangan Yesus di kota Yerikho memiliki makna khusus berhubungan dengan status Zakheus tersebut yang mengarah pada tujuan Yesus secara ilahi.  Latar belakang budaya ini penting untuk memberikan penghargaan atas reaksinya ketika bertemu dangan Yesus.[12]
3. Usaha Zakheus melihat Yesus (ayat 3-4)
            Dengan statusnya yang sudah dijelaskan dalam ayat 2, kini Zakheus memiliki keinginan untuk melihat Yesus.  Motif Zakheus memang tidak dijelaskan dalam perikop ini mengapa ia ingin melihat orang apakah Yesus tetapi di ayat 3 menggambarkan suatu sosok yang rindu untuk bertemu dengan Yesus apalagi dengan pandangan umum terhadapnya.  Sepertinya Zakheus penasaran dengan sikap Yesus apakah sama atau berbeda dengan pandangan semua orang yang telah diterimanya.  Hal ini juga dapat disebabkan oleh figur Yesus yang saat itu menarik dan terkenal[13] sehingga jelas bahwa banyak orang sangat ingin bertemu atau melihat Yesus bukan hanya Zakheus saja.  Namun ditengah keinginannya yang begitu kuat, ada suatu penghalang yang membuat ia tidak dapat melihat Yesus yaitu mengenai postur tubuhnya yang kecil/pendek dengan banyaknya orang Frasa berjalan terus melintasi Yerikho menggambarkan bahwa Yesus tidak bermaksud untuk tinggal di Yerikho dan Dia hanya melewati, tetapi ini memberi kesempatan Zakheus untuk melihat-Nya yang berada pada tempat tersebut.  Green dalam sebuah tafsirannya menerangkan masalah ini memiliki dua alasan sebagai berikut.[14]  Pertama, dalam teks bahasa Yunani, lebih ditekankan bukan pada posturnya yang pendek tetapi pada kemudaannya.  Hal ini diperhitungkan sebagai perlakuan yang selayaknya tidak begitu dianggap penting oleh khalayak ramai sehingga tidak mendapat tempat.  Tubuhnya yang pendek dapat dimengerti, hal ini tidak menjadi penghalang yang signifikan untuk melihat Yesus.  Kedua, pandangan negatif terhadap Zakheus membuatnya tertolak sehingga kesulitan untuk melihat Yesus.  Entah muda atau pendek, dia diremehkan oleh orang banyak.  Pandangan ini sama dengan pandangan terhadap janda-janda, anak-anak dan orang buta (pasal 18). 
      Dengan penghalang tersebut, kini reaksi Zakheus cukup mengagumkan.  Ia tidak putus asa, ia tidak menyerah ataupun meredamkan keinginannya untuk melihat Yesus namun ia melakukan suatu usaha yaitu dengan berlari mendahului orang banyak.  Bagi Zakheus, ini bukan sesuatu yang mudah karena dengan postur tubuh yang tersebut demikian, untuk berlari dan mendahului orang banyak membutuhkan suatu tekad dan dorongan yang kuat juga cukup tenaga.  Walaupun demikian orang pendek ini memiliki keberanian untuk diejek.[15]  Suatu hal yang unik terjadi ketika Zakheus menemukan jalan keluar yaitu dengan menemukan pohon Ara yang ia jadikan untuk sarana melihat Yesus.  Zakheus menemukan cara yaitu dengan memanjat pohon (sejenis pohon kurma: muncul hanya di perjanjian baru yang berhubungan dengan istilah sukaminoz,, sykaminos, sykamine tree) karena saat itu posisi Yesus akan melewati pohon tersebut (pohon ini terdapat di Eropa hanya lebar dan pendek, ranting-rantingnya mudah dipanjat).[16]  Adanya penghalang fisik maupun keadaan yang sedemikian rupa, tindakan Zakheus untuk melihat Yesus dengan cara yang unik ini memperlihatkan perjuangan yang dapat dikatakan gigih. 

4. Inisiatif Yesus (ayat 5)
      Kini adegan memulai reaksi Yesus.  Ayat ini mulai menjawab ayat-ayat sebelumnya berkaitan dengan kondisi kota dan pandangan orang terhadap Zakheus serta status Zakheus sendiri.  Adegan ini secara implisit mulai memberikan gambaran tentang misi Yesus yang bermakna ilahi.  Yesus membuat suatu hal yang mengejutkan, Ia melihat ke atas dan memanggil Zakheus dengan namanya.  Teks tidak memberi tahu bagaimana Yesus mengetahui nama Zakheus sehingga ada beberapa kemungkinan, Yesus mengetahui nama Zakheus secara supranatural (seperti pada Yohanes 1:47-48) atau mendengar mendengar orang-orang yang memanggil Zakheus atau kemungkinan yang lain, Yesus bertanya kepada orang siapa nama Zakheus, dan dalam hal ini, Yesus mengendalikan situasi.[17]  Semakin jelas bahwa Yesus benar-benar memiliki misi untuk kekekalan.  Karena ketika dilihat dalam ayat 5 ini, akan banyak muncul pertanyaan mengapa sebenarnya Yesus harus menumpang di rumah Zakheus.  Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah berkaitan dengan misi tersebut. 
Kata “segeralah” (hurry) dalam bahasa Yunani speusaz dalam Lukas mengandung makna eskatologi yang menggabungkan dengan kehadiran Yesus (catatan menggunakan “today).[18]  Ungkapan Yesus tertulis Aku “harus” menumpang di rumahmu, ini merupakan sebuah ungkapan yang kuat.[19]  Tekanan ini menunjukkan suatu pengdeklarasian bahwa Yesus memiliki maksud dan tujuan mendesak yang tersirat pasti dilaksanakan dan bukan hanya sekedar keinginan belaka.  Dapat dilihat bahwa dalam setiap tindakan Yesus itu menunjukkan otoritas-Nya.  Sikap Yesus ini mungkin saja membuat terkejut orang-orang yang berada di tempat tersebut.  Seperti seakan-akan heran dan menjadi hal yang aneh mengapa Yesus melakukan hal itu.  Signifikansi dari poin ini adalah untuk membangun relasi dengan Zakheus dengan memberitakan kabar baik bagi kerajaan Allah.[20]

5. Respon Zakheus: Menerima Yesus (ayat 6)
            Respon Zakheus dalam ayat 6 ini menunjukkan antusias dan kegirangannya atas pernyataan Yesus.  Ketika Yesus mengumumkan bahwa Ia akan singgah kerumahnya pada hari itu, dan ketika ia menemukan seorang Sahabat baru yang mengagumkan, dengan segera Zakheus mengambil sebuah keputusan.[21]  Keputusan ini bukanlah penolakan namun menerima perintah Yesus dengan sukacita.  Respon Zakheus tidak secara eksplisit mencerminkan iman tetapi tindakan itu cukup jelas dimana Yesus mengungkapan secara dalam.[22]  Tindakan tersebut menyiratkan harapan dan iman Zakheus kepada sesuatu yang lebih dari sekedar ‘menumpang dirumahnya’ tetapi menunjukkan akan ada kepastian sesuatu berharga yang akan diterimanya.  Bahasa dari perintah di sini diulangi, menunjukkan bahwa Zakheus mempersilahkan misi tersebut berlanjut.[23]  Makna ilahi mencerminkan panggilan kedaulatan dan respon manusia yang cukup menonjol.[24] 

II. Ayat 7-10: Hasil Pertemuan
1. Reaksi Semua orang (ayat 7)
            Adegan pada ayat 7 memperlihatkan sedikit krisis terjadi dalam narasi ini. Ketika misi Yesus mulai berjalan dan si Zakheus menanggapinya dengan kegirangan, kini dijumpai pemeran antagonis yang tidak menyukai sikap dan perhatian Yesus kepada Zakheus.  Ekspresi mereka ditunjukkan dengan bersungut-sungut dan mencela tindakan Yesus.  Walaupun pada ayat-ayat sebelumnya belum diceritakan bahwa Yesus telah masuk rumah Zakheus, namun dari pernyataan “Ia menumpang di rumah orang berdosa”, dapat ditafsirkan bahwa gerutu semua orang saat itu terjadi saat Yesus telah sampai di rumah Zakheus.  Dengan demikian, terdapat pemindahan setting yang tadinya berada di luar (di jalan), sekarang telah berada di dalam rumah zakheus.  Hal ini didukung dengan ayat 8 yang langsung menjelaskan berdirinya Zakheus dan melakukan suatu tindakan yang berada dalam rumah.  Sehingga, dapat disimpulkan dari pemindahan setting ini, penulis memadatkan narasi karena cerita tidak menjelaskan proses perjalanan Yesus dan Zakheus ke rumah Zakheus. 
Bersungut-sungut sama dengan kata “menggerutu”, “mengecam” atau “mengucapkan kata-kata celaan”, ini merupakan ungkapan sinis dan tidak senang.[25]  Hal ini terucap oleh “semua orang” dan bukan beberapa orang saja.  Ucapan tersebut menunjukkan bahwa ekspresi itu merupakan pengasingan secara sosial kepada Zakheus.  Hal ini berkaitan dengan pandangan sebagai “orang berdosa” yang ditujukan kepadanya.  Istilah orang berdosa dapat dijelaskan sebagai berikut.[26]  Kata ini memiliki makna yang khusus di kalangan orang-orang Yahudi.  Pemungut-pemungut cukai apalagi kepala pemungut cukai digolongkan sebagai orang berdosa.  Di samping itu, orang-orang yang tidak mentaati hukum taurat, terutama  peraturan yang melarang orang yang makan makanan tertentu, bergaul dengan orang-orang yang bukan beragama Yahudi, di golongkan dengan orang berdosa.  Orang-orang seperti itu dianggap rendah oleh pemimpin agama Yahudi . 
Dengan penjelasan tersebut, Yesus makan dengan Zakheus merupakan hal yang sangat tidak dilayakkan oleh semua orang.  Dari pandangan semua orang ini dapat dilihat bahwa apa yang Tuhan lakukan kepada Zakheus semata-mata hanya karena anugerah.  Kasih karunia-Nya tidak memandang manusia (dalam konteks ini adalah Zakheus) dengan standar manusia (semua orang). 
2. Tranformasi: Pertobatan (ayat 8)
            Kini adegan baru dimulai dengan reaksi Zakheus yang cukup menonjol.  Ia berdiri dan berkata kepada Tuhan.  Tidak disebutkan kapan ia mengucapkan kata-kata itu, namun sangat mungkin ia mengatakannya sesudah makan, yaitu sesudah dia mengamati sikap Tuhan dan mendengar kata-kata-Nya.[27]  Apa yang Zakheus lihat dari Yesus membawanya kepada suatu tindakan yang menunjukkan perubahan yang cukup mengejutkan.  Ia memberi setengah dari hartanya kepada orang miskin dan mengembalikan apa yang sekiranya telah ia peras dengan empat kali lipat.  Hal ini menunjukkan pertobatan Zakheus yang sungguh-sungguh.  Memberi adalah pengalaman yang baru untuk Zakheus karena sebelumnya ia hanya tertarik untuk mengambil, di ayat 8 ia mengatakan bahwa sekiranya ”ada sesuatu yang kuperas” menunjuk pada jenis kalimat bersyarat yang dipakai (Yunani: ei……esykophantesa) memperlihatkan bahwa ia sadar betul telah memeras uang dari orang lain.[28]  Zakheus melakukan tindakan yang radikal kali ini karena restitusi yang normal dalam PL untuk menebus kecurangan tersebut adalah duapuluh persen nilai yang hilang, sehingga dengan tindakan tersebut ia mengembalikan uang melebihi yang seharusnya diperlukan dan ditetapkan, ia menanggung selayaknya sebagai pencuri binatang (kel. 22:1).[29]
             Pertemuan Zakheus benar-benar memberikan dampak dan membawanya mengambil suatu keputusan besar.  Kedatangan Yesus memberikan hidup baru kepada Zakheus dan iapun memperlihatkan ekspresi berterimakasih dimana hal ini membawa perubahan hidup kepada keselamatan.[30]  Kali ini Zakheus ingin menyangkal posisinya sebagai orang berdosa dengan kejujurannya, Fitzmyer berpendapat hal ini memperlihatkan sebuah iman dan jika dilihat dari latar belakang budaya hal ini menunjukkan keseriusan janji Zakheus dan perubahan hatinya.[31]  Perkataan Yesus didahului oleh apa yang dikatakan Zakheus dan membuktikan keajaiban besar seperti yang dimaksudkan dalam 18:24-27 bahwa seorang kaya akan melepaskan diri dari kekayaan hartanya dan menjadi warga kerajaan Allah.[32]  Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil dalam kasih anugerah Allah dan Yesus adalah pribadi yang berotoritas untuk melakukan pemilihan atas kedaulatan-Nya.  Ungkapan Zakheus ini juga kontras dengan gerutu yang disampaikan semua orang. 

3. Penjelasan Yesus (ayat 9-10)
      Yesus menutup bagian ini dengan menjelaskan misi-Nya yang sangat penting dalam kedatangan-Nya.  Pernyataan ini juga dapat dikatakan sebagai kesimpulan dari seluruh perhatian yang dijelaskan dalam adegan-adegan sebelumnya.  Yang ditekankan dalam ayat ini adalah luasnya kasih karunia Allah dimana Zakheus telah bertemu dengan Juruselamat dan hasil dari pertemuan itu berarti bahwa keselamatan itu telah hinggap kepadanya.[33]  Keselamatan kepada rumah ini, berarti bahwa keselamatan tersebut juga untuk setiap orang yang bertemu, yang datang dan menerima diselamatkan.[34]  Perkataan Yesus kali ini ditujukan kepada setiap orang yang hadir dalam rumah tersebut yang diperkirakan ikut mendengar perkataan-perkataan Yesus dan melihat pertobatan Zakheus.  Kata ‘keselamatan’ mengarah pada pemulihan komunita umat Allah dan realita tersebut menandai kehadiran Allah dalam hidup mereka.[35]  Tuhan Yesus mengatakan bahwa “orang inipun anak Abraham”.  Anak Abraham ini berarti bukan hanya orang-orang Farisi dan pemimpin-pemimpin Yahudi yang lain di tempat itu tetapi Zakheus juga, sehingga Zakheus juga menerima berkat yang dijanjikan Allah kepada Abraham.[36]  Selain itu, anak Abraham bukan hanya berarti menyangkut garis keturunan Yahudi tetapi maksud lebih mengarah kepada “jejak langkah” dari iman Abraham (Roma 4:12).[37] Dalam perkataan Tuhan Yesus ini memperlihatkan bahwa kasih-Nya tidak memandang bulu, ia mengangkat seseorang kepada status yang mulia. 
      Pada bagian akhir perkataan Yesus dalam bagian ini, Yesus memberikan penjelasan yang agung mengenai misi-Nya (ayat 10).  Perkataan ini menjawab seluruh hal yang unik di dalam cerita ini.  Bagian Yesus dalam pernyataan keduanya adalah Anak Manusia, kata zhtew digunakan untuk pencarian anak yang hilang (Mat. 18:12; Yez 34:16) dan juga kata sozw  digunakan di area yang sama (Yez 34:22; Yoh 10:9), ide penyelamatan ini adalah sebagai tujuan dari pekerjaan Yesus yang mendunia tetapi pemikiran ini juga mengarah pada eskatologis.[38]  Inilah tujuan Yesus datang ke Dunia dalam karya penebusan-Nya.  Sasaran Yesus adalah orang yang terhilang.  Sungguh istimewa anugerah ini karena benar-benar kontras dengan pandangan dan kasih manusia.  Menyelamatkan yang hilang berarti menyelamatkan siapa saja yang tersesat jalan hidupnya seperti Yesus mengumpamakan sebagai domba yang hilang.[39]  J. Willcock menjelaskan kata hilang ini bukan hanya hilang karena dosa tetapi hilang juga dalam sosial (dikucilkan), hilang dalam keraguan, hilang dalam kelayakan dan hilang dalam sukacita, semua yang dirasakan seakan-akan hilang, sehingga tujuan-Nya adalah untuk menemukan dan menyelamatkan.[40]  Misi Yesus dilakukan melalui inisiatif membangun hubungan dari yang tidak mengenal Allah untuk mengenal Allah dan yang paling penting adalah inisiatif Yesus untuk mencari dan menyelamatkan diberikan kepada mereka yang merespon melalui iman.[41]  Perkataan Yesus ini merupakan suatu pendeklarasian besar.  Pernyataan ini dapat dikatakan sebagai ringkasan dari seluruh kitab “Injil” (yang artinya ‘kabar baik’).[42]
           
Kesimpulan
            Yesus datang saat itu sebagai sosok yang cukup terkenal. Banyak orang yang mungkin ingin melihat-Nya, termasuk Zakheus yang oleh masyarakat setempat dipandang sebagai manusia rendah, berdosa, dan pengkhianat umat Allah.  Namun Yesus berbeda dengan orang banyak. Ia justru mencari dan menyelamatkan Zakheus. Hal ini membawa Zakheus kepada pertobatan yang menuju keselamatan. 

Amanat Teks   : Subyek dan komplemen
Subyek            : Inisiatif Yesus menyelamatkan Zakheus (orang berdosa)
Komplemen     : Apakah hasil dari peristiwa tersebut tersebut? →  perubahan   hidup
                       
AT:  Yesus mencari dan menyelamatkan Zakheus, orang berdosa sehingga Zakheus
         mengalami perubahan hidup.




[1]Leon morris,  The Tyndale New Testament Commentaries LUKE  (Surabaya: Momentum, 2007) 297.
                [2]Darrell L. Bock, Baker Exegetical Commentary on the New Testament: LUKE 9:51-24:53 (Grand rapids: BakerBooks, 1996) 1513.
[3]Ibid. 1493.
[4]Darrell L. Bock, LUKE  [The NIV Application Commentary. (Grand Rapids: Zondervan, 1996) 478]

            [5]Howard Marshall, New International Greek Testament Commentary: Commentary on LUKE.  (Grand rapids: Eerdmans, 1996) 695.
                [6]Oel B. Green, The New International Commentary on the New Testament: The Gospel of LUKE.  (Grand rapids: Eerdmans, 1997) 668.
                [7]B.J Boland, Tafsiran Lukas 9:51-24:53 II (Jakarta: Gunung Mulia, 1982) 180.
                [8]Leon Morris, The Tyndale New Testament Commentaries: LUKE  (Surabaya: Momentum, 2007) 297.
                [9]Boland, Tafsiran Lukas  180.
[10] I.H. Marshall, Tafsiran Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu (Jakarta: Gunung Mulia, 1981) 249.
                [11]William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: INJIL LUKAS. (Jakarta: Gunung Mulia, 2005) 345.
                [12]Bock, The NIV Application 478.
                [13]Bock, Baker Exegetical 1517.
                [14]Green, The New International 670.
                [15]Barclay, Pemahaman 346.
                [16]Bock, Baker Exegetical 1517.
[17]Ibid. 1518.
[18]John Nolland, Word Biblical Commentary (Dallas: WordBooks, 1989) 905.
[19]Morris, The Tyndalle 298.
                [20]Green, The New International  670.
                [21]Barclay, Pemahaman 346.
                [22]Bock, Baker Exegetical  1518.
                [23]Nolland, Word Biblical 905.
                [24]Kenneth L. Baker dan John. R. Kohlenberger III, The Expositor’s Bible Commentary (Grand Rapids: Zondervan, 1994) 271.
            [25]Reiling J. dan J.L Swellengrebel, Pedoman Penafsiran Alkitab: Injil Lukas ([terj. Robert Bratcher] Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia bersama dengan Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia, 2005) 590.
                [26]Ibid.
            [27]Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison, The Wycliffe Bible Commentary. (Malang: Gandum Mas, 1962) 275.
                [28]Ibid.
                [29]Bagian ini diambil dari beberapa sumber yaitu Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison, The Wycliffe 275 dan Bock, Baker Exegetical 1518.
                [30]Marshall, New International Greek 698.
                [31]Bock, Baker Exegetical 1519-1521.
                [32]Boland, Tafsiran Lukas 182.
[33]Ibid.
[34]J. Willcock, The Preacher’s Complete Homiletic Commentary: Commentary on the Gospel According to LUKE (Grand Rapids: BakerBooks, 1996) 506.
[35]Green, The New International 672-673.
[36]Reiling J. dan J.L Swellengrebel, Pedoman 583.
[37]Kenneth L. Baker, NIV Study Bible (Grand Rapids: Zondervan, 2002) 1608.
[38]Marshall, New International Greek 698-699.
[39]Reiling J. dan J.L Swellengrebel, Pedoman 584-585.
[40]J. Willcock, The Preacher’s 506.
[41]Bock, Baker Exegetical 1523.
[42]Boland, Tafsiran Lukas 183.