<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976713270044809204</id><updated>2012-03-03T08:39:41.006-08:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Eksegese'/><category term='Khotbah'/><category term='Buku &quot;7 Langkah ...&quot;'/><title type='text'>Preach The Word</title><subtitle type='html'>Blog ini dipersembahkan kepada setiap hamba Tuhan yang rindu untuk meningkatkan pelayanannya dalam berkhotbah. Kerinduan tsb mempunyai tujuan akhir yang pasti, yaitu hadirnya kemuliaan Tuhan dalam khotbah-khotbahnya sehingga mentransformasi setiap pendengarnya.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bennysolihin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Benny Solihin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02371777664459875856</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>75</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976713270044809204.post-6095556554843805488</id><published>2012-03-03T08:29:00.001-08:00</published><updated>2012-03-03T08:39:41.107-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><title type='text'>Khotbah Markus 13: 3-13</title><content type='html'>&lt;b&gt;WATCH&lt;/b&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                        &lt;b&gt;Oleh&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Astrid&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara mungkin masih mengingat tokoh populer dan berkharisma yang bernama Mbah Marijan.  Dia bukanlah pria idaman saya, namun demikian saya tetap mengagumi satu hal dari dirinya, yakni kesetiaannya.  Pada tanggal 26 Oktober 2010, Mbah Marijan menjadi salah satu korban tewas akibat sapuan awan panas yang meluncur 200 km/jam dari puncak Merapi ke arah desanya di dalam peristiwa letusan Merapi.  Menariknya, jenazah Mbah Marijan ditemukan dalam keadaan sujud dengan sekujur tubuh dipenuhi luka bakar.  Konon, ia menolak dievakuasi oleh Tim SAR karena “Sri Sultan” yang disembahnya tidak memberikan instruksi untuk mengungsi.  Ia tetap bertahan di tempatnya sampai hembusan nafas yang terakhir.  &lt;br /&gt;Saudara-saudara, jika seorang Mbah Marijan bisa bertahan sampai akhir demi sesembahannya yang sesungguhnya bukan Allah, bagaimana dengan kita yang memiliki dan menyembah Allah yang hidup dan berkuasa?   Kita kadang-kadang menjumpai fakta yang ironis karena sejumlah orang “Kristen” dengan mudah meninggalkan Allah yang disembahnya.  Beberapa dari antara mereka diperdaya oleh pengajaran-pengajaran sesat dan filsafat-filsafat kosong yang menawarkan kenikmatan semu.  Beberapa yang lain berpindah keyakinan karena tidak tahan menghadapi tantangan atau penganiayaan dari pihak orang-orang yang membenci Kristus dan pengikutnya.  Beberapa yang lainnya meninggalkan Tuhan demi demi mengejar keuntungan atau kenikmatan duniawi.  Berbagai godaan dan ancaman dapat menggoda orang untuk meninggalkan Tuhan.  Itulah sebabnya, sebagai orang percaya, kita harus senantiasa berjaga-jaga agar di tengah-tengah penyesatan dan penderitaan yang terjadi, kita bisa tetap setia sampai akhir.  Inilah kebenaran yang ingin disampaikan oleh perikop Firman Tuhan yang akan kita pelajari.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penjelasan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara, khotbah Yesus di perikop ini bermula dari ungkapan kekaguman salah seorang murid akan kemegahan Bait Allah di Yerusalem.  Murid tersebut berkata: “Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu!”  Saudara, saya membayangkan, mungkin kekaguman murid tersebut pada Bait Allah mirip dengan kekaguman kita ketika melihat untuk pertama kalinya sebuah gereja yang begitu agung dan megah.  Kita mungkin akan mengatakan, “wuahhh…”.  Namun demikian bagaimanakah tanggapan kita seandainya pada waktu kita mengungkapkan kekaguman tersebut kepada pemimpin rohani kita dan menerima jawaban: “Kaulihat gedung yang hebat ini?  Tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.” Mungkin Saudara akan sangat terkejut dan berpikir: “Hah?  Apa aku nggak salah dengar nih?  Pasti dia bercanda, nggak mungkin ah akan terjadi hal seperti itu.  Itu kan tempat di mana orang beribadah kepada Tuhan.  Tentulah Tuhan akan menjaganya.     &lt;br /&gt;Saudara, pikiran seperti itulah yang mungkin kira-kira ada di benak murid tadi ketika mendengar tanggapan Yesus.  Tidak mungkin Bait Allah akan dihancurkan sampai rata dengan tanah.  Bahkan menurut konsep yang mereka pegang turun temurun sebagai orang Yahudi, bukankah Bait Allah nantinya akan menjadi pusat pemerintahan Mesias.  Mereka yakin bahwa Mesias akan datang untuk membebaskan bangsa Israel dari penjajahan dan kemudian  memulai pemerintahan yang baru dengan Bait Allah sebagai istananya. &lt;br /&gt;Oleh sebab itulah, tanggapan Yesus menyisakan tanda tanya yang besar di benak para murid.  Dipicu oleh rasa penasaran dan ketidakpuasan akan pernyataan Yesus, Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Andreas mengajukan pertanyaan kepada-Nya.  Ada dua hal yang mereka tanyakan: pertama, bilamanakah itu akan terjadi?  Dan kedua, apakah tandanya, kalau semua itu akan sampai kepada kesudahannya?&lt;br /&gt;Sampai di sini, ada pertanyaan kritis muncul di benak saya.  Jika melihat konteksnya, para murid menanyakan kapan saatnya Bait Allah akan dihancurkan.  Namun, mengapa LAI memberi judul “Khotbah Akhir Zaman”?  Tentu saja LAI tidak akan sembarangan memberi judul.  Saya mencoba mencari jawabannya dengan mempelajari kata “kesudahannya” dari bahasa aslinya (suntheleisthai).  Kata kerja sunteleisthai tidak mutlak harus dihubungkan dengan kesudahan dunia (sunteleia tou aionos).  Kata kerja itu dapat juga bersifat umum, yaitu selesainya masa tertentu (Luk. 4:2, 40 hari; Kis. 21:27, tujuh hari) atau tuntasnya perbuatan tertentu (Luk. 4:13, pencobaan di padang gurun).  Oleh karena itu, berdasarkan konteks pembicaraan sebelumnya, sangat kuat kemungkinan bahwa para murid memakainya untuk merujuk pada kehancuran Bait Allah.&lt;br /&gt;Namun analisa kata tersebut tidak cukup memuaskan saya karena tanda-tanda yang diberikan Yesus di ayat 5-13 sepertinya mengarah kepada akhir zaman.  Pencarian saya berujung manis ketika saya membaca tulisan Anthony A. Hoekema.  Ia mengatakan bahwa metode pengajaran yang dipakai oleh Yesus dalam Markus 13 adalah nubuat ganda, artinya peristiwa-peristiwa yang masih jauh di depan dan perstiwa-peristiwa yang akan segera terjadi dibicarakan secara simultan, sehingga seolah-olah keduanya terjadi pada waktu yang bersamaan.  Jadi, Yesus sedang menjawab pertanyaan para murid mengenai saat kehancuran bait Allah, sekaligus memanfaatkannya untuk menjelaskan mengenai akhir zaman.  Metode nubuat ganda ini sebenarnya bukanlah hal yang aneh karena sering dilakukan oleh nabi-nabi dalam PL.  Untuk lebih jelasnya, mari kita memperhatikan tanda-tanda yang diberikan oleh Yesus:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya mesias-mesias palsu&lt;br /&gt;Dalam ayat 6 ditulis: “Akan datang banyak orang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.”  Dengan kata lain, akan muncul orang-orang yang mengaku diri sebagai Mesias/Kristus.  Tentu saja klaim itu akan dibarengi dengan kemampuan mengadakan tanda-tanda dahsyat dan berbagai mukjizat. Dalam sejarah Yahudi, fenomena mesias palsu ini mencuat terutama pada Revolusi Yahudi tahun 66 Masehi, di mana situasi yang ada membuat pengharapan akan kedatangan mesias begitu besar.  Banyak orang mengaku diri sebagai mesias dan sebagian memimpin gerakan melawan pemerintahan Romawi.  Contohnya, orang bernama Theudas mengaku mampu membelah Sungai Yordan.  &lt;br /&gt;Namun mesias-mesias palsu ternyata bukan hanya ada di zaman dahulu.  Pada tahun 1983, David Koresh mengaku mendapatkan wahyu sebagai orang yang terpilih untuk menyelamatkan dunia. Beberapa waktu kemudian ia malah mengaku sebagai mesias.  Kedoknya baru terbuka ketika ia tewas bersama sekitar 80 pengikutnya di Waco, Texas, di tengah kepungan FBI atas tuduhan kepemilikan senjata api ilegal.  Baru-baru ini, seorang pendeta dari gereja Growing In Grace di South Florida juga memproklamirkan diri sebagai penjelmaan Yesus Kristus.  Nama pendeta itu adalah Jose Luis De Jesús Miranda.  Namun, pengakuan itu sama sekali tidak dapat dipercaya karena kehidupannya tidak memperlihatkan karakter ilahi.  Berasal dari Puerto Rico, De Jesus mulai terlibat narkoba sejak usia 14 tahun dan sempat masuk keluar penjara akibat keterlibatannya dalam berbagai bentuk kejahatan. &lt;br /&gt;Dari fakta-fakta tadi, jelaslah bahwa mesias-mesias palsu muncul dari zaman ke zaman, bukan hanya ada sebelum kehancuran bait Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi perang, gempa bumi, dan kelaparan&lt;br /&gt;Kembali ke perikop yang kita pelajari, ayat 8 mencatat: “Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan.  Akan terjadi gempa bumi di berbagai tempat, dan akan ada kelaparan.”  Saudara-saudara, seringkali orang menghubungkan pernyataan ini dengan peperangan antara Roma dan Partia atau perang saudara yang terjadi sesudah Nero meninggal (68-69 Masehi), bencana kelaparan dalam pemerintahan Kaisar Claudius, serta gempa bumi di Kolose, Laodikia, Kreta dan Smirna.  Tetapi jika kita mau kritis, bukankah sampai saat ini pun  peperangan masih terus terjadi: India dan Pakistan, Palestina dan Israel, dan sebagainya?  Mengenai gempa bumi, tidak perlu jauh-jauh mencari contoh di negara lain.  Tentu masih segar di ingatan kita bahwa beberapa wilayah Indonesia silih berganti diguncang gempa: Aceh, Padang, Bengkulu, Mentawai, dan sebagainya.  Kelaparan pun adalah fenomena umum di sekitar kita.  Jadi, tanda kedua ini pun tetap terjadi dari dulu hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi penganiayaan orang percaya&lt;br /&gt;Ayat 9 dari perikop kita mencatat peringatan Yesus kepada para murid: “Tetapi kamu ini, hati-hatilah.  Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku…”  &lt;br /&gt;Saudara-saudara, kita tahu bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus itu telah dialami sendiri oleh para Rasul dan orang-orang percaya pada masa pemerintahan Romawi.  Penganiayaan itu berlanjut sampai dengan masa kini.  Di sejumlah negara, orang Kristen sangat sering dianiaya.  Di Korea Utara, misalnya, seluruh kegiatan keagamaan dilihat sebagai pemberontakan terhadap pemujaan Kim Jong Il dan ayahnya.  Ketika orang-orang Kristen ditemukan, mereka sering ditangkap, disiksa, dan kadang-kadang bahkan dibunuh.&lt;br /&gt;Tanda ketiga ini pun tidak hanya terjadi sebelum keruntuhan bait Allah, melainkan hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian dapat kita simpulkan seluruh tanda yang diberikan oleh Yesus sebenarnya merupakan peristiwa-peristiwa yang umum terjadi dari zaman ke zaman, bukan hanya terjadi di suatu masa.  Kalau begitu, apakah tujuan Yesus menyebutkan tanda-tanda tersebut?  Outline Markus 13:5-13 memberikan hal yang menarik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waspadalah (blepete) supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;Semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kamu ini, hati-hatilah (blepete)! &lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, perkataan Yesus tersebut sebenarnya adalah sebuah retorika, suatu model pembicaraan seperti yang digunakan oleh seorang dosen berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iustrasi&lt;br /&gt;Di sebuah sekolah teologi, ada seorang dosen yang memiliki metode pengajaran yang unik.  Di dalam silabus yang diberikan tertulis bahwa nilai akhir para siswa sebesar 100% ditentukan oleh nilai ujian.  Namun hal yang mengusik para mahasiswa adalah di silabus tersebut tidak dicantumkan akan ada berapa kali ujian, bagaimana bentuknya, dan tanggal berapa ujian tersebut akan dilaksanakan.  Padahal, kejelasan mengenai ujian tersebut sangat penting karena menentukan lulus atau tidaknya mereka dari mata kuliah itu.  Maka segera saja para mahasiswa yang kritis mengangkat tangan mereka dan bertanya mengenai hal itu.&lt;br /&gt;Menghadapi pertanyaan para mahasiswa, dosen tersebut tersenyum dan dengan tenang menjawab: “Dalam kuliah saya nanti, ada saatnya kalian diminta untuk membentuk kelompok untuk berdiskusi, namun itu bukanlah ujian.  Akan ada beberapa bahan yang diberikan untuk dibaca, namun itu hanyalah persiapan untuk ujian.  Ada waktunya kalian akan saya ajak keluar kampus untuk secara langsung mempraktikkan apa yang telah kita pelajari kepada masyarakat.  Namun itu juga bukan ujian yang dimaksud.”&lt;br /&gt;Mendengar jawaban tersebut, salah seorang mahasiswa kembali mengangkat tangannya dan bertanya: “Maaf, pak, sepertinya pertanyaan saya belum terjawab.  Saya menanyakan kapan ujian tersebut akan dilangsungkan dan bagaimana bentuknya.  Tetapi yang bapak paparkan tadi malah yang bukan ujian.”&lt;br /&gt;Dosen itu dengan senyum lebih lebar lagi berkata: “Tepat!  Justru itulah, saya ingin kalian senantiasa siap sehingga kapanpun ujian dilaksanakan dan bagaimanapun bentuknya, kalian akan dapat mengerjakannya dengan baik.”&lt;br /&gt;Saudara, seperti dosen tadi, Yesus juga menggunakan retorika yang sama untuk memperingatkan para murid agar senantiasa berjaga-jaga sehingga kapan pun Ia datang kembali, mereka didapati tetap setia.  &lt;br /&gt;Seorang penafsir berkata bahwa tema utama dalam pasal 13 adalah “watch” (Yun: blepete; Ind: lihat, hati-hatilah, berjaga-jagalah).  Kata Yunani blepete diulang sampat lima kali di pasal oleh Markus, yaitu di ayat 2 (kaulihat), 5 (waspadalah), 9 (hati-hatilah), 23 (hati-hatilah), dan 33 (hati-hatilah).  Kata-kata yang diulang adalah kata-kata penting.  Hal ini makin meneguhkan bahwa Yesus sedang sungguh-sungguh mengingatkan para murid agar senantiasa waspada terhadap penyesatan dan penganiayaan yang akan mereka alami sehingga tidak sampai membuat mereka berbalik dari imannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi&lt;br /&gt;Saudara-saudara, sebagai orang-orang percaya kita patut bersyukur karena memiliki pengharapan sejati di dalam Tuhan Yesus Kristus.  Namun pergumulan hidup di tengah penyesatan dan penganiayaan dapat menutup mata rohani sehingga orang-orang percaya dialihkan dari pengharapan itu.  Ada banyak orang Kristen yang menderita karena imannya dan mungkin mulai berpikir untuk meninggalkan Tuhan.  Mereka membutuhkan orang-orang untuk mengajarkan kebenaran dan membentengi mereka dari penyesatan.  Mereka membutuhkan orang-orang untuk memberi kekuatan ketika berada dalam pergumulan dan imannya mulai goyah.  Siapakah orang-orang yang dipanggil untuk menjalankan tugas mahapenting tersebut?  Saudara dan saya, orang-orang yang tahu kebenaran akan hal ini!  Namun, apa jadinya jika kita sendiri justru tidak mampu membedakan mana mesias asli dan mesias palsu; mana ajaran yang benar dan mana yang sesat?  Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk membekali diri dengan pemahaman Alkitab yang benar, sekaligus menghidupi pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari.  Tanpa pemahaman Alkitab yang benar kita akan mudah terpedaya oleh mesias-mesias palsu dan ajarannya yang menyesatkan.  Tanpa pemahaman Alkitab yang benar, kita tidak akan dapat berapologetika ketika kekristenan digugat.  Tanpa pemahaman Alkitab yang benar-benar kita hidupi, kita tidak akan dapat bertahan ketika mengalami tantangan hidup/penganiayaan.&lt;br /&gt;Saudara-saudara, kita patut bersyukur jika saat ini negara kita masih memberi kebebasan pada orang Kristen untuk beribadah.  Namun itu tidak menjamin selamanya kita akan hidup aman dan damai.  Ada banyak orang yang berusaha menghambat kekristenan dan menghambat kita untuk sungguh-sungguh mengikut Tuhan, bahkan hambatan itu bisa muncul dari orang-orang terdekat dengan kita seperti keluarga kita.  Menembus hambatan itu tentu bukan perkara yang mudah.  Namun demikian, jangan takut Saudara, tetaplah berdiri teguh dan kerjakan tugas pelayanan kita sebab kita tidak pernah ditinggalkan sendiri.   Allah akan menolong kita, bahkan menjadikan kita mampu menjadi saksi bagi mereka yang ingin berbuat jahat terhadap kekristenan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Saudara, mesias-mesias palsu akan terus-menerus bermunculan untuk menyesatkan orang percaya.  Penganiayaan demi penganiayaan akan terus terjadi untuk membuat orang-orang Kristen berbalik dari imannya.  Namun semua itu tidak berarti kita harus diam dan menyerah dengan keadaan.  Biarlah kita membiarkan diri terus dibakar oleh api Roh Kudus utnuk mencari dan menyuarakan kebenaran; tetap teguh berdiri di jalan Tuhan sampai akhir hidup sekalipun harus menderita aniaya.  Tuhan telah berfirman: barangsiapa bertahan sampai pada kesudahannya, ia akan selamat.  Kiranya Tuhan menolong kita.  Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7976713270044809204-6095556554843805488?l=bennysolihin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bennysolihin.blogspot.com/feeds/6095556554843805488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2012/03/khotbah-markus-13-3-13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/6095556554843805488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/6095556554843805488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2012/03/khotbah-markus-13-3-13.html' title='Khotbah Markus 13: 3-13'/><author><name>Benny Solihin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02371777664459875856</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976713270044809204.post-2273438317787301462</id><published>2012-02-18T22:58:00.000-08:00</published><updated>2012-02-18T23:00:58.632-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><title type='text'>Khotbah Mazmur 13</title><content type='html'>&lt;div class="WordSection1"&gt;&lt;h1&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 14pt; line-height: 120%;"&gt;Menenggak Kesegaran di Padang Gurun&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 14pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 120%;"&gt;Oleh &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 14pt; line-height: 120%;"&gt;Danny A. Gamadhi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Dikutip dari buku &lt;i&gt;Mengkhotbahkan Mazmur Ratapan&lt;/i&gt; oleh Danny A. Gamadhi)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 14pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Adegan 1: Ketika mengalami kesesakan, apa respons kita?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Bertahun-tahun yang lalu, sebelum telepon selular menjadi benda yang lazim, seorang pemimpin seminar bertanya kepada para pesertanya, “Jika seseorang datang ke pertemuan ini, memanggil nama Anda, dan berkata, ‘Ada telepon untuk Anda,’ apakah Anda menduga telepon itu akan menyampaikan kabar baik atau kabar buruk?” Sebagian besar dari kita mengakui bahwa kita akan berpikir itu kabar buruk, tetapi kita tidak yakin mengapa dapat berpikir demikian. Hal ini menunjukkan beban yang pada umumnya ditanggung banyak orang, yakni rasa takut terhadap kabar buruk. Mengapa bisa demikian? Karena memang pada dasarnya hidup kita hari ini dipenuhi dengan kabar buruk, penderitaan, dan masalah yang berlarut-larut. Pengalaman kesesakan ini membawa kita merasa seperti tengah berada di padang gurun yang luas: gersang, panas, tidak ada pemandangan yang indah, dan tidak tampak ujung dari gurun tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Para teolog juga sering kali mengaitkan pengalaman kesesakan dengan suasana di padang gurun. Oleh sebab itu, dalam perbendaharaan Teologi Spiritual ada sebuah terminologi yang menggambarkan keadaan kekeringan rohani, tidak ditolong Allah, dan penderitaan yang tak kunjung usai sebagai, “&lt;i&gt;the wilderness&lt;/i&gt;” atau padang gurun. Keadaan seperti ini dapat dipastikan dialami oleh setiap orang percaya. Pengalaman berada di “padang gurun” dialami seorang janda yang baru kehilangan suaminya. Pengalaman berada di “padang gurun” dialami seorang ayah yang telah tiga bulan di-PHK dan belum mendapatkan pekerjaan lagi. Pengalaman berada di “padang gurun” juga dialami oleh seorang yang terbaring di atas ranjang rumah sakit selama berbulan-bulan dan tak kunjung membaik. “Padang gurun” juga dialami oleh Saudara dan saya hari ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;(Di sini pengkhotbah dapat memutar video yang berisi pergumulan hidup yang berat, keputusasaan seseorang, masalah rumah tangga, masalah pergaulan, dan kejadian-kejadian lain yang memilukan hati penderitanya. Contoh-contoh konkret dari pergumulan sehari-hari dapat juga ditampilkan dalam bentuk video maupun foto-foto.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Ada seorang gadis yang baru bertunangan dengan seorang pemuda yang bekerja sebagai tentara. Sebagai kekasih seorang tentara, ia sangat bangga memiliki tunangan yang gagah, tampan, dan yang terpenting sangat mengasihi dirinya. Ketika mereka hendak menikah, mereka terpaksa menunda tanggalnya karena sang pemuda diutus untuk berperang. Sembilan bulan sudah sejak sang pemuda berangkat, tak sekalipun sang gadis mendengar kabar tentangnya. Pikirannya mulai panik dan setiap sore ia berdiri di pintu gerbang rumahnya menanti tunangannya pulang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Suatu sore pada bulan November yang sejuk, seorang yang pincang berjalan dari kejauhan. Ia berjalan terus menuju rumah si gadis. Gadis tersebut memperhatikan wajah orang ini yang hancur, kulit tubuhnya yang penuh luka bakar, dan sebuah kaki palsu untuk menopang tubuhnya. Tapi yang paling mengejutkan bagi si gadis ialah ia memanggil sang gadis dengan sebutan yang hanya digunakan oleh kekasihnya. Mulutnya terkatup rapat, “Mungkinkah dia itu …?” Pria itu memanggil sekali lagi dan sadarlah ia seketika bahwa orang ini adalah kekasihnya yang pulang dari perang. Sang gadis berlari mendapati kekasihnya, dan dengan mencucurkan air mata, ia memeluknya dengan erat. Saudara tahu kata-kata apa yang pertama kali keluar dari mulut sang gadis? Ia berkata, “&lt;i&gt;Thank God, you’re alive&lt;/i&gt;” dan memeluk kekasihnya kembali. Di tengah tragedi yang menimpa gadis itu, ia mampu tetap bersukacita di tengah kesesakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Lain halnya dengan gadis tadi, ada beberapa orang lain yang juga menghadapi kesesakan dalam hidupnya. Pada tahun yang sama setidaknya ada empat orang yang menjatuhkan dirinya dari lantai atas sebuah mal besar di Jakarta. Tubuh mereka menghantam lantai yang keras dan kehilangan nyawanya seketika. Salah satu dari mereka adalah seorang bapak berusia 61 tahun. Ia sudah lama tidak bekerja dan tidak memiliki uang lagi. Putus asa dengan hidupnya yang berat, ia memilih untuk mengakhirinya dengan instan. Tetapi tiga di antaranya adalah para gadis muda. Mereka sehat, punya pendapatan, dan punya masa depan. Salah satu dari wanita itu hatinya hancur tatkala ditinggalkan oleh kekasihnya. Ia merasa tidak punya alasan untuk hidup lagi. Pada suatu sore ia menjatuhkan dirinya dari sebuah balkon apartemen yang tingginya lebih dari 20 lantai. Tubuhnya terkejang di tanah setelah menghantam aspal yang keras sampai akhirnya ia tidak bergerak lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Manusia hidup tidak lepas dari masalah dan kesesakan. Kita hidup di tengah dunia yang kompleks, &lt;i&gt;demanding&lt;/i&gt;, penuh intrik, melelahkan, bersaing ketat, dan jahat. Pertanyaannya adalah, ketika mengalami kesesakan, apa respons kita? Dapatkah kita tetap segar di tengah padang gurun?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Adegan 2: Dalam menghadapi kesesakan, Daud meratap kepada Allah (ay. 2-3)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Ketika masalah datang, sebagian orang punya kecenderungan untuk menutupi dan melupakan masalah itu. Ada yang berusaha menenggelamkan masalahnya dengan minum-minuman keras tetapi mereka lupa bahwa “masalah dapat berenang.” Ada yang melampiaskan stres mereka dengan mencari hiburan malam. Alhasil, masalah mereka bertambah banyak. Ada yang berpikir bahwa “&lt;i&gt;time will heal&lt;/i&gt;” tetapi itu pun hanya mitos. Waktu tidak menyembuhkan. Akhirnya masalah mulai merampas keceriaan, kebebasan, waktu-waktu berkualitas, dan akhirnya kesehatan kita. Sambil “tertatih-tatih” kita menjalani hidup yang berat di tengah dunia yang kejam. Dunia tidak peduli dengan keadaan kita, ia memaksa kita untuk tetap senang dan tidak memikirkan masalah. Namun sebenarnya, masalah itu masih ada dan terus menggerogoti siang dan malam. Inilah yang terjadi pada Raja Daud.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Suatu kali Daud mengalami kesesakan yang sangat berat. Ia tidak memberi tahu dengan jelas kesesakan apa yang tengah dihadapinya, ia seolah memberi ruang bagi kita untuk meletakkan kaki kita di sepatunya. Di tengah kesesakannya itu ia menggubah sebuah mazmur yang mengutarakan semua kekecewaan, ketakutan, dan penderitaannya. Hari ini Daud mengundang kita untuk masuk ke dalam pergumulan beratnya melalui M&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;zm&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;ur&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt; 13, sebuah mazmur ratapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Daud memulai ratapannya secara “&lt;i&gt;to the point&lt;/i&gt;” dan dengan tegas menyatakan perasaannya yang terdalam, “Berapa lama lagi &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt; Kaulupakan aku, selamanya? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” (ay. 2). Daud yang dikenal gemar memuji Allah kali ini bukan dalam keadaan yang penuh iman dan bersuka karena Allahnya. Ia sedang mengacungkan tangannya terhadap Allah dan berteriak sambil mencucurkan air mata. Allah yang dahulu menolongnya menghadapi binatang buas, kini meninggalkannya dalam kelemahan. Allah yang dahulu menyertainya ketika berhadapan dengan musuh-musuhnya, kini meninggalkannya sendirian dalam ketakutan dan kegelapan yang paling kelam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Daud mengatakan bahwa Allah telah melupakan dan menyembunyikan wajah-Nya. Wajah Allah melambangkan kehadiran Allah yang membawa berkat dan pertolongan. Ketika Daud tak kunjung melihat wajah Allah, ia merasa Allah berlambat-lambat dalam menolongnya atau bahkan menolak untuk menolongnya. Oleh karena itu Daud berseru, “Berapa lama lagi &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt;? Selamanya?” Di satu sisi Daud masih menanti dan menanti, di sisi lain hatinya mulai ragu tatkala melihat tangan yang Maha&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;uasa berubah. Allah mendiamkannya. Jiwanya dipenuhi konflik antara realitas dan iman. Imannya mengatakan untuk tetap menanti pertolongan &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt;, namun realitas berkata lain: “Allahmu telah meninggalkan engkau!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Penderitaan yang Daud alami kini memasuki area yang lebih dalam. Ia bukan hanya menderita tekanan dari luar tetapi jiwanyapun tersiksa. Dengan pilu Daud berkata, “Berapa lama lagi aku harus merasakan kesakitan di dalam jiwaku, kesedihan di dalam hatiku, siang dan malam. Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?” (ay. 3).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Setelah Daud meratap bahwa Allah telah mengabaikan dan melupakannya, ia terduduk dalam keputusasaan. Mulutnya terkatup. Hatinya sakit bagaikan disayat-sayat belati. Penderitaan Daud tidak berhenti di situ. Ia berkata bahwa ia merasakan penderitaan psikis siang dan malam, alias setiap saat! Ia merasakan ketidakmampuan dalam menghadapi masalahnya, musuh-musuhnya berkuasa atas dia, dan Allah? Allah, satu-satunya Penolong yang dapat diandalkan diam seribu bahasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Pernahkah Saudara mengalami pergumulan yang Daud alami? Pernahkah Saudara disudutkan dari berbagai sisi, rekan-rekan kerja Saudara bersepakat untuk menjerumuskan Saudara, teman-teman dekat Saudara tidak mampu menolong dan yang lain terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Satu-satunya harapan Saudara terletak pada atasan Saudara yang bisa menolong dan membela. Ia yang tahu bahwa Saudara tidak bersalah. Tetapi alih-alih membela Saudara, ia malah melepaskan diri dari masalah dan menolak untuk ikut campur. Bagaikan seorang dokter yang paling ahli untuk mengobati penyakit Anda, tetapi alih-alih memberikan resep obat dan memberikan perawatan, ia menutup pintu dan menolak untuk menolong Anda. Ia meninggalkan Saudara ketika Saudara paling membutuhkan pertolongannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Inilah yang Daud alami, pada saat-saat kritis ketika Daud paling membutuhkan kehadiran &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt;, Ia malah menghilang tanpa jejak, tidak menolong, bahkan meninggalkan Daud sendirian. Oleh karena itu ia berseru, “Berapa lama lagi, &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Kaulupakan aku, selamanya? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt; Oh, betapa mengerikan keadaan ini. Apabila Allah saja tidak menolong, siapa yang mampu menolong?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Bertanya atau mempertanyakan Allah merupakan hal yang lazim dalam tradisi Israel kuno. Dalam Kejadian 4, Kain bertanya pada Allah, “Apakah aku penjaga adikku?” (Kej. 4:9). Abram menjawab Allah yang berjanji dengan mengajukan pertanyaan, “A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;pakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu” (15:2). Dan dalam kitab Ayub, dicatat Ayub mempertanyakan Allah mulai dari pasal 3 dan tidak berhenti hingga di pasal 38 Allah akhirnya menampakkan diri padanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bukanlah permintaan sederhana untuk mencari tahu sebuah informasi melainkan sebuah ekspresi keraguan yang mendalam. Mereka perlahan-lahan mulai meragukan karakter dan aktivitas Allah serta dampaknya pada hidup manusia. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan produk dan respons terhadap pengalaman &lt;i&gt;the hiddenness of God&lt;/i&gt;, Allah yang menyembunyikan diri-Nya. Terlebih lagi, Ia berdiam diri, menolak untuk hadir dan bertindak sebagaimana diharapkan manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;&amp;nbsp;Bukannya informasi, pertanyaan-pertanyaan ini menantikan kehadiran ilahi di tengah kesesakan yang menimpa. Pertanyaan-pertanyaan ini menantikan tindakan nyata dari Allah. Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan iman seseorang yang masih menantikan &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt; tatkala pilar-pilar kepercayaannya mulai digoyahkan oleh pengalaman-pengalaman yang menyakitkan. Pertanyaan-pertanyaan ini menjaga seseorang tetap waras di tengah segala tekanan berat yang menimpanya. Dalam keadaan seperti ini, Asaf, pemazmur lainnya, juga bertanya-tanya,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoQuote"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;“Untuk selamanyakah Tuhan menolak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoQuote"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan tidak kembali bermurah hati lagi? &lt;sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoQuote"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoQuote"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; telah berakhirkah janji itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoQuote"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; berlaku turun-temurun? &lt;sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoQuote"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Sudah lupakah Allah menaruh kasihan, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoQuote"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; atau ditutup-Nyakah rahmat-Nya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoQuote"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; karena murka-Nya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoQuote"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Maka kataku: “Inilah yang menikam hatiku, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoQuote"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bahwa tangan kanan Yang Mahatinggi berubah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;(Mzm. 77:8-10)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Selain Daud dan Asaf, di bagian dunia yang lain pada masa yang lain ada seorang yang pernah mengalami hal tragis dalam hidupnya. Ia adalah seorang pengacara dan dosen hukum di Chicago yang sukses dan terkenal. Ketika menginjak usia 40, karirnya menanjak, ia menjadi kaya raya dan menanam investasi yang sangat besar pada bisnis &lt;i&gt;real estate&lt;/i&gt; di pusat kota Chicago. Namun satu bulan kemudian terjadi kebakaran besar di kota itu dan rumah-rumah di tepi sungai Michigan, tempatnya menanam modal, hangus terbakar tak bersisa padahal belum lama sebelum kebakaran tersebut, sang pengacara baru saja kehilangan putranya. Tidakkah hatinya menjerit? Tetapi penderitaannya belum berakhir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Dua tahun setelah kebakaran, pengacara yang adalah seorang Kristen yang melayani ini merencanakan sebuah perjalanan ke Eropa bersama keluarganya. Ia hendak menyusul pendetanya yang pergi untuk melayani dan mengajak serta keluarganya untuk berlibur di Eropa. Ketika mereka hendak berangkat, tiba-tiba seorang rekan bisnis menghubunginya dan meminta agar ia menyelesaikan transaksi bisnisnya yang tidak dapat ditunda. Akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di Chicago beberapa hari dan menyusul dengan kapal yang berikutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Keluarga pengacara ini berlayar di atas kapal pesiar megah yang bernama &lt;i&gt;Ville du Havre&lt;/i&gt;. Pada tanggal 22 November kapal ini dihantam kapal Inggris, &lt;i&gt;Lockhearn&lt;/i&gt;, dan tenggelam seketika dalam dua belas menit. Sembilan hari kemudian, ia menerima telegram dari istrinya yang saat itu berada di Wales yang berisi, “&lt;i&gt;Saved alone&lt;/i&gt;”, “selamat sendiri.” Keempat putrinya yang turut berlayar tewas tenggelam di tengah laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;“Di mana Allah ketika kebakaran terjadi? Di mana Allah ketika putranya sekarat? Di mana Allah ketika anak dan istrinya menjerit minta tolong di tengah lautan? Di mana Allah ketika keempat putrinya kehabisan napas dan merasakan paru-parunya terbakar karena kehabisan oksigen? Di mana Allah? Apa yang Ia sedang lakukan? Mengapa semua ini terjadi?” Mungkin ini juga seruan yang keluar dari mulut kita ketika bencana menimpa, sakit-penyakit, musuh, atau kesesakan apapun menimpa, terutama ketika Allah seakan menghilang dan tak kunjung memberikan pertolongan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Apabila saat-saat seperti itu datang dalam hidup Saudara, merataplah di hadapan Tuhan. Bawa semua kesesakan Saudara pada-Nya. Jangan tahan-tahan kepenatan yang Saudara rasakan, utarakanlah kepada Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;(Pada bagian ini, berhentilah berkhotbah untuk beberapa saat. Lantunkanlah musik yang tenang untuk mengiringi jemaat menyelami pengalaman hidup mereka yang berat dan penuh pergumulan. Berikan mereka waktu untuk merasakan kembali kesesakan yang tengah mereka alami).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Adegan 3: Tetapi Daud tidak berhenti pada ratapannya, ia memohon dengan gigih (ay. 4-5)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Setiap orang memiliki respons yang berbeda ketika diperhadapkan dengan masalah. Sebagian orang menjadi nekad, sebagian lagi memilih untuk mundur dan menerima keadaan apa adanya, tetapi apa yang Daud lakukan? Daud memilih untuk berdoa. Berdoa memohon pada &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt; yang empunya langit dan bumi untuk menolong. Inilah yang Daud lakukan. Setelah menaikkan protesnya kepada Allah, Daud tidak mencuci muka lalu pergi begitu saja. Daud berdoa, dan memohon dengan sangat, “Pandanglah kiranya, &lt;i&gt;dengarlah&lt;/i&gt; aku, ya &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt;, Allahku!” (ay. 4). Permohonan ini merupakan doa koresponden dari ratapannya. Jikalau sebelumnya Daud merasa Allah menyembunyikan wajah-Nya, sekarang ia memohon agar Allah &lt;i&gt;memandang&lt;/i&gt; padanya. Jika sebelumnya Daud merasa Allah melupakannya, kini ia memohon agar Allah &lt;i&gt;menjawab&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;mendengarnya&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Daud “berani” memohon kepada &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt; sebab ia memandang &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt; sebagai Allah yang telah mengikat perjanjian dengan umat-Nya. Hal ini nyata ketika Daud untuk pertama kalinya dalam mazmur ini menyebut &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt; sebagai, “&lt;i&gt;My God&lt;/i&gt;”, “Allahku” (ay. 4a). Di sini ia mengklaim bahwa &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt; adalah &lt;i&gt;Allahnya&lt;/i&gt; Daud secara personal. Dengan demikian, Daud memiliki hak untuk memanggil dengan keyakinan kokoh bahwa ia akan didengarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Setelah memohon, “pandanglah,” “jawablah,” dengan keyakinan yang sama Daud memohon lagi, “Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dalam kematian” (ay. 4b). Mata yang redup melambangkan habisnya kekuatan atau bahkan kematian. Ketika memohon agar &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt; membuat matanya bercahaya, Daud sedang memohon agar diberikan kekuatan baru dan kelepasan dari maut yang mengancamnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Mazmur ini sarat dengan emosi pemazmur yang berkecamuk. Jika di bagian pertama berulang kali Daud berseru, “Berapa lama lagi?” dalam bagian ini ia memohon dengan gigih. Hal ini tampak bukan hanya dari tiga kata seru, “Pandanglah … jawablah … buatlah bercahaya!” tetapi juga dari alasan Daud, “Supaya jangan musuhku berkata: ‘Aku telah mengalahkannya,’ dan lawanku bersukacita atas kejatuhanku” (ay. 5). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Permohonan Daud sungguh gigih. Ia bagaikan seorang anak yang menarik tangan ibunya dan sambil menatap ibunya, ia berkata, “Bu, dengarkan aku!” atau seperti seorang karyawan yang memohon belas kasihan atasannya, “Pak, saya mohon beri saya satu kesempatan lagi. Saya pasti memperbaiki kesalahan saya. Saya mohon jangan pecat saya.” Inilah yang menjadi kunci kemenangan Daud juga, ia &lt;i&gt;memohon&lt;/i&gt; pada Allah. Ia memohon dengan gigih dan tiba-tiba, ia mendapati dirinya dipenuhi dengan sukacita. Daud meletakkan bebannya pada Allah dan ia mengalami hatinya terangkat dari penjara ketakutan kepada pujian dan penyembahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Adegan 4: Permohonan Daud menghasilkan kesegaran di tengah kesesakan (ay. 6)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Daud dipojokkan oleh musuh-musuhnya, didera sakit-penyakit, dirudung maut, dan “ditinggalkan” Allah tetapi tiba-tiba ia berbalik arah. Hati Daud tiba-tiba melonjak, seperti Yohanes Pembaptis yang melonjak dalam kandungan ketika berjumpa Yesus. Kesedihannya sirna seperti embun yang diterangi cahaya mentari. Matanya berseri-seri lagi, tangannya mengepal dengan kekuatan, mulutnya penuh dengan tertawa, dan lidahnya penuh dengan sorak-sorai,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoQuote"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Tetapi aku, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;di dalam kasih setia-Mu aku percaya,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoQuote"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; hatiku bersukacita di dalam keselamatan-Mu, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoQuote"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;aku hendak bernyanyi kepada &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt;, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoQuote"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; karena Ia melimpahkan kebaikan padaku.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;(ay. 6)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Ia berdiri dan meminyaki rambut kepalanya. Ia mengenakan jubah rajanya kembali dan mengambil alat-alat musiknya. Daud bernyanyi lagi! Kali ini lebih girang dari sebelumnya. Ia telah menemukan rahasia besar: &lt;i&gt;kesegaran di padang gurun&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt; Apa yang membuatnya demikian bersukacita di tengah-tengah kesesakan? Apakah ia berhasil melupakan masalahnya? Tidak. Apakah dia pasrah saja dan menolak memikirkannya lagi? Tidak. Apakah dia tiba-tiba mendapat jalan keluar yang ajaib: musuh-musuhnya tersapu tsunami dan penyakitnya hilang? Tidak.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Jawabannya adalah, Daud menemukan apa yang disebut dalam bahasa Ibrani “&lt;i&gt;ḥesed ā&lt;u&gt;ḏ&lt;/u&gt;ōnāy&lt;/i&gt;” atau dalam bahasa Inggris, “&lt;i&gt;God’s unfailing love&lt;/i&gt;.” Dalam frasa ini terkandung makna loyalitas Allah terhadap suatu perjanjian. “&lt;i&gt;Unfailing love&lt;/i&gt;” yang dimaksud bukanlah emosi semata melainkan sebuah kesetiaan dalam kasih itu sendiri – sebuah komitmen yang dijalankan dalam sebuah relasi kasih antara Allah dan umat-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Daud berjumpa kembali dengan kasih setia &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt; Allah. Tabung imannya terisi penuh kembali dengan anak-anak panah “pengertian akan karakter Allah” dan “kebaikan Allah pada masa lalu.” Memorinya memanggil kembali ingatan-ingatan tentang kebesaran &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt; pada masa lalu. Ia mengingat bagaimana Allah memilih Israel untuk menjadi umat-Nya dan Ia menjadi Allah mereka. Allah mengeluarkan mereka dari perbudakan di Mesir, membelah samudera, memimpin di padang gurun dengan tiang awan dan tiang api, memberi makan manna dan burung puyuh setiap hari, mengeluarkan mata air dari batu, memberikan kemenangan atas orang-orang Amon, Filistin, Amalek, Moab, Edom, dan meskipun Israel gagal dalam memegang janji Allah, Allah tetap setia. Ia mengingat kasih dan kebesaran Allah pada masa lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Ada sepasang suami istri yang memutuskan untuk bercerai setelah dua puluh tahun menikah. Ketika mengurus pembagian harta “&lt;i&gt;gono-gini&lt;/i&gt;” dan perjanjian finansial, sang suami membongkar sebuah kotak tua yang berisikan bukti-bukti pembayaran, dan cek-cek yang pernah ditulisnya. Tiba-tiba ia menggenggam secarik nota berwarna kekuningan karena dimakan waktu. Nota itu mencatat bukti pembayaran hotel di mana ia dan istrinya berbulan madu setelah menikah. Ya, bulan madu mereka dua puluh tahun yang lalu! Kemudian secarik kertas lain, kali ini sebuah bukti angsuran mobil bekas pertama mereka. Ia juga mendapati sebuah cek pembayaran rumah sakit untuk biaya kelahiran putri pertama mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Memandangi kertas-kertas usang tersebut, sang suami terdiam seribu bahasa. Tanpa sadar air mata meleleh di pipinya. Perasaan tegang sekaligus senang yang dahulu ia rasakan tatkala menulis sebuah cek untuk membayar angsuran rumah pertama mereka, kembali memenuhi dadanya. Ingatan itu tiba-tiba menjadi begitu jelas, seperti hari kemarin. Memori itu terus meluncur: romantisnya berbulan madu bersama istri tercinta, tegangnya menantikan kelahiran putri pertama, dan bangganya dapat mengangsur mobil bekas serta membayar uang muka rumah yang mereka diami sampai hari ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Ia tidak dapat melanjutkan urusannya, ia meletakkan kotak tersebut dan tanpa menunda menelpon istrinya. Ia berkata, “Kita telah melalui banyak hal bersama. Banyak hal indah dan ingatan itu masih begitu jelas dalam ingatanku. Sudah terlalu banyak cinta yang kauukir dalam hidupku. Kesetiaanmu selama dua puluh tahun tidak dapat dibayar dengan apapun. Aku … aku ingin kita memulai hubungan kita dari awal lagi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Saudara, memori akan kasih pada masa lalu membawa sukacita yang baru. Inilah yang Daud rasakan ketika ia berkata, “Tetapi aku, di dalam kasih setia-Mu aku percaya … Aku mau menyanyi untuk &lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt;, karena Ia telah berbuat baik kepadaku” (ay. 6b). Ratapan Daud beralih pada permohonan yang gigih dan setelah itu ia menemukan dirinya berada di tengah sukacita tatkala mengingat kasih setia Tuhan pada masa lampau. Allah tidak pernah meninggalkannya sedikitpun. Allah telah berbuat baik kepadanya seumur hidupnya. Bukankah kedua hal ini cukup untuk menguatkan kita? Di tengah kesesakan yang dihadapi, Allah tidak pernah meninggalkan kita dan selama ini Ia telah berbuat baik kepada kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Adegan 5: Kita juga bisa tetap segar di tengah kesesakan dengan kembali memohon kepada Tuhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Apakah saat ini Saudara berada di “padang gurun” kesesakan? “Padang gurun” kehilangan orang yang kita kasihi, kegagalan dalam karier, ditinggalkan kekasih, dikhianati sahabat, sakit yang tak kunjung sembuh, dikeluarkan dari komunitas, vonis dokter, masa depan yang tidak jelas, dan serentetan penderitaan yang tidak akan habis disebutkan. Saudara, Anda dapat tetap bersukacita di tengah semua ini! Anda dapat menenggak kesegaran di padang gurun. Bawalah beban Saudara di bawah kaki salib Kristus dengan meratap dan memohon. Tuhan Yesus sudah menanggung semua derita kita. Oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh (Yes. 53:5). Tuhan Yesus dapat melepaskan kita dari semua masalah kita. Yesus dan hanya Yesus. Ia telah mematahkan kutuk atas kita dengan mati di atas kayu salib menggantikan Saudara dan saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Saat ini, apakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan atau kelaparan atau ketelanjangan atau bahaya atau pedang? Dalam semuanya itu kita lebih dari pada pemenang. Sebab aku yakin, bahwa baik maut &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Rm. 8:35-39).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Saya ingin melanjutkan sedikit kisah dari pengacara yang kehilangan &lt;i&gt;real estate&lt;/i&gt;-nya, seorang putra, dan keempat putrinya. Ketika berlayar dari New York untuk menjumpai istrinya di Inggris, sang kapten kapal memanggil para penumpang kapal dan berkata, “Berdasarkan perhitungan yang tepat, dalamnya laut di bawah Saudara adalah tiga mil dan saat ini kita berada tepat di titik di mana kapal &lt;i&gt;du Havre&lt;/i&gt; bertabrakan dengan &lt;i&gt;Lockhearn &lt;/i&gt;dan tenggelam.” Melihat pemandangan itu, sang pengacara yang bernama lengkap Horatio G. Spafford kembali ke kabinnya dan menuliskan lirik sebuah himne yang terkenal,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoQuote" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;When peace, like a river, attendeth my way,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoQuote" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;When sorrows like sea billows roll;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoQuote" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Whatever my lot, Thou has taught me to say:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoQuote" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; It is well, it is well, with my soul,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoQuote" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; It is well, with my soul,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoQuote" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; It is well, it is well, with my soul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;(Pengkhotbah menyanyikan lagu ini atau meminta seorang yang berbakat menyanyikannya)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Di tengah badai kehidupan, Allah adalah tempat perlindungan utama. Waktu Tuhan adalah sempurna, tidak terlambat, tidak terlalu dini. Sambil menunggu waktu penyelamatan Tuhan, marilah kita menanti sambil memuji Dia. Tinggikan anugerah-Nya, puji kebaikan-Nya, dan nyanyikanlah lagu bagi Tuhan yang layak diagungkan. Karena segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Flp. 4:13). Tuhan kita adalah Allah yang hidup, mampu menolong segala persoalan Anda, dan yang terpenting, Ia mengasihimu. Mari, bawalah pergumulanmu kepada Tuhan hari ini. Dengan meratap dan memohon pertolongan Tuhan, hati kita akan dipenuhi kelegaan dan sukacita bagaikan &lt;i&gt;menenggak kesegaran di padang gurun&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Normal2" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;Amin&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;br clear="all" style="mso-break-type: section-break; page-break-before: always;" /&gt; &lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7976713270044809204-2273438317787301462?l=bennysolihin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bennysolihin.blogspot.com/feeds/2273438317787301462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2012/02/khotbah-mazmur-13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/2273438317787301462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/2273438317787301462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2012/02/khotbah-mazmur-13.html' title='Khotbah Mazmur 13'/><author><name>Benny Solihin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02371777664459875856</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976713270044809204.post-1615059938438827799</id><published>2012-02-18T11:49:00.000-08:00</published><updated>2012-02-18T11:49:28.809-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><title type='text'>Khotbah Mazmur 42:1-6</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-bidi-font-size: 12.0pt;"&gt;Absennya Allah Dalam Persoalan Hidup Kita&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-bidi-font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-bidi-font-size: 12.0pt;"&gt;Oleh Benny Solihin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt;(Dikutip dari buku: &lt;i&gt;Mengkhotbahkan Mazmur Ratapan&lt;/i&gt; oleh Danny A. Gamadhi)&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Pengantar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Mazmur 42 dan 43 sebenarnya adalah satu mazmur. Ayat 10cd dari pasal 42 sama dengan ayat 2bc dari pasal 43. Tambah lagi, refrain kedua mazmur ini juga sama, yaitu ayat 6, 12, dan 43:5. Namun, karena keterbatasan tempat dan waktu, &amp;nbsp;khotbah ini hanya berfokus pada&amp;nbsp; pasal 42:1-6 saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Itulah pribahasa yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi dalam kehidupan seorang ibu yang saya akan cerita ini. Dulu suaminya adalah seorang pengusaha. Mereka hidup bahagia dan berkecukupan. Suatu hari suaminya menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan. Semua usahanya dilepaskan dan dia menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi. Setelah lulus, suaminya melayani sebuah gereja yang sederhana. &lt;i&gt;Income&lt;/i&gt; mereka menurun drastis, pengeluaran membengkak, bukan karena mereka bertambah boros, melainkan karena hati mereka tidak pernah bisa tahan melihat jemaat yang berkekurangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Pada suatu pagi, suaminya berpamitan untuk pergi pelayanan ke suatu daerah. Tiga jam kemudian, ia menerima kabar bahwa suaminya mendapat kecelakaan, tertabrak sebuah bus yang &lt;i&gt;ngebut&lt;/i&gt; dengan kecepatan tinggi. Suaminya terlempar dan meninggal seketika. Tragisnya, menurut beberapa saksi mata, suamiya tertabrak saat menolong seorang pengendara sepeda motor yang menjadi korban tabrak lari. Setelah pemakaman selesai, ibu ini masih berpikir bahwa Allah memiliki rencana lain bagi dirinya. Ia tampak begitu tabah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Beberapa bulan setelah suaminya meninggal, putri pertamanya, seorang importir alat-alat rumah tangga,&amp;nbsp; mengalami masalah. Ia ditipu oleh rekan bisnisnya sehingga hampir seluruh modalnya habis, bahkan ia harus menjual rumah dan mobilnya untuk membayar hutang-hutang perusahaannya. Rumah tangga putrinya pun tergoncang dan&amp;nbsp; berakhir dengan perceraian. Hati ibu pendeta ini tercabik melihat badai kelam yang menimpa putrinya. Namun, ia merasa harus tetap tegar agar dapat menguatkan iman putrinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Namun, rupanya kesusahan belum berhenti mengikuti hidup ibu pendeta ini. Suatu hari, ia mendapati putranya yang kuliah di semester terakhir muntah-muntah dan seluruh tubuhnya mengigil di kamarnya. Segera ia melarikan ke rumah sakit. Betapa terkejutnya ia ketika dokter mengatakan bahwa putranya sedang sakau dan telah menjadi pecandu berat narkoba. Hati ibu pendeta ini hancur. Demi putranya, ia terpaksa menjual rumahnya untuk membiaya rehabilitasi putranya dan tinggal di rumah kontrakan yang kecil. Setelah setengah tahun di pusat rehabilitasi, anaknya dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Namun sebulan kemudian, ia ditangkap polisi dengan tuduhan sebagai pengedar narkoba. Pengadilan menjatuhinya hukuman tiga tahun penjara. Hati ibu manakah yang tidak akan patah mengalami persoalan seperti ini? Namun, ia masih berharap bahwa Tuhan akan memulihkan keadaan anaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Kehidupan ibu pendeta ini semakin susah. Perekonomiannya morat-marit. Saudara-saudara kandungnya yang tidak seiman mencemoohkan dia sebagai orang kurang berhikmat karena mengizinkan suaminya menjadi hamba Tuhan. Jiwanya semakin tertekan dan kesehatannya menurun. &amp;nbsp;Keadaan ginjalnya yang sejak dulu lemah, mulai sering kambuh. Beberapa kali ia harus ke luar masuk rumah sakit. Sampai akhirnya, ia gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah seminggu sekali. Runtuhlah seluruh kekuatannya. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Tengah malam di ranjang rumah sakit, tangisnya pecah. Ia tidak kuat lagi menanggung beban yang terlampau berat. Ia menjerit memanggil-manggil nama suaminya, bukan Allah. Ia sudah terlalu kecewa kepada Allah; baginya Allah tidak dapat dipercaya. Allah kejam membiarkan semuanya terjadi, padahal Dia dapat mencegahnya. Dalam tangisannya ia mengajukan satu pertanyaan kepada Allah, “Di manakah Engkau, Tuhan?” &amp;nbsp;Tak ada jawaban sama sekali. Ibu pendeta itu hanya mendengar suara tangisannya sendiri sampai ia tertidur dalam kesunyian dini hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Halaman I: Absennya Allah dalam Persoalan Hidup Orang Kristen Masa Kini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Apa yang dialami oleh ibu pendeta tadi merupakan kenyataan hidup yang bisa terjadi pada setiap orang percaya. Tuhan kadang kala tidak mudah ditemui. Pengalaman hidup kita mengatakan demikian. Yang lebih membuat frustrasi, justru di saat-saat kita sangat membutuhkan-Nya, Ia absen dari hidup kita. Sebagaimana seorang anak yang lepas dari tangan bapaknya di tengah-tengah keramaian orang, demikianlah kita. Kita merasa sendirian tanpa pegangan. Allah sama sekali tidak peduli dengan apa yang kita alami. Tak jarang saat kita menghadapi situasi-situasi yang sulit, kita meragukan Allah. Seorang pengubah lagu, James Bignon, mengungkapkannya dengan sangat menyentuh dalam lagunya &lt;i&gt;Answer me&lt;/i&gt;. Sebagian liriknya berbunyi demikian: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Answer me, sweet Jesus&lt;br /&gt;Don't you hear me calling you?&lt;br /&gt;I need you lord&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lord, I've run out of words to say&lt;br /&gt;All I can do right now is moan&lt;br /&gt;I cannot pray, like all of the sudden&lt;br /&gt;But let me know my prayer's being heard&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lord, I've held on a long time&lt;br /&gt;And all my actions depends upon you&lt;br /&gt;I’&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;ve &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;been patient and highly understanding&lt;br /&gt;Now I don't &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;know &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;what there is left to do&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Halaman II: Absennya Allah dalam Persoalan Hidup Pemazmur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Pemazmur yang menulis Mazmur 42 ini juga mengalami pergumulan absennya Tuhan dalam kesulitan hidup yang ia alami. Jiwanya gelisah dan tertekan. Melalui lirik-lirik yang memilukan, ia mengungkapkan perasaan hatinya.&amp;nbsp; Maka, lahirah Mazmur Ratapan ini. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Besar kemungkinan, saat itu ia dan orang-orang &amp;nbsp;Israel lainnya menjadi tawanan kerajaan Babel dan hidup dalam pembuangan di sana.&amp;nbsp; Bila demikian, kita bisa membayangkan bahwa perlakuan yang tidak manusiawi, seperti kerja paksa, makian, dan cemoohan menjadi bagian hidup sehari-hari mereka. Jiwa mereka tertekan. Kebanggaan bahwa mereka pernah menjadi bangsa yang besar, umat kesayangan Allah, hanya &amp;nbsp;menjadi kenangan. Bertahun-tahun mereka hidup menderita. Berulang-ulang mereka berseru kepada Allah, memohon kemurahan-Nya, tetapi Allah tak menjawab seolah Dia tak lagi hadir dalam kehidupan umat-Nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Kerinduan untuk bertemu dengan Allah melanda hati umat Allah dan kerinduan ini diwakili oleh sang pemazmur dalam ungkapannya, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah”&lt;i&gt; &lt;/i&gt;(ay. 2). Ketika para pelukis mengambil rusa sebagai obyek lukisan, biasanya mereka cenderung memanjakan mata orang dengan menonjolkan segi keindahannya. Namun, dalam simile ini, saya kira pemazmur tidak bermaksud melukiskan rusa yang demikian; tetapi, seekor rusa yang berada di sebuah hutan yang kering kerontang terbakar kemarau panjang. Tak ada lagi daun yang hijau, tak ada lagi kupu-kupu yang terbang, tak ada lagi burung-burung yang berkicauan, dan tak ada lagi rumput yang hijau, selain petak-petak tanah kering dan retak-retak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Dalam imaginasi saya, rusa itu berjalan dengan gontai sambil menyeret tubuhnya. &amp;nbsp;Pandangan matanya sayu penuh kekecewaan; perasaannya tertekan dan gelisah. Telah berhari-berhari ia berjuang menahan haus. Kekeringan menyengat tenggorokan dan seluruh jaringan tubuhnya. Tidak ada kebutuhan lain yang ada di dalam dirinya, kecuali menemukan sungai yang berair. Ia sadar, tanpa air hidupnya akan berakhir.&amp;nbsp; Itulah pelukisan jiwa yang dilanda kerinduan untuk bertemu dengan Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Ratapan kerinduannya akan Allah diungkapkan lebih lanjut dengan berkata, “Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” (ay.3). Sekarang ia melukiskan kerinduannya dengan suatu pengontrasan yang menggugah. Jiwanya yang haus dibandingkan dengan Allah yang hidup. Perkataan “Allah yang hidup” melukiskan bahwa Allah adalah Pribadi yang hidup yang berbeda dengan dewa-dewa Babel yang mati, dan juga menyatakan bahwa Allah adalah sumber kehidupan dari segala sesuatu di mana jiwa pemazmur sendiri bergantung kepada-Nya. Tanpa Allah, ia akan binasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Di tengah-tengah keadaan seperti itu ia bertanya, “Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” &amp;nbsp;Ini merupakan suatu pertanyaan yang lahir karena kebutuhan yang sangat besar dan mendesak. “Bilakah” atau “Kapankah” menunjukkan bahwa kehausan pemazmur sudah berlangsung demikian lama dan permohonannya telah diajukan berulang-ulang. Namun, respon dari Allah tak pernah ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Andaikata mazmur-mazmur dalam Alkitab disertai dengan audio CD atau DVD seperti buku-buku masa kini, niscaya kita dapat menangkap &lt;i&gt;mode&lt;/i&gt; pengucapannya sehingga bisa ikut merasakan perasaan pemazmur di balik kata-kata yang ditulisnya. Namun demikian, kita tidak perlu berkecil hati. Dalam menafsir mazmur memang diperlukan kecerdasan emosi untuk menerka &lt;i&gt;mode&lt;/i&gt;-nya sehingga perasaan pemazmur yang sedang &lt;i&gt;curhat&lt;/i&gt; kepada Allah dapat kita ketahui.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Apabila pertanyaan pemazmur, “Bilakah aku boleh melihat Allah?” diekspresikan dengan &lt;i&gt;mode&lt;/i&gt; kemarahan atau otoritatif, tentu akan terasa janggal. Nada perintah membuat pemazmur menjadi penguasa dan Allah menjadi bawahannya. Padahal, keadaannya sedang terpuruk dan ia membutuhkan kehadiran Allah. Juga sukar dibayangkan bila pertanyaan ini diekspresikan dengan &lt;i&gt;mode&lt;/i&gt; sinis atau pun intimidatif. Jika kita setuju bahwa konteks sejarah mazmur ini adalah masa pembuangan di Babel, pemazmur pasti menyadari siapakah dirinya dan siapakah Allahnya. &amp;nbsp;Dirinya adalah orang berdosa dan hukuman; sedangkan, Allah adalah Pribadi yang kudus dan berdaulat. Bila Allah tidak berkenan ditemui, tidak seorang pun yang dapat berjumpa dengan-Nya. Jelas, nada intimidatif tidak sesuai dengan konteksnya. Satu-satunya &lt;i&gt;mode&lt;/i&gt; yang paling tepat adalah &lt;i&gt;mode&lt;/i&gt; permohonan, &lt;i&gt;mode&lt;/i&gt; yang mengharapkan belas kasihan seperti seorang pengemis yang mengharapkan sedekah dari seorang tuan yang kaya raya. “Bilakah aku boleh melihat Allah?” lebih mungkin &amp;nbsp;diucapkan dengan nada minor yang memilukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sekarang Israel, yang diwakili oleh diri pemazmur, baru bisa menghargai apa artinya bersekutu dengan Tuhan itu. Dulu mereka mengabaikan Allah, tidak menaruh perhatian pada kehadiran-Nya, firman-Nya, teguran-Nya, dan kasih-Nya. Sekarang Israel tiba pada pemahaman bahw&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: yes;"&gt;a &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;bersekutu dengan Tuhan itu merupakan suatu anugerah. Mereka tidak mempunyai hak apapun &amp;nbsp;untuk memaksa Allah meresponi mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Pemazmur hanya bisa &amp;nbsp;mengharap belas kasihan Allah dan meratapi kerinduannya. Ia berkata, “Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?” Di dalam pembuangan, menerima perlakuan yang tidak enak sudah menjadi hal yang umum, mungkin juga, termasuk tekanan untuk menyembah dewa-dewa orang-orang Babel. Ketika pemazmur berusaha mempertahankan imannya, mereka mencemoohkannya, “Di mana Allahmu?” Cemoohan itu menghancurkan hatinya. Bagai anak ayam kehilangan induknya, ia tidak punya tempat untuk berlindung. Karenanya, ia berkata, “Air mataku menjadi makananku siang dan malam.” Sepanjang hari ia berduka, dirundung kesedihan. Celakanya, Allah pergi entah ke mana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Daud juga pernah merasakan kehilangan Allah dalam hidupnya, sampai-sampai ia meratap kepada Allah, “Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair” (Mzr. 63:2). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Di tengah-tengah kesusahannya, Ayub pun pernah tidak dapat melihat kehadiran Allah. Dalam dukacitanya ia mengeluh, “Sesungguhnya, kalau aku berjalan ke timur, Ia tidak di sana; atau ke barat, tidak kudapati Dia; di utara kucari Dia, Ia tidak tampak, aku berpaling ke selatan, aku tidak melihat Dia” (Ayb. 23:8-9). Bahkan, Yesus Kritus mengalami absennya Allah justru saat Ia sekarat di salib, saat Ia paling membutuhkan penyertaan dan penghiburan-Nya. Di situlah Ia menjerit, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 15:34).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kita bisa memiliki pengalaman yang sama seperti mereka, yaitu perasaan ditinggalkan oleh Allah. Sebagian dari kita mungkin diam-diam menyimpan kepahitan terhadap Allah. Hanya kita merasa &amp;nbsp;tidak pantas untuk&amp;nbsp; mengungkapkannya secara terbuka dalam doa-doa kita, ataupun menceritakannya kepada orang-orang dekat kita. &amp;nbsp;Namun, hal itu pelan-pelan membuat kita semakin jauh dari Allah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saya pikir wajar bila kita pernah merasa kecewa kepada Allah; kita merasa ditinggalkan dan diabaikan oleh Tuhan. Juga wajar bila kita mengeluh dan meratap, mengekspresikan secara verbal perasaan kecewa kita kepada-Nya seperti yang dilakukan oleh pemazmur ini dan ibu pendeta tadi. Saya percaya Allah dapat memahami sepenuhnya kekecewaan, kesakitan, kesedihan, ataupun ketakutan yang kita rasakan. Dia bukan Allah yang mudah tersingung dan pemarah. Namun, jangan cuma berhenti sebatas meratap, iman kita akan terpuruk, &amp;nbsp;tetapi majulah &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;sambil&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;berharap. Inilah yang dilakukan oleh pemazmur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Halaman III dan IV:&amp;nbsp; Belajar dari Pemazmur, Kita mengubah Ratapan Menjadi Genderang Kemenangan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Mengingat masa-masa indah bersama dengan Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Setelah sekian lama pemazmur membiarkan jiwanya terpuruk, ia memutuskan untuk tidak membiarkan&amp;nbsp; keadaannya berlarut-larut. Ia mengarahkan mata imannya kembali kepada Allah dan menembus kegelapan di hadapannya. Karena itu ia berkata,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;“Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan” (ay. 5).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Apa maksud perkataannya ini? Rupanya pemazmur ingin mengingat masa-masa indah bersama dengan Allah dulu, sebelum bangsa Israel dijajah dan dibuang ke Babel. Pada waktu itu, mereka seringkali mengadakan perayaan atau kebaktian di Bait Allah, di Yerusalem.&amp;nbsp; Sebagai salah satu penyanyi dari bani Korah, ia memimpin umat Israel berjalan ke rumah Tuhan. Dalam kepadatan umat yang berduyun-duyun datang untuk bersembahyang, ia berjalan mendahului mereka dengan sorak sorai dan nyanyian syukur, melangkah untuk bertemu dan menyembah Allah. Di sana Allah telah menanti mereka, seperti seorang bapak menanti kedatangan anak-anaknya. Kehadiran dan penerimaan Allah mendatangkan sukacita besar bagi umat-Nya. Allah bukanlah Allah yang dingin, acuh tak acuh, tak peduli pada apa yang dialami oleh umat-Nya. Sebaliknya, Ia adalah Allah yang hangat, menikmati persekutuan, dan penuh perhatian pada umat-Nya.&amp;nbsp; Inilah saat-saat manis bersama dengan Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Mengenang saat-saat manis bersama dengan Allah penting bagi pemazmur dan juga bagi kita, khususnya saat jiwa kita gundah gulana dan meragukan kasih Allah. Kenangan ini memaksa kita melihat lagi “album foto” kenangan kita dengan Allah. Ada banyak momen-momen indah yang telah kita lewatkan bersama-sama dengan-Nya. Saat-saat di mana kita merasa kagum kepada pribadi-Nya, kasih-Nya, kebaikan-Nya. Tak ada keraguan sedikit pun bahwa Ia adalah Allah yang selalu menepati janji-Nya. Nah, kenangan-kenangan manis inilah yang akan menjadi &lt;i&gt;starting step&lt;/i&gt; mengembalikan iman kita kepada-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Setiap kita pasti mempunyai “album foto” kenangan bersama dengan Allah. Begitu juga dengan saya. Setelah 34 tahun bergaul dengan Allah, “album foto” itu bertambah banyak. “Foto-foto” itu mengisahkan cerita yang berbeda-beda, tetapi pesan yang dikandungnya sama: Allah mengasihi saya. Saya masih ingat tatkala saya baru menjadi orang Kristen, suatu pagi saya mengendarai motor saya untuk mengikuti ujian negara. Di tengah jalan, tiba-tiba motor itu mogok. Saya telah berusaha keras untuk menghidupkannya kembali, tetapi tak berhasil. Keringat menetes membasahi sekujur tubuh saya. Saya melihat jam tangan saya, sepuluh menit lagi ujian akan dimulai. Saya duduk di trotoar dalam kebingungan. Apa yang harus saya perbuat? Kalau saya menitip motor saya pada seseorang yang tidak saya kenal, saya kuatir motor itu akan hilang. Kalau saya mendorongnya sampai ke tempat ujian, saya akan sangat terlambat. Dalam kebingungan terlintas suatu pikiran, “Mengapa tidak berdoa? Bukankah sekarang saya mempunyai Tuhan yang berkuasa atas segalanya?” Namun, saya masih ragu. Saya percaya Tuhan itu Maha Kuasa, tetapi apa urusannya dengan motor saya? Namun, karena tidak ada jalan lain, saya mencoba untuk berdoa, “Tuhan saya mau ujian, tapi motor saya mogok. Mau &lt;i&gt;enggak &lt;/i&gt;Tuhan memperbaiki motor saya? Tolong ya, Tuhan. Dalam nama Yesus, Amin.” Segera setelah itu, saya menghampiri motor saya dan mulai &lt;i&gt;menstarterya&lt;/i&gt;. Apa yang terjadi? Ajaib, motor itu hidup kembali. Tanpa membuang waktu, saya kebut motor itu dan sampai ke tempat ujian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Kenangan manis itu saya &lt;i&gt;jepret&lt;/i&gt; dalam kamera ingatan saya. Setiap kali saya melihatnya lagi, saya selalu berkata pada diri saya sendiri, &amp;nbsp;“Tuhan itu sangat mengasihi saya, sampai-sampai Ia rela menjadi mo&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: yes;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;tir saya.” &amp;nbsp;Ini adalah salah satu “foto” kenangan saya bersama dengan Allah. Bila saya melihat “foto-foto” kenangan yang lain, hati saya penuh dengan rasa haru atas kebaikan Allah yang melimpah. Hal ini sangat menolong saya untuk tetap percaya kepada Allah, khususnya saat saya &amp;nbsp;menghadapi kelamnya kehidupan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Pada waktu persoalan hidup yang berat dan beruntun datang dalam hidup kita, kebanyakan kita akan cenderung terpaku pada persoalan-persoalan tersebut. Ketika tidak mendapatkan solusinya, kita cenderung &amp;nbsp;menyalahkan Allah. Kita kecewa kepadanya dan meragukan kasih-Nya. Kita lupa bahwa Ia adalah Allah yang selalu mengasihi kita. Lihatlah kembali “album foto” kenangan Saudara bersama dengan Allah! Masihkah Saudara akan menganggap Ia jahat?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Mengendalikan perasaan dengan pikiran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Hal kedua yang diperbuat pemazmur untuk membangkitkan imannya kembali ialah mengendalikan perasaannya dengan pikirannya. Kepada jiwanya Pemazmur bertanya, “Mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan gelisah dalam diriku?” (ay. 6a).&amp;nbsp; Dalam diri&amp;nbsp; pemazmur seolah-olah ada dua pribadi yang saling silang pendapat, yaitu pikiran dan jiwa. Pikiran mewakili pengenalannya akan Allah; sedangkan, jiwa mewakili perasaannya yang berespon terhadap persoalan-persoalan hidup yang dihadapinya. Selama ini diri pemazmur dikuasai oleh perasaannya sehingga imannya terombang-ambing. &amp;nbsp;Namun, setelah membuka kembali album kenangan bersama Allah dan memperoleh keyakinan bahwa selama ini Allah adalah Pribadi yang baik dan setia, ia menegur jiwanya, “Mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan gelisah dalam diriku?” Tampak jelas ada nada ketidaksenangan di dalam pertanyaan ini. Walaupun tampaknya Allah absen, tidak peduli, tidak bertindak apa-apa untuk menolong dia dan bangsanya, itu bukan berarti bahwa Allah tidak setia. Pemazmur menyadari bahwa ia tidak boleh dikendalikan oleh perasaannya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Setelah Elia memperoleh kemenangan iman yang besar dengan mengalahkan 450 nabi Baal dan membunuh mereka semua, ia dikuasai oleh perasaan takut mendengar acaman pembunuhan yang diberikan oleh Izebel. Segera ia bangkit dan melarikan diri ke Bersyeba, ke padang gurun. Dalam kefrustrasian menanggung tantangan hidup yang berat, ia merasa ingin mati. Elia larut dalam perasaannya. Ia merasa cemas, gelisah, dan sendiri. Pikirannya atau pengenalannya akan Allah dikalahkan oleh perasaannya. Padahal, dengan mata kepala sendiri, ia baru saja menyaksikan &amp;nbsp;api Tuhan menyambar habis korban bakaran yang menandakan kuasa Allah lebih besar daripada kuasa siapa pun. Pengalamannya bersama dengan Allah itu seharusnya meneguhkan imannya. Tetapi sayangnya perasaaannya lebih banyak berperan, maka terombang-ambinglah dia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Jerry Bri&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: yes;"&gt;d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;ges, seorang tokoh dari Navigator, berkata, “Ketika kita menghadapi situasi-situasi yang sulit, emosi kita menguasai pikiran kita. Ketika kita merasa Allah sangat jauh, maka Allah akan menjadi sangat jauh. Ketika kita merasa kesepian, maka Allah tidak akan berserta dengan kita.” Tentu saja ia tidak bermaksud mengatakan bahwa keberadaan Allah ditentukan oleh perasaan kita, melainkan betapa riskannya apabila teologi kita ditentukan oleh perasaan kita. Perasaan itu subyektif. Penilaiannya sering didasarkan bukan pada benar atau salah, melainkan mana lebih menyenangkan, lebih nyaman. Lagi pula, ia mudah berubah-ubah tergantung situasi. Oleh karena itu, bila iman kita didasarkan atas perasaan bukan pada pikiran atau pengenalan yang kokoh, sulitlah bagi kita untuk mempunyai iman yang stabil dalam menghadapi badai gelombang hidup kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Saya yakin seharusnya teologi kita dibangun atas pengetahuan&amp;nbsp; akan Allah sebagaimana yang dinyatakan oleh Alkitab. Dari firman-Nya kita mengetahui Allah berkata, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5). Ini adalah janji Allah. Pengkhotbah Puritan Thomas Lye menjelaskan bahwa dalam bahasa Yunaninya kalimat ini memiliki lima kata tidak, sehingga dapat diterjemahkan demikian, “Aku tidak akan, tidak mungkin membiarkanmu; juga tidak, tidak akan, tidak mungkin meninggalkanmu.” Lima kali Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita. Dia menginginkan kita memahami kebenaran ini tanpa ragu. Setelah mengetahui kebenaran tentang Allah tersebut, kita harus memutuskan apakah kita akan mempercayai kebenaran ini atau kita akan mengikuti perasaan kita. Jika kita mempercayai Allah, kita harus berkata, “Aku percaya kepada-Mu meski aku tidak merasakan kehadiran dan tidak melihat pertolongan-Mu.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Menaruh Harapan kepada Allah sebagai satu-satunya sumber pertolongan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Hal ketiga yang diperbuat pemazmur untuk membangkitkan imannya kembali ialah dengan berharap lagi kepada Allah sebagai penolong dan Allahnya. Setelah pemazmur menegur jiwanya yang terombang-ambing, dengan mantap ia memerintahkannya, “Berharaplah kepada Allah!” (ay. 6a). Sekarang pengenalannya akan Allah mulai mendominasi perasaan pesimisnya. Ia bangkit dari perasaan mengasihi diri sendiri dan kembali percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya. Walaupun doanya belum terjawab, permohonannya belum terpenuhi, dan keadaannya belum berubah, ia beriman bahwa Allah hadir sama seperti ketika dulu di Yerusalem. Itulah sebabnya, ia berkata, “Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku” (ay. 6b). Suatu komitmen telah dibuat, komitmen untuk bersyukur kepada Tuhan seperti dulu. Eugene Peterson menerjemahkan “Allahku, Penolongku” dengan “He Puts a smile on my face, He is my God”&amp;nbsp; yang secara harafiah dapat diterjemahkan menjadi, “Ia menaruh sebuah senyuman di wajahku, Ia adalah Allahku.” Wajah pemazmur yang dirundung ratapan, kini berubah menjadi sukacita karena ia kembali berharap kepada Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Menunggu 11 tahun lahirnya seorang anak dalam pernikahan bukan waktu &amp;nbsp;yang singkat dan mudah, tetapi akhirnya apa yang diharapkan pasutri ini tiba juga. Betapa tak terkiranya kebahagiaan mereka. Sebut saja nama mereka Naomi dan David, dua orang anak Tuhan yang setia dalam melayani Tuhan. Hati yang penuh dengan luapan syukur mendorong mereka untuk bersaksi di mana-mana bahwa Allah itu kasih dan mukjizat itu nyata dalam diri mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Semuanya berjalan dengan baik sampai memasuki bulan kelima, suatu pagi perut Naomi terasa sakit, pendarahan terjadi, dan suhu tubuhnya meninggi. Segera ia menelpon suaminya dan pergi ke rumah sakit dengan taksi. Atas instruksi dokter kandungan, ia dilarikan ke Unit Gawat Darurat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Setelah beberapa jam melewati pemeriksaan, USG, dan diinfus, akhirnya dokter dengan sangat hati-hati memberitahukan bahwa bayinya telah meninggal. Melihat kondisi Naomi yang mengkuatirkan, dokter menyarankan kepada David untuk &amp;nbsp;mengizinkan istrinya dioperasi darurat. Pasutri ini berpelukan sambil menangis. Pengharapan akan hadirnya si kecil hilang sudah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Paskah operasi, pasutri ini tenggelam dalam dukacita yang panjang. Mereka sungguh tidak siap menerima kenyataan yang menimpa mereka. Hal yang lebih buruk terjadi pada Naomi. Ia tak mampu membendung duka yang selalu bergejolak dalam hatinya. Ada kemarahan kepada Allah dalam hatinya. Baginya sungguh tidak masuk di akal bila Allah yang Maha Kuasa tak mampu menjaga bayinya. Yang benar adalah Allah tak mau menjaganya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Selama dua tahun Naomi tidak dapat berdoa kepada Tuhan. Ia pun tidak&amp;nbsp; mau melayani lagi. Sering kali ia bermimpi meng&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: yes;"&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;endong bayinya, tersenyum dan tertawa bersama dengannya. Kala ia bangun dan menemukan realita, hidupnya kehilangan harapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;"&gt;Berharap kepada Allah di masa-masa sulit, apalagi setelah Allah&amp;nbsp; tampak mendiamkan kita dalam pergumulan yang panjang, bukanlah hal mudah. Saya percaya itu tidak semudah seperti kita memutuskan akan pergi ke &lt;i&gt;Mall&lt;/i&gt; atau tidak. Namun, menjalani masa-masa sulit tanpa harapan, ibarat sebuah sampan yang terkatung-katung tanpa arah di tengah lautan luas dan buas. Harapan kepada Allah adalah keyakinan bahwa apa yang Allah firmankan atau janjikan akan terjadi dalam hidup kita. Harapan berkaitan dengan iman. Ketika kita percaya kepada Allah dengan segala perkataan-Nya, kita mempunyai harapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Berharap kepada &amp;nbsp;Allah tidak berarti kesulitan-kesulitan hidup selesai, &amp;nbsp;kadang malah memberat. Namun semangat hidup berubah, kita mendapat keyakinan.&amp;nbsp; Kita tidak lagi seperti orang yang meraba-raba dalam gelap, tetapi berjalan dalam kepastian. Dalam kepedihan Yesus menjerit “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Suatu pertanyaan absah yang lahir dari hati yang tersayat: digantung oleh manusia dan ditinggalkan Allah. Allah, satu-satunya tempat perlindungan yang diharapkan dapat menaungi-Nya, malah memalingkan wajah-Nya. Namun, beberapa saat sebelum hembusan nafas terakhirnya, Ia kembali menyatakan iman dan pengharapan-Nya kepada Allah. Ia berkata, “Bapa, kepada-Mu kuserahkan nyawa-Ku.” Penderitaan dan kematian tidak berlalu, tetapi pengharapan-Nya kepada Tuhan memberi Dia keberanian dan damai sejahtera untuk menjalani semua yang harus Dia jalani. Dalam kalimat terakhir-Nya, “Sudahlah genap”, kita mendapati Yesus telah mengubah nada ratapan-Nya menjadi kemenangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Ratapan dukacita Naomi baru berubah menjadi sukacita ketika suatu kali ia berbicara dengan seorang gadis kecil yang baru saja kehilangan adiknya karena leukemia. Gadis itu berkata, “Tante Naomi tahu &lt;i&gt;enggak&lt;/i&gt;? Saat adikku sangat menderita dan tak ada dokter yang dapat meringankan sakitnya, Tuhan Yesus datang memeluknya.&amp;nbsp; Begitu sayang Tuhan sama adikku, lalu digendongnya ia ke sorga.” Tenggorokkan Naomi tersekat sampai-sampai ia tidak dapat berbicara apa-apa. Pemahaman teologi gadis kecil itu membuka selaput mata imannya yang selama ini tertutup dengan kepicikan. Ia tidak pernah melihat seperti gadis kecil ini melihat Allah. Tuhan tidak jahat, Ia baik; Tuhan tidak absen, Ia selalu hadir dan bertindak. Sepanjang perjalanan &amp;nbsp;pulang, entah bagaimana album kenangan bersama dengan Allah tiba-tiba terbuka dalam pikirannya. Ia melihat lagi satu per satu “foto-foto” itu. Derai air matanya mengalir, hatinya berbisik kepada Tuhan, “Engkau baik, Tuhan!” Ajaib sekali, tiba-tiba ia merasakan pelukan Tuhan. Suatu pelukan yang memberikan rasa damai yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ada air yang mengalir dalam tubuhnya, dan ia sepenuhnya telah terhubung dengan sumber air itu. Pengharapannya terbangun kembali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Penutup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Pada hari puncak perayaan Pondok Daun, hari yang ke-7, Yesus berdiri di tengah-tengah orang Yahudi dan berseru, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.” Orang-orang Yahudi dalam perayaan tersebut mengharapkan air hujan untuk panen mereka, tetapi Tuhan mengetahui kebutuhan mereka yang paling utama: air hidup yang memberikan kelegaan atas kehausan rohani mereka. Karena itu, Ia mengundang siapa saja yang merasa dahaga dan kekeringan akan hadirat Allah untuk datang kepada-Nya dan menerima kelegaan. Dalam Wahyu 21:6 Yesus berkata, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang-orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.” Yesuslah sumber air kehidupan itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Datanglah kepada Yesus! Berharaplah kepada-Nya! Jangan biarkan diri kita berlarut-larut dalam kesedihan, hidup kita akan hancur! &lt;b&gt;Tetaplah percaya dan berharap &amp;nbsp;kepada Allah sebagai penolong kita meskipun Ia tampak absen di tengah-tengah pergumulan hidup kita yang berat. &lt;/b&gt;Tiba waktunya Ia akan mengubah ratapan kita menjadi genderang kemenangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Amin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Doa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Tuhan, tak mampu lagi aku hidup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;dalam&amp;nbsp; kehampaan masa silam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Sekadar berada di suatu tempat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;yang lama telah Kaulupakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Aku harus bangkit ... sekali lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Bukan lagi untuk berkubang dalam kepedihan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;tapi untuk mengubur masa lalu yang sudah mati;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;rasa bersalah yang semu atas kegagalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;yang masih kutanggung hingga hari ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Tuhan, berilah aku keberanian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;untuk mengatasinya tanpa rasa takut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;menghadapinya tanpa kemarahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;dan meninggalkannya tanpa rasa malu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Berilah aku hikmat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;untuk bangkit tanpa mengasihi diri sendiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;percaya tanpa kompromi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;dan terus maju tanpa rasa bersalah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Bapa, beri akau pengertian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;hingga akhirnya kuperoleh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;masa depan yang layak kudapat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Berdiri teguh dalam imanku;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;dan menjawab tantangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;(Maria Krugh Leaser)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7976713270044809204-1615059938438827799?l=bennysolihin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bennysolihin.blogspot.com/feeds/1615059938438827799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2012/02/khotbah-mazmur-421-6.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/1615059938438827799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/1615059938438827799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2012/02/khotbah-mazmur-421-6.html' title='Khotbah Mazmur 42:1-6'/><author><name>Benny Solihin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02371777664459875856</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976713270044809204.post-7233613992779662732</id><published>2011-10-31T15:41:00.000-07:00</published><updated>2011-11-01T16:27:19.597-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><title type='text'>Khotbah Matius 18:21-35</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 18.95pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“MELUPAKAN”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 18.95pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;OLEH DANIEL D. SIMANJUNTAK&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 18.95pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 18.95pt; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 18.95pt; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara, ada dua &lt;i&gt;moment&lt;/i&gt; yang paling tidak bisa dilupakan manusia (&lt;i&gt;the unforgotten moment&lt;/i&gt;). Yang pertama, &amp;nbsp;biasanya disebut dengan &lt;i&gt;the sweet unforgotten moment&lt;/i&gt; atau kenangan indah. &amp;nbsp;Kenangan indah itu bisa berupa apa saja yang menjadikan hidup lebih menarik, lebih berwarna dan lebih berarti. Misalnya, saat kita pertama bertemu dengan kekasih kita atau yang sekarang jadi istri atau suami kita. Pasti kenangan indah itu akan menjadi cerita sampai empat turunan. Saudara, &lt;i&gt;the unforgotten moment&lt;/i&gt; yang kedua adalah yang biasa disebut dengan &lt;i&gt;the bad unforgotten moment&lt;/i&gt; atau kenangan buruk. &amp;nbsp;Kenangan buruk itu bisa berupa apa saja yang mengakibatkan rasa pahit, sedih dan sakit hati yang mendalam. Itu bisa berupa sebuah kecelakaan, penyakit, bencana, termasuk peristiwa ketika kita &amp;nbsp;diremehkan, dianggap bodoh, dilecehkan, ditipu atau dikhianati. Peristiwa-peristiwa seperti itu tidak mungkin &amp;nbsp;kita dapat lupakan begitu saja. &amp;nbsp;Kita akan terus mengingat wajah orang yang telah menyakiti kita. Kita tidak mampu melupakannya dan kita pun tidak mau untuk mengampuni. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Lalu bagaimana Saudara,? Apakah &lt;i&gt;the bad unforgotten moment&lt;/i&gt; itu akan terus kita simpan di dalam hidup kita? Apakah kita tidak akan pernah dan bisa untuk mengampuni orang-orang yang telah menghadirkan kenangan buruk itu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara,memang mengampuni bukanlah suatu hal yang dapat dengan mudah untuk kita lakukan. Apalagi jika ada seorang menyakiti kita bukan hanya sekali namun berkali-kali, perkataan “aku mengampunimu” pasti akan sangat sulit untuk kita lontarkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara, saya rasa itu juga yang dirasakan oleh Petrus dalam perikop yang kita baca tadi. Saudara, di perikop sebelumnya Tuhan Yesus mengajarkan kepadanya tentang menegur dan menasihati saudara yang berdosa. Pengajaran tersebut ternyata memunculkan suatu pertanyaan dalam benak Petrus. Mungkin ia berpikir: “baiklah Tuhan, itu yang harus kulakukan: menegur saudara yang berdosa terhadap aku. Namun jika ia terus-menerus berdosa apa yang harus aku lakukan? Sampai kapan aku akan mengampuninya terus?” Saudara, saya rasa itu yang dipikirkan Petrus sehingga ia bertanya di ayat 21: &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;"Tuhan, sampai berapa kali aku &lt;b&gt;harus&lt;/b&gt; mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, ternyata Petrus bukan hanya bertanya namun juga memberikan &lt;i&gt;option&lt;/i&gt; jawaban bagi Tuhan Yesus.: “Sampai tujuh kali?” Saudara, dalam pengajaran rabi-rabi pada waktu itu, seseorang cukup mengampuni orang lain yang bersalah kepadanya sebanyak tiga kali saja. Jika lebih dari pada itu, pengampunan tidak dibutuhkan lagi. Namun, apa jawaban Tuhan Yesus? Ia berkata, “Bukan! Aku berkata kepadamu bukan sampai tujuh kali melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” &amp;nbsp;Saudara, angka tujuh dan sepuluh adalah angka-angka yang melambangkan kesempurnaan. Oleh karena itu ketika Tuhan Yesus berkata tujuh puluh kali tujuh kali, Ia sedang berbicara tentang kesempurnaan dikali kesempurnaan ditambah dengan kesempurnaan. Ia sedang menyatakan pengampunan yang tanpa batas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara bisa bayangkan bagaimana respon Petrus pada waktu itu. Ia sudah menawarkan jawaban yang cukup baik, ia memberikan ukuran yang cukup longgar: tujuh kali. Tetapi ternyata Tuhan mempunyai ukuran yang lebih tinggi; &lt;b&gt;pengampunan tanpa batas&lt;/b&gt;. Bagaimana mungkin itu bisa dilakukan? Sekali saja sulitnya setengah mati, apalagi berkali-kali. Tampaknya, pernyataan Tuhan Yesus itu kurang manusiawi. Namun, tentu Tuhan Yesus punya alasan. Kalau begitu apa alasannya, Saudara,? Mari kita melihat perumpamaan yang diceritakan Tuhan Yesus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tuhan Yesus menceritakan ada seorang raja yang memanggil hamba-hamba-Nya untuk mengadakan perhitungan. Setelah diadakan perhitungan, ternyata didapati seorang hamba yang berhutang kepada raja dengan jumlah yang mengejutkan. Ia berhutang 10.000 talenta. Saudara, jika nilai ini dirupiahkan dengan UMR per hari Rp.40.000,- maka jumlahnya mencapai Rp. 2,4 Triliun. &amp;nbsp;Saudara, bisa bayangkan, apa yang bisa kita beli dengan jumlah uang segitu? Mobil mewah, rumah mewah, Ipod, Ipad, Ipin, Upin, dan sebagainya, saudara. Jika di zaman sekarang saja jumlah ini sudah sangat besar bagi kita, apalagi pada zaman Tuhan Yesus. Pada zaman itu Raja Herodes Agung saja hanya mendapatkan pajak sebesar 900 talenta setiap tahunnya dari seluruh wilayah kerajaannya. Hamba itu berhutang lebih dari 11 kali lipat dari pajak yang didapat Herodes Agung. Jadi, hutang hamba tersebut sebenarnya adalah jumlah yang sama sekali &amp;nbsp;tidak bisa dibayarnya. Oleh karena itu, wajar ketika raja mendengar hal itu ia marah dan memberikan perintah supaya hamba tersebut beserta anak isterinya dan segala miliknya dijual demi melunasi hutangnya yang besar itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Namun Saudara,begitu mendengar keputusan raja itu sang hamba segera bersujud kepada raja dan memohonkan belas kasihan dari sang raja. Mungkin ia menangis dan memohon dengan sangat kepada raja. Oleh sebab itu, ketika raja melihat hal itu, tiba-tiba berubah 180 derajat, raja berbelas kasihan. Maka ia berkata, &amp;nbsp;“Baiklah, seluruh hutangmu tidak perlu lagi engkau bayar. Aku menghapuskan segala hutangmu.” Saudara, bisa bayangkan, alangkah sukacitanya hamba itu ketika raja menghapuskan hutangnya? Saudara, saya saja kalau punya hutang 50.000 ribu kepada seorang teman, dan dia bilang, “Udah lu gak usah bayar utang lu lagi deh” pasti saya senangnya setengah mati. Apalagi hamba ini hutangnya 2,4T dan dihapuskan begitu saja? Saudara, yang menarik adalah raja tidak menyuruh hamba itu membayar setengah atau seperempat saja dari hutangnya. Ia menghapuskan semuanya! Hamba ini mendapatkan kemurahan dari sang raja, Saudara, &lt;b&gt;Kemurahan yang pada dasarnya tidak pernah layak didapatkan oleh hamba itu&lt;/b&gt;. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, jika pikir lebih dalam, tampaknya cerita ini berlebihan. Tuhan Yesus agak &lt;i&gt;lebai&lt;/i&gt;. Benar &lt;i&gt;ga&lt;/i&gt;, Saudara? Namun, apa yang sebenarnya ingin ditekankan Tuhan Yesus melalui kelebaian itu? Saudara, mari kita perhatikan cerita selanjutnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara,&amp;nbsp; sang hamba pulang dengan sukacita yang meluap. Dia sangat senang sekali. Tapi tiba-tiba di tengah jalan ia bertemu dengan temannya yang berhutang 100 &amp;nbsp;dinar kepadanya. Saudara,100 dinar bukanlah jumlah yang besar dibandingkan 10000 talenta. Kalau dirupiahkan hanya sekitar Rp.4.000.000. Namun, ketika melihat temannya itu, rasa sukacita hamba tersebut tiba-tiba berubah menjadi rasa benci dan marah. Mungkin ia mengingat temannya ini, sudah berhutang cukup lama kepada dia dan belum dibayar-bayar, Saudara,. Maka, dia langsung mendatangi temannya itu. Dengan geram ia mencekik temannya dan berkata, “Eh, lu belum bayar hutang ke gue, ya? Ayoo, buruan bayar.” Saudara, temannya itu pun berkata, &amp;nbsp;“ Sabarlah sedikit, hutangku itu akan kulunaskan.” Apa yang dilakukan hamba itu? Kepalanya yang telah dipenuhi rasa geram dan benci membuat dia semakin marah dan berkata, “Enak aza lu, sini lu!” Saudara, hamba itu menyeret temannya itu sendiri dan memasukkannya ke penjara. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, kisah ini dilanjutkan dengan dilaporkannya perbuatan hamba itu kepada raja oleh teman-temannya. Saat itu juga raja menjadi marah dan memanggil hamba itu. Raja berkata kepadanya, “&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Hai hamba yang &lt;b&gt;jahat&lt;/b&gt;, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau &lt;b&gt;&lt;i&gt;memohonkannya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; kepadaku.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Bukankah engkau&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;pun &lt;b&gt;harus&lt;/b&gt; &lt;b&gt;mengasihani&lt;/b&gt; kawanmu seperti &lt;b&gt;aku telah mengasihani&lt;/b&gt; engkau?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;” Saudara, raja itu begitu marah, dan akhirnya menyerahkan hamba tersebut kepada algojo-algojo sampai ia melunaskan hutang-hutangnya. Tuhan Yesus mengakhiri kisah ini dengan mengatakan, ”&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, perhatikan detail cerita ini. Tuhan Yesus sengaja mengisahkan seorang hamba yang punya hutang begitu besar yang tidak bisa dibayar, namun dihapuskan begitu saja oleh sang raja. Sebenarnya Tuhan Yesus ingin menekankan satu hal yang namanya “kemurahan” kepada Petrus. Nilai hutang sang hamba dalam cerita ini, sengaja dibuat begitu besar oleh Tuhan Yesus, untuk menggambarkan bahwa sebenarnya dari awal hamba itu &amp;nbsp;tidak akan mampu membayar hutang itu. Dia hanya akan menjadi seorang hamba yang berhutang seumur hidupnya. Hanya kemurahanlah dari sang rajalah yang dapat membayar hutang itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Pada akhirnya, sang hamba mendapatkan kemurahan itu. Tetapi apa responnya setelah itu? Ketika ada temannya yang berhutang kepadanya dan memohon belas kasihan kepadanya, ia tidak memberikan kemurahan. Ia lupa bahwa dirinya baru saja mendapatkan kemurahan yang begitu besar dari sang raja. Ia lupa akan pekerjaan besar yang sudah dilakukan raja dalam hidupnya. Ia lupa betapa besarnya kasih karunia yang sudah ia dapatkan, namun ia tidak mau memberikan hal yang sama kepada orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, jelas melalui kisah ini Tuhan Yesus sedang menggambarkan pengampunan vertikal dan horizontal. Hamba yang hutangnya begitu besar dan dihapuskan begitu saja oleh raja menggambarkan bagaimana besarnya kasih Allah yang mau memberi kemurahan kepada orang berdosa, yang mau memberi pengampunan kepada orang yang bersalah terhadap Dia. Namun yang seringkali terjadi adalah orang yang sudah diampuni itu tidak mau memberi pengampunan kepada orang lain. Oleh sebab itu, Yesus ingin mengajarkan kepada Petrus bahwa hal itu tidak boleh demikian. Sebaliknya, &lt;b&gt;setiap orang yang sudah mendapatakan pengampunan vertikal, harus siap untuk memberikan pengampunan horizontal. Setiap orang yang sudah diampuni Allah, harus siap untuk memberikan pengampunan kepada orang lain. Setiap orang yang sudah mendapatkan kasih karunia dari Allah, harus siap untuk memberi pengampunan.&lt;/b&gt; Inilah yang menjadi alasan Tuhan Yesus mengapa ia meminta Petrus untuk memberikan pengampunan tanpa batas. Sesungguhnya, &lt;b&gt;kasih karunia yang sudah ia dapatkan dari Allah harusnya memampukan dia untuk mengampuni orang lain.&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara, ada yang kenal orang ini? Ibu ini bernama Kim Phuc. Dia lahir di Trang Brang, Vietnam Selatan. Ibu ini adalah orang yang sama dalam foto ini. Foto ini diambil pada tahun 1972 dan memenangkan hadiah pulitzer, sebuah penghargaan yang diberikan Amerika Serikat kepada koran, junalisme, sastra atau musik. Saudara, apa yang terjadi pada saat itu? Ketika berumur sembilan &amp;nbsp;tahun, ia hidup dalam kondisi peperangan di Vietnam dan pada saat itu,pasukan Vietnam Utara berhasil menduduki desa Trang Brang, yang merupakan wilayah selatan itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Pada suatu hari tepatnya tanggal 8 Juni 1972 terjadilah suatu tragedi. Pasukan Vietnam Selatan mengira para penduduk sipil desa Trang Brang sudah dievakuasi dari desa tersebut. Mereka mengira desa tersebut hanya dihuni oleh pasukan militer Vietnam Utara, sehingga mereka menjatuhkan bom-bom di desa tersebut untuk menyerang pasukan Vietnam utara. Tetapi ternyata tanpa diketahui ada warga sipil yang bersembunyi di desa itu, salah satunya adalah ibu Kim Puch ini. Mereka terkena serangan bom. Di tengah kekacauan itu Kim puch berlari telanjang, dan berteriak, “Panas, panas sekali.” Saudara,ia terkena luka bakar yang mengerikan di punggungnya, sehingga ia harus dirawat di Rumah sakit selama 14 bulan dan harus mengalami operasi sebanyak 17 kali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, ternyata di balik tragedi menyedihkan ini, ada orang yang sangat merasa bersalah, dia adalah Pdt. John Plummer. Pada saat serangan ke desa Kim Puch itu ingin dilakukan, John Plummer adalah salah seorang yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada rakyat sipil di daerah itu. Dia berkata bahwa dia telah benar-benar memastikan bahwa tidak ada rakyat sipil di daerah itu. Namun terjadi kesalahan yang besar. Dia tidak tahu ada rakyat sipil yang bersembunyi di kuil. Serangan itu menyebabkan luka bakar yang mengerikan pada punggung ibu Kim Puch tadi dan dia juga harus kehilangan dua orang saudaranya. Plummer merasa sangat bersalah dan sangat ingin meminta maaf kepada Kim Puch.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Dua puluh lima tahun kemudian, dalam pertemuan Vietnam Veterans Memorial di Washington D. C., ternyata Plummer bertemu dengan Kim Phuc. Saudara-saudara, tidak disangka pada saat pertemuan itu, Kim Puch memberikan pernyataan pengampunan secara publik atas tragedi yang menimpa dia di Vietnam. Pada saat itu ia berkata, &amp;nbsp;“Jika saya bertemu dengan pilot pesawat yang menyerang desa saya, saya akan berkata kepadanya, “Saya memaafkannya. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, namun saya berharap kita bisa bekerja sama untuk masa depan.” Saudara-saudara, kisah ini sangat menyentuh hati Plummer, dia menulis artikel dalam sebuah majalah tentang kisah ini, dia mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;“&lt;i&gt;She saw my grief, my pain, my sorrow, she held out her arms to me and embraced me, all i could say was: “I’m Sorry; I’m sorry” over and over again. At the time she was saying, “it’s alright,it’s alright: I forgive, I forgive.”&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, hati saya tersentuh ketika membaca kisah ini, dan hal itu membuat saya bertanya-tanya. “Bukankah Kim Puch pada saat menerima serangan itu bukanlah seorang Kristen? Lalu, apa yang sebenarnya menyebabkan Kim Puch dapat mengampuni orang yang menyebabkan tragedi buruk itu terjadi?” Saudara,saya menyelidikinya di internet, dan saya menemukan jawabannya. Dalam satu wawancara di sebuah stasiun radio tahun 1950, dia menceritakan tragedi buruk yang tidak akan pernah ia lupakan itu. Saya tertegun ketika mendengar beberapa kalimat yang ia ucapkan, ia berkata: &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;“Ini adalah waktu yang sangat sulit bagi saya ketika saya pulang dari rumah sakit. Rumah kami hancur, kami kehilangan segalanya dan kami hanya bertahan dari hari ke hari. Kemarahan di dalam diriku seperti kebencian setinggi gunung&lt;span class="google-src-text"&gt;.&lt;/span&gt; Aku membenci hidupku. Aku benar-benar ingin mati berkali-kali. Kemudian aku menghabiskan siang hariku di perpustakaan untuk membaca banyak buku-buku agama untuk menemukan tujuan hidup saya. Salah satu buku yang saya baca adalah Alkitab. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Pada Natal 1982, saya menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi saya. Itu adalah titik balik luar biasa dalam hidup saya. Allah membantu saya untuk belajar mengampuni – pelajaran yang paling sulit dari semua pelajaran. Ini tidaklah terjadi dalam sehari dan itu tidak mudah.&lt;span class="google-src-text"&gt;.&lt;/span&gt; Tapi akhirnya saya berhasil. Pengampunan membuat saya bebas dari kebencian. Saya masih memiliki bekas luka yang banyak di tubuh saya dan menyisakan hari-hari yang menyedihkan tetapi paling tidak hati saya telah dibersihkan. Bom kimia itu memang sangat kuat tetapi iman, pengampunan dan kasih jauh lebih kuat. Kita tidak akan ada perang sama sekali jika semua orang bisa belajar bagaimana hidup dengan cinta sejati, pengharapan, dan pengampunan.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara, saya percaya hanya orang yang sudah diberilah yang akan dapat memberi. Hanya orang yang sudah mendapatkan kemurahan yang dapat memberikan kemurahan kepada orang lain. Orang yang sudah mendapatkan anugerah pengampunan dari Allah harusnya dapat memberikan pengampunan bagi orang lain. Kim Puch telah memberikan kita contoh. Ia telah meresponi kasih karunia yang ia dapatkan dengan tepat. Lalu bagaimana dengan kita Saudara,?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Aplikasi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara, mengampuni bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Kita berhadapan dengan yang namanya, kepedihan, kepahitan dan rasa sakit hati yang mendalam. Sulit sungguh sangat sulit. &amp;nbsp;Rasa sakit hati, benci dan dendam yang bercampur itu membuat kita berada dalam keadaan hidup tanpa pengampunan. Namun, sampai kapan kita akan hidup dalam keadaan demikian? Sampai kapan kita akan terus menyimpan gumpalan kepahitan itu dan membangun tembok-tembok &amp;nbsp;dendam dan kebencian? Saudara-saudara, kita butuh pemulihan, kita perlu mengampuni. Ingatlah, bukankah kita hamba-hamba yang tidak mampu melunasi hutang-hutang dosa kita kepada Allah? Tetapi bukankah kita juga yang telah memperoleh kasih karunia dari pada Allah, memperoleh anugerah pengampunan-Nya melalui kematian Kristus di kayu salib? Tidakkah kita ingat betapa besar harga yang dibayar Kristus untuk menebus dosa kita? Saudara-saudara, saya percaya setiap kita yang ada di sini adalah orang-orang yang telah memperoleh kasih karunia dari Allah dan saya yakin hanya orang yang sungguh-sungguh mengalami kasih karunia Allah-lah yang bisa dengan segenap hati mengampuni orang lain. &amp;nbsp;Jika kita benar-benar telah mengalami kasih karunia itu mengapa kita tidak bisa mengampuni orang yang pernah menganggap kita remeh, tidak menghargai kita dan menyakiti hati kita? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, jangan tampung sampah kebencian itu lagi. Mari kita akhiri rasa sakit hati itu hari ini. Mari kita mengampuni. Saya rasa bukan tidak bisa kita mengampuni, tetapi kadang kita lupa akan kasih karunia yang sudah kita dapatkan dari Allah. Ingatlah kasih karunia itu, ingatlah anugerah pengampunan yang telah Allah berikan. Itu lebih dari cukup agar kita dapat mengampuni orang lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara-saudara, saya akan mengakhiri khotbah ini dengan menampilkan sebuah video yang saya harap dapat mengingatkan kita kembali betapa besar harga yang dibayar Kristus untuk menebus dosa kita. Betapa besar kasih karunia yang Ia berikan kepada kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;(PUTARKAN VIDEO &lt;i&gt;AMAZING LOVE&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara,itulah yang telah dilakukan Kristus bagi kita. Ia datang ke dunia ini. ia memberikan kita pengampunan. Ia memberikan kasih karunia yang begitu besar bagi kita. Mari kita ingat kasih karunia itu. Biarkan kasih karunia itu mengalir ke seluruh sendi kehidupan kita, bagaikan air yang mengalir di setiap celah-celah hidup kita yang kering. Jangan biarkan tembok-tembok ego, kebencian dan dendam menghalanginya. Hancurkan tembok-tembok itu, supaya kita bisa berkata kepada orang yang telah menyakiti kita, “aku mengampunimu.” &amp;nbsp;Sesungguhnya Saudara, ketika rekonsiliasi itu terjadi, &lt;i&gt;the bad unforgotten moment &lt;/i&gt;itu akan hilang dan berubah menjadi&lt;i&gt; the sweet&lt;/i&gt; &lt;i&gt;unforgotten moment.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Amin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 18.95pt; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7976713270044809204-7233613992779662732?l=bennysolihin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bennysolihin.blogspot.com/feeds/7233613992779662732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/10/khotbah-matius-1821-35.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/7233613992779662732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/7233613992779662732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/10/khotbah-matius-1821-35.html' title='Khotbah Matius 18:21-35'/><author><name>Benny Solihin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02371777664459875856</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976713270044809204.post-3442061457313031370</id><published>2011-10-30T12:58:00.001-07:00</published><updated>2011-11-01T16:26:42.203-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><title type='text'>Khotbah Efesus 4:17-32</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: center; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;MANUSIA BARU&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: center; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;OLEH ANDREY THUNGGAL&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Saudara, ketika beberapa bulan yang lalu pelayanan di Manado, saya mengalami sebuah kejadian yang menarik. Suatu saat saya berjalan pulang dari gereja melewati sebuah &amp;nbsp;jalan yang sedikit lenggang.&amp;nbsp; Ada beberapa mobil memang, namun masih cukup jauh, dan saya menyeberangi jalan itu bersama beberapa orang.&amp;nbsp; Namun tiba-tiba ada sebuah mobil kijang merah yang ugal-ugalan, ngebut, dan hampir menabrak sekelompok ibu-ibu di depan saya.&amp;nbsp; Sontak sang sopir langsung berteriak, sambil memaki, lalu berkata: &lt;i&gt;“Ngoni pe badan besi sto?!” &lt;/i&gt;(“Kalian punya badan besi ya?!”)&amp;nbsp; Dalam sekejab, saya langsung menyaksikan percekcokan antara bapak-bapak dari dalam mobil dengan ibu-ibu itu; seperti di sinetron-sinetron, namun yang ini bukan sandiwara.&amp;nbsp; Yang lebih menarik saudara, di kaca depan kijang merah itu, tertulis: Panitia HUT Kaum Bapa se-gereja-gereja ... (sensor).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Saudara, saya pikir kasus yang saya hadapi itu adalah satu dari sekian banyak kasus lain yang juga Saudara mungkin pernah alami; kasus yang membuktikan bahwa identitas Kristen seseorang itu tidak menjamin perilakunya sesuai dengan imannya.&amp;nbsp; Padahal perilaku seseorang itu bagaikan sebuah baju yang dikenakan, yang menunjukkan identitasnya sang pemakainya.&amp;nbsp; Perilaku orang Kristen tentu seharusnya menunjukkan identitasnya sebagai orang Kristen.&amp;nbsp; Namun yang menjadi masalahnya adalah, tidak sedikit dari mereka tidak menyadari bahwa tingkah laku yang mereka tunjukkan itu sebenarnya tidak &lt;i&gt;matching&lt;/i&gt; dengan identitas mereka.&amp;nbsp; Contohnya saja bapak-bapak yang tadi itu.&amp;nbsp; Namun hal ini bukan hanya terjadi di kalangan jemaat, namun terjadi juga dalam kehidupan hamba Tuhan.&amp;nbsp; Di daerah-daerah tertentu kita dapat menemukan hamba Tuhan yang mabuk sebelum berkhotbah, bahkan mengajak anak-anak pemuda untuk mabuk bersama sebelum besoknya mereka di-sidi.&amp;nbsp; Bahkan tidak jarang kita mendengar hamba-hamba Tuhan yang selingkuh, menjadi hamba uang, bahkan hidup dalam berbagai hawa nafsunya.&amp;nbsp; Mereka tidak menyadari, bahwa mereka masih hidup dalam cara hidup yang lama.&amp;nbsp; Jangan lupa Saudara, mereka adalah orang-orang yang dulunya ada di seminari, yang duduk juga dalam kuliah maupun ibadah, dididik untuk menjadi hamba Tuhan yang hidup dalam cara hidup yang benar.&amp;nbsp; Namun ternyata kita temukan bahwa hal tersebut tidak menjamin seorang kebal terhadap kasus tersebut.&amp;nbsp; Jika hal ini tidak diwaspadai sedari dini, maka bukan tidak mungkin kita juga akan hidup dalam cara hidup yang demikian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Oleh karena itu Saudara, penting bagi kita untuk memiliki cara hidup yang &lt;i&gt;matching &lt;/i&gt;dengan identitas kita sebagai hamba Tuhan.&amp;nbsp; Penting bagi kita untuk mewaspadai sedari dini, cara hidup yang tidak berkenan pada Allah itu.&amp;nbsp; Penting bagi kita untuk menyelidiki dalam kehidupan kita, apakah cara hidup kita sudah berkenan kepada Allah, menunjukkan identitas kita sebagai hamba-hamba-Nya.&amp;nbsp; Penting bagi kita untuk menanggalkan cara hidup kita yang lama, dan mengenakan cara hidup yang baru.&amp;nbsp; &lt;b&gt;Penting bagi kita untuk menanggalkan manusia lama, dan mengenakan manusia baru.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Nah Saudara, hal inilah yang juga disampaikan oleh Paulus dalam surat Efesus ini.&amp;nbsp; Saudara, jika kita menghubungkan perikop ini dengan bagian pembukaan pasal 4, di sana Paulus mengatakan bahwa, “aku menasihatkan kamu . . . supaya hidupmu berpadanan dengan panggilan itu.”&amp;nbsp; Dan dalam ayat 17-32 di tekankan lebih lanjut tentang hidup yang berpadanan dengan panggilan Allah.&amp;nbsp; Karena itu ia menulis di ayat 17,&amp;nbsp; “sebab itu, kukatakan dan kutegaskan agar jangan hidup lagi sama seperti orang yang tidak mengenal Allah.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Siapakah figur orang yang tidak mengenal Allah ini?&amp;nbsp; Paulus mendeskripsikan mereka di ayat 17-19 sebagai orang yang memiliki pikiran yang sia-sia, hati yang gelap, jauh dari Allah, bodoh dan degil, sehingga mereka menyerahkan dirinya kepada hawa nafsu dan berbuat segala kecemaran.&amp;nbsp; Paulus menggunakan istilah &lt;i&gt;pleonexia&lt;/i&gt; yang diterjemahkan oleh LAI sebagai hawa nafsu.&amp;nbsp; Istilah ini dalam pengertian aslinya menggambarkan sifat rakus, tidak pernah puas, tamak, iri hati.&amp;nbsp; Dengan kata lain, istilah ini dapat diartikan sebagai nafsu serakah yang mengorbankan orang lain untuk kepentingan diri sendiri;&amp;nbsp; nafsu yang tidak terkendali untuk memiliki sesuatu yang bukan haknya; dan hal ini muncul melalui&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;berbagai tindakan seperti mencuri, memaksakan kehendak, penipuan, pertengkaran, ataupun berbagai rupa-rupa percabulan.&amp;nbsp; Mereka inilah yang disebut oleh Paulus di ayat 22 sebagai manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan.&amp;nbsp; Jadi manusia lama itu terlihat dengan jelas sebagai mereka yang hidup dengan hawa nafsunya, yang melakukan segala macam perbuatan cemar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dengan menunjuk pada figur manusia lama itulah, Paulus mengingatkan orang percaya akan identitas mereka sebagai orang-orang yang telah mengenal Allah.&amp;nbsp; Paulus mengatakan di ayat 20-21, “tetapi kamu bukanlah demikian.&amp;nbsp; Kamu telah belajar mengenal Kristus, mendengar tentang Dia, dan menerima pengajaran dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus.”&amp;nbsp; Paulus mengingatkan bahwa merekalah orang-orang yang telah mendapat anugerah Allah, mereka yang dulu berjalan dalam kecemaran dan hawa nafsu menuju kebinasaan itu, ditarik keluar oleh Allah.&amp;nbsp; Kepada mereka inilah, Paulus mengingatkan mereka agar mereka tidak menjadi sama dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah.&amp;nbsp; Di ayat 22-24 dikatakan: “kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,&amp;nbsp; supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Saudara, konsep manusia lama – manusia baru ini merupakan salah satu tema penting dalam teologi Paulus.&amp;nbsp; Roma 6:6&amp;nbsp; mengatakan bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.&amp;nbsp; Sementara Galatia 3:27 mengatakan bahwa identitas anak-anak Allah adalah mengenakan Kristus.&amp;nbsp; Mengenai hal ini, Thomas Schreiner menyebutkan bahwa&amp;nbsp; orang percaya dimampukan untuk melepaskan manusia lama, yaitu natur Adam yang pertama, yang telah mati melalui kematian Adam kedua di kayu salib; demikian juga orang percaya dimampukan untuk mengenakan manusia baru, Adam kedua, melalui kebangkitan Kristus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Konsep ini semakin jelas ketika kita mencoba menyimak paralelisme bagian ini dengan tulisan Paulus yang lain, dalam Kolose 3:9-10.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="border-collapse: collapse; margin-left: 4.7pt; width: 483px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 15pt;"&gt;   &lt;td colspan="2" nowrap="nowrap" style="border: 1pt solid windowtext; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 138.45pt;" width="185"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Kolose 3:9-10&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" nowrap="nowrap" style="-moz-border-bottom-colors: none; -moz-border-image: none; -moz-border-left-colors: none; -moz-border-right-colors: none; -moz-border-top-colors: none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: solid solid solid none; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 151.9pt;" width="203"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Efesus 4:22-24&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="-moz-border-bottom-colors: none; -moz-border-image: none; -moz-border-left-colors: none; -moz-border-right-colors: none; -moz-border-top-colors: none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: solid solid solid none; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 71.85pt;" width="96"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="height: 15pt;"&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="-moz-border-bottom-colors: none; -moz-border-image: none; -moz-border-left-colors: none; -moz-border-right-colors: none; -moz-border-top-colors: none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-right: 1pt solid windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 32.15pt;" width="43"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;3:9&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 106.3pt;" width="142"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;ἀποθέσθαι . . .&amp;nbsp; τὸν   παλαιὸν ἄνθρωπον&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 32.15pt;" width="43"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;4:22&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 119.75pt;" width="160"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;ἀπεκδυσάμενοι τὸν παλαιὸν ἄνθρωπον&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 71.85pt;" width="96"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;telah menanggalkan manusia lama&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="height: 15pt;"&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="-moz-border-bottom-colors: none; -moz-border-image: none; -moz-border-left-colors: none; -moz-border-right-colors: none; -moz-border-top-colors: none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-right: 1pt solid windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 32.15pt;" width="43"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;3:10&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 106.3pt;" width="142"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;ἐνδυσάμενοι τὸν νέον&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 32.15pt;" width="43"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;4:24&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 119.75pt;" width="160"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;ἐνδύσασθαι τὸν καινὸν ἄνθρωπον&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 71.85pt;" width="96"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;telah mengenakan manusia baru&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="height: 15pt;"&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="-moz-border-bottom-colors: none; -moz-border-image: none; -moz-border-left-colors: none; -moz-border-right-colors: none; -moz-border-top-colors: none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-right: 1pt solid windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 32.15pt;" width="43"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;3:10&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 106.3pt;" width="142"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;τὸν ἀνακαινούμενον εἰς ἐπίγνωσιν&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 32.15pt;" width="43"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;4:23&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 119.75pt;" width="160"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;ἀνανεοῦσθαι δὲ τῷ πνεύματι τοῦ   νοὸς ὑμῶν&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td nowrap="nowrap" style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; height: 15pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 71.85pt;" width="96"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;terus-menerus diperbaharui&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kata kerja yang digunakan oleh kedua bagian ini, yakni &lt;i&gt;apothesthai-apekdusamenoi&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;endusamenoi-endusasthai&lt;/i&gt; menggunakan &lt;i&gt;tense aorist&lt;/i&gt;, yang berarti bahwa hal tersebut telah terjadi satu kali di masa lampau, dan efeknya berlangsung hingga kini.&amp;nbsp; Artinya, ketika seseorang mengenal Kristus, maka ia telah menanggalkan manusia lama, dan pada saat itu telah mengenakan manusia baru, yaitu Kristus.&amp;nbsp; Namun kondisi ini tidak berhenti di situ saja; Paulus memakai istilah &lt;i&gt;anakainoumenon&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;ananeousthai &lt;/i&gt;yang menggunakan &lt;i&gt;tense present passive&lt;/i&gt;, yang sama-sama dapat diartikan dengan makna terus-menerus diperbaharui.&amp;nbsp; Hal ini menunjukkan bahwa pembaharuan, atau pengudusan orang percaya itu merupakan karya Roh Kudus yang memampukan orang percaya agar terus-menerus diperbaharui.&amp;nbsp; Dengan kata lain, perubahan status manusia lama menjadi manusia baru itu terjadi satu kali saja, namun pembaharuan hidup orang percaya itu terjadi terus-menerus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Suatu pertanyaan mungkin timbul dalam pikiran kita, “Diperbaharui dalam hal apa?”&amp;nbsp; Di ayat 23 Paulus menggunakan istilah &lt;i&gt;to pneumati tou noos humon&lt;/i&gt; yang secara literal diterjemahkan sebagai &lt;i&gt;the spirit of your mind&lt;/i&gt;, atau roh dari akal budimu.&amp;nbsp; Istilah ini dapat kita mengerti dengan lebih jelas apabila kita melihat karakteristik gaya penulisan surat zaman itu yang menggabungkan dua kata sinonim, sehingga istilah ini sebenarnya dapat diartikan sebagai bagian “inner,” di dalam manusia.&amp;nbsp; Jika kita bandingkan dengan tulisan Paulus di Roma 12:2, maka di situ Paulus menasihatkan jemaat Roma agar berubah oleh pembaharuan budi, &lt;i&gt;noos&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Sementara itu ayat serupa di Kolose 3:10, Paulus menjelaskan perubahan terus-menerus itu agar orang percaya dapat memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.&amp;nbsp; Dengan demikian, jelaslah bahwa pembaharuan yang terjadi dalam orang percaya adalah pembaharuan akal budi atau pikiran seseorang yang semakin serupa Kristus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Karena itu, Paulus menyadari, bahwa tanda seseorang mengenakan manusia baru itu terlihat dari perubahan akal budi/pola pikir yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga nampak dari perilaku orang tersebut.&amp;nbsp; Sehingga di ayat 25-32, Paulus menjabarkan serangkaian nasihat praktis sebagai wujud orang yang mengenakan manusia baru.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="border-collapse: collapse; width: 508px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm 5.4pt; width: 47.95pt;" width="64"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="-moz-border-bottom-colors: none; -moz-border-image: none; -moz-border-left-colors: none; -moz-border-right-colors: none; -moz-border-top-colors: none; border-color: black black black -moz-use-text-color; border-style: solid solid solid none; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 107.75pt;" width="144"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Larangan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="-moz-border-bottom-colors: none; -moz-border-image: none; -moz-border-left-colors: none; -moz-border-right-colors: none; -moz-border-top-colors: none; border-color: black black black -moz-use-text-color; border-style: solid solid solid none; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 120.5pt;" width="161"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Nasihat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="-moz-border-bottom-colors: none; -moz-border-image: none; -moz-border-left-colors: none; -moz-border-right-colors: none; -moz-border-top-colors: none; border-color: black black black -moz-use-text-color; border-style: solid solid solid none; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 104.85pt;" width="140"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Alasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="-moz-border-bottom-colors: none; -moz-border-image: none; -moz-border-left-colors: none; -moz-border-right-colors: none; -moz-border-top-colors: none; border-color: -moz-use-text-color black black; border-right: 1pt solid black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 47.95pt;" width="64"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;4:25&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 107.75pt;" width="144"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kebohongan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 120.5pt;" width="161"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Mengatakan   kebenaran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 104.85pt;" width="140"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sesama   anggota&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="-moz-border-bottom-colors: none; -moz-border-image: none; -moz-border-left-colors: none; -moz-border-right-colors: none; -moz-border-top-colors: none; border-color: -moz-use-text-color black black; border-right: 1pt solid black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 47.95pt;" width="64"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;4:26-27&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 107.75pt;" width="144"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Amarah   berkepanjangan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 120.5pt;" width="161"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Penyelesaian   konflik dan amarah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 104.85pt;" width="140"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Mencegah   iblis mengambil kesempatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="-moz-border-bottom-colors: none; -moz-border-image: none; -moz-border-left-colors: none; -moz-border-right-colors: none; -moz-border-top-colors: none; border-color: -moz-use-text-color black black; border-right: 1pt solid black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 47.95pt;" width="64"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;4:28&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 107.75pt;" width="144"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Mencuri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 120.5pt;" width="161"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Bekerja   sendiri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 104.85pt;" width="140"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Membagikan   sesuatu kepada yang berkekurangan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="-moz-border-bottom-colors: none; -moz-border-image: none; -moz-border-left-colors: none; -moz-border-right-colors: none; -moz-border-top-colors: none; border-color: -moz-use-text-color black black; border-right: 1pt solid black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 47.95pt;" width="64"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;4:29-30&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 107.75pt;" width="144"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Perkataan   kotor&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 120.5pt;" width="161"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pakai   perkataan yang membangun&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 104.85pt;" width="140"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Membagikan   kasih karunia pada orang lain; tidak mendukakan Roh Kudus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="-moz-border-bottom-colors: none; -moz-border-image: none; -moz-border-left-colors: none; -moz-border-right-colors: none; -moz-border-top-colors: none; border-color: -moz-use-text-color black black; border-right: 1pt solid black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 47.95pt;" width="64"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;4:31-32&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 107.75pt;" width="144"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kepahitan,   kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, kejahatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 120.5pt;" width="161"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ramah terhadap   yang lain, penuh kasih mesra, saling mengampuni&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 104.85pt;" width="140"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Allah di   dalam Kristus telah mengampuni kita&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Yang menarik bahwa dalam bagian ini Paulus tidak hanya sekadar memberikan nasihat, namun ia juga memberikan alasan mengapa hal tersebut harus dilakukan.&amp;nbsp; Jelas sekali hal ini berhubungan dengan argumen Paulus sebelumnya, bahwa Roh Kudus berkarya membaharui akal budi orang percaya secara terus-menerus; pembaharuan akal budi menghasilkan praksis yang benar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Secara singkat Saudara, pada perikop ini Paulus menegaskan bagi orang percaya, agar mereka tidak lagi hidup sama seperti orang yang tidak mengenal Allah.&amp;nbsp; Mereka itulah orang-orang yang disebut sebagai manusia lama, yang akan binasa karena hidup menurut hawa nafsu mereka.&amp;nbsp; Oleh karya Kristus, orang percaya telah dimampukan untuk menanggalkan manusia lama itu, dan mengenakan manusia baru.&amp;nbsp; Dan dalam kemanusiaan yang baru itulah,&amp;nbsp; akal budi/pola pikir orang percaya terus-menerus diperbaharui oleh Roh Kudus.&amp;nbsp; Sehingga melalui pola pikir yang diperbaharui itulah, muncul praksis yang benar; yakni perilaku manusia baru.&amp;nbsp; Menanggalkan perbuatan-perbuatan manusia lama yang penuh dengan hawa nafsu, dan mengenakan manusia baru yang semakin serupa Kristus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Saudara, suatu kali sementara makan bersama, seorang adik tingkat mengeluh, &lt;i&gt;“Aduuhh...yak opo yo carane bagi waktu?&amp;nbsp; Tugas-tugas durung mari, belom pertemuan ini itu, eh bajuku wes numpuk pula.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp; Saudara, saya pikir keluhan sang adik tingkat ini sangat manusiawi.&amp;nbsp; Di tengah kepadatan jadwal di seminari tersebut, masuk akal jika untuk mata kuliah cuci baju ini pun perlu di-&lt;i&gt;manage&lt;/i&gt; dengan baik.&amp;nbsp; Bayangkan saja saudara, untuk mencuci baju yang telah menumpuk selama seminggu, dibutuhkan waktu merendam, mengucek, serta membilas yang tidak sedikit; bahkan ada yang suka merendam semalaman.&amp;nbsp; Tak hanya itu, perlu waktu untuk menjemur dan menyetrika.&amp;nbsp; Setidaknya Saudara, mata kuliah cucilogi ini memakan waktu 2 SKS, 50 menit untuk rendam, kucek dan bilas, 50 menit untuk proses jemur dan setrika.&amp;nbsp; Tidak heran Saudara, ada beberapa mahasiswa yang telah berhasil menemukan cara kreatif untuk menyasati mata kuliah ini, yakni dengan menggunakan filsafat&lt;i&gt; rotasisisme&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Filsafat ini membantu sekali dalam mengurangi jumlah baju yang dipakai.&amp;nbsp; Jumlah baju yang seharusnya sejumlah 6 hari, dapat diminimalkan hingga setengahnya.&amp;nbsp; Saudara mau tahu bagaimana caranya?&amp;nbsp; Baju kuliah hari Senin “didaur-ulang” untuk hari Kamis, Selasa untuk hari Jumat, dan Rabu untuk hari Sabtu.&amp;nbsp; Tentu kesan yang ditampilkan adalah baju yang dipakai itu berganti-ganti, namun kalau diperhatikan, selama seminggu hanya ada 3 baju kuliah.&amp;nbsp; Ramah lingkungan Saudara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Saudara, filsafat rotasisisme ini mungkin menggelikan bagi sebagian kita, namun tidak sedikit juga di antara kita yang &lt;i&gt;“rada jijik”&lt;/i&gt; dengan filsafat ini. Memang standar setiap orang berbeda, namun saya yakin bahwa untuk memakai baju yang sama selama seminggu saja, adalah sebuah ketidak-wajaran.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Aplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Saudara, kita semua sadar, tidak seharusnya seseorang mengenakan baju yang lama terus-menerus, ia harus menggantinya dengan yang baju yang baru.&amp;nbsp; Namun ketika memaknai perikop ini, saya menjadi tertegun; ternyata saya lebih “jijik” untuk memakai baju yang lama terus-menerus, namun saya kurang merasa “terganggu” dengan memakai “baju” perilaku yang lama terus-menerus.&amp;nbsp; Ya Saudara, agaknya kita perlu kembali menyelidiki “baju” perilaku yang selama ini kita kenakan, jangan-jangan “baju” perilaku kita itu adalah “baju’ yang lama.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Mungkin kita &lt;i&gt;familiar&lt;/i&gt; ketika berbicara mengenai Allah, iman, maupun kekristenan, namun kita sebenarnya berada di titik rawan; rawan ketika iman maupun pengetahuan akan Allah itu hanya berada pada &lt;i&gt;level&lt;/i&gt; konsep, wacana, maupun doktrin belaka.&amp;nbsp; Mungkin kita fasih dalam berteologi, namun di sisi lain, mungkin kita gagap dalam bertindak, gagap ketika cara hidup kita dilihat.&amp;nbsp; Mungkin, sadar atau tidak sadar kita terhanyut dalam perkataan atau perbincangan yang sia-sia, gosip, atau malah cenderung menjelek-jelekkan orang lain, istilahnya pembunuhan karakter orang lain.&amp;nbsp; Mungkin kita menjadi orang yang dengan mudahnya mengikuti amarah kita, bahkan menyimpan kesalahan orang lain dengan begitu mendalam. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Mungkin kita adalah orang-orang yang terusik ketika melihat rekan kita mampu lebih pandai, lebih mampu daripada kita.&amp;nbsp; Iri hati ketika rekan kita “lebih diberkati” daripada kita.&amp;nbsp; Mungkin demi kepentingan diri kita sendiri, kita memilih untuk memelintir kebenaran, kompromi demi memuaskan hawa nafsu kita.&amp;nbsp; Kita lebih suka dilayani, meskipun sudah seharusnya kita melayani.&amp;nbsp; Kita lebih mengutamakan kepentingan diri kita sendiri, daripada menaruh perhatian terhadap kepentingan orang lain.&amp;nbsp; Atau mungkin juga, kita terlihat baik di luar, namun kita malu kalau cara hidup kita yang selama ini tersembunyi itu diketahui orang lain.&amp;nbsp; Kita tertunduk malu, karena kita sadar, ternyata kita masih mengenakan baju yang lama, yakni manusia lama itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Saudara, mari kita tunduk sejenak di hadapan Tuhan.&amp;nbsp; Mari kita merenungkan kembali makna penebusan Kristus dalam hidup kita ketika Engkau dan saya bertemu dengan anugerah Allah itu.&amp;nbsp; Kita yang seharusnya binasa, tenggelam dalam lumpur dosa itu, ditebus dengan darah-Nya yang kudus.&amp;nbsp; Ia memilih untuk memikul cela dan malu kita, supaya kita menjadi umat kesayangan-Nya, umat yang kudus, milik kepunyaan Allah sendiri.&amp;nbsp; Kita yang dulunya berjalan dalam kecemaran dan kesia-siaan, telah dimampukan untuk berjalan dalam kebenaran dan kekudusan.&amp;nbsp; Kita yang seharusnya tak dapat memilih yang apa yang benar, kini diperbaharui sehingga kita dapat memilih apa yang menyenangkan Dia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Saudara, untuk apa kita tinggal dalam cara hidup manusia lama?&amp;nbsp; Untuk apa kita berkubang dalam cara hidup yang sia-sia itu?&amp;nbsp; Buatlah keputusan hari ini, dan tinggalkan semua cara hidupmu yang lama.&amp;nbsp; Masuklah dalam&amp;nbsp; penyerahan yang penuh pada Roh Kudus, dan izinkan Dia memperbaharui hati dan pikiran kita, sehingga kita menjadi hamba-hamba-Nya yang berkenan di hadapan-Nya.&amp;nbsp; Menjadi hamba yang dipakai dan diperkenan oleh Allah.&amp;nbsp; Kiranya Roh Kudus senantiasa menolong dan memampukan kita semua.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Amin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7976713270044809204-3442061457313031370?l=bennysolihin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bennysolihin.blogspot.com/feeds/3442061457313031370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/10/khotbah-efesus-417-32_30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/3442061457313031370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/3442061457313031370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/10/khotbah-efesus-417-32_30.html' title='Khotbah Efesus 4:17-32'/><author><name>Benny Solihin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02371777664459875856</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976713270044809204.post-2288153737055263897</id><published>2011-10-30T12:50:00.000-07:00</published><updated>2011-11-01T16:16:05.246-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><title type='text'>Khotbah Roma 12:9-21</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;KARAKTERISTIK KASIH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;OLEH ANTHONY CHANDRA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, hari ini saya berkhotbah mengenai kasih. Kita sudah tahu bahwa hidup seorang Kristen harus mencerminkan kasih.&amp;nbsp; Kasih itu tidak bisa hanya sekedar di mulut, tetapi kasih itu harus riil.&amp;nbsp; Saya setidaknya menemukan beberapa persamaan antara karakteristik kasih orang Kristen dengan puisi yang sudah saya bacakan tadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Kasih orang percaya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Tidak malu untuk dikeluarkan, tetapi mengGALAUkan hati jika ditahan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Kasih orang percaya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Harusnya keluar dengan sendirinya dan tidak bisa disembunyikan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Kasih orang percaya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Bisa menyerang siapapun yang sudah percaya kepada Kristus&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Kasih orang percaya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Hanya memberi, tak harap kembali&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Kasih orang percaya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Janganlah malu mengakuinya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Kasih orang percaya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Wujudnya nyata dan jelas adanya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Kasih orang percaya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dapat dilihat dan bisa dirasakan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Kasih orang percaya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Alamiah, dan keluar dengan sendirinya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Kasih orang percaya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Tidak mengenal umur untuk dinyatakan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, di dalam perikop yang sudah kita baca tadi, dengan jelas kita melihat bahwa Paulus berulang-ulang memberikan contoh mengenai karakteristik kasih.&amp;nbsp; &lt;b&gt;Hari ini kita akan belajar dua &amp;nbsp;karakteristik kasih.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;I.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Kasih itu tulus, tidak mengharapkan fulus (ay. 9-13)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, Paulus membuka perikop 12:9-21 dengan mengatakan “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura.”&amp;nbsp; Kasih itu harus tulus, dan tidak mengharapkan fulus.&amp;nbsp; Kasih itu tidak munafik.&amp;nbsp; Kasih yang tulus seperti Allah mengasihi manusia, dan tentunya sudah dirasakan oleh orang percaya.&amp;nbsp; Kasih merupakan dasar dari keselamatan orang percaya.&amp;nbsp; Kasih bukan sekedar perasaan mengasihi, namun kasih membawa orang percaya kepada tindakan nyata kepada sesamanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, ayat 9-13, Paulus menjelaskan hal-hal praktis mengenai kasih yang seharusnya dilakukan orang percaya kepada sesama orang percaya.&amp;nbsp; Di dalam ayat 10 “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;SBL Greek&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;τῇ &lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% yellow;"&gt;φιλαδελφίᾳ&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; εἰς ἀλλήλους φιλόστοργοι, τῇ τιμῇ ἀλλήλους προηγούμενοι&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;(Rm. 12:10; BNT).”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; Paulus menggunakan “&lt;i&gt;philadelphia&lt;/i&gt;” yang berarti ikatan kasih yang terjadi di dalam keluarga.&amp;nbsp; Kasih yang ditunjukkan kepada sesama anggota keluarga.&amp;nbsp; Paulus dengan tepat memberikan contoh-contoh kasih yang harus dilakukan orang percaya atas dasar &lt;i&gt;philadelphia&lt;/i&gt;, kasih di dalam keluarga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, kasih di dalam keluarga merupakan contoh kasih yang tulus, yaitu kasih orangtua kepada anak-anaknya.&amp;nbsp; Kasih yang keluar dengan sendirinya, tanpa dipaksa, dan tanpa mengharapkan imbalan.&amp;nbsp; Orangtua mengasihi anaknya, dan pastilah orangtua tahu bahwa anaknya tidak mampu untuk membayar pengorbanan yang sudah mereka berikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, di dalam keluarga, saya adalah anak kesayangan papi dan mami.&amp;nbsp; Saya yakin adik-adik saya juga disayang sama mereka.&amp;nbsp; Namun saya tidak pernah mendengar papi atau mami saya bilang kepada kami “Anthony!&amp;nbsp; Bayar pelukan mami 50 ribu.”&amp;nbsp; Kalau memang mami berkata seperti itu saya akan berkata “APA???&amp;nbsp; Mati aku, tau gitu ga usah dipeluk.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, saya jadi ingat dengan lagu “Kasih Ibu” yang mengatakan tentang kasih yang tulus. Liriknya berkata seperti ini:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Kasih ibu kepada beta&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Tak terhingga sepanjang masa&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Hanya memberi, tak harap kembali&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Bagai sang surya menyinari dunia&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, Paulus menasehati jemaat Roma untuk menyatakan kasih yang terjadi di dalam keluarga.&amp;nbsp; Kasih yang tulus, tidak mengharapkan fulus.&amp;nbsp; Kasih yang hanya memberi, tak harap kembali.&amp;nbsp; Seperti sinar mentari yang memberikan cahayanya, dan tidak pernah mengharapkan cahayanya itu kembali kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Kemudian Paulus memberikan contoh-contoh kasih yang tulus itu di dalam &lt;b&gt;AYAT 9-13; 15. &lt;/b&gt;Ia berkata, “&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt; &lt;sup&gt;&amp;nbsp;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-, suatu kali saya mau parkir di stasiun Gambir. &amp;nbsp;Seperti biasanya, ada seorang juru parkir yang datang membantu saya.&amp;nbsp; Setelah saya selesai parkir dan hendak meninggalkan tempat parkir, tiba-tiba si juru parkir berteriak kepada saya.&amp;nbsp; “Woi mas mana uangnya?”&amp;nbsp; Saya sengaja tidak memberikan uang parkir kepada dia, karena saya sudah membayar biaya parkir di loket masuk, dan bagi saya itu sudah cukup.&amp;nbsp; Ya namanya juga mahasiswa, harus pinter-pinter ngatur duit.&amp;nbsp; Sebenarnya agak gak tega sih, tapi mau gimana lagi?&amp;nbsp; Uang parkir yang saya bayar di depan aja minjem sama temen sebelah.&amp;nbsp; Eh... ini malah minta lebih.&amp;nbsp; Dan lebih parahnya lagi, di seragam tukang parkir tersebut tertulis dengan jelas “NO TIPPING.” Saudara-saudara, budaya meminta tip setelah berbuat baik kepada orang lain nampaknya sudah lekat dengan kehidupan kita.&amp;nbsp; Walaupun seragam si tukang parkir itu tertulis “NO TIPPING” tapi baginya kasih identik dengan fulus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Aplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, kasih itu hendaknya dilakukan dengan hati yang tulus, dan tidak mengharapkan fulus.&amp;nbsp; Kalau dunia mengharapkan imbalan setelah berbuat baik, betapa malunya kita sebagai anak Allah ketika juga mengharapkan imbalan ketika kita berbuat baik kepada orang lain. Kita adalah anak-anak Allah yang telah menerima kasih yang tulus dari Kristus.&amp;nbsp; Kasih yang dia berikan ketika kita masih berdosa.&amp;nbsp; Kasih yang tidak mengharapkan imbalan dari siapapun yang menerima kasih-Nya.&amp;nbsp; Bahkan kasih-Nya yang lebih mahal dari perak dan emas itu tidak mungkin kita mampu untuk membayar-Nya.&amp;nbsp; Karena itu, tuluslah dalam mengasihi orang lain, sama seperti Kristus mengasihi orang berdosa.&amp;nbsp; Kasih seperti sinar mentari yang menerangi bumi.&amp;nbsp; Tulus memberi, dan tidak mengharapkan kembali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;II.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Kasih itu tidak membalas kejahatan (ay. 14-21)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, kondisi jemaat Roma pada waktu itu tidaklah baik.&amp;nbsp; Ada konflik antara orang Yahudi Kristen dengan Gentile Kristen, dan ditambah lagi adanya penganiayaan dari pemerintahan Romawi.&amp;nbsp; Saudara-saudara, saya membagi keadaan jemaat Roma menjadi dua macam, yaitu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;1.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Sakit yang muncul di dalam tubuh Kristus&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, jemaat Roma yang terdiri dari Yahudi Kristen dan Gentile Kristen mengalami konflik.&amp;nbsp; Awal mula konflik mereka bermula ketika orang Yahudi Kristen yang dahulunya merupakan mayoritas orang Kristen di Roma diusir oleh Kaisar Claudius pada tahun 49, dan setelah Claudius meninggal, orang Yahudi Kristen kembali lagi ke Roma.&amp;nbsp; Mereka kaget ketika mendapati bahwa gereja Roma telah didominasi oleh orang Gentile.&amp;nbsp; Hal inilah yang mengakibatkan timbulnya ketegangan sosial di antara mereka.&amp;nbsp; Yahudi Kristen dan Gentile saling mengejek, dan menganggap dirinya paling benar.&amp;nbsp; Hal inilah yang menimbulkan rasa sakit yang muncul di dalam tubuh Kristus.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;2.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Sakit yang berasal dari luar tubuh&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, orang Kristen abad &amp;nbsp;pertama tidak lepas dari yang namanya penganiayaan dari orang Yahudi, Yunani, maupun Romawi.&amp;nbsp; Orang Kristen dianggap batu sandungan oleh orang Yahudi, orang bodoh oleh orang Yunani, dan pemberontak oleh orang Romawi.&amp;nbsp; Semua penganiayaan orang Kristen disebabkan karena mereka menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, tentunya keadaan ini merupakan sebuah pergumulan bagi jemaat Roma untuk mengasihi orang yang telah berbuat jahat kepada mereka.&amp;nbsp; Walaupun tidak mudah, namun itulah kasih yang seharusnya ditunjukkan orang percaya kepada sesama dan dunia.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Di dalam ayat 14 Paulus mengatakan “&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; Dia mengutip pengajaran Yesus dalam Matius 5:44, “&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;” dan Lukas 6:28 “M&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;intalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;”&amp;nbsp; Meminta berkat kepada Allah berkaitan erat dengan sebuah doa.&amp;nbsp; Bukanlah hal mudah untuk berdoa kepada Allah memohon berkat kepada orang yang telah berbuat jahat kepada kita, namun berkali-kali Paulus mengingatkan jemaat Roma “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan!”&amp;nbsp; “Hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”&amp;nbsp; “Kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, kasih itu tidak membalas kejahatan, karena di dalam kasih terkandung pengampunan.&amp;nbsp; kasih juga tidak menuntut pembalasan, tetapi menyadari bahwa pembalasan adalah hak Allah, dan Allah sendirilah yang akan menuntut pembalasan.&amp;nbsp; Allah tahu segala sakit hati kita ketika orang lain berbuat jahat kepada kita, meskipun demikian Allah tidak mengijinkan kita mengambil hak-Nya untuk membalaskan kejahatan.&amp;nbsp; Allah tidak diam melihat kejahatan, namun Allah masih memberikan waktu kepada orang jahat untuk bertobat. Oleh sebab itu, seharusnya menjadi suatu &amp;nbsp;kehormatan bagi setiap orang percaya untuk mempunyai sikap kasih yang tidak membalas kejahatan dengan cara m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;emberikan makan ketika kita melihat seteru kita lapar, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;emberikan minum ketika kita melihat seteru kita haus&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Dengan demikian, kita menumpukkan bara api di atas kepalanya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Frasa “menumpukkan bara api di atas kepalanya” tentu tidak dapat diartikan secara harafiah.&amp;nbsp; Melalui kutipan dari Amsal ini Paulus mendorong jemaat Roma untuk tetap menunjukkan kebaikan kepada orang yang berbuat jahat kepada mereka dengan harapan supaya mereka malu dengan perbuatannya yang jahat.&amp;nbsp; Malu karena orang percaya membalas perbuatan jahatnya dengan perbuatan baik.&amp;nbsp; Semua perbuatan baik itu bertujuan supaya mereka bertobat dan menerima kasih Kristus dalam kehidupannya.&amp;nbsp; Mengasihi orang yang belum percaya atau bahkan musuh kita merupakan karakteristik kasih yang harus kita tunjukkan secara riil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; font-weight: normal; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, ada sebuah kisah mengenai dua teman yang sedang berjalan-jalan di padang pasir. Pada suatu saat, tiba-tiba saja obrolan mereka berubah menjadi suatu perdebatan yang keras sehingga salah seorang dari mereka menampar wajah temannya.&amp;nbsp; Yang ditampar pipinya, biarpun sakit, diam membisu, dengan jarinya ia menulis di pasir: "Hari ini, temanku menampar pipiku."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; font-weight: normal; line-height: 150%;"&gt;Kemudian, mereka meneruskan perjalanan dan &amp;nbsp;sampai di sebuah oase. Mereka berhenti di sana untuk menyegarkan diri. &amp;nbsp;Orang yang ditampar itu mulai turun ke oase. Namun tiba-tiba, ia terpersok dan &amp;nbsp;mulai tenggelam. Melihat temannya tenggelam, temannya yang menampar itu langsung menolongnya. Ia dengan cepat menarik temannya keluar dan menyelamatkannya. &amp;nbsp;Setelah selamat dan &amp;nbsp;lepas dari rasa takut, orang itu menulis di atas sebuah batu: "Hari ini temanku menyelamatkanku."&amp;nbsp; Kawannya yang menolong dan menampar sahabat itu, bertanya, "Mengapa setelah aku menyakitimu, kau menulis di pasir, dan sekarang setelah menyelamatkanmu, kau menulis di atas sebuah batu?" Sambil tersenyum temannya menjawab, &amp;nbsp;"Apabila seorang menyakiti kita, hendaklah kita menulisnya di atas pasir, dimana angin pengampunan nantinya akan meniup dan menghilangkannya. Tetapi bila terjadi peristiwa agung, hendaklah itu kita ukir dalam batu hati kita, dimana tidak pernah akan ada angin yang bisa menghapusnya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Aplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, Paulus dengan indah menutup perikop ini dengan mengatakan “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”&amp;nbsp; Saudara, kalahkanlah kejahatan yang orang lain lakukan kepada kita dengan tindakan kasih yang nyata.&amp;nbsp; Dengan kasih yang tidak membalas kejahatan itu, kita berdoa supaya orang yang melihat dan merasakan kasih yang kita tunjukkan dapat mengenal Kristus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, saya sangat bersyukur mempunyai seorang teladan yang hidupnya mempraktekan kedua karakteristik kasih di atas.&amp;nbsp; Saya ingat ketika nenek saya berniat untuk membelikan laptop untuk saya.&amp;nbsp; Dia menabung sedikit demi sedikit dari uang bulanan yang diberikan anaknya sampai uang yang terkumpul itu cukup untuk membelikan saya laptop. &amp;nbsp;Saya tahu bahwa sebenarnya uang yang dia kumpulkan dapat dia gunakan untuk pergi ke dokter dan berobat, tetapi dia sengaja mengumpulkannya supaya saya bisa menjadi mahasiswa yang baik.&amp;nbsp; Nenek saya pasti tahu bahwa saya tidak dapat membalas perbuatannya, tetapi hal itu tidak menyurutkan kasihnya kepada saya.&amp;nbsp; Dia dengan tulus melakukan semua itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Selain itu, di dalam keluarga, nenek merupakan orang yang menjadi korban dari kemarahan dari anaknya yang pertama.&amp;nbsp; Saya pernah mendengar anaknya yang pertama memarahi nenek saya.&amp;nbsp; Dia marah bukan karena kesalahan nenek, tetapi karena kesalahan dari adik-adiknya.&amp;nbsp; Dia melampiaskan amarahnya kepada nenek saya.&amp;nbsp; Saudara-saudara, respon nenek saya hanya diam dan menangis.&amp;nbsp; Apakah dia marah?&amp;nbsp; Apakah dia benci?&amp;nbsp; Ternyata tidak!&amp;nbsp; Pada malam harinya ketika nenek saya berdoa, saya kaget ketika dia mendoakan anaknya yang pertama dengan berlinang air mata.&amp;nbsp; Dia hanya bisa menyerahkan kesedihan karena sikap anaknya kepada Tuhan.&amp;nbsp; Di dalam doanya, dia tidak berkata “Tuhan, kutuk anak itu.”&amp;nbsp; Tetapi yang keluar dari mulutnya adalah berkat supaya anaknya itu sadar dan sikapnya berubah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, kasih yang tulus dan tidak membalaskan kejahatan memang bukanlah perkara yang mudah.&amp;nbsp; Banyak pergumulan, dan kesulitan ketika kita mengusahakannya.&amp;nbsp; Tetapi saya yakin Roh Kudus akan menolong dan memampukan kita untuk mengasihi orang lain dengan tulus dan tidak membalaskan kejahatan.&amp;nbsp; Biarlah di dalam kehidupan sehari-hari, kita melaksanakan firman Tuhan ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Amin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7976713270044809204-2288153737055263897?l=bennysolihin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bennysolihin.blogspot.com/feeds/2288153737055263897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/10/khotbah-roma-129-21.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/2288153737055263897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/2288153737055263897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/10/khotbah-roma-129-21.html' title='Khotbah Roma 12:9-21'/><author><name>Benny Solihin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02371777664459875856</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976713270044809204.post-7606314132949304468</id><published>2011-10-29T10:11:00.001-07:00</published><updated>2011-11-01T16:13:05.955-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Eksegese'/><title type='text'>Eksegese Yohanes 7:53 – 8:11</title><content type='html'>&lt;div align="center" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 26.05pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;YESUS, MESIAS YANG ADIL DAN KASIH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 26.05pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;Oleh Astid Angelina&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 26.05pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 26.05pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 26.05pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Narasi mengenai perempuan yang berzinah dalam Yohanes 7:53 – 8:11 ini merupakan salah satu perikop yang kontroversial dan banyak diperdebatkan oleh para sarjana biblika sehubungan dengan keotentikan teksnya.&amp;nbsp; Berdasarkan analisis terhadap bukti-bukti eksternal, memang didapati bahwa sangat kuat kemungkinan teks ini bukan bagian asli dari Injil Yohanes, melainkan ditambahkan kemudian.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn1" title=""&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Keunikan tersebut menggelitik pemikiran penulis untuk mempelajari teks ini secara lebih mendalam.&amp;nbsp; Timbul pertanyaan di benak penulis, apa signifikansi teks ini sehingga konsili gereja kemudian memasukkannya ke dalam kanon Perjanjian Baru, secara khusus di antara Yohanes 7:52 dan 8:11.&amp;nbsp; Penulis yakin tentu ada suatu hal yang sangat penting yang ingin disampaikan oleh Allah kepada jemaat-Nya sehingga Roh Kudus memimpin orang-orang yang terlibat dalam proses kanonisasi saat itu untuk memasukkan teks ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Berpijak pada hal itu, karya tulis ini hendak mengajak pembaca untuk menyelidiki apa pesan penting yang terkandung dalam perikop Yohanes 7:53 – 8:11 dan kemudian menarik implikasinya bagi kehidupan masa kini.&amp;nbsp; Berhubung karya tulis ini difokuskan untuk mendapatkan amanat teks dari perikop tersebut, maka perdebatan mengenai keotentikan teks hingga bagaimana proses teks ini dapat dimasukkan dalam kanon Perjanjian Baru tidak akan dibahas di sini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Amanat Teks Yohanes 7:53 – 8:11&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;LAI memberi judul “Perempuan yang Berzinah” untuk perikop ini.&amp;nbsp; Sekilas membaca judul tersebut, ada beberapa orang yang menerka fokus pembicaraan bagian ini adalah mengenai masalah perzinahan.&amp;nbsp; Sebagai implikasinya, mereka menjadikan ayat-ayat ini sebagai landasan untuk berkhotbah mengenai perzinahan.&amp;nbsp; Parahnya lagi, ada oknum-oknum tertentu yang memaksa bagian ini untuk mendukung kebobrokan moral mereka dengan alasan bahwa Yesus sendiri tidak menghukum perempuan yang berzinah tersebut.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn2" title=""&gt;[2]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Itu artinya dosa perzinahan adalah dosa yang ringan sehingga tidak terlalu menjadi masalah jika dilakukan.&amp;nbsp; Tuhan pasti sangat mengerti sifat kedagingan manusia yang lemah terhadap godaan hawa nafsu seksual.&amp;nbsp; Tidak apa-apa jika kadang-kadang terjatuh, asal setelah itu jangan lupa memohon ampun.&amp;nbsp; Tentu saja pemikiran seperti itu sama sekali menyimpang dari maksud Alkitab. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di sisi lain, ada juga orang-orang yang menggunakan perikop ini untuk mendukung feminisme.&amp;nbsp; Mereka menekankan pembahasan pada sikap Yesus terhadap perempuan itu; betapa Yesus mengasihi dan memandang berharga kaum wanita sehingga membelanya sedemikian rupa.&amp;nbsp; Cara penafsiran seperti ini juga tidak tepat karena hanya mengambil sebagian teks dengan mencabut dari konteksnya untuk mendukung pemikiran mereka dan tidak memperhatikan pesan yang ingin disampaikan teks secara keseluruhan (eisegesis).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Penafsiran lain yang lebih umum beredar di kalangan gereja secara luas adalah bahwa perikop ini berbicara mengenai pengampunan; bahwa Yesus tetap mengasihi orang berdosa dan mau mengampuninya sehingga kita juga harus mengampuni sesama kita yang berbuat kesalahan.&amp;nbsp; Pandangan itu memang tidak sepenuhnya salah dan merupakan salah satu implikasi logis dari bagian ini. &amp;nbsp;Namun, apakah itu pesan yang utama sesungguhnya ingin disampaikan?&amp;nbsp; Adalah hal yang sangat penting bagi orang-orang Kristen untuk menggali dan memahaminya dengan tepat.&amp;nbsp; Itulah yang coba dicapai dalam karya tulis ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; letter-spacing: -0.2pt;"&gt;Setelah dilakukan penyelidikan secara komprehensif terhadap teks, didapati bahwasanya makna perikop ini jauh lebih kaya daripada “sekedar” Yesus mengampuni seorang perempuan yang jatuh dalam dosa perzinahan (tanpa bermaksud mengecilkan arti dari pengampunan itu sendiri).&amp;nbsp; Di dalamnya terkandung tema keadilan dan kasih yang mengontraskan penghakiman manusia dan penghakiman Kristus. &amp;nbsp;Untuk lebih memahami pesan yang ingin disampaikan lewat narasi ini, pertama-tama akan diberikan gambaran mengenai &lt;i&gt;setting&lt;/i&gt; kejadiannya dan diikuti dengan penjelasan bagian per bagian.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Latar Belakang Kejadian (Yoh. 7:53 – 8:2)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kisah dalam perikop ini merupakan salah satu peristiwa yang terjadi dalam kunjungan Yesus ke Yerusalem untuk merayakan hari raya pondok Daun di tahun terakhir-Nya (band. 7:37).&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn3" title=""&gt;[3]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Sebagai laki-laki Yahudi, Yesus memang memiliki kewajiban untuk datang beribadah ke Bait Allah di Yerusalem pada hari raya-hari raya tertentu (Paskah, Pentakosta, dan Pondok Daun) setiap tahunnya (Ul. 16:16).&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn4" title=""&gt;[4]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Selain beribadah, Yesus rupanya tidak menyia-nyiakan momen di mana semua orang Yahudi berkumpul di Yerusalem tersebut untuk mengajar mereka.&amp;nbsp; Sejak pagi hari Yesus sudah ada di Bait Allah untuk mengajar dan malam harinya ia beristirahat di rumah Maria dan Marta di Betania yang terletak di bagian Timur Bukit Zaitun.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref5"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn5" title=""&gt;[5]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Muslihat di balik Kasus Wanita yang Berzinah (Yoh 8:3-6a)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Suatu pagi ketika Yesus sedang duduk mengajar di Bait Allah seperti biasa, tiba-tiba ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menghadapkan seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah kepada Yesus.&amp;nbsp; Sekilas mungkin tidak nampak kejanggalan dalam peristiwa ini, namun jika kita mempelajari lebih lanjut konsep perzinahan pada masa itu, ditemukan banyak kejanggalan yang menggiring pada suatu kesimpulan negatif.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Konsep Perzinahan Pada Masa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dalam Perjanjian Lama, yang dimaksud dengan perzinahan (bahasa Ibrani: &lt;i&gt;naaph&lt;/i&gt;) meliputi dua hal: &lt;i&gt;pertama,&lt;/i&gt; semua hubungan seksual yang dilakukan oleh seorang wanita yang sudah menikah dengan pria yang bukan suaminya; dan &lt;i&gt;kedua&lt;/i&gt;, semua hubungan seksual di luar nikah yang dilakukan oleh seorang pria dengan wanita yang sudah bertunangan (Kej. 38:15-16; Im. 19:20-22; Ul. 22:28-29).&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref6"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn6" title=""&gt;[6]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Semua bentuk hubungan seksual di luar nikah dilarang bagi seorang wanita karena ia adalah milik suaminya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref7"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn7" title=""&gt;[7]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Sebaliknya, pria berkewajiban untuk menghindari semua hubungan seksual di luar nikah.&amp;nbsp; Seorang pria baru akan dianggap berzinah jika ia melakukan hubungan seksual dengan istri orang lain.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref8"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn8" title=""&gt;[8]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Lebih lanjut lagi, perzinahan bagi orang Israel bukan saja merupakan pelanggaran terhadap pernikahan dan keluarga, namun juga merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah yang Kudus (Kel. 20:14) sehingga para pezinah harus dihapuskan dari antara orang Israel (Ul. 22:22b).&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref9"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn9" title=""&gt;[9]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Hukuman untuk perzinahan adalah hukuman mati.&amp;nbsp; Seorang wanita yang sudah bertunangan jika kedapatan berzinah akan dilempari batu sampai mati bersama dengan pria selingkuhannya (Ul. 22:23-27).&amp;nbsp; Seorang istri yang kedapatan melakukan hubungan seksual dengan pria yang bukan suaminya juga harus dihukum mati bersama dengan pria tersebut (Im. 21:10; Ul. 22:22), namun Hukum Taurat tidak mengatur secara spesifik bagaimana metode yang harus digunakan untuk menghukum mati mereka.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref10"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn10" title=""&gt;[10]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Sehubungan dengan beratnya hukuman terhadap perzinahan ini, tentu saja perlu ada pemeriksaan yang cermat terhadap setiap pengaduan perkara.&amp;nbsp; Jika ada seorang wanita yang dituduh oleh suaminya telah melakukan perzinahan, imam harus melakukan sebuah ujian cemburuan dengan air pahit untuk membuktikan apakah ia benar-benar bersalah atau tidak (Bil. 5:11-31).&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref11"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn11" title=""&gt;[11]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Konsep perzinahan di Perjanjian Lama tersebut masih terus dipegang sampai dengan masa Perjanjian Baru, termasuk dalam perikop ini.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref12"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn12" title=""&gt;[12]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Hal ini dibuktikan dengan dikutipnya Keluaran 20:14 di beberapa bagian Perjanjian Baru (Mat. 19:18; Mrk. 10:19; Luk. 18:19; Yak. 2:11).&amp;nbsp; Namun perlu menjadi perhatian khusus, hukuman bagi pezinah menjadi rancu pada jaman kekuasaan Romawi karena hukum Roma mengatur bahwa para pezinah tidak harus dihukum mati, hanya akan diceraikan tanpa mendapatkan uang cerai dan tidak diijinkan menikah dengan selingkuhannya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref13"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn13" title=""&gt;[13]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Para pezinah itu kemudian akan dibuang/diasingkan dan kehilangan harta bendanya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref14"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn14" title=""&gt;[14]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Konsep perzinahan yang telah dijabarkan di atas akan memberi wawasan yang benar untuk menangkap motif sesungguhnya di balik tindakan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang kedapatan berzinah kepada Yesus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Kejanggalan-Kejanggalan dalam Yohanes 7:53 – 8:11&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Berpijak pada uraian di atas, dapat diduga wanita yang dihadapkan kepada Yesus dalam perikop ini adalah seorang yang sudah bertunangan sehingga ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi hendak melempari dia dengan batu ketika mendapatinya berzinah.&amp;nbsp; Namun, ada beberapa hal yang perlu disoroti dalam teks ini: &lt;i&gt;pertama, &lt;/i&gt;menurut hukum Taurat, pasangan yang kedapatan sedang berbuat zinah – baik pria maupun wanita – harus dihukum mati (Ul. 22:22).&amp;nbsp; Namun pada peristiwa ini hanya si wanita yang kemudian ditangkap dan diperhadapkan pada Yesus sementara prianya dibiarkan lolos.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref15"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn15" title=""&gt;[15]&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;, hukum Taurat menuntut adanya pemeriksaan yang seksama terhadap tuduhan perzinahan yang dilontarkan pada seseorang (Ul. 19:15-19).&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref16"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn16" title=""&gt;[16]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Hukuman mati tidak dapat sembarangan dilakukan hanya atas dasar kesaksian seseorang yang kurang jelas tanpa pemeriksaan lebih lanjut.&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;wanita tersebut diperhadapkan pada Yesus di tengah orang banyak yang sedang mendengarkan pengajaran Yesus.&amp;nbsp; Di sini terlihat para ahli Taurat dan orang-orang Farisi tersebut sengaja ingin agar peristiwa ini diketahui oleh masyarakat luas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Keempat, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;hukum yang diberlakukan oleh pemerintah Roma di pengadilan Yahudi pada saat itu tidak memberlakukan hukuman mati bagi kasus perzinahan.&amp;nbsp; Hanya &lt;i&gt;temple violation&lt;/i&gt; yang bisa dituntut dengan hukuman mati.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref17"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn17" title=""&gt;[17]&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dari beberapa hal yang dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;pertanyaan yang diajukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi di ayat 4-5 tidak ditujukan untuk mencari nasihat, namun mereka ingin menjebak Yesus dalam suatu dilema yang sama-sama berujung pada kehancuran-Nya.&amp;nbsp; Jika Yesus mengutamakan Taurat, Ia berkontradiksi dengan gaya hidup dan pengajaran-Nya, juga mengabaikan hukum Roma.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref18"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn18" title=""&gt;[18]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Seperti telah dijelaskan di atas, hukum Roma yang berlaku saat itu hanya menuntut hukuman cerai dan pengasingan bagi wanita yang berzinah.&amp;nbsp; Dengan menyetujui perajaman terhadap wanita tersebut, Yesus dapat didakwa dengan beberapa tuntutan: &lt;i&gt;pertama,&lt;/i&gt; tidak taat pada hukum yang berlaku dan dengan demikian melawan otoritas pemerintah Romawi; &lt;i&gt;kedua,&lt;/i&gt; memprovokasi massa sehingga menimbulkan kekacauan di dan pembunuhan.&amp;nbsp; Dua hal tersebut cukup untuk menuduh Yesus telah memberontak terhadap pemerintah Romawi dan menyebabkan Dia dijatuhi hukuman mati. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di sisi lain, jika Yesus melarang mereka melempari wanita tersebut dengan batu, Ia memperlihatkan diri-Nya sebagai orang yang mengabaikan hukum Musa.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref19"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn19" title=""&gt;[19]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Hukum Musa – seperti kita ketahui – adalah hal yang sangat dijunjung tinggi oleh orang Yahudi, bahkan dianggap sebagai bagian dari identitas mereka sebagai bangsa pilihan Allah.&amp;nbsp; &lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt;Bangsa Yahudi memandang orang yang tidak memegang hukum Musa sebagai orang kafir yang tidak pantas disebut sebagai umat Allah.&amp;nbsp; Tentu saja sangat mustahil mereka akan menerima orang tersebut adalah Mesias yang diutus Allah.&amp;nbsp; Cara ini tentu sangat efektif digunakan untuk mendiskredikan Yesus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi memanfaatkan kasus wanita yang berzinah tersebut untuk menjebak Yesus.&amp;nbsp; Tindakan itu dilatarbelakangi penolakan mereka terhadap kemesiasan Yesus yang dinyatakan melalui perkataan-perkataan dan karya-Nya, di mana mereka malah melihatnya sebagai salah satu bentuk penghujatan terhadap Yahweh.&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Respon Yesus (Yoh. 8:6b-11)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Yesus melakukan beberapa hal untuk menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tersebut, yang sesungguhnya ingin mengomunikasikan sesuatu.&amp;nbsp; Pesan itulah yang harus ditangkap untuk memperjelas maksud dari perikop ini secara keseluruhan.&amp;nbsp; Respon itu berupa tindakan membungkuk dan menulis sesuatu di tanah, mempersilakan orang yang tidak berdosa untuk melempar batu pertama kali, serta membiarkan wanita tersebut pergi.&amp;nbsp; Berikut ini akan diberikan uraian mengenai respon tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 1cm; text-align: justify; text-indent: -27.6pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;I.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Menulis pada tanah/debu (Yoh. 8:6, 8)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hal pertama yang dilakukan setelah pertanyaan para ahli Taurat dan orang Farisi itu diajukan adalah Ia membungkuk lalu menulis sesuatu dengan jari-Nya di tanah.&amp;nbsp; Tentu saja huruf Yunani yang bisa ditulis-Nya tanpa berpindah tempat sangat terbatas, hanya sekitar enam belas karakter.&amp;nbsp; Memang tidak ada petunjuk yang kuat untuk dapat mengetahui dengan pasti apa yang ditulis-Nya, namun ada beberapa dugaan kalimat yang diusulkan oleh para ahli, yang panjangnya sesuai dengan keterangan di atas.&amp;nbsp; Ada yang menafsirkan Yesus menulis baris pertama dari hukum kesepuluh: “Jangan mengingini istri sesamamu.”&amp;nbsp; &lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt;Hal ini dihubungkan dengan Allah yang menulis Sepuluh Hukum dengan jari-Nya (Kel. 31:18; Ul. 9:10).&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref20"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn20" title=""&gt;[20]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Tafsiran lain mengusulkan yang ditulis oleh Yesus pertama kali (ay. 6) adalah Keluaran 23:1b “janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar” dan yang kedua kali (ay. 8) adalah Keluaran 23:7 “Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta. Orang yang tidak bersalah dan orang yang benar tidak boleh kaubunuh, sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah.”&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref21"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn21" title=""&gt;[21]&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Meskipun terlalu sulit untuk mengetahui dengan pasti apa yang ditulis oleh Yesus, namun dari penyelidikan terhadap ungkapan yang biasa digunakan oleh orang pada saat itu, kita dapat mengerti apa maksud Yesus dengan membungkuk dan menulis di tanah dengan jari-Nya.&amp;nbsp; Kata “tanah” atau “debu” (&lt;i&gt;earth&lt;/i&gt;) kadang-kadang menunjuk pada “dunia bawah” atau dunia orang mati (Mzm. 61:2, Ayb. 7:21), yang digunakan juga dalam literatur-literatur Kanaan dan Mesoptamia kuno.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref22"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn22" title=""&gt;[22]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Yeremia 17:3 adalah salah satu contoh ayat yang menggunakan kata tersebut: “…&lt;i&gt;those who turn away from you shall be written in the earth, for they have forsaken the LORD, the fountain of living water&lt;/i&gt;.”&amp;nbsp; Ungkapan “ditulis pada tanah/debu” (&lt;i&gt;written in the earth&lt;/i&gt; – ESV, KJV, NKJ / &lt;i&gt;written in the dust&lt;/i&gt; – NIV), mengandung arti “&lt;i&gt;destinated for death&lt;/i&gt;” sebagai kontras dari “ditulis dalam kitab kehidupan” (“&lt;i&gt;writen in the book of life&lt;/i&gt;”) yang berarti akan mendapatkan hidup yang kekal (band. Kel. 32:32; Dan. 12:1; Mzm. 69:28; Luk. 10:20; Why. 20:12; 21:27 ).&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref23"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn23" title=""&gt;[23]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Yesus melakukan hal itu mungkin untuk mengingatkan perempuan itu bahwa dirinyalah yang dimaksud oleh firman Tuhan tersebut.&amp;nbsp; Di sini tersirat bahwa Yesuslah pintu untuk memperoleh keselamatan.&amp;nbsp; Ia memiliki otoritas untuk menentukan nasib manusia dalam kekekalan; hidup kekal ato selamanya binasa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 1cm; text-align: justify; text-indent: -27.6pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;II.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Mempersilakan Orang yang Tidak Berdosa untuk Melempar Batu Pertama Kali (Yoh. 8:7)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Karena para ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus menerus bertanya pada Yesus, maka Ia kemudian berdiri dan berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."&amp;nbsp; Kalimat yang penuh hikmat ini merupakan pukulan telak bagi para pemuka agama itu.&amp;nbsp; Taktik mereka gagal total.&amp;nbsp; Yesus tidak melanggar hukum Taurat maupun hukum Roma, namun justru menelanjangi kemunafikan mereka. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Berdasarkan hukum Taurat, saksi-saksi mata seharusnya adalah orang pertama yang melempar batu, tetapi saksi-saksi palsu akan menerima hukuman yang sama dengan yang dialami oleh korban mereka (Ul. 17:7; 19:15-19).&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref24"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn24" title=""&gt;[24]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Jika Yesus hanya “memberi restu” pada orang banyak itu untuk bertindak sesuai dengan hukum Taurat, mungkin apa yang direncanakan oleh para pemuka agama itu akan terjadi.&amp;nbsp; &lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt;Namun pernyataan Yesus agar orang yang tidak berdosalah yang pertama melempar batu, membuat mereka tak dapat berbuat apa-apa selain pergi.&amp;nbsp; Pernyataan itu menyadarkan bahwa sesungguhnya mereka semua juga adalah orang-orang berdosa di hadapan Allah, sama dengan wanita yang berzinah itu.&amp;nbsp; Satu-satunya orang yang tidak berdosa di sana dan berhak melempari wanita itu adalah Yesus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 36.75pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;III.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Memberi Putusan (Yoh. 8:10-11)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Setelah semua orang pergi meninggalkan Yesus berdua dengan perempuan itu, berkatalah Yesus: “Hai perempuan, di manakah mereka?&amp;nbsp; Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”&amp;nbsp; Perempuan itu menjawab: “Tidak ada, Tuhan.”&amp;nbsp; Lalu Yesus melanjutkan: “Aku pun tidak menghukum engkau.&amp;nbsp; Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kata-kata Yesus yang terakhir kuat menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang adil dan kasih. &amp;nbsp;Yesus adalah Anak Allah memiliki kuasa untuk menghakimi manusia.&amp;nbsp; Keadilan-Nya nampak ketika Ia tidak menyangkali dosa perempuan itu.&amp;nbsp; Ia menyatakan perempuan itu bersalah.&amp;nbsp; Namun alih-alih menghukum perempuan tersebut, Yesus memilih untuk mengampuni dan memberikan kesempatan kedua.&amp;nbsp; Di situlah letak kasih dan anugerah-Nya yang begitu besar.&amp;nbsp; Bukan kehancuran/kebinasaan manusia berdosa yang dikehendaki oleh Yesus, melainkan pertobatan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dengan demikian, dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perikop ini sesungguhnya hendak menyaksikan bahwa Yesus adalah Mesias yang adil dan kasih; Mesias yang memiliki berkuasa untuk menghakimi serta menghukum kesalahan namun memilih untuk memberi pengampunan dan kesempatan kedua berdasarkan kebesaran kasih setia-Nya.&amp;nbsp; Kebenaran ini sejalan dengan tujuan penulisan Injil Yohanes: “Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah.” (Yoh. 20:31).&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Signifikasi Narasi Yohanes 7:53-8:11&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Salah satu tema yang cukup menonjol dalam Injil Yohanes adalah mengenai penghakiman.&amp;nbsp; Tema tersebut makin kuat dalam narasi kisah-kisah yang terjadi di sekitar hari raya Pondok Daun mulai dari 7:1.&amp;nbsp; Secara garis besar, 7:1-52 berbicara mengenai penilaian dan penghakiman orang-orang terhadap Yesus.&amp;nbsp; Di sana kontroversi mulai berkembang. &amp;nbsp;Pasal 7:1-13 menunjukkan penilaian-penilaian orang terhadap Yesus.&amp;nbsp; Ada yang memandang-Nya sebagai orang baik, namun ada pula yang menuduh-Nya telah menyesatkan rakyat.&amp;nbsp; Menanggapi itu, Yesus memberi kesaksian tentang diri-Nya di ayat 14-24 dan memperingatkan mereka agar jangan menghakimi apa yang nampak, tetapi haruslah menghakimi dengan adil.&amp;nbsp; Mendengar jawaban Yesus tersebut, banyak orang yang kemudian berusaha menangkap-Nya, meskipun ada juga di antara orang banyak itu yang kemudian menjadi percaya (ay. 25-36).&amp;nbsp; Pada hari terakhir perayaan Pondok Daun, Yesus sekali lagi menyaksikan kemesiasan-Nya dengan menyatakan diri sebagai sumber air hidup (ay. 37-44), yang kembali menghasilkan bermacam-macam respon.&amp;nbsp; Ada yang menganggap-Nya nabi, Mesias, tetapi ada juga yang menolak-Nya karena melihat dari kota asal Yesus.&amp;nbsp; Kali ini Yesus dibela oleh seorang bernama Nikodemus (ay. 45-52).&amp;nbsp; Jika disimpulkan, Yohanes 7:1-52 bicara mengenai penghakiman manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Perikop selanjutnya, 7:53-8:11, seperti telah disebutkan dalam pendahuluan, merupakan narasi yang disisipkan kemudian.&amp;nbsp; Tanpa narasi ini banyak sarjana melihat justru alur kisahnya mengalir dengan lebih lancar dan lebih kronologis menuju ke pernyataan Yesus bahwa Ia adalah terang dunia (8:12-20).&amp;nbsp; Menurut beberapa ahli, Yesus mengucapkannya pada momen akhir hari raya Pondok Daun karena di saat itu orang-orang Yahudi akan menyalakan empat lampu besar di Pelataran Wanita dan bersukacita menari sepanjang malam dengan obor.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7976713270044809204&amp;amp;postID=7606314132949304468" name="_ftnref25"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7976713270044809204#_ftn25" title=""&gt;[25]&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Melalui analogi tersebut, Yesus ingin menyatakan identitasnya sebagai Juruselamat dunia yang memberi terang hidup kepada manusia yang sedang ada dalam kegelapan dosa.&amp;nbsp; Penyataan ini memicu terjadinya kontroversi yang menggiring pada tema pembahasan mengenai penghakiman Kristus yang adil dan benar, berbeda dengan penghakiman manusia.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kenyataan bahwa pernyataan mengenai terang dunia di atas diucapkan Yesus pada saat puncak hari raya Pondok Daun memperlihatkan sesungguhnya perikop 8:12-20 adalah sambungan dari 7:37-52.&amp;nbsp; &lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt;Jika demikian, pertanyaan yang selanjutnya muncul adalah apa signifikasi keberadaan narasi 7:53 – 8:11 sehingga dianggap perlu untuk disisipkan dalam bagian ini.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pada bagian pertama tulisan ini telah diperlihatkan dengan jelas bahwa Yohanes 7:53 – 8:11 hendak menyaksikan bahwa Yesus adalah Mesias yang adil dan kasih.&amp;nbsp; Di dalamnya terkandung tema penghakiman yang memperbandingkan antara penghakiman manusia dengan penghakiman Kristus.&amp;nbsp; Manusia yang dalam perikop ini diwakili oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi cenderung hanya melihat kesalahan dari orang lain dan tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka juga adalah orang berdosa.&amp;nbsp; Mereka lebih senang melihat orang lain dihukum daripada diampuni.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak terlihat adanya belas kasihan, yang ada hanya perasaan superior, bahwa diri mereka yang paling benar.&amp;nbsp; Kontras sekali dengan penghakiman Kristus yang adil namun penuh belas kasihan.&amp;nbsp; Yesus menyatakan kesalahan perempuan yang berzinah itu tetapi memilih untuk mengampuni dan memberikan kesempatan kedua padanya untuk bertobat.&amp;nbsp; Tema penghakiman dalam perikop ini memang ditemui juga dalam perikop sebelum dan sesudahnya&lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt;.&amp;nbsp; Namun keberadaan perikop ini signifikan untuk menunjukkan secara konkret perbedaan antara penghakiman manusia yang korup dan egosentris dengan penghakiman Allah yang adil dan berlandaskan kasih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan dan Aplikasi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large; letter-spacing: -0.3pt;"&gt;Perikop ini hendak menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias yang adil dan kasih.&amp;nbsp; Ketika kita terjatuh dalam dosa, masih tersedia pengampunan dan kesempatan kedua bagi kita.&amp;nbsp; Yang harus kita lakukan adalah mengakui dosa kita, memohon pengampunan, dan berbalik dari perbuatan kita yang jahat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ketika mendengar atau mendapati ada saudara yang jatuh dalam dosa, kita tidak boleh langsung menghakimi dan menghukum mereka, apalagi mengasingkan mereka dari gereja.&amp;nbsp; Sebagai anggota tubuh Kristus, kita wajib untuk menegur orang-orang tersebut.&amp;nbsp; Tentu saja ketika menegur, kita harus benar-benar memeriksa motivasi kita terlebih dahulu.&amp;nbsp; &lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt;Kita menegur bukan dengan semangat ingin menjatuhkan mereka dan menunjukkan bahwa diri kita lebih baik, melainkan dengan kesadaran penuh bahwa kita adalah sama-sama manusia yang rentan jatuh dalam dosa.&amp;nbsp; Tujuan kita menegur adalah agar mereka menyadari dosa mereka dan kemudian bertobat.&amp;nbsp; Oleh karena itu kita juga wajib menerima mereka kembali ketika mereka menyadari kesalahannya dan memberikan kesempatan kedua bagi mereka.&amp;nbsp; Tentu saja teguran harus dilakukan dengan baik sesuai dengan firman Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Demikian pula ketika ada orang lain yang berbuat kesalahan kepada kita sehingga menyakiti hati kita.&amp;nbsp; Kita juga wajib mengampuni mereka.&amp;nbsp; Sejujurnya kita juga adalah sama-sama berdosa seperti wanita yang berzinah dalam perikop ini.&amp;nbsp; Namun Yesus telah menebus dan mengampuni kita.&amp;nbsp; Sudah selayaknyalah kita yang telah mendapat pengampunan juga memberikan pengampunan kepada orang yang bersalah kepada kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;DAFTAR KEPUSTAKAAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 21.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Balz, Horst dan Schneider, Gerhard. &amp;nbsp;&lt;i&gt;Exegetical Dictionary of te New Testament Volume 2&lt;/i&gt;. Grand Rapids: Eerdmans, 1981.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Barker, Kenneth. &amp;nbsp;&lt;i&gt;The NIV Study Bible.&amp;nbsp; &lt;/i&gt;Grand Rapids: Zondervan, 1985.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Bauer, Walter. &amp;nbsp;&lt;i&gt;A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature.&amp;nbsp; &lt;/i&gt;Chicago: Chicago Press, 1957.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Beasley,George R. &amp;nbsp;&lt;i&gt;Word Biblical Commentary: John&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Waco: Word Books, 1987.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Burge, Gary M. &amp;nbsp;&lt;i&gt;The NIV Application Commentary: John&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Grand Rapids: Zondervan, 2000. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Carson, D.A. &amp;nbsp;&lt;i&gt;PNTC: The Gospel According to John&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Grand Rapids: Eerdmans, 1991.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Feinberg, C.L . &lt;i&gt;Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid &lt;/i&gt;II.&amp;nbsp; Jakarta: OMF, 1995.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hagelberg, Dave. &amp;nbsp;&lt;i&gt;Tafsiran Injil Yohanes Pasal 6-12.&amp;nbsp; &lt;/i&gt;Yogyakarta: Andi, 2001.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Keener, Craig S. &amp;nbsp;&lt;i&gt;The IVP Bible Backgroun Commentary: New Testament&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Illinois: InterVarsity, 1993. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kittel, Gerhard. &amp;nbsp;&lt;i&gt;Theological Dictionary of the New Testament Volume IV.&amp;nbsp; &lt;/i&gt;Grand Rapids: Eerdmans, 1967.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Verbrugge, Verlyn D. &amp;nbsp;&lt;i&gt;The NIV Theological Dictionary of New Testament Words.&amp;nbsp; &lt;/i&gt;Grand Rapids: Zondervan, 2000. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Withacre, Rodney A. &amp;nbsp;&lt;i&gt;The IVP New Testament Commentary Series: John&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Illinois: InterVarsity, 1999.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 26.05pt 0cm 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Wright, J.S. dan Thompson, J.A. &amp;nbsp;&lt;i&gt;Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II&lt;/i&gt;. Jakarta: OMF, 1995.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 26.05pt; margin-top: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7976713270044809204-7606314132949304468?l=bennysolihin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bennysolihin.blogspot.com/feeds/7606314132949304468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/10/eksegese-yohanes-753-811.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/7606314132949304468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/7606314132949304468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/10/eksegese-yohanes-753-811.html' title='Eksegese Yohanes 7:53 – 8:11'/><author><name>Benny Solihin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02371777664459875856</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976713270044809204.post-7158652670453725102</id><published>2011-10-29T10:06:00.000-07:00</published><updated>2011-11-01T16:12:07.540-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><title type='text'>Khotbah Markus 5:1-20</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 18.95pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;SUPERIORITAS TUHAN YESUS ATAS ROH JAHAT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 18.95pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;OLEH SIUJONO&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 18.95pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 18.95pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 18.95pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saudara-saudara, suatu kali ada seorang pemuda Kristen yang ditempatkan di sebuah mess karyawan oleh bosnya.&amp;nbsp; Pada saat itu, hanya ia dan seorang penjaga yang tinggal di situ.&amp;nbsp; Penjaga mess tersebut berpesan kepada pemuda itu, “&lt;i&gt;Mas, kalau waktu malam jangan sering-sering keluar.&lt;/i&gt;”&amp;nbsp; “&lt;i&gt;Emangnya kenapa Pak?&lt;/i&gt;”&amp;nbsp; “&lt;i&gt;Soalnya tempat ini angker, pernah ada yang bunuh diri di sini.&lt;/i&gt;”&amp;nbsp; Mendengar hal itu, pemuda tersebut menjadi ketakutan.&amp;nbsp; Jadi pada saat malam hari, ia berdiam dalam kamarnya, ia tidak berani keluar.&amp;nbsp; Walaupun ia &lt;i&gt;kebelet&lt;/i&gt; buang air kecil pun, ia berusaha tahan, karena ia teringat akan cerita bapak penjaga tersebut.&amp;nbsp; Tidurnya menjadi tidak tenang, ia tidak berani mematikan lampu, ia seolah-olah mendengar suara yang aneh-aneh.&amp;nbsp; Saat itu ia tidak lagi dapat menggunakan pikiran sehatnya, sehingga malam itu menjadi malam yang sangat panjang baginya, malam yang penuh dengan ketakutan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saudara-saudara, rasa takut akan setan atau roh jahat telah begitu menguasai pemuda tersebut.&amp;nbsp; Hal ini membuat ia harus mengalami kejadian yang tidak mengenakkan itu.&amp;nbsp; Bagaimana kalau kita yang ditempatkan di posisi pemuda itu?&amp;nbsp; Apakah kita juga akan melakukan hal yang sama?&amp;nbsp; Saya rasa mungkin di antara kita ada yang pernah mengalami ketakutan seperti itu atau paling tidak pernah mendengar cerita seperti itu.&amp;nbsp; Pertanyaannya adalah mengapa kita sebagai anak-anak Tuhan masih saja bisa ditakut-takuti oleh setan atau roh jahat?&amp;nbsp; Bukankah kita semua adalah anak-anak Tuhan yang senantiasa dijaga oleh-Nya?&amp;nbsp; Atau apakah mungkin karena kita tidak yakin akan kuasa Tuhan yang dapat menolong kita?&amp;nbsp; Lalu jika kita sendiri belum sungguh-sungguh percaya, bagaimana mungkin kita dapat menyaksikan kepada orang lain tentang kuasa Tuhan Yesus? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Saudara-saudara, Tuhan Yesus adalah Allah yang berkuasa atas segala roh jahat yang mengganggu manusia, Ia menginginkan kita semua untuk sungguh-sungguh percaya kepada-Nya sehingga kita dapat menjadi saksi-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Hal inilah yang ingin disampaikan dalam teks yang tadi telah dibacakan.&amp;nbsp; Melalui perikop ini, kita dapat melihat bukti superioritas Tuhan Yesus atas roh jahat dan bagaimana seharusnya respons kita terhadap kuasa yang ditunjukkan-Nya.&amp;nbsp; Mari kita perhatikan bagian pertama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;I.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Bukti superioritas Tuhan Yesus atas roh jahat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Dalam kisah pengusiran roh jahat di daerah orang Gerasa ini, paling tidak kita dapat menemukan empat bukti yang dapat membawa kita pada kesimpulan bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang berkuasa atas roh jahat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Bukti pertama dapat kita temukan dari reaksi orang yang kerasukan tersebut akan kedatangan Tuhan Yesus.&amp;nbsp; Pada saat ia melihat Tuhan Yesus, ia segera berlari untuk mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, ia berlutut di hadapan Tuhan Yesus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Jangan lupa Saudara, bahwa orang ini sedang dirasuki roh jahat.&amp;nbsp; Markus memberikan kita gambaran yang jelas dan rinci tentang kondisi orang ini pada ayat 3-5.&amp;nbsp; Dikatakan bahwa tidak ada seorang pun yang sanggup mengikatnya, bahkan dengan rantai dan belenggu pun tidak bisa.&amp;nbsp; Setiap kali tangan dan kakinya diikat, rantainya diputuskan dan belenggunya dimusnahkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Gambaran Markus tentang orang ini lebih cocok ditujukan kepada binatang buas daripada seorang manusia.&amp;nbsp; Pada ayat 4 dikatakan “tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk &lt;i&gt;menjinakkannya&lt;/i&gt;.”&amp;nbsp; Kata Yunani dari “menjinakkan” adalah &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Koine; font-size: large;"&gt;damavsai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;dengan kata dasar &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Koine; font-size: large;"&gt;damavzw&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;.&amp;nbsp; Kata ini dipakai dalam Yakobus 3:7 untuk menjelaskan tindakan menjinakkan binatang buas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Biasanya orang yang buas ini berlari mengejar orang lain dan mengamuk, tetapi kini dia berlari kepada Tuhan Yesus dengan rasa hormat.&amp;nbsp; Meskipun Tuhan Yesus tidak membawa rantai atau belenggu, Ia dapat mengendalikan orang yang kerasukan tersebut.&amp;nbsp; Bahkan roh jahat yang ada di dalam dirinya gemetar dan tunduk di hadapan Tuhan Yesus.&amp;nbsp; Ini merupakan bukti pertama superioritas Tuhan Yesus atas roh jahat itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saudara, bukti kedua dapat kita lihat pada identitas roh jahat yang dicatat pada ayat 9.&amp;nbsp; Pada ayat ini Tuhan Yesus menanyakan nama dari orang itu, dan ia menjawab, “&lt;i&gt;Namaku Legion, karena kami banyak.&lt;/i&gt;”&amp;nbsp; Kata Legion ini merupakan suatu istilah militer yang berarti suatu pasukan besar yang terdiri atas kurang lebih 6000 prajurit.&amp;nbsp; Tuhan Yesus tidak sedang berhadapan dengan satu setan saja, tetapi sepasukan setan.&amp;nbsp; Pantas saja tidak ada orang yang bisa menaklukkannya, hanya Tuhan Yesus yang bisa, karena Dialah Allah yang berkuasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Kemudian, bukti selanjutnya dapat kita lihat pada ayat 10-13.&amp;nbsp; Roh jahat itu memohon kepada Yesus untuk jangan mengusir mereka keluar dari daerah itu, mereka tunduk kepada Yesus, mereka tidak bisa melakukan apa-apa tanpa seijin Yesus.&amp;nbsp; Roh-roh tersebut kemudian meminta kepada Tuhan Yesus, “&lt;i&gt;Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!&lt;/i&gt;”&amp;nbsp; Saat itu memang ada babi-babi yang sedang mencari makan di lereng bukit.&amp;nbsp; Tuhan Yesus mengabulkan permohonan mereka dan kemudian keluarlah roh jahat itu dan memasuki babi-babi yang kira-kira berjumlah dua ribu ekor.&amp;nbsp; Kemudian babi-babi tersebut terjun ke danau dan mati lemas.&amp;nbsp; Kata “suruhlah” dan “biarkanlah” yang dipakai di sini menunjukkan suatu kepatuhan total terhadap otoritas Tuhan Yesus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saudara-saudara, bukti yang terakhir dan yang terutama adalah pada pengenalan dan pengakuan roh jahat itu pada ayat 7.&amp;nbsp; Ia berkata, “&lt;i&gt;Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi?&amp;nbsp; Demi Allah, jangan siksa aku!&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Tindakan dari orang yang kerasukan ini sangat mirip dengan yang digambarkan oleh Markus dalam pengusiran roh jahat oleh Tuhan Yesus dalam rumah ibadat di Kapernaum.&amp;nbsp; Pada dua kejadian ini, orang yang kerasukan tersebut berteriak dan menangis dengan keras.&amp;nbsp; Mereka mengakui keilahian Kristus serta menunjukkan ketakutan bahwa Yesus akan menyiksa mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Orang yang kerasukan tersebut mengenal Tuhan Yesus dan ia mengakui bahwa memang benar “Yesus adalah Allah Yang Mahatinggi.”&amp;nbsp; Dalam kepercayaan orang Yahudi sendiri, kata “Allah Yang Mahatinggi” merupakan suatu penekanan dan pengagungan Allah Israel di atas dewa-dewa bangsa lain.&amp;nbsp; Dengan kata lain, ungkapan ini ingin menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah yang berkuasa melebihi kuasa-kuasa lainnya termasuk roh jahat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ilustrasi &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saudara-saudara, kita tentu setuju bahwa orang-orang pada umumnya tidak akan mudah untuk percaya begitu saja dengan perkataan orang lain.&amp;nbsp; Pada saat suatu &lt;i&gt;statement &lt;/i&gt;disampaikan, reaksi pertama dari pendengar adalah bertanya, “Apa benar begitu?&amp;nbsp; Buktikan dulu dong, baru saya percaya.”&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Misalnya: suatu kali ada seorang pemuda yang berkata kepada seorang gadis, “Aku cinta padamu, maukah engkau menjadi pacarku.”&amp;nbsp; Apa reaksi gadis itu?&amp;nbsp; Apa ia langsung terima?&amp;nbsp; Tidak, tunggu dulu.&amp;nbsp; Si gadis berkata, “Masa sih Mas, buktikan dulu cintamu padaku, baru aku akan menerimamu.”&amp;nbsp; “Ok…ok..tak buktiin,” kata pemuda itu.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Hal yang sama terjadi juga pada seorang penjual obat di jalanan.&amp;nbsp; Ia berkata, “Mari Bapak-bapak, ibu-ibu, belilah obat ini, bisa menyembuhkan semua penyakit.”&amp;nbsp; “Ayo mari pak,bu, datang sakit, pulang sembuh, dijamin.”&amp;nbsp; Kemudian orang-orang mulai berkerumun dan seorang ibu bertanya, “Bener pak pakai obat ini bisa sembuh?”&amp;nbsp; “Bener Bu, dijamin pasti sembuh.”&amp;nbsp; Kemudian tiba-tiba datang seorang Bapak yang sakit kakinya, sambil memegang tongkat, ia berkata, “Pak…Pak..saya mau coba.”&amp;nbsp; “Mari pak, silakan.”&amp;nbsp; Kemudian penjual obat tersebut mengoleskan obatnya, dan Bapak yang sakit itu berdiri dan berkata, “aku sembuh.”&amp;nbsp; “Tuh Pak, Bu, Bapak ini sudah sembuh, sekarang percaya bukan?”&amp;nbsp; “Ayo siapa yang mau beli?”&amp;nbsp; “Mau..mau..Pak.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Aplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saudara, itulah kekuatan dari suatu pembuktian.&amp;nbsp; Dengan adanya bukti yang mendukung suatu &lt;i&gt;statement&lt;/i&gt;, orang-orang yang mendengarkan akan menjadi percaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Demikian pula dengan pernyataan bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang berkuasa, orang-orang juga mungkin tidak akan percaya begitu saja.&amp;nbsp; Tetapi melalui tindakan Tuhan Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa, dapat dibuktikan bahwa memang Tuhan Yesus adalah benar-benar Allah yang berkuasa, tidak ada kuasa manapun yang mampu menyamai kuasa Tuhan Yesus.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Bukti-bukti yang disodorkan manusia bisa saja berupa penipuan, misalnya dalam kasus penjual obat tadi, bapak yang sakit kakinya itu bisa saja adalah teman penjual obat yang berpura-pura sakit untuk menipu konsumen.&amp;nbsp; Tetapi berbeda sekali dengan bukti yang kita temukan dalam Alkitab karena Alkitab merupakan sumber yang benar dan terpercaya.&amp;nbsp; Sehingga tidak ada alasan untuk meragukannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saudara, biarlah setelah kita melihat bukti yang ditunjukkan dalam bagian Alkitab ini, dari mulut kita keluar suatu pengakuan “Tuhan Yesus adalah Allah yang berkuasa.&amp;nbsp; Ia sanggup mengalahkan kuasa roh jahat yang mengganggu manusia.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Namun apakah cukup jika kita hanya mengakui kuasa-Nya?&amp;nbsp; Tidak saudara-saudara.&amp;nbsp; Tuhan Yesus menuntut respons yang lebih dari itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;II.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Respons yang seharusnya kita miliki setelah melihat kuasa yang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ditunjukkan Tuhan Yesus&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saudara-saudara, setiap orang tentu saja memiliki respons yang berbeda akan sesuatu yang dialaminya atau diketahuinya.&amp;nbsp; Ada orang-orang yang memberikan respons yang baik, tetapi banyak juga yang memberikan respons negatif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Seperti yang kita lihat dari respons orang-orang di daerah Gerasa terhadap tindakan Tuhan Yesus yang telah mengusir roh jahat.&amp;nbsp; Orang-orang yang tinggal di daerah tersebut tidak memberikan respons yang baik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Rupanya kabar mengenai apa yang dilakukan Tuhan Yesus telah sampai ke kampung dan kota sekitar.&amp;nbsp; Para penjaga babi tersebut yang melaporkannya, mereka tidak ingin disalahkan atas matinya babi-babi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Kemudian orang-orang kota tersebut datang dan melihat suatu mukjizat yang menakjubkan, mereka melihat orang yang tadinya kerasukan tersebut sekarang telah waras, yang tadinya telanjang sekarang berpakaian, yang tadinya mengamuk sekarang duduk tenang di dekat kaki Yesus.&amp;nbsp; Mereka ketakutan, sebelumnya mereka telah putus asa untuk menjinakkan orang itu dengan rantai dan belenggu, sedangkan Tuhan Yesus membebaskan dia hanya dengan kata-kata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Kondisi ini paralel dengan apa yang terjadi kepada murid-murid Yesus sebelum mereka sampai di daerah orang Gerasa.&amp;nbsp; Saat itu perahu yang mereka tumpangi dilanda angin topan yang dahsyat.&amp;nbsp; Murid-murid Tuhan Yesus sudah berusaha mengendalikan perahu tersebut dan mereka sudah mulai putus asa, akhirnya mereka membangunkan Tuhan Yesus yang sedang tidur.&amp;nbsp; Kemudian Tuhan Yesus bangun dan berkata, “&lt;i&gt;Diam!&amp;nbsp; Tenanglah!&lt;/i&gt;”&amp;nbsp; Lalu angin itu reda dan danau menjadi tenang.&amp;nbsp; Saat itu murid-murid ketakutan dan berkata seorang kepada yang lain: “&lt;i&gt;Siapakah gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Kemungkinan dalam benak orang-orang kota itu timbul pertanyaan, “&lt;i&gt;Siapa orang ini, sehingga orang yang kerasukan tersebut dapat ditaklukkan hanya dengan kata-kata saja.&lt;/i&gt;”&amp;nbsp; Tetapi sayang sekali ini tidak membuat mereka mau menerima Tuhan Yesus.&amp;nbsp; Seharusnya dengan senang hati mereka mengundang Tuhan Yesus ke rumah mereka, atau membawa Tuhan Yesus kepada orang-orang lain yang membutuhkan pertolongan Tuhan Yesus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Namun ayat 17 mengatakan pada akhirnya mereka mendesak Tuhan Yesus untuk meninggalkan daerah tersebut.&amp;nbsp; Kata “mendesak” yang dipakai di sini bukan menunjukkan bahwa mereka lebih berotoritas sehingga dapat mengusir Tuhan Yesus, apa yang mereka lakukan lebih kepada suatu tindakan yang memohon dengan sangat agar Tuhan Yesus meninggalkan daerah itu.&amp;nbsp; Mereka telah kehilangan dua ribu ekor babi, barang kali mereka takut jika Yesus tetap tinggal di situ, mungkin masih ada lagi yang harus dikorbankan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Namun respons dari orang yang disembuhkan itu berbeda, ia tidak saja mengakui keilahian Tuhan Yesus, ia bahkan meminta supaya ia diperkenankan menyertai Tuhan Yesus.&amp;nbsp; Hanya saja Tuhan Yesus tidak mengizinkannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Apakah Tuhan Yesus melihat adanya ketidaktulusan dari orang itu?&amp;nbsp; Atau Tuhan Yesus meragukan komitmennya?&amp;nbsp; Tidak Saudara, Tuhan Yesus menolak permintaannya karena Ia tahu bahwa orang ini memiliki kesempatan untuk menyebarkan berita tentang apa yang telah Yesus lakukan baginya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Hal ini dapat kita lihat dalam perintah Tuhan Yesus kepadanya pada ayat 19,&amp;nbsp; “&lt;i&gt;Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!&lt;/i&gt;”&amp;nbsp; Orang tersebut kemudian pergi dan mulai memberitakan apa yang telah Tuhan lakukan baginya dan mereka yang mendengarkannya menjadi takjub.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Aplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saudara-saudara, hendaklah kita menjadi seperti orang tersebut.&amp;nbsp; Setelah ia merasakan dan mengakui kuasa dari Tuhan Yesus atas roh jahat,&amp;nbsp; ia bersedia untuk diutus Tuhan Yesus sebagai saksi-Nya, yang ia andalkan hanya iman kepada Tuhan Yesus yang telah membebaskannya dari kuasa roh jahat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Tetapi mungkin ada di antara kita yang berkata, “Saya percaya bahwa Tuhan Yesus berkuasa, saya mau menjadi saksi-Nya.&amp;nbsp; Tetapi saya masih diliputi ketakutan terhadap kuasa roh jahat.&amp;nbsp; Pada malam hari, saya tidak berani ke toilet sendirian, saya juga tidak berani tidur sendirian.&amp;nbsp; Setiap kali saya mendengar cerita tentang setan, hantu, &amp;nbsp;saya akan menjadi takut sekali.&amp;nbsp; Bagaimana mungkin saya dapat bersaksi dengan baik?”&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saudara-saudara, suatu kali saya pernah ditugaskan untuk menjaga &lt;i&gt;stand&lt;/i&gt; penjualan kaos.&amp;nbsp; Kemudian ada seorang ibu yang bertanya, “Ini harganya berapa?”&amp;nbsp; Saya menjawab, “Tiga puluh ribu Bu.”&amp;nbsp; Kemudian waktu ibu ini sedang memilih baju yang diinginkannya, dan sedang menimbang-nimbang apakah mau membeli atau tidak, ia bertanya, “Ini kualitasnya gimana, enak dipakai gak?&amp;nbsp; Tahan lama gak?”&amp;nbsp; Tahukah apa jawaban saya Saudara?&amp;nbsp; Saya berkata, “Eh.. gak tahu ya Bu, soalnya saya juga belum pernah pakai.”&amp;nbsp; Ibu ini tersenyum, saya menebak dalam hatinya ia berkata, “Yaa.. penjualnya aja kagak yakin akan kualitas produknya, ngapain saya beli..”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Aplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Mungkin ini lah yang kita alami Saudara-saudara, kita seperti penjual produk yang tidak yakin akan kualitas dari produk yang kita tawarkan,&amp;nbsp; sehingga kesaksian kita akan kurang meyakinkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saudara-saudara, kita semua yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, memiliki status sebagai anak-anak Tuhan yang berkuasa.&amp;nbsp; Kita tidak perlu lagi dikuasai rasa takut akan roh jahat atau setan karena ada kuasa Tuhan Yesus yang akan melindungi kita.&amp;nbsp; Kita hanya perlu percaya dan mengandalkan Tuhan Yesus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Bagi saudara-saudara yang memiliki anak, mungkin akan merasakan apa yang disebut dengan diandalkan.&amp;nbsp; Saya sendiri merasakannya.&amp;nbsp; Anak saya, entah mengapa, sedari kecil takut sekali jatuh.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada saat ia berumur beberapa bulan, ia akan memegang dengan erat tubuh kami jika ia digendong.&amp;nbsp; Pada waktu ia belajar berjalan atau menaiki tangga, ia juga berhati-hati sekali.&amp;nbsp; Pada saat turun dari ranjang atau kursi, ia juga akan hati-hati.&amp;nbsp; Tetapi ada kalanya ia berbeda dari biasanya, ia berani untuk melompat dari meja.&amp;nbsp; Ia melakukan hal itu bukan karena ia tidak takut, tetapi karena saat itu ada kami yang berada di dekat meja itu dan siap-siap menyambutnya.&amp;nbsp; Ia berani melompat karena ia yakin kepada kami, ia berani melompat karena ia mengandalkan kami, ia yakin kami akan dapat atau mampu menyambutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Aplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saudara, hendaknya kita semua sebagai anak-anak Tuhan juga punya keyakinan seperti itu.&amp;nbsp; Kita percaya dan mengandalkan Tuhan karena kita tahu bahwa Ia adalah Allah yang berkuasa dan mampu untuk menolong kita.&amp;nbsp; Kita tidak perlu takut karena Ia senantiasa menyertai kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saudara-saudara, kita akan memiliki banyak kesempatan untuk mempraktikkan firman Tuhan ini karena ketakutan terhadap roh jahat itu bisa kita alami di mana saja.&amp;nbsp; Mungkin kita tinggal di tempat yang dianggap angker seperti pemuda yang saya ceritakan di awal khotbah tadi,&amp;nbsp; apa respons kita?&amp;nbsp; Atau bisa saja kita harus menghadapi dan melayani orang yang kerasukan,&amp;nbsp; apa yang harus kita lakukan?&amp;nbsp; Jika benar-benar terjadi apa tindakan kita?&amp;nbsp; Dapatkah kita menjadi saksi yang baik bagi Tuhan kita yang berkuasa?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saudara-saudara, Tuhan Yesus adalah Allah yang berkuasa atas segala roh jahat yang mengganggu manusia.&amp;nbsp; Kita sebagai anak-anak-Nya tentu saja akan dilindunginya.&amp;nbsp; Ia meminta kita untuk mengandalkan kuasa-Nya sehingga kita semua dapat menjadi saksi yang memuliakan nama-Nya. Marilah kita bersama-sama datang kepada Tuhan Yesus, kita meminta Dia untuk berkuasa dalam hati kita.&amp;nbsp; Biarlah Ia yang menghapuskan segala ketakutan kita dan mengaruniakan damai sejahtera bagi kita semua. Dan biarlah Firman Tuhan yang mengubahkan kehidupan itu, boleh menguatkan kita sehingga kita dapat menjadi saksi-saksi yang memberitakan kuasa dan kemuliaan Allah di mana pun kita berada.&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 18.95pt 0cm 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Amin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 18.95pt; margin-top: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7976713270044809204-7158652670453725102?l=bennysolihin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bennysolihin.blogspot.com/feeds/7158652670453725102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/10/khotbah-markus-51-20.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/7158652670453725102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/7158652670453725102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/10/khotbah-markus-51-20.html' title='Khotbah Markus 5:1-20'/><author><name>Benny Solihin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02371777664459875856</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976713270044809204.post-8904541653386139612</id><published>2011-10-29T09:36:00.001-07:00</published><updated>2011-11-01T16:11:02.834-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><title type='text'>Khotbah Roma 13:8-14</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 14.4pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;PERUBAHAN YANG BERDAMPAK&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 14.4pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;OLEH ANDREIAS&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 14.4pt; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 14.4pt; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 14.4pt; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, di sekeliling kita ada begitu banyak hal yang berubah. Entah perubahan itu adalah perubahan ke arah yang lebih baik atau sebaliknya ke arah yang lebih buruk. Perubahan dengan waktu yang sangat singkat atau yang bertahap. Hidup Kekristenan kita juga tidak bisa lepas dengan yang namanya perubahan. Perubahan ini bukan berbicara tentang perubahan yang bersifaf fisik, tetapi sebuah perubahan yang berkaitan dengan pembaharuan hidup orang percaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Yang menjadi masalah, ada orang yang mengaku Kristen tetapi masih terus hidup di dalam dosa dan tidak ada perubahan di dalam dirinya. Orang seperti ini sering kali berdalih dengan mengatakan, &amp;nbsp;“Ya beginilah saya, terimalah saya apa adanya.” Ia tidak mau berubah. Dia menjadikan kalimat ini sebagai pembenaran untuk tetap tinggal di dalam kebiasaan lamanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Namun, yang saya kuatirkan adalah jangan-jangan tanpa kita sadari sepenuhnya, hidup Saudara dan saya juga hidup yang seperti itu. Kita tidak sungguh-sungguh menginginkan perubahan. &lt;b&gt;Saudara, menjadi seseorang yang percaya pada Kristus dengan sungguh-sungguh, berarti menjadi seseorang yang hidupnya diubahkan.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Sebagaimana ulat yang bertransformasi menjadi kupu-kupu, demikian juga orang Kristen bertransformasi dari manusia lama menjadi manusia baru. Dengan kondisi manusia baru inilah seorang manusia akan mengalami pertumbuhan yang salah satu indikasinya adalah sebuah perubahan. Di dalam Roma 13:11-14, Paulus mengungkapkan perubahan ini dengan sebuah frase “menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata perang.” Frase ini kemudian ditekankan lagi oleh Paulus dengan kalimat, “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” Ini merupakan suatu metafora yang sering dipakai Paulus untuk memberikan suatu gambaran tentang kehidupan orang percaya yang tidak lagi tinggal di dalam kedagingan tetapi hidup sesuai dengan kebenaran Allah. Hal ini juga tertulis di dalam Efesus 4:22-24. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, kedua ungkapan ini ditulis dalam tense yang sama yang menunjukkan suatu kekuatan atau keharusan dari perintah yang disampaikan. Ini berarti Paulus menganggap sangat penting bahwa kehidupan orang percaya harus mengalami perubahan. Bukan perubahan yang dipaksakan dari luar tetapi sebuah perubahan dari dalam yang dikerjakan oleh Allah melalui sebuah ketaatan. Perubahan hidup ini bukan sebuah syarat untuk mendapatkan hidup kekal tetapi berbicara tentang pengudusan (&lt;i&gt;sanctification&lt;/i&gt;) yang terjadi setelah pembenaran (&lt;i&gt;justification&lt;/i&gt;).&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Anthony Hoekema menyatakan bahwa orang percaya akan mengalami pengudusan yaitu karya Roh Kudus yang melibatkan diri orang percaya untuk melepaskan diri dari pencemaran dosa dan untuk memulihkan gambar diri Allah yang rusak. Dengan bahasa yang sederhana bisa dikatakan bahwa seseorang yang telah mendapatkan keselamatan melalui Yesus akan mengalami perubahan di dalam hidupnya. Ia akan terlibat di dalam proses pembentukan untuk menjadi serupa dengan Kristus. Yang menjadi pertanyaan adalah kapankah perubahan ini terjadi?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, Paulus menggunakan indikasi waktu “sekarang” untuk menjelaskan kapan perubahan ini terjadi. Kata “sekarang” adalah kata yang dipilih Paulus untuk menjelaskan sebuah rentang waktu antara saat&amp;nbsp; di mana seseorang mulai percaya pada Tuhan dan sedang menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali. Di masa inilah orang percaya mengalami perubahan-perubahan di dalam kehidupannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Sebuah contoh perubahan yang sangat nyata di dalam PB adalah kehidupan seorang kepala pemungut cukai bernama Zakheus. Saudara bisa bayangkan sebagai kepala pemungut cukai dia tentu adalah seorang yang tamak, arogan dan tidak peduli dengan orang lain. Tetapi setelah menerima Yesus, Zakheus yang tamak akan uang kini berubah menjadi seseorang yang dermawan, Zakheus yang arogan kini berubah menjadi menjadi seseorang yang penyayang,&amp;nbsp; dan Zakheus yang cuek dan tidak peduli kini berubah menjadi seseorang yang mau mengasihi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, ada sebuah cerita tentang suami istri yang sudah menikah puluhan tahun dan sering berkonflik. Suatu sore sang istri ngidam pisang goreng. Ia pun membuat makanan ini. Setelah selesai sang istri menikmati pisang goreng yang hangat dengan secangkir tea. Tidak terasa haripun mulai senja dan suaminya pulang dari kerja. Ketika masuk rumah, sang suami melihat istrinya sedang menikmati pisang goreng. Karena pulang kerja, tentu sang suami lapar dan pengen juga makan pisang goreng buatan istrinya. Yang jadi masalah pisang gorengnya tinggal satu. Maka berkatalah sang suami, “Istriku boleh saya minta pisang gorengnya sebab ada tertulis kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri?” Istri menjawab, “Pa, goreng sendiri! Sebab ada tertulis, hai pemalas pergilah kepada semut dan belajarlah kepadanya.” Suami menjawab, “Benar, tetapi ada juga tertulis: apa yang kamu kehendaki orang lain perbuat bagimu perbuatlah demikian.” Istri segera berespon, “Tetapi ada tertulis, manusia hidup bukan dari roti saja.” Suami mulai kesal dan berkata, “Ma, firman Tuhan juga berkata: mintalah maka engkau akan mendapat.” Maka dengan kesal sang istri pun berkata, “Ya sudah, ini buat papa. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.” Saudara, walaupun cerita ini bernada humor, namun memberikan sebuah gambaran bahwa sering kali suami istri yang masing-masing mengetahui banyak tentang firman Tuhan tetapi tidak hidup dan menghidupi firman Tuhan sehingga tidak ada perubahan apapun yang terjadi dalam diri mereka masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Aplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, seperti koin yang memiliki dua sisi. Kelahiran baru tidak dapat dipisahkan dengan perubahan. Pembenaran tidak dapat dipisahkan dengan pengudusan. Nah, jika kita melihat kehidupan kita sekarang, adakah kita benar-benar adalah Kristen yang sejati yang telah mengalami perubahan itu. Atau kita mengaku Kristen tetapi tetap hidup di dalam kebiasaan-kebiasaan lama kita dan tidak mau tunduk dengan Yesus yang kita akui sebagai Tuhan di dalam hidup kita. Yang hidup di dalam kekecewaan tetap di dalam kekecewaan dan tidak ada pengampunan. Yang hidup di dalam amarah, tetap di dalam amarah dan tidak ada kesabaran. Yang hidup di dalam percabulan, tetap di dalam percabulan dan tidak ada kekudusan. Yang hidup di dalam kesombongan tetap di dalam kesombongan dan tidak ada kerendahan hati. Jika ini adalah kondisi kita, maka ini saatnya untuk datang kepada Tuhan. Minta ampun kepadanya dan jadikan dia sebagai Allah yang menolong kita untuk dapat berubah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, perubahan di dalam hidup kita bukan hanya untuk membentuk kita untuk menjadi serupa dengan Allah dan menikmati masa pemuliaan pada saatnya nanti, tetapi ada dampak yang lain di balik perubahan yang kita alami. Adapun &lt;b&gt;dampak dari perubahan itu adalah supaya kita dapat menyatakan kasih terhadap sesama kita&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Penjelasan&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, ayat 8 dari terjemahan BIS/NIV mengatakan demikian, “Janganlah berutang apa pun kepada siapa juga, kecuali berutang kasih terhadap satu sama lain.”&amp;nbsp; Kata berhutang di sini memiliki arti tanggungjawab yang harus kita selesaikan. Hutang hanya dapat selesai jika sudah dilunasi. Tetapi dalam ayat ini Paulus mengatakan tetaplah dalam kondisi berhutang kasih terhadap sesamamu. Artinya terus lakukan kasih sebagai tanggungjawab yang harus dilakukan kepada sesamamu dan jangan pernah merasa lunas sehingga berhenti untuk mengasihi. Jadi kata ini bukan dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa kita berhutang budi dengan seseorang dan kita membalasnya, tetapi lebih pada jangan pernah berhenti mengasihi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Bagaimanakah kasih itu dinyatakan? Paulus menyatakan dengan contoh-contoh yang konkret seperti jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini milik sesama. Apakah ini sudah semua? Jawabnya adalah tidak. Ini hanya mewakili saja, tetapi intinya adalah kita menyatakan kasih terhadap sesama kita dengan tidak memberikan dampak yang menyakiti, merusak, atau membunuh mereka. Nah, jika kita tidak berubah dan tetap di dalam kondisi manusia lama kita, sanggupkah kita berkata bahwa kita dapat menjadi saluran kasih bagi mereka? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, “kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” Kegenapan di sini memiliki arti “telah memenuhi” atau telah melakukan apa yang diperintahkan oleh hukum Taurat. Saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus Dalam Matius 5: 17. Dia pernah berkata “Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat melainkan untuk menggenapinya.” Memang kata menggenapi di sini dapat berarti bahwa Dialah yang menggenapi semua nubuatan di dalam Taurat. Tetapi ini juga berarti bahwa Dialah yang telah melakukan hukum Taurat itu sendiri yang dapat dirangkum dengan satu kata yaitu “KASIH.” Ya, Tuhan telah memberikan teladan untuk mengasihi manusia dengan tidak berfokus pada kepentingan atau kepuasannya sendiri tetapi kepada kebaikan manusia yang berdosa. Kasih-Nya sangat besar sampai pada titik pengorbanan walaupun manusia sebagai sasaran kasih-Nya tidak layak untuk menerimanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, dalam ayat ini Paulus mengajarkan kepada kita untuk mengasihi sesama bukan dengan disalibkan secara harafiah di atas kayu salib seperti yang Yesus alami, tetapi kita diminta untuk menanggalkan perbuatan kedagingan kita yang memiliki orientasi kesenangan atau pemuasan nafsu pribadi dan mengenakan perbuatan terang yang berfokus pada kehendak Allah dan menyatakan kasih kepada sesama seperti yang diteladankan Yesus kepada kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, ada seorang anak yang bertumbuh di dalam kekecewaan terhadap papanya. Bagaimana tidak, sejak kecil anak ini diperlakukan dengan sangat tidak baik oleh papanya. Dia sering mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan adiknya. Selain itu, tidak jarang perkataan yang kasar dan menghina keluar dari mulut seseorang papa yang diharapkan dapat menyayanginya. Tidak jarang pula sang papa memukul si anak walaupun usianya beranjak remaja. Kekecewaannya semakin meledak ketika seringkali ia melihat sang papa memukul mama yang berniat membela dirinya. Saudara, anak ini benar-benar bertumbuh di dalam kepahitan. Tetapi ada satu momen di mana kondisi ini berubah. Ini terjadi ketika untuk pertama kalinya sang papa memeluk anaknya dan mengatakan, “Maafkan Papa. Papa sudah terlalu banyak menyakiti hatimu.” Seorang papa yang keras diubahkan menjadi seoorang papa yang lembut. Seorang papa yang kasar diubahkan menjadi seorang papa yang penuh belas kasihan sehingga untuk pertama kalinya sang papa berkata kepada anak-nya ini, “Anakku, papa sangat sayang dengan kamu.” Dan sejak itu relasi Bapak dan anak ini dipulihkan. Saudara, ini adalah kisah nyata. Suatu kali saya bertanya pada anak ini, apa yang kau rasakan ketika papamu memeluk kamu dan meminta maaf atas semua kesalahannya? Dia menjawab, “Puji Tuhan, Yesuslah yang merubah papaku dan aku bersyukur karena sekarang papa benar-benar mengasihiku.” Saudara, perubahan dapat membawa dampak kasih terhadap sesama kita. Perubahan dapat menyuarakan sapaan kasih terhadap orang-orang di sekeliling kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Aplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, lihatlah wajah orang-orang di sekitarmu. Bisa jadi dia adalah teman di sampingmu, teman di kamarmu, atau rekan pelayananmu, bisa juga dia adalah orang tua atau saudaramu yang ada di rumah. &lt;span style="color: black;"&gt;Jika kita TETAP di dalam kondisi suka berkata-kata kasar terhadap mereka, sanggupkah kita mengatakan bahwa kita mengasihi mereka? Jika kita TETAP di dalam kondisi benci dan kekecewaan terhadap mereka, sanggupkah kita mengatakan bahwa kita mengasihi mereka? Jika kita TETAP di dalam kondisi suka merendahkan mereka, sanggupkah kita mengatakan bahwa kita mengasihi mereka? Atau jika kita TETAP di dalam kondisi iri dan suka berselisih dengan mereka, sanggupkah kita mengatakan bahwa kita mengasihi mereka? Mari kita koreksi hati kita masing-masing. Adakah gaya hidup atau temperamen kita yang lama yang menjadi penghambat bagi kita untuk menjadi saluran kasih bagi sesama? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, Tuhan sangat mengasihi kita. Dia tidak hanya menyelamatkan, tetapi membawa kita untuk mengalami perubahan hidup sehingga Dia memakai kita untuk menjadi saluran kasih bagi sesama kita. Bersediakah kita untuk meresponi panggilan Allah ini. Bersediakah kita membuka hati dan membiarkan Roh Kudus bekerja mengubah hidup kita setiap hari? Kiranya Tuhan mau menolong kita untuk menanggalkan yang lama dan menggantinya dengan yang baru dan menjadi berkat bagi sesama kita. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: center; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Amin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 14.4pt; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7976713270044809204-8904541653386139612?l=bennysolihin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bennysolihin.blogspot.com/feeds/8904541653386139612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/10/khotbah-roma-138-14.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/8904541653386139612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/8904541653386139612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/10/khotbah-roma-138-14.html' title='Khotbah Roma 13:8-14'/><author><name>Benny Solihin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02371777664459875856</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976713270044809204.post-6000112451795855174</id><published>2011-10-29T09:34:00.000-07:00</published><updated>2011-11-01T16:09:43.186-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><title type='text'>Khotbah Efesus 6:10-20</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 14.4pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;BERTAHAN MENGHADAPI “STRATEGI MATA KOIN”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 14.4pt; margin-top: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;Oleh Andrea&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 14.4pt; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 14.4pt; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 14.4pt; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Waktu saya SMP salah teman-teman &lt;i&gt;genk &lt;/i&gt;saya pernah memperkenalkan sebuah strategi bagaimana mendapatkan pacar.&amp;nbsp; Mereka menyebutnya “strategi anak domba”.&amp;nbsp; Mereka berkata, “Andrea, kalau kamu mau cepet punya pacar gampang.&amp;nbsp; Langkah pertama tentukan targetnya, cari &lt;i&gt;cewek&lt;/i&gt; tapi adik tingkat, lebih gampang bila &lt;i&gt;cewek &lt;/i&gt;itu ga pernah pacaran.&amp;nbsp; Selanjutnya deketin, perhatiin dikit, teleponin, kasi-kasi barang. &amp;nbsp;Terus luluhkan hatinya dengan sesuatu yang romantis.&amp;nbsp; Dan tinggal “tembak” dia.&amp;nbsp; Pasti &lt;i&gt;cewek&lt;/i&gt; itu bakal takluk.”&amp;nbsp; Akhirnya saya mengerti kenapa namanya strategi anak domba. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Itulah strategi.&amp;nbsp; Strategi dibuat seseorang untuk menaklukkan lawannya.&amp;nbsp; Untuk menaklukkan &lt;i&gt;kecengan &lt;/i&gt;perlu pake strategi, untuk bisnis maju perlu pake strategi, untuk menjatuhkan musuh perlu pake strategi, semakin pandai seseorang membuat strategi semakin mudah seseorang menaklukkan lawannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Hari ini juga kita akan banyak berbicara mengenai strategi.&amp;nbsp; Sayangnya kita tidak akan membahas strategi untuk menaklukkan &lt;i&gt;kecengan&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Tetapi ini mengenai strategi yang dipakai iblis untuk menaklukkan orang-orang percaya.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Sejak dulu visi Kerajaan Kegelapan tidak pernah berubah, yaitu menghancurkan Kerajaan Allah.&amp;nbsp; Orang-orang yang memihak kepada Allah, tentu secara otomatis menjadi musuh iblis; dan mereka ini adalah orang-orang yang dibenci iblis.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Iblis sangat tidak suka kepada orang-orang yang hidup sungguh-sungguh bagi Allah.&amp;nbsp; Apalagi kalau mereka adalah orang-orang yang hidupnya begitu efektif dan produktif melayani Allah.&amp;nbsp; Orang-orang seperti ini adalah target utama yang harus iblis taklukan.&amp;nbsp; Bagi Iblis mereka harus dibungkam dan ditaklukan.&amp;nbsp; Yah, setidaknya dibungkam agar mereka berhenti merebut jiwa-jiwa yang terhilang.&amp;nbsp; Ditaklukkan agar mereka suatu saat tersandung dan kemudian meninggalkan Tuhan.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Dari masa ke masa Iblis menyusun strategi yang taktik yang jitu untuk menyerang dan menaklukkan musuh-musuhnya.&amp;nbsp; Salah satu strategi yang dik&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;en&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;alkan Paulus pada perikop ini saya sebut dengan istilah “strategi mata koin”.&amp;nbsp; Saya sebut strategi ini dengan istilah “mata koin” karena dalam strategi ini iblis menerapkan sekaligus dua taktik ampuh yang mematikan. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Apa itu taktiknya?&amp;nbsp; Kita akan melihatnya bersama. &amp;nbsp;Sisi yang satu adalah sebuah taktik yang disebut &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;1.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Tipu Muslihat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Di ayat yang ke 11b Paulus mengungkapkan bahwa Iblis menggunakan tipu muslihat untuk menjebak dan menjerumuskan orang percaya.&amp;nbsp; Ia sangat ahli dalam hal memanipulasi.&amp;nbsp; Iblis memang tidak mahatahu, tetapi ia tahu lebih banyak daripada manusia.&amp;nbsp; Ia tahu benar apa yang menjadi isi hati dan pikiran manusia. &amp;nbsp;Ia tahu benar apa yang menjadi kelemahan-kelemahan manusia, apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan manusia.&amp;nbsp; Ia sangat &lt;i&gt;getol&lt;/i&gt; memperkenalkan kata “kompromi” kepada&amp;nbsp; dosa yang abu-abu.&amp;nbsp; Ia tahu benar bagaimana mengalihkan fokus seseorang kepada dunia dan kepuasan diri. &amp;nbsp;Ia tahu benar bagaimana caranya mengadu domba anggota gereja. &amp;nbsp;Ia amat pandai mengelola kemarahan menjadi kebencian yang mematikan.&amp;nbsp; Ia sudah menulis banyak buku, dan salah satu yang &lt;i&gt;best seller&lt;/i&gt; adalah buku yang berjudul, “Bagaimana menjadi Kristen tanpa mengenal Kristus”.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Ia tahu benar bagaimana &lt;i&gt;mengintimidasi&lt;/i&gt; orang-orang percaya, membuat orang-orang percaya merasa tidak pantas, tidak berharga, tidak mampu melayani Allah.&amp;nbsp; Berulang kali ia menyamarkan istilah kenyamanan dengan istilah “berkat”, sehingga membuat orang-orang percaya secara perlahan mulai lupa bahwa ia dipanggil untuk mencari jiwa yang hilang. &amp;nbsp;Bahkan Iblis tahu benar bagaimana menyulap pergumulan, sakit penyakit atau kekurangan – menjadi benih-benih keraguan akan Allah. &amp;nbsp;Itulah Iblis.&amp;nbsp; Ia punya gelar P.hd dalam hal manipulasi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Paulus sendiri sudah memiliki segudang pengalaman mengenai tawaran-tawaran semu si penipu ulung: kenikmatan dosa, pengajaran-pengajaran palsu, kenyamanan dunia, kekayaan, jabatan, popularitas, intimidasi dan trik-trik jitu lainnya yang amat kreatif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Inilah taktik iblis yang pertama, “tipu muslihat”.&amp;nbsp; Perlahan tetapi mematikan.&amp;nbsp; Memanipulasi keadaan sehingga kalau seseorang tidak berhati-hati, ia akan terjebak dan terjerat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Sisi yang satunya adalah sebuah taktik yang disebut&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;2.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Tekanan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Sebagai makhluk supranatural, Iblis miliki kuasa yang jauh melebihi kuasa manusia biasa.&amp;nbsp; Di ayat 12 Paulus menggambarkan bagaimana makhluk ini mampu menunggangi pemerintah, penguasa, penghulu dunia untuk menyerang orang-orang percaya.&amp;nbsp; Dengan kapasitasnya, ia mampu menunggangi siapapun untuk dijadikan “bom atom” menyerang orang percaya.&amp;nbsp; Iblis menunggangi pihak-pihak tertentu untuk menentang, menyerang dan menganiaya orang-orang percaya.&amp;nbsp; Di dalam sejarah dunia tentu kita dapat melihat bagaimana pemerintahan dan pemimpin-pemimpin tertentu ditunggangi sedemikian rupa sehingga orang-orang percaya dianiaya.&amp;nbsp; Kita juga dapat melihat bagaimana Iblis menggunakan ideologi tertentu agar orang-orang percaya harus menderita, masuk penjara, dan mati karena imannya.&amp;nbsp; Iblis mampu memperdaya siapapun bahkan termasuk orang-orang terdekat (anggota keluarga) untuk menekan pengikut Tuhan.&amp;nbsp; Iblis memang tidak mahakuasa, tetapi ia cukup mampu untuk menciptakan situasi tertentu untuk menyudutkan orang-orang percaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Paulus juga sudah mengalami sendiri apa itu tekanan.&amp;nbsp; Ia pernah disesah, dipenjara, kelaparan, kedinginan di teralis besi dan semua itu ia alami hanya karena mempertahankan imannya.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Inilah “strategi mata koin” yang begitu ampuh dan mematikan.&amp;nbsp; Sisi yang satu adalah tipuan, yang lain adalah tekanan.&amp;nbsp; Menghancurkan orang percaya melalui dusta dan tekanan penderitaan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Strategi Tandingan (tidak dibacakan)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Benar, strategi ini amat tangguh.&amp;nbsp; Iblis dapat memukul kalah orang-orang percaya dengan mudah.&amp;nbsp; Tetapi kalau kita perhatikan dalam perikop ini Paulus meneriakkan sebuah kata: “bertahanlah”.&amp;nbsp; Dalam perikop ini, kata yunani “stenai” yang artinya berdiri/ bertahan diucapkan Paulus sebanyak empat kali.&amp;nbsp; Ini sudah cukup menjadi bukti bahwa pesan utama dari perikop ini adalah agar orang-orang percaya terus bertahan menghadapi serangan iblis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Tentu setiap orang ingin bertahan, siapa yang mau kalah.&amp;nbsp; Tetapi permasalahannya semua orang juga tahu, iblis bukanlah tandingan yang seimbang orang percaya.&amp;nbsp; Karena itu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, setiap kita yang ingin bertahan sampai akhir di dalam peperangan harus menggunakan dua prinsip yang &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;Paulus &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;bentangkan dalam bagian ini.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; Prinsip yang pertama adalah dengan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;1.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Bersandar kepada Tuhan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Di ayat 10 Paulus mengatakan, “hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya”.&amp;nbsp; Frasa “hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan” secara literal dapat diterjemahkan menjadi “hendaklah kamu &lt;i&gt;dikuatkan&lt;/i&gt; di dalam kesatuan bersama dengan Tuhan”.&amp;nbsp; Dalam frasa ini kita menemukan pernyataan eksplisit bahwa Allah sendirilah yang akan memberikan kekuatan bagi orang-orang percaya untuk bertahan.&amp;nbsp; Dan bagaimana orang percaya bisa memperoleh kekuatan itu?&amp;nbsp; Ketika mereka hidup di dalam kesatuan dengan Allah.&amp;nbsp; Ketika Roh Kudus menguasai hidup mereka.&amp;nbsp; Orang-orang percaya sangat terbatas dan memiliki banyak kelemahan yang rentan untuk diserang oleh Iblis, tetapi ketika orang percaya menempatkan dirinya di dalam tangan Allah yang maha tidak terbatas, orang-orang percaya dimampukan untuk bertahan.&amp;nbsp; Kunci pertama agar orang percaya dapat bertahan adalah dengan bersandar penuh kepada Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Dan prinsip yang kedua agar orang percaya bisa bertahan adalah dengan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;2.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Mengusahakan Kehidupan Rohani yang Sehat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Di ayat kesebelas Paulus mengatakan, “kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah”.&amp;nbsp; Apakah maksud dari Frasa ini?&amp;nbsp; Perlengkapan senjata Allah merupakan suatu ungkapan metafora yang menunjukkan seperangkat perlindungan yang Allah sediakan. John Stott menyatakan keenam metafora tersebut menggambarkan kebenaran, ketulusan, berita Injil damai sejahtera, iman, keselamatan, dan Firman.&amp;nbsp; Semua sudah Allah sediakan.&amp;nbsp; Tugas kita &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;hanyalah &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;mengenakannya.&amp;nbsp; Untuk mengenakan kebenaran tentu kita perlu mengerti kebenaran Allah dan menghidupi kebenaran itu.&amp;nbsp; Untuk mengenakan ketulusan tentu kita perlu terus menerus mengoreksi hati dan pikiran kita.&amp;nbsp; Untuk mengenakan berita injil tentu kita perlu memberitakan keselamatan kepada setiap orang.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Untuk mengenakan iman tentu kita perlu berserah di dalam doa. Untuk mengenakan keselamatan tentu kita perlu mengingat karya Kristus di kayu salib.&amp;nbsp; Dan untuk mengenakan Firman tentu kita harus mengerti dan menguasai Alkitab dengan benar.&amp;nbsp; Secara sederhana mengenakan perlengkapan senjata Allah artinya memiliki kerohanian yang sehat, dan itu diperoleh dari disiplin rohani yang baik.&amp;nbsp; (doa, saat-teduh, PI pribadi, PA pribadi, &lt;i&gt;bible reading&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Memang untuk bisa bertahan terhadap strategi iblis Allah akan memberi kita kuasa, tetapi kita juga punya tanggung jawab untuk mengusahakan kesehatan rohani kita. &amp;nbsp;Inilah strategi tandingan yang Firman Tuhan nyatakan.&amp;nbsp; Bersandar kepada Tuhan dan Berusaha Memiliki Kehidupan Rohani yang sehat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Sekitar awal 19 seorang pemuda bernama William Borden mendapatkan sebuah hadiah kelulusan berupa tiket keliling dunia dan sebuah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;lkitab dari sang ayah.&amp;nbsp; Keliling dunia pada waktu itu tentu merupakan kesempatan yang langka, apalagi bagi seorang anak muda.&amp;nbsp; Dalam perjalanan panjang dengan kapal laut, Borden membaca &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;lkitabnya dan waktu itu ia mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah.&amp;nbsp; Di saat yang bersamaan ia menemukan panggilan hidupnya untuk menjadi seorang misionaris.&amp;nbsp; Sejak saat itu ia memberikan hidupnya dan berkomitmen menjadi seorang laskar Kristus.&amp;nbsp; Di kapal itu ia membuka &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;lkitabnya di halaman paling belakang dan menulis sebuah kalimat pertama: “Tidak Ada Pilihan”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Tahun 1905 ia masuk kuliah. Di kampus ia begitu bersemangat mengajak teman-temannya untuk bertobat dan melayani Tuhan.&amp;nbsp; Sehingga ia mengalami banyak cibiran dari teman-teman kuliahnya.&amp;nbsp; Tetapi ia tidak mundur.&amp;nbsp; Bahkan disitulah ia mendapat panggilan yang semakin jelas untuk melayani orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;yang tidak percaya di &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Kansu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;China.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Setelah lulus wisuda, selain ditawari untuk mewarisi perusahaan sang ayah, Borden menerima banyak tawaran pekerjaan dengan gaji selangit.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Masa depannya begitu cerah.&amp;nbsp; Tetapi ia menetapkan hati mentaati Allah menjadi misionaris, sekalipun ia tahu kehidupannya akan sangat sulit.&amp;nbsp; Waktu itu ia membuka alkitabnya dihalaman akhir dan kemudian menulis kalimat yang kedua “Tidak Ada Kata Mundur.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Setelah lulus kuliah dengan nilai yang gemilang, Borden melanjutkan studinya di sekolah teologi Princeton Seminary. Ia menyelesaikan study teologinya dengan sangat baik.&amp;nbsp; Dan setelah diwisuda ia segera melakukan perlayarannya ke China&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Borden tahu ia akan berhadapan d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;engan orang-orang yang tidak seiman&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;.&amp;nbsp; Maka ditengah pelayarannya ia berhenti terlebih dahulu di Mesir bermaksud untuk belajar bahasa Arab.&amp;nbsp; Tetapi hal yang tidak terduga terjadi.&amp;nbsp; Di Arab ia terkena radang otak.&amp;nbsp; Penyakitnya sangat mematikan.&amp;nbsp; Dalam sebulan, Borden muda meninggal di usia 25 tahun karena radang otak.&amp;nbsp; Borden meninggal bahkan sebelum ia sempat melayani &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;di China.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Apakah Borden pernah menyesali pilihannya untuk bertahan menjadi prajurit Kristus?&amp;nbsp; Tidak sama sekali! &amp;nbsp;Sebelum kematiannya, dalam penyakit yang mengerikan Borden membuka &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;lkitabnya di halaman terakhir dan menulis kalimatnya yang ketiga.&amp;nbsp; Di bawah kalimat-kalimat yang ia pernah tulis: “tidak ada pilihan”, “tidak ada kata mundur”, &amp;nbsp;Borden menulis kalimat terakhirnya “Tidak Ada Penyesalan”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Border memberikan teladan hidup mengenai seni bertahan.&amp;nbsp; Sekalipun ia mengalami serangan yang bertubi-tubi dalam hidupnya, tawaran dunia akan masa depan yang sangat nyaman, cibiran teman-teman kuliahnya, ladang pelayanan yang sulit, dan bahkan penyakit mematikan, Border bisa bertahan sampai akhir.&amp;nbsp; Kenapa? Karena saya percaya, ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah sekaligus ia selalu berusaha untuk memiliki kehidupan rohani yang bugar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Agenda Iblis sampai hari ini adalah menjatuhkan saya dan saudara, karena kita adalah hamba Tuhan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, anak-anak Tuhan&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;giat&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; memenangkan jiwa.&amp;nbsp; Iblis akan menipu kita.&amp;nbsp; Iblis akan menekan kit&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;a a&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;gar kita berhenti untuk melayani Tuhan, keluar dari jalan panggilan, dan bahkan berharap kita meninggalkan Tuhan.&amp;nbsp; Tetapi nasihat Firman Tuhan berkata: “Bertahanlah”!&amp;nbsp; Jangan menyerah!&amp;nbsp; Bersandar terus kepada Tuhan. Usahakan terus kehidupan rohani yang sehat, berdoa, bersaat-teduh, PI, bible reading, PA pribadi!&amp;nbsp; Dengan demikian, kita pasti akan menjadi hamba-hamba Tuhan yang efektif bagi Kerajaan Allah, menjadi hamba-hamba Tuhan yang menyenangkan hati Allah, hamba Tuhan yang berkenan, dan memuliakan Allah.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 14.4pt 0cm 144pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Amin!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 14.4pt; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7976713270044809204-6000112451795855174?l=bennysolihin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bennysolihin.blogspot.com/feeds/6000112451795855174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/10/khotbah-efesus-610-20.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/6000112451795855174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/6000112451795855174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/10/khotbah-efesus-610-20.html' title='Khotbah Efesus 6:10-20'/><author><name>Benny Solihin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02371777664459875856</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976713270044809204.post-6950301771524256741</id><published>2011-09-05T22:03:00.000-07:00</published><updated>2011-11-01T16:31:11.328-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><title type='text'>Khotbah Eks. Topikal: Allah Ada Dalam Ketiadaan</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;ALLAH ADA DALAM KETIADAAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;OLEH HIMAWAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara, saya rasa kita semua pernah mendengar nama Ibu Teresa dari Kalkuta.&amp;nbsp; Seorang biarawati yang memberikan diri untuk melayani orang sakit di jalanan kota Kalkuta.&amp;nbsp; Saudara, apakah sdr merasa terinspirasi ketika mendengarkan kisah hidup seorang Ibu Teresa?&amp;nbsp; Apa pandangan sdr secara pribadi terhadap Ibu Teresa? &amp;nbsp;Seorang yang sangat dekat dengan Allah sehingga rela memberikan hidup bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongannya? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara, saya kira, kita semua akan terkejut ketika membaca pengakuan Ibu Teresa, yang terdapat dalam memoir&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; pribadi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;nya.&amp;nbsp; Ibu Teresa mengaku bahwa selama 50 tahun beliau sama sekali tidak merasakan gairah kehadiran Allah dalam hidupnya.&amp;nbsp; Padahal masa itu adalah masa ketika ia melayani Tuhan, namun, selama itu pula Ibu Teresa mengaku tidak merasakan Kristus hadir dalam hidupnya.&amp;nbsp; Ibu Teresa yang terlihat mempunyai hubungan dekat dengan Sang Ilahi, ternyata dalam sebagian besar waktu hidupnya merasakan Allah demikian jauh.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara, seberapa banyak diantara saudara yang pernah, bahkan ketika mendengarkan khotbah ini, saudara merasakan perasaan yang sama.&amp;nbsp; Perasaan Allah yang demikian jauhnya, sehingga kita merasa Ia seakan tiada dalam kehidupan kita.&amp;nbsp; Kita setia pergi ke gereja, setia merenungkan firman, namun Allah tetap terasa jauh.&amp;nbsp; Kita merasa&amp;nbsp; Allah tiada. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Perasaan ini oleh seorang katolik bernama Santo Yohanes Salib disebut “malam gelap jiwa”, yaitu malam atau hari-hari dimana manusia tidak mengalami penghiburan rohani apa pun, kendati ia mencari Allah dengan sepenuh hati.&amp;nbsp; Malam yang juga disebut dengan masa “kegelisahan yang tak terperikan”.&amp;nbsp; Ketika kita mengharap kehadiran Allah di dalam kegetiran hidup,&amp;nbsp; namun kita dihadapkan dalam sebuah fakta, yang menyatakan Allah tiada!&amp;nbsp; Ketika kita berteriak agar Allah menampakkan wajah-Nya, nyatanya Allah diam, seolah tak mendengar teriakan kita.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara, saya yakin perasaan seperti ini pernah kita alami.&amp;nbsp; Orang percaya, bahkan yang sudah dewasa secara rohani pun bisa saja dihampiri perasaan Allah yang jauh.&amp;nbsp; Daud pada Mazmur 22:2 berkata “&lt;i&gt;Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.&lt;/i&gt;“&amp;nbsp; Daud pun pernah merasakan ketiadaan Allah.&amp;nbsp; Setiap umat Tuhan pernah merasakan perasaan betapa jauhnya hadirat Allah dalam kehidupan kita.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Kapan perasaan ini datang?&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;I.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Ketika kita berdosa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, kapan saja perasaan ini akan datang menghinggapi kita? Nampaknya, perasaan ketiadaan akan Allah seringkali datang ketika kita melakukan sesuatu yang tidak berkenan dihadapan-Nya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, Allah kita adalah Allah yang kudus, Allah yang tidak menghendaki umat-Nya untuk melakukan dosa.&amp;nbsp; Ketika kita berdosa, maka bukan Allah yang menjauhkan diri-Nya kepada kita, namun diri kita sendiri yang menjauh dari Allah.&amp;nbsp; Sebagaimana Mazmur 51: 2, ketika Daud berkata:&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: large;"&gt; &lt;i&gt;“&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; Daud menuliskan ayat ini ketika baru saja melakukan dosa perzinahan, bahkan pembunuhan.&amp;nbsp; Ketika Daud mengambil Betsyeba sebagai miliknya, dan membunuh Uria untuk memenuhi nafsu serta tujuan pribadinya.&amp;nbsp; Saat itu Daud merasa demikian jauhnya dari hadirat Allah, sehingga ia berkata “Kasihanilah aku, ya Allah!”&amp;nbsp; Daud sebagai seorang yang dikenal memiliki hidup yang dekat dengan Allah, merasa sadar ketika ia berdosa, maka Allah menolak untuk hadir di dalam hidupnya.&amp;nbsp; Karena itu, setelah mendengar teguran nabi Natan, segeralah Daud memohon pengampunan dosa kepada Allah.&amp;nbsp; Daud sangat sadar, jika ia tidak bertobat maka ia akan terus berada jauh dari Allah.&amp;nbsp; Ya, Dosa mengakibatkan Allah jauh dari kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, dunia di sekitar kita adalah dunia yang gelap.&amp;nbsp; Sebagai orang Kristen kita hidup menantang gelombang jaman, sehingga kita sangat rentan sekali untuk terseret arus yang mengancam jiwa kita.&amp;nbsp; Pornografi merajalela dimana-mana, sekali klik di depan komputer, maka kita bisa membuat diri kita berada dalam sebuah posisi yang menjauh dari Allah.&amp;nbsp; Kecanduan game, pergaulan yang bebas, begitu merasuk dalam kehidupan anak-anak muda seperti kita.&amp;nbsp; Sekali kita buka gerbang agar mereka masuk, maka kita akan berada dalam posisi yang menjauh dari Allah.&amp;nbsp; Semua dosa yang kita lakukan membuat hilangnya hadirat Allah dalam kehidupan kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Adakah dosa yang engkau lakukan sehingga membuatmu merasakan bahwa Allah yang penuh kasih dan pengampunan itu kini tiada? Jika ya, maka jadilah seperti Daud, mengaku keberdosaan di hadapan Allah, sehingga Allah boleh kembali hadir dalam kehidupan saudara.&amp;nbsp; Tinggalkan segala bentuk keinginan nafsu pribadi, cobalah untuk tunduk kepada firman Tuhan.&amp;nbsp; Berdirilah dengan tegak bersama kekuatan dari Roh Kudus, lawanlah dosa.&amp;nbsp; Maka Allah akan kembali bersama-sama dengan kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Kapan perasaan ini datang?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;II.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Ketika penderitaan menimpa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Namun, sdr fakta yang terdapat dalam perjalanan kehidupan rohani ternyata memberikan kita pemahaman yang lain.&amp;nbsp; Keberdosaan bukan satu-satunya penyebab perasaan itu hadir dalam kehidupan kita.&amp;nbsp; Sering perasaan itu datang ketika kita mengalami penderitaan dan kesesakan. &amp;nbsp;Sebagaimana Mazmur 22 yang pertama kali kita baca tadi, ditulis oleh Daud ketika ia mengalami tantangan musuh-musuhnya.&amp;nbsp; Ketika Daud menghadapi bahaya yang mengancam kehidupannya, yaitu ketika dikejar-kejar dan akan dibunuh oleh Saul.&amp;nbsp; Ia merasa Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;iada! Seolah ia tidak akan ditolong, seolah Allah akan pergi menjauh daripadanya dan membiarkan dirinya tertindas. Dalam ayat 12 Daud berkata: &lt;i&gt;Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Dalam hadangan penderitaan, bisa jadi kita akan merasa Tuhan itu tiada.&amp;nbsp; Merasa hadirat Allah begitu jauh!&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;hal &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;inilah yang pernah dialami oleh orang-orang Kristen di Jepang ketika berada dalam abad penganiayaan.&amp;nbsp; Hal ini dituliskan dalam novel &lt;i&gt;Silence&lt;/i&gt; karya Shusaku Endo.&amp;nbsp; Pada waktu itu, Kristianitas sedang dilarang, siapa yang mengaku Kristen, maka ia akan diburu, dianiaya dengan beratnya.&amp;nbsp; Bahkan ada sebuah kisah, orang Kristen digantung terbalik, diikat, telinganya disilet agar darahnya bisa mengalir, dan mereka akan mati perlahan-lahan.&amp;nbsp; Semua itu dilakukan agar orang Kristen mengkhianati iman mereka.&amp;nbsp; Di waktu-waktu yang penuh dengan kesakitan sedemikian rupa, orang-orang Kristen Jepang bertanya kepada pastor Katolik yang melayani waktu itu: Bapa, dimana Allah?&amp;nbsp; Mengapa Ia diam saja?&amp;nbsp; Mengapa Ia terasa begitu jauh dari kehidupan kita?&amp;nbsp; Ya, di dalam penderitaan, mereka merasa Allah yang tiada.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Bukankah pertanyaan-pertanyaan demikian juga sering kita tanyakan?&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Adakah di antara kita yang mengalami masalah hidup yang berat, sehingga kita tidak melihat Allah? &amp;nbsp;Membuat kita bertanya dimana Allah berada sekarang ini? &amp;nbsp;Adakah di antara kita merasa Allah tiada?&amp;nbsp; Saudara, Kini pertanyaannya adalah: mengapa ini semua terjadi? Serta apakah yang harus kita lakukan ketika kita mengalami hal demikian?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Kapan perasaan ini datang? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;III.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam kondisi apa pun secara tiba-tiba&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Tetapi sebelum mengerti alasan mengapa perasaan ini datang dan apa yang perlu kita lakukan ketika mengalami hal yang demikian, kita perlu menyadari bahwa dinamika kehidupan spiritual memang membingungkan.&amp;nbsp; Ketika gelombang tak menerpa, ketika hidup terasa aman dan tenteram.&amp;nbsp; Bahkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;ketika &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;kita merasa kita berada dalam hubungan yang sangat baik dengan Tuhan.&amp;nbsp; Perasaan betapa jauhnya Allah tetap bisa menghantam kita.&amp;nbsp; Perasaan Allah yang begitu jauh bisa mencekam secara tiba-tiba.&amp;nbsp; Tiba-tiba kita merasa berada di gurun pasir rohani yang begitu kering, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;yang&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; membuat kita merasa haus, haus akan kehadiran Allah.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, saya rasa hal ini yang dialami Elia dalam 1 Raja-raja 19:4, ketika dilaporkan “&lt;i&gt;Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, waktu itu Elia sedang mengalami keberhasilan. &amp;nbsp;Elia berhasil membela nama Yahweh sebagai satu-satunya Allah yang benar.&amp;nbsp; Elia membuktikan di depan mata bangsa Israel bahwa Baal hanyalah ciptaan manusia belaka.&amp;nbsp; Ketika Elia menghadapi ancaman Izebel, Elia seharusnya tidak perlu takut.&amp;nbsp; Bukankah Allah sudah menolong dia menghadapi nabi-nabi Baal?&amp;nbsp; Seharusnya Elia sadar bahwa Allah bersama-sama dengan dia.&amp;nbsp; Namun fakta yang dilaporkan Alkitab berkata lain.&amp;nbsp; Elia berada dalam ketakutan sehingga lari, bahkan Elia diterpa kesepian yang amat sangat.&amp;nbsp; Di dalam kondisi yang sendirian di tengah hutan, Elia memohon agar Tuhan mengambil nyawanya.&amp;nbsp; Elia merasa bahwa dirinya tidak lebih baik dari pendahulu-pendahulunya, yakni nabi-nabi sebelum dia. &amp;nbsp;Elia merasa bahwa Israel tidak akan berubah, dan ia adalah tokoh yang gagal.&amp;nbsp; Saya rasa waktu itu Elia benar-benar merasa kehilangan akan kehadiran Allah.&amp;nbsp; Bagi Elia, Allah terasa tiada.&amp;nbsp; Hal ini dibuktikan dalam teks sesudahnya malaikat Allah menyuruh Elia untuk pergi ke gunung Horeb, gunung Allah, agar Elia dapat bertemu dengan Allah kembali, agar Elia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;diyakinkan dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;merasakan bahwa Allah bersamanya.&amp;nbsp; Saudara, Entah mengapa, nabi sebesar Elia tiba-tiba merasakan bahwa Allah tiada di dalam hidupnya.&amp;nbsp; Hal ini menunjukkan bahwa perasaan ketidakhadiran Allah bisa datang secara tiba-tiba dalam kondisi hidup apa pun!&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, seorang pelayan Tuhan dalam bidang spiritualitas dan penulis buku yang terkenal yaitu Richard J. Foster pernah mengalami hal yang demikian.&amp;nbsp; Ada masa dalam hidupnya, ketika ia benar-benar merasa nyaman.&amp;nbsp; Melakukan berbagai seminar, dan pelayanan dimana-mana.&amp;nbsp; Tetapi ketika berada di dalam puncak keberhasilan itu, Foster mengaku bahwa tiba-tiba Allah terasa pergi menjauh begitu saja.&amp;nbsp; Tiba-tiba hadirat Allah pun tiada di dalam hidupnya.&amp;nbsp; Foster kemudian menarik diri dari pelayanannya dan berusaha mencari kehendak Allah dengan apa yang terjadi padanya.&amp;nbsp; Saudara, ternyata seorang yang dipakai Tuhan seperti Richard Foster pun, secara tiba-tiba juga dapat mengalami ketiadaan Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, ternyata perasaan Allah yang begitu jauh itu bisa datang dalam banyak situasi.&amp;nbsp; Jika kita memahami dengan jelas bahwa perasaan ini datang diakibatkan karena dosa yang kita lakukan, maka tentu yang terutama adalah kita mengaku dosa dan memohon pengampunan dihadapan-Nya.&amp;nbsp; Namun, bagaimana jika problemnya ternyata bukan pada kita?&amp;nbsp; Bagaimana jika perasaan itu datang ketika kita menghadapi problematika hidup?&amp;nbsp; Bagaimana jika perasaan itu datang secara tiba-tiba, bahkan dalam kondisi dimana kita sedang merasa aman dan sangat dekat dengan Allah?&amp;nbsp; Padahal, kita sudah berlaku benar dan tanpa cela, tetapi perasaan Allah yang jauh ini toh tetap saja datang menerpa kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Benarkah Tuhan itu tiada?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Tetapi sdr, ketika kita merasa Allah tiada, apakah memang benar-benar Allah tidak ada bersama-sama dengan kita?&amp;nbsp; Kejadian 28:15 berkata: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0.5in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;“Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Bukankah &amp;nbsp;Allah punya janji penyertaan bagi umat-Nya, janji Allah yang tidak akan meninggalkan umat-Nya sekalipun?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, janji ini difirmankan Tuhan kepada Yakub di Betel, ketika Yakub akan melarikan diri dari Esau, dan pergi ke rumah pamannya Laban.&amp;nbsp; Janji ini yang menyertai Yakub selama Yakub menjalani hidup yang penuh lika-liku di tanah yang asing.&amp;nbsp; Allah berjanji bahwa Ia bersama-sama dengan Yakub kemana pun Yakub pergi.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, frasa “Aku menyertai kamu” adalah frasa yang terus berulangkali disebutkan di dalam Kitab Suci.&amp;nbsp; Frasa ini bahkan juga diulang oleh Tuhan Yesus dalam Matius 28, menunjukkan bahwa memang di dalam segala kondisi yang akan dan sedang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;kita &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;alami&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, Tuhan tidak akan meninggalkan kita&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;.&amp;nbsp; Dia adalah Bapa kita, yang tak akan pernah mengingkari janji-Nya, janji penyertaan-Nya.&amp;nbsp; Saudara, turunnya Yesus ke dunia ini membuktikan bahwa Allah turut berpartisipasi dalam kehidupan manusia, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;menjadi sama dengan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;umat-Nya yang berdosa.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Benar, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Yesus adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;bukti nyata&amp;nbsp; keberadaan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Sang Im&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;anuel, Allah yang menyertai kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, inilah janji Allah pada Israel dan ini jugalah janji Allah kepada setiap kita!&amp;nbsp; Janji inilah yang harus kita pegang! Ketika kita mengalami perasaan Allah tiada, ketika Allah terasa demikian jauh, sesungguhnya Ia tetap bersama-sama dengan kita! &amp;nbsp;Ia tidak pernah sekali-kali meninggalkan kita.&amp;nbsp; Ya, dalam perasaan ketiadaan Allah, Allah sebenarnya ada!&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Mengapa Allah mengijinkan ini semua terjadi?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara, mengapa Allah mengijinkan ini semua terjadi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;Tentu k&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;arena Allah menginginkan agar kita dapat bertumbuh sesuai dengan kehendak-Nya.&amp;nbsp; Pdt. Yohan Candawasa dalam sebuah bukunya, mengatakan bahwa dalam kesenyapan atau ketiadaan Allah, Allah mengijinkan ini semua terjadi agar kita dapat melihat Allah dalam sudut pandang yang lain.&amp;nbsp; Perasaan kita memang mengatakan Allah tiada, namun di ten&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;ah perasaa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; itu kita diajarkan untuk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;tetap &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;bersandar dan menaruh iman kepada Allah.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, saya kira ini yang dialami Daud dalam Mazmur 22 tadi, meskipun berada dalam perasaan Allah yang jauh, tapi Daud tetap menyatakan iman dan percayanya kepada Allah.&amp;nbsp; Hal ini tersirat dalam ayat 9 dan 10&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, yang mengatakan &lt;i&gt;Ia &lt;/i&gt;(Daud) &lt;i&gt;menyerah kepada Tuhan.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; Saya rasa Daud bertumbuh dalam pengenalannya akan Allah.&amp;nbsp; Allah mengiji&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;kan perasaan ini hadir dalam kehidupan Daud, agar Daud semakin bertumbuh dalam kebersandarannya akan Allah.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Daud makin dewasa, menjadi sahabat dekat Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, Perasaan Allah yang jauh&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;diijinkan terjadi, agar iman kita kepada Allah tidak tergantung pada situasi dan kondisi hidup, atau pada perasaan akan hadirat Tuhan.&amp;nbsp; Tetapi agar iman kita tergantung kepada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;identitas &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Allah sendiri.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Yaitu &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Allah yang berjanji akan menyertai umat-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Apa yang harus kita lakukan?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, kembali kita harus menjawab pertanyaan yang paling penting, apa yang harus kita lakukan ketika kita mengalami masa-masa yang demikian? Seorang penulis buku spiritual bernama Rick Warren, menyarankan bahwa ketika kita mengalami masa-masa demikian, maka sebaiknya kita mengingat segala kebaikan Tuhan di&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;masa dulu kala.&amp;nbsp; Sebagaimana dalam Ratapan 3:22 yang berkata: &lt;i&gt;Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: large;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, kitab Ratapan ditulis oleh nabi Yeremia ketika melayani di Israel dengan segenap kesetiaannya, namun faktanya Yeremia mengalami sebuah penolakan yang luar biasa dari bangsa Israel.&amp;nbsp; Yeremia merasakan pelayanannya sia-sia, dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;melihat &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Allah pun seolah tiada.&amp;nbsp; Namun Yeremia tak berhenti, Yeremia tidak terus terbenam di dalam penderitaannya! &amp;nbsp;Yeremia memandang sejarah kasih setia Tuhan! Ya! Ingatan terhadap kasih setia Tuhan itulah yang akan menghiburkan kita.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, kata kasih setia Tuhan atau dalam bahasa aslinya &lt;i&gt;hesed Yahweh&lt;/i&gt; ini adalah kata yang penting, kata yang juga berulangkali muncul dalam kitab suci.&amp;nbsp; Kata yang mengarah kepada janji loyalitas Allah kepada perjanjian yang telah dikerjakannya kepada umat-Nya!&amp;nbsp; Dimana janji itu bisa dipegang karena identitas pemberi janji itu sendiri yang tidak perlu diragukan lagi.&amp;nbsp; Yaitu Allah yang tidak akan pernah beralih dan meninggalkan umat-Nya!&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Saudara, maka ketika perasaan Allah yang jauh itu menerpa kita dalam kondisi apa pun, yang perlu kita lakukan adalah memegang janji penyertaan Allah, serta mengingat segala kasih setia-Nya&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Amanat Kotbah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara, kembali ke kisah orang-orang Kristen Jepang yang tadi.&amp;nbsp; Ternyata dalam diamnya Allah yang mereka alami, mereka tetap mampu percaya kepada Allah.&amp;nbsp; Mereka berani martir dan tetap memegang teguh iman mereka.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Ke&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;tika Pastor Katolik yang melayani mereka bertanya kepada mereka, apa yang membuat mereka bisa bertahan sampai sedemikian.&amp;nbsp; Orang-orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;epang itu menjawab:&amp;nbsp; Karena kami percaya kepada salib Kristus yang telah membebaskan kami.&amp;nbsp; Ya! Karena mereka mengingat kasih setia Tuhan yang dibuktikan dalam pengorbanan Kristus di kayu salib, maka orang-orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;epang itu mampu terus percaya kepada Allah walau pun Allah terasa jauh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, walau pun&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; Allah seolah diam dalam penderitaan yang mereka alami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara, saya sendiri secara pribadi pernah mengalami perasaan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Allah yang jauh &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;ini.&amp;nbsp; Suatu ketika di dalam perjalanan panggilan saya, saya diterpa perasaan secara tiba-tiba perasaan Allah yang jauh, Allah yang tiada.&amp;nbsp; Saat teduh saya seakan tiada gairah, saya melayani seolah tanpa &lt;i&gt;passion.&lt;/i&gt;&amp;nbsp; Padahal ketika saya selidiki diri saya, saya mendapati diri tidak melakukan sesuatu apa pun yang mungkin tidak berkenan di hadapan Allah.&amp;nbsp; Bahkan perasaan itu hadir ketika saya benar-benar bersemangat untuk belajar teologi, belajar tentang Tuhan, mengenali segala sesuatu tentang Firman Tuhan.&amp;nbsp; Tapi perasaan itu tiba-tiba membekap saya, tiada angin tiada hujan, Allah menjauh, Allah menghilang, Allah terasa tiada.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saya pun didera malam gelap jiwa ini selama beberapa minggu.&amp;nbsp; Apakah yang saya lakukan? Saya memasang foto Tuhan Yesus yang tersalib di meja belajar saya.&amp;nbsp; Saya terus-menerus mengingat akan panggilan saya dan kisah pertobatan saya, bagaimana Allah datang melalui karya salib Kristus.&amp;nbsp; Saya terus bertahan dalam kondisi yang demikian, sampai berminggu-minggu kemudian baru hadirat Allah terasa kembali dalam diri saya.&amp;nbsp; Ketika perjalanan malam gelap jiwa itu menimpa saya, saat itu saya diajari untuk tetap percaya dan bersandar kepada Tuhan meskipun perasaan saya tidak mengatakan bahwa Ia ada.&amp;nbsp; Ya, Allah mengijinkan itu semua terjadi agar saya boleh semakin bertumbuh dalam kasih dan pengenalan akan Dia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; Iman dan percaya yang tidak tergantung suasana, atau pun kondisi hidup, dan perasaan kita.&amp;nbsp; Tetapi iman yang murni, yang percaya kepada identitas yang kita imani, yaitu Allah yang setia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, perasaan jauh dari Allah hanya sebuah perasaan manusia belaka. &amp;nbsp;Kita tidak perlu takut bahwa Allah meninggalkan kita. Karena kasih setia dan rahmatnya tidak akan pernah berhenti. &amp;nbsp;Jika kini saudara merasa bahwa Allah tiada, cobalah untuk mengingat segala apa yang Tuhan sudah pernah perbuat dan sudah berikan dalam hidupmu, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;syukurilah semuanya itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, jika ada di antara saudara yang merasa bahwa dalam hidup sdr tidak ada yang dapat saudara syukuri, maka saya mengajak anda memandang salib Kristus yang mulia.&amp;nbsp; Salib Kristus yang menyelamatkan saudara.&amp;nbsp; Salib Kristus yang merubah hidup saudara.&amp;nbsp; Dari hidup yang gelap, tanpa arah dan tujuan, menjadi hidup yang bermakna dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;pengharapan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;keselamatan jiwa dan hidup yang kekal.&amp;nbsp; Ingatlah akan karya keselamatan yang Tuhan sudah karyakan dalam kehidupan saudara, maka sesungguhnya tidak akan ada alasan untuk tidak dapat bersyukur, maka sesungguhnya tidak ada alasan untuk melihat bahwa Tuhan itu tiada, karena sesuai janji-Nya, Ia tetap ada!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; Saudara, adakah diantara kita yang mengalami perasaan ketiadaan Allah pada saat ini? Mari terus mencari wajah Allah di dalam disiplin rohani yang kita kerjakan.&amp;nbsp; Kita tetap setia melakukan segala sesuatunya, berdoa, membaca firman, merenungkannya, melayani di tempat yang Tuhan sudah sediakan.&amp;nbsp; Sambil terus mengingat kasih setia dan memegang janji penyertaan-Nya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; Maka kita akan makin bertumbuh dalam kedewasaan pengenalan akan Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara, kita semua berada di dalam perjalanan panjang untuk mengenal identitas dan jati diri Allah kita.&amp;nbsp; Penuh liku, jatuh bangun, tangis dan duka.&amp;nbsp; Perasaan ketiadaan Allah, perasaan Allah yang jauh akan hadir &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;begitu saja &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;dalam kehidupan kita.&amp;nbsp; Setidak-tidaknya seorang Kristen akan mengalaminya sekali dalam perjalanan hidup&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;nya&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; I&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;ni semua terjadi karena Allah ingin mendewasakan kita&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; di dalam penyerahan diri penuh&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; kepada Allah.&amp;nbsp; Jika itu semua terjadi, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;mari &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;terus mengingat kasih setia Tuhan.&amp;nbsp; Dibarengi dengan pengakuan pertobatan jika kita berdosa, serta pembacaan yang setia pada Kitab Suci, kemudian komitmen membangun relasi dalam disiplin doa.&amp;nbsp; Maka Roh Kudus sendiri yang akan memberikan kekuatan untuk menghadapi perasaan ini.&amp;nbsp; Kita akan tetap teguh dalam iman,&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;semakin mengenal siapa Allah kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Amin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7976713270044809204-6950301771524256741?l=bennysolihin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bennysolihin.blogspot.com/feeds/6950301771524256741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/09/khotbah-eks-topikal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/6950301771524256741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7976713270044809204/posts/default/6950301771524256741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennysolihin.blogspot.com/2011/09/khotbah-eks-topikal.html' title='Khotbah Eks. Topikal: Allah Ada Dalam Ketiadaan'/><author><name>Benny Solihin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02371777664459875856</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976713270044809204.post-3989533997699854857</id><published>2011-09-05T21:57:00.000-07:00</published><updated>2011-11-01T16:37:16.372-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khotbah'/><title type='text'>Khotbah Amos 5:21-27</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;WE MUST BECOME A TRUE WORSHIPPER&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;OLEH HIMAWAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: -4.5pt; text-align: justify; text-indent: 40.5pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;tahu tentang sebuah grup music bernama True Worshipper? Berapa banyak di antara saudara yang mencintai lagu-lagu dari grup music ini?&amp;nbsp; Saya salah satu fans dari grup musik ini.&amp;nbsp; T&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;erakhir mereka melaunching album dengan judul &lt;i&gt;God is Our Victory&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;dimana lagu-lagu mereka sangat memberkati saya&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;etika saya pertama kali &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;mengenal mereka, saya mulai bertanya &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;kenapa ya mereka memakai nama &lt;i&gt;True Worshipper&lt;/i&gt; dan bukan yang lain?&amp;nbsp; Kemudian saya merenungkannya, dan saya dapati &lt;i&gt;True Worshipper&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;secara harafiah &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;mempunyai arti penyembah yang benar.&amp;nbsp; Penyembah yang benar adalah penyembah yang hidup benar di hadapan Allah.&amp;nbsp; Sehingga, dengan nama ini, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;saya duga, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;para punggawa band ini sebenarnya ingin &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;menyatakan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; bahwa penyembahan yang sejati bukanlah sekedar menyanyi dengan kencang atau melompat-lompat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; disertai musik yang hingar-bingar&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;.&amp;nbsp; Tetapi, penyembahan yang sejati adalah bagaimana kita dapat memberikan seluruh kehidupan kita untuk hidup dengan benar bagi kemuliaan nama Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara-saudara, &amp;nbsp;setiap orang percaya kepada Kristus memiliki natur sebagai seorang penyembah di hadapan Tuhan.&amp;nbsp; Saya adalah penyembah, saudara adalah penyembah, kita semua adalah penyembah-penyembah Tuhan.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Tapi pertanyaannya, apakah kehidupan kita selama ini menyatakan penyembahan yang benar kepada Tuhan, atau kita hanya menyembah ketika kita ada di gereja?&amp;nbsp; Selebihnya, hidup kita bukan lagi penyembahan kepada Allah, melainkan menyembah pemuasan nafsu, egoisme, peninggian diri, materi, dan lain-lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;audara&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, jangan sampai Tuhan mendapati penyembahan kita adalah penyembahan yang sia-sia dan tak bermakna. Karena itu mestilah kita mengerti bagaimana penyembahan bisa menjadi penyembahan yang sejati, sebuah penyembahan yang dapat menyenangkan hati Tuhan.&amp;nbsp; Kita semua harus menjadi penyembah yang sejati, &lt;i&gt;we must become the True Worshipper!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, &amp;nbsp;menjadi penyembah yang sejati berarti berusaha memiliki hidup yang benar di hadapan Tuhan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaan bagi kita semua sekarang adalah, bagaimanakah sebenarnya hidup yang benar di hadapan Tuhan itu?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; Saudara, hidup yang benar adalah &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;I.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;idup yang me&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;nyatakan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt; keadilan dan kebenaran (ay. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;21-&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;24)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, &amp;nbsp;keadilan dan kebenaran adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;dua&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; aspek penting dalam kehidupan.&amp;nbsp; Timbulnya kesadaran akan hak asasi manusia, dan protes-protes kemanusiaan, mengindikasikan bahwa manusia sesungguhnya ingin memiliki kehidupan yang adil dan benar yang dapat dirasakan seluruh umat manusia.&amp;nbsp; Lalu apa yang perikop ini ajarkan mengenai keadilan dan kebenaran?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, &amp;nbsp;sesuai dengan judulnya, kitab ini ditulis oleh seorang peternak domba dan pemetik pohon ara dari kota kecil Tekoa bernama Amos.&amp;nbsp; Bisa dibilang ia adalah seorang yang sangat oposisioner&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, seseorang yang melawan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; terhadap kondisi bangsa Israel pada waktu itu.&amp;nbsp; Seorang Nabi yang diutus oleh Allah untuk melayani ketika raja Yerobeam II berkuasa di Israel, sedangkan pada waktu bersamaan&amp;nbsp; raja Uzia berkuasa di Yehuda.&amp;nbsp; Terutama, Amos melakukan pelayanannya di Israel bagian utara, tempat Yerobeam berkuasa.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, &amp;nbsp;Israel adalah bangsa yang dipilih oleh Allah secara langsung untuk menjadi berkat di antara bangsa-bangsa.&amp;nbsp; Tentu saja, sebagai bangsa yang mengaku umat pilihan Allah, Israel&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; b&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;erusaha membangun relasi dengan Tuhan melalui ibadah-ibadah yang mereka lakukan.&amp;nbsp; Ibadah seharusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan Tuhan dan memuliakan nama-Nya.&amp;nbsp; Membuat nama Allah dapat dikenal diantara bangsa-bangsa di sekitar mereka.&amp;nbsp; Tetapi, apa yang terjadi dengan Israel, umat Allah itu?&amp;nbsp; Dengan mengejutkan di dalam perikop ini Tuhan berfirman: &lt;i&gt;Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu.&lt;/i&gt;&amp;nbsp; Ternyata, alkitab secara gamblang menjelaskan bahwa Allah telah menolak ibadah dan penyembahan bangsa Israel.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;ika kita perhatikan ayat 21-23, dan membaca keterangannya sesuai dengan apa yang terdapat dalam kitab Imamat, sesungguhnya, kita akan melihat bahwa ibadah yang umat Israel kerjakan begitu rumit dan detail.&amp;nbsp; Ibadah yang terdiri dari perayaan, ritual pengurbanan dan bahkan puji-pujian.&amp;nbsp; Tetapi Allah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; tidak berkenan kepada itu semua&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, tujuh kata yang bernada negatif diperlihatkan disini mulai dari ayat 21 sampai 23, menunjukkan betapa Allah telah menolak ibadah dan ritual yang dikerjakan umat Israel.&amp;nbsp; (Bacakan ayat 21-23, dengan emphasis kepada tujuh kata-kata negatif).&amp;nbsp; S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;audara&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, jika diteliti, kata membenci, yang dipakai dalam perikop ini, dalam bahasa aslinya memakai kata &lt;i&gt;sane, &lt;/i&gt;sebuah kata yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;menyatakan betapa Allah tidak suka kepada penyembahan Israel dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;menggambarkan begitu buruknya keadaan bangsa Israel di dalam penyembahan mereka pada waktu itu.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;engapa Tuhan begitu membenci dan kemudian juga menolak ibadah bangsa Israel?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;audara&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, sebelumnya, kita perlu mengerti bagaimana kondisi kehidupan bangsa Israel waktu itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Kondisi sosial Israel pada waktu itu sebenarnya sedang mengalami keterpurukan.&amp;nbsp; Keadilan sosial tidak terdapat di dalam kehidupan bangsa Israel.&amp;nbsp; Secara keseluruhan kitab ini ditulis untuk mengkritik kondisi Israel yang tidak berpihak kepada rakyat jelata.&amp;nbsp; Pada masa itu yang berkuasa adalah orang-orang yang punya uang.&amp;nbsp; Pedagang-pedagang besar, dan para lintah darat membuat kelompok petani yang merupakan etnis mayoritas merasakan penderitaan.&amp;nbsp; Para petani tidak diperhatikan, ditindas sehingga tidak mampu mengembangkan usaha mereka.&amp;nbsp; Kita bisa melihat dengan jelas keadaan ini dalam pasal 2:6-7 (bacakan).&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;engan demikian Amos sebagai wakil Allah yang Adil dan Benar sesungguhnya sedang berusaha melawan kapitalisme yang saat itu sedang terjadi di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;tengah-tengah &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;bangsanya. Amos, Sang Pembela Keadilan Allah itu,&amp;nbsp; mengkritik mereka, para penindas yang merupakan orang-orang kaya dan mapan, perempuan-perempuan kaya, pedagang yang tidak jujur, penguasa yang korup, para hakim dan ahli hukum yang oportunis, dan imam-imam yang palsu.&amp;nbsp; S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;audara&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, telah kita dapati bahwa kehidupan Israel tidak menunjukkan kehidupan sebagai umat Allah.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;engan latar belakang tersebut, kita telah menemukan jawaban dari pertanyaan kita tadi, Tuhan membenci dan menolak ibadah bangsa Israel karena kehidupan mereka tidak menunjukkan keadilan dan kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; Mereka mengangkat tangan, menyanyi dan memuji Tuhan, tapi hidup mereka jauh dari keadilan dan kebenaran!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Bagi Allah yang penting bukanlah rutinitas mereka beribadah (ay.21), bukan korban-korban bakaran dan korban sajian yang dipersembahkan (ay.22), bukan domba gemuk tanpa cacat (ay.22), bukan nyanyian dan tarian kegembiraan sebagai ungkapan penyembahan umat pada khaliknya (ay.23), bukan!&amp;nbsp; Tetapi Allah berkata: “Jauhkanlah semua itu.”&amp;nbsp; Bukan berarti semua itu, yaitu korban, nyanyian dan persembahan tidak penting.&amp;nbsp; Itu semua perlu dan penting, tetapi jika itu semua itu dilakukan di hadapan Allah dengan tidak disertai dengan hidup yang benar dan adil, semuanya akan sia-sia!&amp;nbsp; Tuhan berkata: “Aku membenci, dan menghinakan semua itu”&amp;nbsp; Jika demikian, untuk apa semua ritual ibadah yang kita lakukan?&amp;nbsp; Ternyata, bagi Allah hidup dalam kebenaran dan menyatakan keadilan bagi sesama jauh lebih penting dari hanya sekedar rutinitas ibadah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;audara&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, ayat 24 mengatakan &lt;i&gt;biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir, &lt;/i&gt;di dalam ayat ini kita melihat dua kata yang saling berkorelasi satu dengan yang lain yaitu keadilan dan kebenaran.&amp;nbsp; Dalam bahasa aslinya, keadilan memakai kata &lt;i&gt;mispat&lt;/i&gt; dan kebenaran memakai kata &lt;i&gt;tsedaqa&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Di dalam kitab Amos, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;dua&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; kata ini seringkali dipakai secara bersama-sama dan hal itu muncul &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;tiga&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; kali, yang dapat kita lihat dalam 5:7, 6:12b dan ayat 24 yang baru kita baca.&amp;nbsp; Secara khusus, di dalam bagian ini, kata keadilan dan kebenaran yang dipakai menyatakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;bahwa &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Allah menginginkan keadilan dan kebenaran agar dapat diperlihatkan dalam kehidupan sebagai umat Allah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;Biarlah kehidupan yang menyatakan keadilan dan kebenaran, sungguh nyata di dalam kehidupan umat Allah sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara-saudara, &amp;nbsp;Rick Warren pernah mengatakan, bahwa penyembahan bukanlah sekedar musik atau ritual yang kita lakukan di gereja, tetapi penyembahan adalah sebuah gaya hidup.&amp;nbsp; Penyembahan yang sebenarnya adalah seluruh kehidupan kita yang kita berikan bagi Allah.&amp;nbsp; Tuhan tidak hanya melihat penyembahan kita secara fenomenal atau yang kelihatan saja, tetapi melihat seluruh kehidupan kita, apakah hidup kita sebenarnya menunjukkan kehidupan yang benar dan berkenan di hadapan Allah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sudahkah kita memperhatikan keadilan dan kebenaran di dalam kehidupan kita?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara-saudara, &amp;nbsp;penulis kitab Amsal dalam 20:3 menyatakan ide yang mempertegas bahwa Allah jauh lebih menginginkan kehidupan yang memperhatikan keadilan dan kebenaran daripada ritual-ritual yang ki&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;a kerjakan.&amp;nbsp; Dimana dalam ayat ini mengatakan &lt;i&gt;“Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan Tuhan dari pada korban”, &lt;/i&gt;sangat jelas, dalam penyembahan kita, Tuhan menginginkan hidup yang benar di mata-Nya, hidup yang memperhatikan keadilan dan kebenaran&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; jauh melebihi ritual dan penyembahan yang kelihatan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara-saudara, &amp;nbsp;bukankah Yesus Kristus di dalam hidupnya adalah contoh nyata pribadi yang memperhatikan keadilan dan kebenaran?&amp;nbsp; Ingatkah ketika Yesus mengkritik kaum farisi dan saduki, serta imam-imam di bait Allah, yang begitu menekankan pelaksanaan hukum taurat, namun nyatanya mereka hidup munafik, mencari keuntungan mereka sendiri, dan memanfaatkan bait Allah untuk menimbun kekayaan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;.&amp;nbsp; Saudara, jangan sampai Yesus pun mengarahkan telunjuk-Nya kepada kita dan berkata “hai, engkau orang munafik!”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;ada suatu masa dalam sejarah gereja Eropa, yang disebut abad kegelapan, yang berlangsung setelah era Abad pertengahan dan menjelang masa Reformasi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;.&amp;nbsp; Hal ini berkaitan dengan kehidupan spiritual dari rohaniwan dan gereja pada waktu itu.&amp;nbsp; Waktu itu gereja yang berkuasa adalah gereja Katolik Roma, gereja &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;yang memegang h&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;ak dan kewenangan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;satu-satunya &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;dalam menafsirkan Kitab Suci.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; Gereja Katolik Roma menetapkan hal-hal yang detail dan rumit di dalam liturgi ibadah dan cara hidup umatnya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;Setiap ada dosa yang dilakukan oleh umat, umat mereka diharuskan melakukan pengampunan dosa di hadapan para biarawan, dan kemudian membayar surat pengampunan dosa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;atau indulgensia &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;itu kepada klerus&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;ereka begitu menekankan ritual keagamaan, tapi bagaimana dengan kehidupan sosial mereka pada waktu itu?&amp;nbsp; Sebenarnya mereka menyiratkan ketidakadilan dan ketidakbenaran!&amp;nbsp; Bukankah hanya mereka yang kaya yang mampu membeli surat pengampunan dosa? Sedangkan yang miskin, hanya mereka biarkan diam dan mereka takut-takuti masuk ke dalam neraka!&amp;nbsp; Lalu bagaimana dengan kehidupan rohaniwan? Wah, parah sekali, rahib-rahib dan para pengurus gereja, hidup dengan foya-foya, aturan hidup tak lagi mereka perhatikan, mereka hanya mengambil untung dari persembahan jemaat dan memakai uang umat demi suka-suka mereka sendiri.&amp;nbsp; Bahkan, para pembesar-pembesar, hidup di dalam kemapanan dan kenyamanan mereka sendiri!&amp;nbsp; Mereka tidak menjadi pemyembah-penyembah yang benar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;bagaimana dengan ibadah dan kehidupan kita pada masa ini&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Apakah kita sudah menyatakan keadilan dan kebenaran, jikalau tidak, maka kita seakan-akan masih hidup di dalam abad kegelapan.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Gereja Katolik Roma pada era pertengahan gagal untuk memperhatikan keadilan dan kebenaran, dengan itu mereka gagal untuk hidup benar di hadapan Tuhan, gagal memberikan penyembahan yang sejati kepada Allah Pencipta langit dan bumi.&amp;nbsp; Padahal, sebagai umat Allah, &lt;i&gt;we must become the true worshipper.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Aplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, &amp;nbsp;bagaimanakah dengan kehidupan kita di hadapan Tuhan?&amp;nbsp; Sudahkah kita hidup dengan memperhatikan&amp;nbsp; keadilan dan kebenaran? Atau kita tidak memperhatikan mereka yang miskin, yang tak berdaya dan tak terperhatikan?&amp;nbsp; Padahal, ketika kita beribadah di hadapan Tuhan, kita bisa bernyanyi dengan sekuat tenaga, menangis, dan mengaku-ngaku bertobat di hadapan-Nya.&amp;nbsp; Bisa juga, kita memberikan persembahan yang luar biasa banyaknya bagi gereja kita, dan itu terlihat di warta gereja.&amp;nbsp; Tapi, jika kita masih hidup dengan tidak memperhatikan keadilan dan kebenaran, jika kita masih bersikap sewenang-wenang dengan pembantu kita, karyawan kita, jika kita tidak memperhatikan hidup mereka dan memaksakan pekerjaan kepada mereka.&amp;nbsp; Maka penyembahan dan ibadah kita sia-sia belaka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara-saudara, &amp;nbsp;jika ada diantara kita yang masih hidup seperti itu, mari kita bertobat, merendahkan diri di hadapan Allah, dan kemudian memperbaiki hidup kita, dengan mulai memperhatikan keadilan dan kebenaran.&amp;nbsp; Bersikap adil dan benar kepada pegawai-pegawai kita, karyawan kita, orang yang berada di bawah kita.&amp;nbsp; Mulai memperhatikan mereka yang miskin dan tidak dianggap, mereka yang hidup tergerus oleh kekuasaan kaum kapitalis.&amp;nbsp; Mari kita bersama-sama belajar untuk melakukan hal tersebut, berusaha untuk hidup benar di hadapan Tuhan, dengan memperhatikan keadilan dan kebenaran, ketika kita mampu untuk hidup benar, maka kita akan menjadi seorang &lt;i&gt;True Worshipper&lt;/i&gt;.&lt;i&gt;&amp;nbsp; We must become the true worshipper&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara, jawaban y&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;ang kedua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, hidup benar di hadapan Allah adalah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;II.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;idup yang menyembah hanya kepada Allah saja.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt; (ay. 26-27)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;audara-saudara&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, penyembahan berkaitan erat dengan bagaimana kita menjalin relasi dengan Tuhan.&amp;nbsp; Relasi kita kepada Tuhan dapat dianalogikan seperti relasi kita dengan pasangan kita, ketika kita tidak setia dengan pasangan kita, maka bisa saja pasangan kita tiba-tiba menghukum kita dan memutuskan hubungan dengan kita sewaktu-waktu bukan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, &amp;nbsp;demikian juga dengan relasi Israel kepada Allah, ketika Israel tidak menyembah kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan, saat itulah Allah memberikan penghukuman kepada mereka. Dalam ayat 27 dapat jelas kita dapatkan apa yang Tuhan lakukan kepada Israel: “&lt;i&gt;dan Aku akan membawa kamu ke dalam pembuangan jauh ke seberang Damsyik," firman TUHAN, yang nama-Nya Allah semesta alam.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp; Saudara-saudara, &amp;nbsp;pembuangan sebenarnya adalah kata yang mengerikan bagi bangsa Israel, karena dibuang berarti keluar dari tanah perjanjian, tanah Kanaan, tanah yang menjadi bukti kasih setia dan perjanjian Allah bagi bangsa Israel.&amp;nbsp; Maka ketika bangsa Israel mendapati diri mereka dihukum, saat itulah menunjukkan betapa sungguh bobroknya kehidupan kerohanian mereka.&amp;nbsp; Tentu mereka merasa bahwa Tuhan sudah tidak lagi bersama mereka.&amp;nbsp; Nubuatan Amos ini pun digenapi 10 tahun kemudian ketika Raja Salmaneser III menguasai Samaria dan membuang Israel ke Asyur.&amp;nbsp; Hal ini dapat kita lihat dalam 2 Raja 17:3-6, sungguh nyatalah bahwa Israel benar-benar jatuh dan mengalami penderitaan di bawah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;penindasan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;bangsa-bangsa lain, bangsa kafir, bangsa yang bahkan tidak mengenal Tuhan.&amp;nbsp; Sungguh, Israel mengalami keterpurukan yang sangat besar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;audara&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, sesungguhnya mengapa Israel dihukum dengan hukuman yang begitu berat?&amp;nbsp; Sekali lagi, karena mereka menduakan Tuhan, Allah mereka!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Ayat 26 mencantumkan dua berhala yang terkenal di antara bangsa-bangsa yang ada di sekeliling Israel pada waktu itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Berhala ini bernama&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; Sakut dan Kewan.&amp;nbsp; Sakut dewa perang diantara bangsa Asyur yang juga disebut Adar, sedangkan Kewan biasanya diasosiasikan dengan Planet Saturnus.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Kedua-duanya adalah dewa orang Mesopotamia.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Ternyata&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; jelas telah kita dapati laporan dari nabi Amos bahwa &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Israel telah mengambil berhala orang kafir untuk menjadi pengganti Allah!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, &amp;nbsp;sangat jelas, bahwa Israel mengingkari Perjanjian Musa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; yang tertulis dalam kitab Keluaran&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; menyatakan:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0.5in 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;audara&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, jelas sudah Israel menduakan Tuhan.&amp;nbsp; Israel membawa berhala di dalam kehidupan mereka.&amp;nbsp; Dan Tuhan pun menghukum mereka.&amp;nbsp; Setiap umat Allah dituntut untuk memiliki hidup yang benar, yaitu hidup yang hanya menyembah Allah saja, tidak kepada yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;ketika&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; Yesus Kristus &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;di&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;cobai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; Iblis&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; di padang gurun&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, ia berkata&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;: “Enyahlah Iblis, Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dialah sajalah engkau berbakti!”, Kristus pun&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; amat &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;menekankan bahwa hanya Allah saja yang patut kita sembah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;audara-saudara&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh berita-berita di infotainment yang sangat banyak sekali tentang perceraian artis.&amp;nbsp; Salah satu kisah perceraian yang cukup bikin geger adalah mengenai kisah Anang dan Krisdayanti.&amp;nbsp; Bertahun-tahun rumah tangga mereka kelihatan tenang-tenang saja dan kelihatan tidak mengalami gangguan berarti.&amp;nbsp; Tetapi, ternyata menurut &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;infotainment yang ada&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, Krisdayanti, katanya sampai selingkuh sebanyak 5 kali!&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Kemudian&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; hal ini pun jelas diketahui oleh anak-anaknya, sampai mereka jengkel sekali dengan Krisdayanti. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;audara&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, pelantun lagu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;“S&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;etia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt; itu kini &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;menjadi pribadi yang &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;tidak setia.&amp;nbsp; Ia menduakan suaminya, Anang, dan ia mendapatkan ganjarannya, yaitu perceraian.&amp;nbsp; Sama seperti itu pula, jika kita menduakan Tuhan, maka Tuhan pun akan memberikan ganjaran kepada kita.&amp;nbsp; Karena itu, seharusnya kita hanya menyembah dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan di dalam kehidupan kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Aplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, &amp;nbsp;dalam dunia ini, banyak hal yang bisa membuat kita menduakan Tuhan.&amp;nbsp; Tidak menjadikan Ia sebagai satu-satunya Allah yang kita sembah.&amp;nbsp; Harta, kedudukan, prestasi, semuanya bisa jadi sebuah berhala yang membuat Allah merasa di duakan dan cemburu kepada apa yang kita perbuat.&amp;nbsp; Adakah diantara kita yang mungkin masih menomorsatukan pekerjaan dibandingkan dengan pelayanan, atau mungkin kita lebih mementingkan keuangan kita dibandingkan dengan memberi kepada mereka yang miskin?&amp;nbsp; S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;audara&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, berhala adalah segala sesuatu yang membuat hati kita menjauh daripada hati yang mengasihi Allah.&amp;nbsp; Apakah berhala yang mungkin hadir di dalam kehidupan saudara saat ini? Adakah sesuatu yang membuat saudara tidak lagi megutamakan Tuhan di dalam kehidupanmu? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;ertobatlah, jangan sampai hal itu terus menerus terjadi, jadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan di dalam hidupmu.&amp;nbsp; Dengan itu, kita dapat menjadi penyembah yang benar, ingat, &lt;i&gt;we must become the true worshipper&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, &amp;nbsp;saya akan menutup khotbah ini dengan kisah Martin Luther, seorang tokoh reformator yang merupakan sokoguru gereja protestan.&amp;nbsp; Martin Luther adalah seorang pembela kebenaran, dialah yang menempel 95 dalil di pintu gereja Wittenberg, dan menentang ketidakadilan dan ketidakbenaran Gereja Katolik Roma pada waktu itu, meskipun ancaman kematian dan ekskomunikasi didapatkannya, namun ia tak pernah takut, ia hidup sebagai seorang yang benar di hadapan Allah karena ia sangat memperhatikan keadilan dan kebenaran.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;etika Luther memakukan 95 dalil itu, saat itulah ia melakukan sebuah aksi peperangan.&amp;nbsp; Peperangan melawan berhala yang mewujud-rupa di dalam kemapanan otoritas gereja dan Paus.&amp;nbsp; Serta, berhala yang berupa tradisi yang mengakibatkan penyimpangan penafsiran Alkitab dan menghasilkan doktrin yang salah.&amp;nbsp; Berhala &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;berupa &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;surat pengampunan dosa dan relikwi-relikwi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;yang dijadikan alat untuk mengantarkan manusia menuju surga.&amp;nbsp; Luther menentang itu semua, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;bagi Luther Allah-lah satu-satunya Tuhan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;, bukan Paus dan gereja yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;telah merasa diri mereka sebaga&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;i Tuhan.&amp;nbsp; Luther juga hanya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;mengakui &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Alkitab sebagai satu-satunya sumber kebenaran di dalam hidupnya.&amp;nbsp; Luther adalah seorang yang hidup benar di hadapan Tuhan, Luther telah menjadi seorang penyembah yang sejati&lt;i&gt; &lt;/i&gt;di dalam hidupnya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;become&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt; the True Worshipper&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;.&amp;nbsp; Siapkah kita menjadi Luther-Luther yang baru di masa kini?&amp;nbsp; Yang berani mereformasi kehidupan kita?&amp;nbsp; Menjadikan seluruh aspek kehidupan kita sebagai penyembahan yang sejati di hadapan Allah?&amp;nbsp; Siapkah kita menjadi &lt;i&gt;the true worshipper&lt;/i&gt;?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saudara-saudara, &amp;nbsp;penyembah yang sejati adalah mereka yang hidup benar di hadapan Allah.&amp;nbsp; Mereka yang hidup dengan memperhatikan keadilan dan kebenaran, serta mereka yang hidup dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: large; line-height: 150%;"&gt;Saudara-saudara, &amp;nbsp;setiap ki
